Se connecter“Kau pikir kau seorang artis terkenal yang semua orang harus mengenalmu?”
Refleks tangan Sakti terangkat dan mencengkeram kepalan tangan Barjo yang menahan kerah bajunya. Cengkeraman itu terlihat biasa. Namun Sakti merasakan kekuatannya meningkat berkali lipat. Jemarinya seperti rahang besi yang menutup tanpa ampun. Tulang-tulang jari Barjo mulai tertekan, sendi-sendinya seperti dipaksa bergeser dari tempatnya. Ekspresi wajah Barjo yang tadi penuh kesombongan langsung berubah. Seringai yang sempat menghiasi bibirnya menghilang, digantikan oleh ketegangan yang tak dapat disembunyikannya. Rahangnya mengeras, matanya membelalak, dan napasnya mulai memburu. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi semakin ia berusaha, semakin terasa bahwa tenaganya seperti diserap oleh cengkeraman itu. Keringat mulai mengalir di pelipisnya. Tubuhnya yang besar perlahan kehilangan keseimbangan. Kakinya goyah, lututnya melemah, hingga akhirnya ia terduduk dengan posisi tidak stabil. “To ... tolong gue!” Rintihan itu akhirnya keluar dari mulutnya. Terbata-bata penuh rasa sakit yang tidak bisa lagi ia tahan. Suara yang tadi penuh kuasa kini berubah menjadi permohonan yang menyedihkan. Tiga temannya saling berpandangan, kebingungan dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Mereka menatap Barjo yang terkulai, lalu ke arah Sakti yang masih tampak tenang, seolah mencoba memastikan bahwa apa yang mereka lihat benar-benar nyata. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya mereka menyadari satu hal, situasi sudah tidak berada di tangan mereka. Tanpa aba-aba, ketiganya langsung berdiri. Tubuh mereka menegang siap menyerang, mata mereka kini tertuju tajam pada Sakti. Namun sebelum langkah mereka sempat bergerak lebih jauh, suara langkah cepat terdengar dari dalam rumah makan. Seorang lelaki muncul dengan wajah tegas dan sorot mata yang tidak kalah tajam. “Ada apa ini?” bentaknya, suaranya berat dan penuh tekanan, cukup untuk menghentikan gerakan ketiga pria itu di tempat. Salah satu dari mereka langsung menunjuk ke arah Sakti, mencoba membalik keadaan. “Dia yang mulai membuat keributan, Bang.” Joseph, pemilik warung itu menoleh ke arah yang ditunjuk. Saat matanya bertemu dengan wajah Sakti, ekspresinya berubah seketika. Ada jeda singkat, seolah ia sedang memastikan apa yang dilihatnya. “Sakti?” gumamnya pelan. Sakti menoleh, lalu melepas cengkeramannya. Barjo langsung menarik tangannya dengan cepat, memegangi jari-jarinya yang masih bergetar dengan wajah pucat dan napas yang belum sepenuhnya pulih. Joseph mengalihkan pandangannya kembali ke arah Barjo dan ketiga temannya. Wajahnya mengeras, sorot matanya dingin.. “Cepat pergi dari sini atau kalian berurusan denganku.” Ia melipat lengan bajunya, memperlihatkan otot yang masih padat meski usianya tidak lagi muda. Barjo buru-buru berdiri sambil menahan rasa sakit di tangannya. Ia melirik Sakti sekilas dengan tatapan marah, lalu memberi isyarat kepada ketiga temannya. Tanpa banyak bicara, mereka berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Di mata mereka, Joseph bukan sekadar pemilik rumah makan. Ada pengaruh lama yang masih melekat pada dirinya, sesuatu yang tidak ingin mereka lawan secara langsung. Setelah suasana kembali mereda, Joseph menoleh lagi ke arah Sakti. Ekspresinya berubah, tidak lagi tegang seperti sebelumnya. “Kapan kau pulang, Sakti?” tanyanya. Sakti menghela napas, seolah ingin melepas sesuatu tak biasa yang melonjak dari dalam dirinya. “Aku baru saja datang. Belum juga merasakan makananmu,” jawabnya enteng. Seketika Joseph tersenyum, ketegangan yang tadi sempat memenuhi wajahnya, seolah menguap begitu saja. “Bukan itu maksudku. Ah sudah lah ... ayo masuk ke dalam.” Ia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Sakti mengikuti. Tanpa ragu, Sakti berdiri. Ia menoleh sebentar ke arah Rania, memberi isyarat halus agar gadis itu ikut, lalu melangkah mengikuti Joseph menuju bagian dalam rumah makan, meninggalkan hiruk pikuk di depan yang perlahan kembali seperti semula. Di ruangan yang lebih tenang, Joseph duduk berhadapan