LOGINAko nga pala si Antonnia Yulliene Villa. One-half Bisaya, one-half Ilonggo, and 99.9% NBSB. (08)036-024-36 Nakakalungkot mang aminin pero hindi 'yan ang vital statistics ko. Telephone number ng bahay namin 'yan. Wala lang... In case may gustong umakyat ng ligaw. Chaar. Pero seryoso, kung may balak kayo, tumawag muna kayo para naman maitali ko nang maigi ang bulldog naming si Djangga. Ilang magnanakaw na rin kasi ang napaospital namin dahil ang hilig manlapa ng bitch. PS. I-a-update ko lang 'to kapag may progress na ang love life ko. Uunahan ko na kayo. Pasensya na kung slow. *insert chef's kiss* Xoxo, Toyang
View MoreJessica sudah menunggu setengah jam di teras rumah yang dipasarkannya. Pagar rumah dibiarkannya terbuka lebar untuk menyambut Moses, rekannya sesama agen properti tetapi beda kantor, yang akan datang bersama klien-kliennya.
Katanya mereka adalah sepasang calon suami istri muda yang sedang mencari-cari rumah untuk ditempati setelah menikah.
Semua pintu di dalam rumah itu sudah dibuka lebar-lebar supaya udara segar bisa keluar-masuk dengan bebas. Pengalaman gadis itu selama lima tahun bekerja sebagai agen properti profesional mengajarkan kepadanya untuk datang setidaknya tiga puluh menit sebelum klien tiba sehingga bisa membenahi keadaan propertinya terlebih dahulu agar lebih sedap dipandang dan memikat hati calon pembeli ataupun penyewa.Gadis cantik berambut pendek sebahu dan dicat warna coklat itu meraih ponsel di dalam tas kerjanya. Ia lalu menelepon Moses.Terdengar nada sambung selama dua kali yang kemudian berganti dengan suara seorang laki-laki, “Ya, Jess. Aku lagi on the way ke tempatmu. Klienku menyetir di belakang mobilku, jadi aku nggak bisa ngebut. Mohon sabar menunggu ya, Cantik.”
“Ok, kutunggu. Bye.”Jessica lalu memutuskan sambungan teleponnya. Begitulah Moses, laki-laki tampan berusia tiga puluh tahun yang sudah dikenalnya sejak terjun ke dunia properti, biasa menggodanya.Mereka berkenalan ketika sama-sama mengikuti training sebagai agen baru lima tahun yang lalu. Jessica yang waktu itu masih berusia dua puluh dua tahun dan awam dengan dunia real estate banyak dibimbing oleh pemuda itu selama masa training yang berlangsung selama lima hari berturut-turut di sebuah hotel bintang empat.
Moses meskipun sama-sama agen baru seperti gadis itu, namun dia telah berpengalaman sebagai tenaga pemasaran selama tiga tahun di sebuah pengembang properti yang cukup punya nama di kota ini.Dia pernah menjual puluhan ruko dan rumah tinggal yang dibangun oleh perusahaan tempatnya bekerja. Komisi total puluhan juta di luar gaji pokok telah dinikmatinya selama dua tahun pertama.
Namun ketika krisis moneter terjadi pada tahun berikutnya, penjualan properti menurun drastis dan perusaahaan tersebut mengalami kesulitan keuangan yang berat.Moses akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri setelah gaji dan komisinya tidak dibayar selama tiga bulan. Ia meneguhkan tekadnya untuk terjun sebagai agen properti profesional saja yang tidak mendapatkan gaji namun mendapatkan murni enam puluh persen komisi dari properti-properti yang berhasil dipasarkannya.
Keputusannya itu ternyata tepat. Tak sampai setahun kemudian keadaan ekonomi negeri ini membaik dan daya beli masyarakat terhadap properti perlahan-lahan meningkat. Kini penghasilannya berlipat-lipat lebih besar dibandingkan sewaktu bekerja di pengembang properti dulu.
Tiba-tiba sebuah mobil Rush berwarna hitam meluncur masuk melewati pagar rumah yang terbuka lebar dan berhenti di samping mobil Sigra putih milik Jessica yang diparkir di carport.
