LOGIN“Namaku Rania.”
Suara itu kembali terngiang di kepala Sakti, lembut dan menenangkan. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu. Malam ketika hidup Sakti runtuh dalam sekejap. Luka di kepalanya mulai mengering, nyeri di tubuhnya perlahan mereda. Semua itu berkat Rania yang tanpa pamrih merawatnya, dibantu oleh kakeknya, Sentanu. Rumah sederhana yang mereka tempati berdiri di sebuah desa terpencil di lereng perbukitan Puncak. Bangunannya jauh dari kata mewah, dinding kayu yang mulai lapuk di beberapa bagian, lantai semen kasar yang terasa dingin saat diinjak, serta perabotan bambu yang seadanya. Sakti duduk di balai-balai bambu di depan rumah, memandangi matahari yang mulai condong ke barat ketika tiba-tiba perhatiannya teralih pada sosok tua yang berjalan keluar rumah sambil membawa ember. “Kakek mau ke mana?” tanyanya spontan. Lamunannya buyar seketika. Ia memperhatikan langkah Sentanu yang tampak santai meski usia sudah lanjut. Matahari hampir tenggelam, cahaya jingga membentang di langit, namun lelaki tua itu justru terlihat seperti hendak memulai aktivitas baru. “Menangkap ikan, untuk bekal Rania ke kota besok.” Sentanu menoleh, sorot matanya terlihat tajam namun tetap tenang. Ada wibawa yang sulit dijelaskan dalam diri lelaki tua itu, sesuatu yang membuatnya terlihat jauh lebih kuat dari usianya. Sakti ikut menoleh. Di ambang pintu, Rania berdiri dengan seulas senyuman. Gadis itu mengenakan kebaya sederhana yang membungkus tubuhnya dengan rapi, namun bagian dada atasnya sedikit terbuka, memperlihatkan garis leher yang bersih dan alami. Kain yang dililitkan di pinggangnya menambah kesan tradisional yang begitu kuat. “Kamu jadi ikut aku ke kota?” tanya Sakti beberapa saat kemudian, masih dengan nada yang menyimpan sedikit keraguan. Rania mengangguk ringan, senyum manisnya tetap terjaga. “Iya, Bang. Kebetulan aku sudah lulus sekolah. Kalau aku terus di sini, aku tidak bisa berkembang.” Jawabannya sederhana, namun cukup untuk membuat Sakti terdiam. Bukan karena dia keberatan, malah sebaliknya. Namun kenyataan yang ia hadapi sekarang tidak berpihak padanya. Ia tidak lagi memiliki rumah untuk pulang. Tidak ada tempat yang bisa ia tawarkan. Semua yang dulu ia miliki, rumah, restoran, bahkan vila telah direbut oleh Bella. “Kenapa kamu bengong?” Sentanu menepuk pundaknya tiba-tiba, membuat Sakti sedikit tersentak. "Kau tak usah memikirkan bagaimana Rania akan hidup di kota. Aku cukup punya uang untuk membiayai kuliahnya. Jadi kau hanya perlu menjaganya saja." “I … iya, Kek,” jawab Sakti cepat, tapi sedikit gugup. Ada kepercayaan yang begitu besar dalam kalimat Sentanu. Kepercayaan yang terasa berat, namun juga menghangatkan di hati Sakti. “Ya sudah, sekarang bantu kami menangkap ikan.” Sakti sempat mengerutkan kening, dia tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Namun pada akhirnya ia tetap mengikuti langkah Sentanu dan Rania, mereka berjalan melewati jalan setapak menuju balong yang tidak jauh dari rumah. Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah balong yang terletak di tengah perkebunan. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, rimbun daunnya menutupi sebagian langit. Tak jauh dari sana, terdengar suara gemericik air dari sungai alami yang mengalir tenang. “Kau tidak usah turun. Biar kakek saja.” Sakti mengangguk dan duduk di gubuk kecil di tepi balong. Ia memperhatikan Sentanu yang turun ke udara dengan cekatan, jaring di tangannya bergerak lincah menangkap ikan. Sementara itu, Rania berdiri di pinggir dengan bara api, sesekali menunduk untuk mengambil ikan hasil tangkapan. Perhatian Sakti tiba-tiba teralih ketika matanya menangkap sesuatu yang berkilau di bawah pohon besar tak jauh dari tempatnya duduk. Kilauan itu samar, hampir tertutup bayangan, namun cukup untuk memancing rasa penasarannya. Ia berdiri perlahan, lalu melangkah mendekat. “Topeng?” gumamnya pelan. Sakti menggenggam, tangannya meraih benda itu. Sebuah topeng kayu dengan ukiran garis-garis yang rumit di permukaannya. Warnanya sudah pudar, sebagian tertutup debu, terlihat seperti benda lama yang sudah lama terlupakan. Sekilas, tidak ada yang istimewa. Namun entah kenapa, ada dorongan aneh dalam dirinya, seolah topeng itu memanggil. Tanpa benar-benar