dengan Sakti. Setelah mendengar seluruh cerita, dari pengkhianatan Bella, kekerasan yang dialami Sakti, hingga bagaimana ia ditemukan dalam kondisi hampir mati, Joseph terdiam cukup lama sebelum akhirnya membuka suara. “Jadi Rania ini yang menyelamatkanmu?” Sakti mengangguk pelan. “Makanya aku membawanya ke sini. Aku harap kau mau menolongku untuk menampungnya sementara waktu sampai aku mendapat rumah baru. Dia mau cari universitas di sekitar sini.” Joseph menghela napas, lalu menggeleng kecil. “Kau tak perlu memohon seperti itu, Sakti. Bahkan jika kau memintaku untuk mendapatkan apartemen, aku pasti akan mencarikannya untukmu.” Ia berhenti sejenak, matanya menatap Sakti dengan serius. “Tanpa bantuanmu, mungkin sampai saat ini aku masih menjadi orang jalanan yang tak punya tempat tinggal. Rumah makan ini berdiri karena modal darimu. Jika sekarang kau ingin mengambilnya, aku pasti memberikannya.” Sakti mengangkat gelas es jeruk di depannya, meneguknya perlahan sebelum menjawab. “Aku tak semiskin itu, Joseph. Aku masih punya uang dan cukup tabungan. Aku hanya perlu mengurus ke bank karena semua kartu, ponsel bahkan buku tabunganku hilang.” Ia menurunkan gelas itu, lalu melanjutkan, “Aku ingin menitipkan Rania di sini karena biar ada yang menjaganya selama aku mengurus semuanya.” Joseph mengangguk mengerti, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Tapi sekarang sudah sore. Sebaiknya malam ini kau menginap di sini. lagi pula kalian baru tiba, jadi aku rasa kalian butuh istirahat.” Sakti menoleh ke arah Rania. Gadis itu mengangguk pelan. Mereka pun berdiri, mengikuti Joseph menuju deretan kamar di belakang rumah makan. Bangunan itu sederhana, memanjang, dengan pintu-pintu kamar berjajar rapi. Dua kamar kosong masih tersedia, cukup untuk mereka berdua. “Kamar-kamar ini memang tidak mewah. Tapi aku rasa cukup layak untuk kalian tempati. Sekarang kalian beristirahat dulu. Aku harus kembali melayani pelanggan.” Sakti mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar yang disiapkan untuknya, sementara Rania masuk ke kamar di sebelah. Joseph pun kembali ke depan. Beberapa waktu kemudian, setelah rumah makan tutup, Joseph kembali mendatangi Sakti. Mereka duduk di kursi yang ada di depan kamar. “Aku baru dapat informasi, kalau Barjo adalah kaki tangan Donny untuk mencari wanita-wanita muda yang akan dipaksa melayani tamu hotel.” Sakti mengerutkan keningnya. “Hotel sekelas Melia melakukan bisnis kotor seperti itu?” tanyanya. “Tidak. Tidak. Barjo bukan karyawan hotel Melia.” Joseph buru-buru meralat ucapannya. “Mereka hanyalah tukang parkir ilegal yang biasa beroperasi di dalam hotel.” “Terus? Apakah pihak hotel tahu?” tanya Sakti penasaran. “Tentu saja tidak. Mereka bekerja untuk Doni agar restoran mereka ramai. Setiap tamu hotel yang datang, Barjo selalu menawarkan wanita pada mereka. Dan semua transaksi dilakukan di restoranmu.” “Itu bukan restoranku lagi,” potong Sakti. “Iya. Maksudku restoran yang seharusnya menjadi milikmu.” Sakti tersenyum tipis, namun di balik senyum itu pikirannya bekerja cepat. Ia mulai melihat pola, celah, dan peluang yang bisa ia manfaatkan. “Ini kesempatanmu untuk membalas dendam pada mereka, Sakti!” suara Joseph terdengar lirih seolah tak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. “Jika perlu, aku bisa mengumpulkan orang-orangku untuk membantumu.” Sakti menghela napas pelan. “Aku rasa tidak perlu, Joseph. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tak mau melibatkanmu dalam masalah ini.” Joseph mengangguk mengerti. Ia menepuk pundak Sakti sebelum akhirnya berdiri. “Tapi jika kau membutuhkan bantuanku, aku siap membantumu.” “Sekarang sudah malam, sebaiknya kau istirahat saja. Aku juga mau istirahat.” Joseph pun pergi, meninggalkan Sakti sendirian. Beberapa saat setelah itu, Sakti berdiri dan hendak masuk ke dalam kamar. Namun ketika ia akan menutup pintu, sebuah dorongan dari luar menghentikannya. Rania melangkah masuk. Gadis itu berdiri di balik pintu, mengenakan baju tidur yang sederhana namun cukup tipis hingga membentuk siluet tubuhnya. Ia menatap Sakti dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, tidak hanya polos, tetapi juga tegas. “Apakah kau masih berencana untuk membalas dendam, Bang?” tanyanya. Sakti tidak langsung menjawab. Tatapannya melekat pada Rania, memperhatikan setiap detail yang sebelumnya mungkin ia abaikan. Ada getaran halus yang ia rasakan, sesuatu yang membuat napasnya sedikit berubah. “Wanita seperti Bella tak pantas untukmu. Jika kau ingin balas dendam, artinya kau masih mengharapkannya.” Rania melangkah mendekat. Jarak di antara mereka semakin tipis, hingga napas mereka hampir bersentuhan. “Bukan itu tujuanku, Rania. Aku hanya ....” Kalimat Sakti terhenti. Tanpa peringatan, Rania memagut bibir itu. Untuk beberapa saat keduanya terdiam dalam kejutan yang berubah menjadi kehangatan. Sakti tidak langsung bereaksi, namun perlahan tangannya terangkat, menyentuh leher Rania dengan hati-hati, sementara Rania melingkarkan lengannya di tubuh pemuda itu, menutup jarak yang tersisa di antara mereka.“Akhirnya Abang pulang juga.”Rania langsung memeluk Sakti begitu pemuda itu melangkah masuk ke dalam rumah. Senyum lebar menghiasi wajahnya, memperlihatkan betapa bahagianya dia melihat Sakti kembali dengan selamat.Sakti membalas senyum gadis itu. Tangannya terangkat menyentuh dagu Rania, lalu mengangkatnya sedikit agar bisa menatap wajahnya.“Memangnya kau menungguku?” tanyanya dengan nada menggoda.Rania mengangguk. “Aku sangat mengkhawatirkan Abang. Aku takut terjadi sesuatu pada Abang.”Sakti tersenyum tipis. Dia bisa melihat ketulusan dalam tatapan gadis itu. “Sekarang aku sudah pulang. Jadi, kau tak perlu khawatir lagi.”Rania terdiam beberapa saat, seolah masih ingin memastikan bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya benar-benar baik-baik saja. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya dan berkata, “Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.”Gadis itu baru saja hendak berbalik ketika Sakti buru-buru menangkap tangannya.“Tidak usah, Rania. Rumah ini sudah dilengkapi heater, jadi k
“Sebelum polisi membawamu, apakah kau ingin menuntaskan urusanmu dengan dua orang ini?”Jason tidak langsung menjawab. Dia menatap Sakti beberapa saat sebelum beralih kepada Reno. Reno yang menangkap tatapan itu justru membuang muka dan melangkah beberapa langkah menjauh seolah tidak ingin ikut campur.Pesan itu cukup jelas. Apa yang terjadi beberapa menit ke depan bukan urusan polisi. Jason menyeringai tipis. Dia berjalan perlahan menghampiri Bella. Setiap langkahnya membuat wajah wanita itu semakin pucat.Tanpa peringatan, tangan Jason melayang.PLAK!Tamparan keras membuat Bella terjatuh kembali ke lantai.“Ampun, Tuan. Jangan bunuh aku.”Bella merangkak mendekati kaki Jason sambil menahan rasa sakit pada tangannya yang masih cedera. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajah. Martabat yang selama ini dia pertahankan seolah lenyap begitu saja.“Kau sudah berani mengambil barang di wilayahku dan tadi kau mencoba merayuku. Apakah pantas aku melepaskanmu?”Nada suara Jason terdengar da
PLAKKKJason diam beberapa saat. Lalu tanpa peringatan, tangannya bergerak. Dia menangkap pergelangan tangan Bella lalu memutarnya keras.“Arrrgh!”Jeritan Bella melengking memenuhi ruangan. Tubuhnya membungkuk. Wajahnya langsung pucat.“Apa yang kau lakukan dengan tanganku?” isaknya. Air mata mengalir tanpa mampu dia tahan. Sendi di lengannya terasa seperti dihancurkan hidup-hidup.“Bangsat! Kenapa kau berbuat kasar pada istriku?”Donny langsung kehilangan kendali. Dia menerjang ke arah Jason. Namun baru dua langkah bergerak, seorang anak buah Jason mengayunkan linggis ke perutnya.BUG!Tubuh Donny langsung terlipat. Udara di paru-parunya seakan menghilang. Dia jatuh berlutut sambil memegangi tulang rusuk yang terasa retak.“Belum ada seorang pun yang berani membentak di wilayahku.”Jason menatap Donny seperti melihat seekor kecoak. Lalu ujung sepatunya menghantam kepala lelaki itu. Membuat Donny terjungkal ke belakang. Namun itu belum selesai.Jason menginjak kaki Donny dengan selur