“Hai, Cantik. Selalu keren seperti biasanya,” sapa laki-laki tampan bertubuh tinggi tegap itu sambil mengacungkan jempolnya. Jessica tersenyum simpul. Ia sudah terbiasa mendengar pujian itu dilontarkan oleh teman baiknya ini.Pandangannya beralih pada dua orang muda-mudi yang baru turun dari dalam mobil Honda CRV warna silver keluaran terbaru yang diparkir di depan pagar.
Deg! Ulu hatinya tiba-tiba terasa sakit sekali. Dia mengenali pemuda berambut cepak dan berbadan kekar yang menggandeng tangan seorang gadis cantik.
Perempuan itu berdandan agak menor dan mengenakan rok mini yang ehm…memamerkan kaki panjangnya yang putih mulus tak bercela. Klien kesukaan Moses ini, gumam Jessica dalam hati.
“Pak Tommy dan Bu Melani, kenalkan ini teman saya sesama agen properti. Namanya Jessica,” kata Moses memperkenalkan Jessica kepada kedua kliennya.Jessica tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya kepada si klien wanita duluan demi menjaga kesopanan. “Jessica,” ucapnya mantap. “Melani,” balas gadis menor itu mengucapkan namanya. Selanjutnya giliran si klien lelaki yang memperkenalkan diri.Orang itu menyalami tangan Jessica dengan sorot mata sendu dan sikap agak kikuk yang tidak disadari Melani maupun Moses.
“Tommy,” ujarnya sembari buru-buru melepaskan tangannya.Tommy Saputra, gumam Jessica dalam hati. Itulah nama lengkapmu. Aku tahu sekali karena kita sudah saling mengenal sejak sama-sama duduk di bangku SMA dan berpacaran hingga aku kuliah semester empat!Lima tahun kita berdua memadu kasih tapi akhirnya kau tinggalkan aku begitu saja karena ayahku masuk penjara!
“Jess, aku ajak Pak Tommy dan Bu Melani masuk untuk melihat-lihat, ya,” ujar Moses meminta ijin.Gadis yang tadinya sempat terkenang akan masa lalunya itu mengangguk setuju.Ia memilih untuk berdiri menunggu di teras seorang diri daripada harus berdekatan dengan Tommy Saputra, laki-laki yang pernah menjadi belahan jiwanya sekaligus menjerumuskannya pada perbuatan dosa yang disesalinya hingga kini!
***
Jessica langsung pulang ke rumahnya begitu berpisah dengan Moses dan dua kliennya di rumah tadi. Kepalanya terasa pening. Dirinya tidak bergairah lagi melakukan apapun juga. Hanya ingin pulang, mandi, dan beristirahat dengan tenang di dalam kamar tidurnya yang nyaman.
“Tumben jam segini sudah pulang, Jess,” sapa Jenny, kakak kandungnya.“Pusing, Kak.”“Lho, kenapa? Masuk angin?”“Nggak. Habis melihat hantu.”“Hah?! Maksudmu?”“Hantu yang menghilang tujuh tahun yang lalu.”“Siapa, sih? Kakak nggak ngerti.”Jessica menatap dalam-dalam mata wanita yang enam tahun lebih tua darinya itu .Lalu gadis cantik itu berkata lirih, “Tommy, Kak.”
“Ya, Tuhan!” seru Jenny seraya menutup mulutnya. Nama itu sangat diharamkan di rumah ini semenjak…yah, semenjak kejadian naas tujuh tahun yang lalu.“Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya, Jess? Kalian jadian lagi?”