memahaminya, Sakti mengangkat topeng itu dan perlahan mendekatkannya ke wajah. Begitu permukaan kayu itu menyentuh kulitnya, sesuatu terjadi. Ada kekuatan tak kasat mata yang langsung menyedot kesadarannya. Napasnya tertahan. Dunia di sekitarnya seakan meredup, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar dari wajah ke seluruh tubuh. Topeng itu terasa menyatu. Sakti merasakan energi mengalir di dalam dirinya. Hangat, kuat, dan menenangkan. Luka-luka yang sebelumnya masih terasa kini perlahan memudar, seolah diolah oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Pikirannya pun berubah lebih jernih. Bayangan Bella dan Donny kembali muncul, namun kali ini tidak disertai amarah yang membabi buta. Yang ada justru ketenangan dan perhitungan. Sebuah pencapaian. Bukan penbalasan yang gegabah. Bukan pula penyelesaian yang dipenuhi emosi. Melainkan sesuatu yang rapi, elegan dan menghancurkan. Sakti menarik napas panjang. Dadanya terasa lapang, tubuhnya ringan, seperti beban yang selama ini menekan perlahan menghilang. “Abang lagi ngapain di sini?” Suara Rania mengejutkannya. Sakti tersentak. Sentuhan lembut di pundaknya membuatnya kembali seperti semula. Ia teringat sekilas, tangannya refleks menyentuh topeng yang masih melekat di wajahnya. Ia belum melepasnya dan belum berani menoleh ke belakang.“Akhirnya Abang pulang juga.”Rania langsung memeluk Sakti begitu pemuda itu melangkah masuk ke dalam rumah. Senyum lebar menghiasi wajahnya, memperlihatkan betapa bahagianya dia melihat Sakti kembali dengan selamat.Sakti membalas senyum gadis itu. Tangannya terangkat menyentuh dagu Rania, lalu mengangkatnya sedikit agar bisa menatap wajahnya.“Memangnya kau menungguku?” tanyanya dengan nada menggoda.Rania mengangguk. “Aku sangat mengkhawatirkan Abang. Aku takut terjadi sesuatu pada Abang.”Sakti tersenyum tipis. Dia bisa melihat ketulusan dalam tatapan gadis itu. “Sekarang aku sudah pulang. Jadi, kau tak perlu khawatir lagi.”Rania terdiam beberapa saat, seolah masih ingin memastikan bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya benar-benar baik-baik saja. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya dan berkata, “Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.”Gadis itu baru saja hendak berbalik ketika Sakti buru-buru menangkap tangannya.“Tidak usah, Rania. Rumah ini sudah dilengkapi heater, jadi k
“Sebelum polisi membawamu, apakah kau ingin menuntaskan urusanmu dengan dua orang ini?”Jason tidak langsung menjawab. Dia menatap Sakti beberapa saat sebelum beralih kepada Reno. Reno yang menangkap tatapan itu justru membuang muka dan melangkah beberapa langkah menjauh seolah tidak ingin ikut campur.Pesan itu cukup jelas. Apa yang terjadi beberapa menit ke depan bukan urusan polisi. Jason menyeringai tipis. Dia berjalan perlahan menghampiri Bella. Setiap langkahnya membuat wajah wanita itu semakin pucat.Tanpa peringatan, tangan Jason melayang.PLAK!Tamparan keras membuat Bella terjatuh kembali ke lantai.“Ampun, Tuan. Jangan bunuh aku.”Bella merangkak mendekati kaki Jason sambil menahan rasa sakit pada tangannya yang masih cedera. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajah. Martabat yang selama ini dia pertahankan seolah lenyap begitu saja.“Kau sudah berani mengambil barang di wilayahku dan tadi kau mencoba merayuku. Apakah pantas aku melepaskanmu?”Nada suara Jason terdengar da
PLAKKKJason diam beberapa saat. Lalu tanpa peringatan, tangannya bergerak. Dia menangkap pergelangan tangan Bella lalu memutarnya keras.“Arrrgh!”Jeritan Bella melengking memenuhi ruangan. Tubuhnya membungkuk. Wajahnya langsung pucat.“Apa yang kau lakukan dengan tanganku?” isaknya. Air mata mengalir tanpa mampu dia tahan. Sendi di lengannya terasa seperti dihancurkan hidup-hidup.“Bangsat! Kenapa kau berbuat kasar pada istriku?”Donny langsung kehilangan kendali. Dia menerjang ke arah Jason. Namun baru dua langkah bergerak, seorang anak buah Jason mengayunkan linggis ke perutnya.BUG!Tubuh Donny langsung terlipat. Udara di paru-parunya seakan menghilang. Dia jatuh berlutut sambil memegangi tulang rusuk yang terasa retak.“Belum ada seorang pun yang berani membentak di wilayahku.”Jason menatap Donny seperti melihat seekor kecoak. Lalu ujung sepatunya menghantam kepala lelaki itu. Membuat Donny terjungkal ke belakang. Namun itu belum selesai.Jason menginjak kaki Donny dengan selur
