Se connecter“Tidak usah dilayani, Bang!”
Dengan wajah cemas, Rania buru-buru menarik tangan Sakti menjauh dari arah meja yang tadi bersiul dan melemparkan godaan. Jemarinya terasa dingin saat menggenggam tangan Sakti, seolah ada ketakutan yang ia tahan sejak mereka melangkah masuk ke rumah makan itu. Sakti menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak yang sempat muncul di dalam dirinya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengikuti langkah Rania yang bergerak cepat mencari tempat duduk. Namun tanpa mereka sadari, kursi kosong yang mereka tuju ternyata berada di sebuah meja panjang yang sudah terisi oleh empat orang pria. Tubuh mereka besar dan kekar, duduk dengan posisi santai namun memberi kesan menguasai ruang. Seragam abu-abu yang mereka kenakan langsung menunjukkan profesi mereka sebagai sekuriti. Cara mereka makan pun tidak rapi, penuh suara kunyahan dan gelas yang diletakkan dengan keras di atas meja. Rania sempat ragu sejenak, namun kursi lain sudah hampir penuh. Ia tetap duduk, meski tubuhnya sedikit menegang. Sakti mengikuti dan duduk di sampingnya, posisinya sedikit condong ke arah Rania, seolah tanpa sadar ingin menjadi pembatas antara gadis itu dan empat pria di hadapan mereka. Salah satu dari pria itu mengangkat wajahnya. Papan nama di dada kirinya bertulis Barjo. Ia menatap Rania tanpa menyembunyikan rasa penasaran, bahkan cenderung menilai. Nasi masih memenuhi mulutnya saat ia bicara. “Baru datang dari kampung, ya?” tanyanya dengan sorot tajam ke arah Rania. “I ... iya,” jawab Rania gugup. Suaranya pelan, hampir tenggelam di antara suara riuh rumah makan. Barjo menelan makanannya dengan cepat, lalu menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Tatapannya tidak lepas dari wajah Rania, bergerak turun dengan cara yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa tidak nyaman. “Kerja di tempat kami saja. Kebetulan perusahaan sedang mencari cleaning service wanita,” timpal lelaki lainnya. Ia bersandar di kursinya, matanya menatap liar ke arah Rania dengan sesekali membasahi bibir menggunakan lidahnya, seolah sedang menimbang sesuatu yang bukan sekadar tawaran pekerjaan. Sakti yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas dan tenang. “Dia ke kota mau kuliah, Bang. Bukan untuk cari kerja.” Ucapan itu membuat Barjo dan ketiga temannya langsung menoleh ke arah Sakti. Untuk beberapa detik, suasana di meja itu berubah. Tatapan yang tadinya hanya mengarah pada Rania kini beralih sepenuhnya kepada Sakti, seolah baru menyadari keberadaannya. Barjo menyipitkan mata, memperhatikan Sakti dari atas ke bawah. Ada jeda singkat sebelum ia kembali membuka mulut, kali ini dengan nada yang lebih keras. “Buat apa kuliah kalau akhirnya susah cari pekerjaan.” Ia lalu menunjuk ke arah luar, tepat ke sebuah bangunan tinggi yang berdiri megah di seberang jalan. Dari jendela rumah makan, hotel itu terlihat jelas, menjulang dengan fasad modern yang kontras dengan bangunan di sekitarnya. “Lu lihat hotel gede itu?” lanjut Barjo. “Jarang-jarang ada kesempatan bisa masuk kerja di sana. Masuknya susah.” Sakti dan Rania secara refleks menoleh mengikuti arah telunjuk itu. “Hotel Melia?” batin Sakti. Nama itu langsung memantik sesuatu di dalam dirinya. Ingatan tentang masa lalu kembali muncul, tentang pertemuan, negosiasi, dan keputusan besar yang pernah ia ambil. Di dalam hotel itu, restoran miliknya berdiri. Tempat yang ia bangun dengan ide, tenaga, dan kepercayaan yang kini telah direbut oleh Bella dan Donny. Senyum tipis melintas di bibirnya, begitu cepat hingga hampir tak terlihat. Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah rencana yang mulai menemukan jalannya. “Bagaimana kalau aku saja yang bekerja di sana, Bang?” ujar Sakti akhirnya. Kalimat itu langsung disambut dengan tawa keras. Barjo dan ketiga temannya tertawa terbahak-bahak, seolah Sakti baru saja melontarkan lelucon paling lucu yang pernah mereka dengar. “Kami tidak cari karyawan lelaki. Kami justru cari karyawan wanita seperti dia,” ujar Barjo seraya melirik nakal ke arah Rania. Tatapan itu kembali membuat Rania menunduk. Ia menggenggam ujung pakaiannya dengan gelisah, mencoba menenangkan diri. Sakti menanggapinya dengan senyuman yang sama tenangnya. “Saya tadi sudah bilang, Bang. Dia ke sini mau untuk kuliah, bukan untuk bekerja.” “Dasar bodoh!” umpat lelaki lainnya sambil meletakkan sendoknya dengan keras. “Kalau dia bekerja sama kami, dia bakal dapat duit banyak. Kau juga pasti akan kebagian tanpa harus bekerja keras.” Sakti mengernyitkan keningnya. Ia tidak perlu berpikir lama untuk memahami arah pembicaraan itu. Dunia seperti ini bukan hal asing baginya. Ia tahu persis apa yang mereka maksud, tawaran yang dibungkus sebagai pekerjaan, namun menyimpan maksud yang jauh lebih kotor. Perlahan, ia menoleh ke arah Rania. Wajah gadis itu terlihat pucat. Ada ketakutan yang jelas terpancar dari matanya. Jemarinya yang berada di bawah meja bergerak pelan, lalu tanpa sadar menarik ujung baju Sakti, seolah mencari perlindungan. “Ayo kita pergi dari sini, Bang,” ucapnya lirih, hampir seperti permohonan. Sakti merasakan tarikan itu. Ia menunduk sedikit, lalu membalasnya dengan menggenggam tangan Rania yang bertumpu di atas pahanya. Genggaman itu tidak kuat, tetapi cukup untuk memberi rasa aman. Ia lalu mengangkat wajahnya dan menatap Barjo serta teman-temannya satu per satu. Kali ini, tidak ada lagi senyum basa-basi di wajahnya. “Kalian pikir aku orang bejat seperti kalian?” Kalimat itu keluar tenang, namun tajam. Seketika senyum di wajah Barjo langsung memudar. Ucapan itu seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajahnya. Suasana di meja itu mendadak sunyi, seolah semua suara di sekitar mereka meredup. Jemari tangan Barjo perlahan mengepal. Otot di rahangnya terlihat mengencang. Dalam satu gerakan cepat, ia berdiri dari kursinya hingga menimbulkan bunyi gesekan keras. Tangannya terangkat dan langsung bergerak mencengkeram kerah baju Sakti, menarik kasar ke depan. Wajah mereka kini begitu dekat. Napas Barjo yang panas terasa di wajah Sakti. “Lu enggak kenal siapa gue? Enggak ada seorang pun yang bisa menolak kemauan gue!" geram Barjo dengan gigi gemeretak.“Akhirnya Abang pulang juga.”Rania langsung memeluk Sakti begitu pemuda itu melangkah masuk ke dalam rumah. Senyum lebar menghiasi wajahnya, memperlihatkan betapa bahagianya dia melihat Sakti kembali dengan selamat.Sakti membalas senyum gadis itu. Tangannya terangkat menyentuh dagu Rania, lalu mengangkatnya sedikit agar bisa menatap wajahnya.