“Tanya saja pada mereka.”Sakti mengucapkannya sambil menatap Robet dan pria di sampingnya. Moncong pistol yang masih menempel di pelipisnya sama sekali tidak membuat raut wajahnya berubah. Dengan santai, dia mengangkat tangan dan menurunkan laras senjata itu menggunakan jari telunjuknya, seolah yang disentuhnya bukan benda mematikan, melainkan sekadar gangguan kecil yang menghalangi pandangan.Robet tidak langsung bereaksi. Tangannya masih menggenggam pistol, tetapi sorot matanya mulai goyah. Bella yang sejak tadi menyaksikan semuanya tiba-tiba melangkah maju. Emosi yang bercampur antara takut, marah, dan frustrasi membuat wanita itu kehilangan kendali.“Dasar lelaki menjijikkan, kau melakukan semua ini demi merebut vila ini kan? Jangan mimpi.”Dia menghampiri Sakti dan menarik-narik jaketnya dengan kasar. Kuku-kukunya mencengkeram kain itu seolah ingin melampiaskan seluruh kebenciannya.Sakti perlahan berdiri. Tatapannya jatuh ke wajah Bella yang memerah karena amarah. Lalu sebuah t
Lampu pos keamanan menerangi wajah lelaki itu yang tampak curiga. Tanpa banyak bicara, tangan Sakti menjulur ke luar melewati kaca mobilnya yang terbuka dan menarik tubuh penjaga itu hingga setengah badannya masuk ke dalam mobil.“Kau tidak mengenal aku? Cepat buka pintunya?”Mata penjaga itu langsung membelalak. Tangannya berusaha melepaskan cekikan yang menekan lehernya. Namun cengkeraman Sakti seperti besi. Lelaki itu hanya mampu mengeluarkan suara serak sementara kaki dan tangannya menggelepar tak beraturan.Beberapa detik kemudian Sakti melemparkannya keluar. Tubuh penjaga itu jatuh berguling di atas aspal. Petugas keamanan lain yang berada segera menghampiri sambil menghunus tongkat pemukulnya.Namun Sakti sudah keluar dari dalam mobil. Gerakannya cepat. Tendangan lurusnya melesat lebih dahulu sebelum lawannya sempat mengayunkan tongkat.Petugas keamanan itu membentur pagar. Sakti tak memberi kesempatan, dia menekan lehernya dengan siku.“Cepat buka pagarnya!” perintah Sakti.Wa
“Tidak.”Sakti menyandarkan tubuhnya. Di hadapannya, Jason duduk sambil memutar gelas berisi minuman berwarna keemasan. Tatapan lelaki itu tak pernah lepas dari wajah Sakti sejak awal pembicaraan.Sakti mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan api. Bara merah kecil menyala di ujung rokok saat dia menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan ke udara.“Area Puncak merupakan kawasan yang dikunjungi karena orang-orang ingin lepas dari kepenatan mereka selama bekerja. Mereka butuh hiburan, bukan sekedar tempat persinggahan. Mungkin aku akan mendirikan semacam tempat hiburan.”Jason terkekeh pelan. Bahunya sedikit berguncang.“Di kota, tempat hiburan sudah banyak. Buat apa mereka jauh-jauh ke Puncak jika hanya ingin mencari hiburan?”“Tentu saja beda. Di kota, tempat hiburan pasti diawasi dengan sangat ketat. Tapi kalau di sini ....”Sakti menghentikan kalimatnya sejenak. Dia mencondongkan tubuh ke depan. Jarak mereka kini hanya dipisa
“Kenapa kalian terkejut seperti itu?”Suara Sakti terdengar tenang, tetapi justru itu yang membuat suasana di ruang tengah terasa semakin menekan. Pemuda itu melangkah maju satu langkah. Tatapannya bergantian menyapu wajah Bella dan Donny yang masih berdiri membeku di depan sofa.Bella tampak pucat
“Tidak usah dilayani, Bang!”Dengan wajah cemas, Rania buru-buru menarik tangan Sakti menjauh dari arah meja yang tadi bersiul dan melemparkan godaan. Jemarinya terasa dingin saat menggenggam tangan Sakti, seolah ada ketakutan yang ia tahan sejak mereka melangkah masuk ke rumah makan itu.Sakti men
“Aku memetik bunga ini untukmu.”Tangan kiri Sakti bergerak cepat. Ia melepas topeng yang masih melekat di wajahnya dan menyelipkannya ke balik kemeja. Dalam gerakan yang sama, ia memetik setangkai bunga Yolanda.Ia memutar tubuhnya, lalu menyodorkan bunga itu dengan senyum yang hangat.Rania tersi
“Namaku Rania.”Suara itu kembali terngiang di kepala Sakti, lembut dan menenangkan. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu. Malam ketika hidup Sakti runtuh dalam sekejap. Luka di kepalanya mulai mengering, nyeri di tubuhnya perlahan mereda. Semua itu berkat Rania yang tanpa pamrih meraw