“Tanya saja pada mereka.”Sakti mengucapkannya sambil menatap Robet dan pria di sampingnya. Moncong pistol yang masih menempel di pelipisnya sama sekali tidak membuat raut wajahnya berubah. Dengan santai, dia mengangkat tangan dan menurunkan laras senjata itu menggunakan jari telunjuknya, seolah yang disentuhnya bukan benda mematikan, melainkan sekadar gangguan kecil yang menghalangi pandangan.Robet tidak langsung bereaksi. Tangannya masih menggenggam pistol, tetapi sorot matanya mulai goyah. Bella yang sejak tadi menyaksikan semuanya tiba-tiba melangkah maju. Emosi yang bercampur antara takut, marah, dan frustrasi membuat wanita itu kehilangan kendali.“Dasar lelaki menjijikkan, kau melakukan semua ini demi merebut vila ini kan? Jangan mimpi.”Dia menghampiri Sakti dan menarik-narik jaketnya dengan kasar. Kuku-kukunya mencengkeram kain itu seolah ingin melampiaskan seluruh kebenciannya.Sakti perlahan berdiri. Tatapannya jatuh ke wajah Bella yang memerah karena amarah. Lalu sebuah t
Lampu pos keamanan menerangi wajah lelaki itu yang tampak curiga. Tanpa banyak bicara, tangan Sakti menjulur ke luar melewati kaca mobilnya yang terbuka dan menarik tubuh penjaga itu hingga setengah badannya masuk ke dalam mobil.“Kau tidak mengenal aku? Cepat buka pintunya?”Mata penjaga itu langsung membelalak. Tangannya berusaha melepaskan cekikan yang menekan lehernya. Namun cengkeraman Sakti seperti besi. Lelaki itu hanya mampu mengeluarkan suara serak sementara kaki dan tangannya menggelepar tak beraturan.Beberapa detik kemudian Sakti melemparkannya keluar. Tubuh penjaga itu jatuh berguling di atas aspal. Petugas keamanan lain yang berada segera menghampiri sambil menghunus tongkat pemukulnya.Namun Sakti sudah keluar dari dalam mobil. Gerakannya cepat. Tendangan lurusnya melesat lebih dahulu sebelum lawannya sempat mengayunkan tongkat.Petugas keamanan itu membentur pagar. Sakti tak memberi kesempatan, dia menekan lehernya dengan siku.“Cepat buka pagarnya!” perintah Sakti.Wa
“Tidak.”Sakti menyandarkan tubuhnya. Di hadapannya, Jason duduk sambil memutar gelas berisi minuman berwarna keemasan. Tatapan lelaki itu tak pernah lepas dari wajah Sakti sejak awal pembicaraan.Sakti mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan api. Bara merah kecil menyala di ujung rokok saat dia menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan ke udara.“Area Puncak merupakan kawasan yang dikunjungi karena orang-orang ingin lepas dari kepenatan mereka selama bekerja. Mereka butuh hiburan, bukan sekedar tempat persinggahan. Mungkin aku akan mendirikan semacam tempat hiburan.”Jason terkekeh pelan. Bahunya sedikit berguncang.“Di kota, tempat hiburan sudah banyak. Buat apa mereka jauh-jauh ke Puncak jika hanya ingin mencari hiburan?”“Tentu saja beda. Di kota, tempat hiburan pasti diawasi dengan sangat ketat. Tapi kalau di sini ....”Sakti menghentikan kalimatnya sejenak. Dia mencondongkan tubuh ke depan. Jarak mereka kini hanya dipisa
“Kenapa kalian terkejut seperti itu?”Suara Sakti terdengar tenang, tetapi justru itu yang membuat suasana di ruang tengah terasa semakin menekan. Pemuda itu melangkah maju satu langkah. Tatapannya bergantian menyapu wajah Bella dan Donny yang masih berdiri membeku di depan sofa.Bella tampak pucat
“Kau pikir kau seorang artis terkenal yang semua orang harus mengenalmu?”Refleks tangan Sakti terangkat dan mencengkeram kepalan tangan Barjo yang menahan kerah bajunya. Cengkeraman itu terlihat biasa. Namun Sakti merasakan kekuatannya meningkat berkali lipat. Jemarinya seperti rahang besi yang m
“Tidak usah dilayani, Bang!”Dengan wajah cemas, Rania buru-buru menarik tangan Sakti menjauh dari arah meja yang tadi bersiul dan melemparkan godaan. Jemarinya terasa dingin saat menggenggam tangan Sakti, seolah ada ketakutan yang ia tahan sejak mereka melangkah masuk ke rumah makan itu.Sakti men
“Aku memetik bunga ini untukmu.”Tangan kiri Sakti bergerak cepat. Ia melepas topeng yang masih melekat di wajahnya dan menyelipkannya ke balik kemeja. Dalam gerakan yang sama, ia memetik setangkai bunga Yolanda.Ia memutar tubuhnya, lalu menyodorkan bunga itu dengan senyum yang hangat.Rania tersi