“Memangnya kau menungguku?” tanyanya dengan nada menggoda.Rania mengangguk. “Aku sangat mengkhawatirkan Abang. Aku takut terjadi sesuatu pada Abang.”Sakti tersenyum tipis. Dia bisa melihat ketulusan dalam tatapan gadis itu. “Sekarang aku sudah pulang. Jadi, kau tak perlu khawatir lagi.”Rania terdiam beberapa saat, seolah masih ingin memastikan bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya benar-benar baik-baik saja. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya dan berkata, “Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.”Gadis itu baru saja hendak berbalik ketika Sakti buru-buru menangkap tangannya.“Tidak usah, Rania. Rumah ini sudah dilengkapi heater, jadi k
“Sebelum polisi membawamu, apakah kau ingin menuntaskan urusanmu dengan dua orang ini?”Jason tidak langsung menjawab. Dia menatap Sakti beberapa saat sebelum beralih kepada Reno. Reno yang menangkap tatapan itu justru membuang muka dan melangkah beberapa langkah menjauh seolah tidak ingin ikut campur.Pesan itu cukup jelas. Apa yang terjadi beberapa menit ke depan bukan urusan polisi. Jason menyeringai tipis. Dia berjalan perlahan menghampiri Bella. Setiap langkahnya membuat wajah wanita itu semakin pucat.Tanpa peringatan, tangan Jason melayang.PLAK!Tamparan keras membuat Bella terjatuh kembali ke lantai.“Ampun, Tuan. Jangan bunuh aku.”Bella merangkak mendekati kaki Jason sambil menahan rasa sakit pada tangannya yang masih cedera. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajah. Martabat yang selama ini dia pertahankan seolah lenyap begitu saja.“Kau sudah berani mengambil barang di wilayahku dan tadi kau mencoba merayuku. Apakah pantas aku melepaskanmu?”Nada suara Jason terdengar da
PLAKKKJason diam beberapa saat. Lalu tanpa peringatan, tangannya bergerak. Dia menangkap pergelangan tangan Bella lalu memutarnya keras.“Arrrgh!”Jeritan Bella melengking memenuhi ruangan. Tubuhnya membungkuk. Wajahnya langsung pucat.“Apa yang kau lakukan dengan tanganku?” isaknya. Air mata mengalir tanpa mampu dia tahan. Sendi di lengannya terasa seperti dihancurkan hidup-hidup.“Bangsat! Kenapa kau berbuat kasar pada istriku?”Donny langsung kehilangan kendali. Dia menerjang ke arah Jason. Namun baru dua langkah bergerak, seorang anak buah Jason mengayunkan linggis ke perutnya.BUG!Tubuh Donny langsung terlipat. Udara di paru-parunya seakan menghilang. Dia jatuh berlutut sambil memegangi tulang rusuk yang terasa retak.“Belum ada seorang pun yang berani membentak di wilayahku.”Jason menatap Donny seperti melihat seekor kecoak. Lalu ujung sepatunya menghantam kepala lelaki itu. Membuat Donny terjungkal ke belakang. Namun itu belum selesai.Jason menginjak kaki Donny dengan selur
“Tanya saja pada mereka.”Sakti mengucapkannya sambil menatap Robet dan pria di sampingnya. Moncong pistol yang masih menempel di pelipisnya sama sekali tidak membuat raut wajahnya berubah. Dengan santai, dia mengangkat tangan dan menurunkan laras senjata itu menggunakan jari telunjuknya, seolah yang disentuhnya bukan benda mematikan, melainkan sekadar gangguan kecil yang menghalangi pandangan.Robet tidak langsung bereaksi. Tangannya masih menggenggam pistol, tetapi sorot matanya mulai goyah. Bella yang sejak tadi menyaksikan semuanya tiba-tiba melangkah maju. Emosi yang bercampur antara takut, marah, dan frustrasi membuat wanita itu kehilangan kendali.“Dasar lelaki menjijikkan, kau melakukan semua ini demi merebut vila ini kan? Jangan mimpi.”Dia menghampiri Sakti dan menarik-narik jaketnya dengan kasar. Kuku-kukunya mencengkeram kain itu seolah ingin melampiaskan seluruh kebenciannya.Sakti perlahan berdiri. Tatapannya jatuh ke wajah Bella yang memerah karena amarah. Lalu sebuah t
Lampu pos keamanan menerangi wajah lelaki itu yang tampak curiga. Tanpa banyak bicara, tangan Sakti menjulur ke luar melewati kaca mobilnya yang terbuka dan menarik tubuh penjaga itu hingga setengah badannya masuk ke dalam mobil.“Kau tidak mengenal aku? Cepat buka pintunya?”Mata penjaga itu langsung membelalak. Tangannya berusaha melepaskan cekikan yang menekan lehernya. Namun cengkeraman Sakti seperti besi. Lelaki itu hanya mampu mengeluarkan suara serak sementara kaki dan tangannya menggelepar tak beraturan.Beberapa detik kemudian Sakti melemparkannya keluar. Tubuh penjaga itu jatuh berguling di atas aspal. Petugas keamanan lain yang berada segera menghampiri sambil menghunus tongkat pemukulnya.Namun Sakti sudah keluar dari dalam mobil. Gerakannya cepat. Tendangan lurusnya melesat lebih dahulu sebelum lawannya sempat mengayunkan tongkat.Petugas keamanan itu membentur pagar. Sakti tak memberi kesempatan, dia menekan lehernya dengan siku.“Cepat buka pagarnya!” perintah Sakti.Wa
“Tidak.”Sakti menyandarkan tubuhnya. Di hadapannya, Jason duduk sambil memutar gelas berisi minuman berwarna keemasan. Tatapan lelaki itu tak pernah lepas dari wajah Sakti sejak awal pembicaraan.Sakti mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan api. Bara merah kecil menyala di ujung rokok saat dia menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan ke udara.“Area Puncak merupakan kawasan yang dikunjungi karena orang-orang ingin lepas dari kepenatan mereka selama bekerja. Mereka butuh hiburan, bukan sekedar tempat persinggahan. Mungkin aku akan mendirikan semacam tempat hiburan.”Jason terkekeh pelan. Bahunya sedikit berguncang.“Di kota, tempat hiburan sudah banyak. Buat apa mereka jauh-jauh ke Puncak jika hanya ingin mencari hiburan?”“Tentu saja beda. Di kota, tempat hiburan pasti diawasi dengan sangat ketat. Tapi kalau di sini ....”Sakti menghentikan kalimatnya sejenak. Dia mencondongkan tubuh ke depan. Jarak mereka kini hanya dipisa
“Kenapa kalian terkejut seperti itu?”Suara Sakti terdengar tenang, tetapi justru itu yang membuat suasana di ruang tengah terasa semakin menekan. Pemuda itu melangkah maju satu langkah. Tatapannya bergantian menyapu wajah Bella dan Donny yang masih berdiri membeku di depan sofa.Bella tampak pucat
“Kau pikir kau seorang artis terkenal yang semua orang harus mengenalmu?”Refleks tangan Sakti terangkat dan mencengkeram kepalan tangan Barjo yang menahan kerah bajunya. Cengkeraman itu terlihat biasa. Namun Sakti merasakan kekuatannya meningkat berkali lipat. Jemarinya seperti rahang besi yang m
“Aku memetik bunga ini untukmu.”Tangan kiri Sakti bergerak cepat. Ia melepas topeng yang masih melekat di wajahnya dan menyelipkannya ke balik kemeja. Dalam gerakan yang sama, ia memetik setangkai bunga Yolanda.Ia memutar tubuhnya, lalu menyodorkan bunga itu dengan senyum yang hangat.Rania tersi
“Usir dia! Aku sama sekali tak mengenal gembel itu.”Suara Bella terdengar nyaring, dingin, tanpa sedikit pun keraguan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir yang dulu pernah mengucap janji setia di hadapan Sakti.Sakti terdiam mematung untuk beberapa saat. Dadanya terasa seperti dihantam ses