“Ya nggaklah, Kak. Buat apa? Tujuh tahun yang lalu saja dia sudah meninggalkanku sedemikian rupa, apalagi kalau tahu keadaanku yang sekarang. Mana mau dia?!”“Lalu bagaimana kalian bisa bertemu kembali?”Jessica lalu menceritakan pertemuannya tadi dengan mantan kekasihnya. Betapa mereka berdua sama-sama berpura-pura tidak saling mengenal. Dan Tommy ternyata sedang mencari-cari rumah untuk tempat tinggalnya bersama calon istrinya kelak setelah resmi menikah.“Ini adalah sebuah pertanda, Jess.”“Pertanda apa, Kak?”“Bahwa kalian dipertemukan sebelum Tommy menikah…itu untuk memberi kalian berdua kesempatan untuk menyelesaikan persoalan yang belum tuntas di masa lalu.”“Apanya yang belum tuntas, Kak? Aku sudah kehilangan segalanya. Masa laluku, masa depanku…. Apa lagi yang masih harus diselesaikan?”“Sebuah permintaan maaf, Jess. Tommy berhutang itu kepadamu.”“Aku tidak membutuhkannya. Sudah tak ada gunanya lagi!” teriak Jessica seraya berjalan cepat meninggalkan kakaknya.“Hai, mau kemana, Jes?”“Mandi, keramas, tidur!”Jenny menghela napas panjang. Kasihan sekali anak itu, batinnya prihatin. Ya Tuhan, kapankah Jessica bisa memaafkan dirinya sendiri dan membuka lembaran hidup yang baru?This is the special chapter. This is a compilation of AleYang (Alekhine & Toyang) and CanCho (Candy & Lucho) untold moments. Happy reading! ____________________________ DJ/Atty. Toyang🐨@AntonniaYulliene This is Atty. Antonnia Yulliene Villa-Alonzo a.k.a DJ Toyang signing off. xoxo___________________________ TOYANG AND DONNA just arrived from the salon. As a reward for Toyang for ranking third overall in the whole eleventh grade, Donna had Toyang’s hair rebonded and thick eyebrows threaded. Kaya ngayon ay gandang-ganda ang dalaga sa sarili niya habang nakatitig sa salamin at hindi maalis-alis doon. “Toyang, kanina pa kita tinatawag!” hayag ni Donna sabay nagmamadaling bumaba sa hagdanan nila. “Hindi ko po narinig, ma.” “Paano mo naman maririnig? Kanina ka pa tingin nang tingin d’yan sa sarili mo sa salamin.” Hindi alam ni Toyang kung anong konek no’n pero n
This will be the end, and the next update will be the special chapter. I would like to take this time to express my heartfelt gratitude to everyone who reached this far. Thank you, thank you so much! Thank you for allowing me to share bits of my personal life in this space. Yes, almost all of the flashbacks except for the last one were from my real-life experiences. This was the reason why writing Toyang also feels like writing an autobiography. She is me and the person I aspire to be. I hope that her (my) story of hard-earned triumph inspired you to work diligently and passionately while holding on to your faith in God. This chapter will be told in the third person’s point of view and through Alekhine’s perspective. Sa uulitin, maraming salamat sa pagsama sa aking makitawa at matuto sa simpleng kwento ng buhay ni DJ/ Atty. Toyang. SA KANILANG MALIIT na tahanan, bandang alas cuatro ng umaga ay narinig ni Alekhine ang mumunting hagulhol ng kanyang amang karar
____________________________ DJ/Atty. Toyang🐨@AntonniaYulliene Forgiveness, just like love, takes time. It’s a consistent process of exerting efforts and sacrifices to prove that you are worthy of it. ___________________________ DAY OFF KO sa firm ngayon kaya ako na ang maghahatid-sundo kay Eheads sa araw na ito. “Baby bear, suotin mo na itong sombrero mo para makapunta na tayong school.” Agad namang lumapit ang anak ko sa akin kaya isinuot ko na sa kanya iyong teddy bear niyang bucket hat at brown We Bare Bears na backpack naman sa balikat niya. Eheads was already in the first grade. Masunuring bata naman siya. Medyo makulit pero masipag din naman. Perfect combination talaga ng attitude namin ni Alekhine. I locked our condo unit when we left and then I held Eheads’ hand as we walked towards the elevator. Mag-co-commute lang kami ng anak ko. Alekhine insisted that I should have m
____________________________ DJ/Atty. Toyang🐨@AntonniaYulliene From DJ Toyang to Atty. Antonnia Yulliene Villa-Alonzo 🎉___________________________ KABADONG-KABADO AKO SA para bukas. Unang araw kasi ng BAR at kahit anong paghahanda ang gawin ko, pakiramdam ko ay hindi pa rin sasapat ang mga iyon para masabing handa talaga ako. “Nahanda mo na ba lahat para bukas?” tanong ni Alekhine habang tinutulungan akong magligpit ng mga gamit ko. Sinamahan niya na naman kasi akong mag-review para sa BAR bukas. “Ga, kaya ko kaya ‘to?” sa halip ay tanong ko pabalik sa kanya. I even remembered promising him of an unprotected sex before the BAR pero mukhang malabo na talagang mangyari iyon dahil iyong kaba ko ngayon ay abot langit na. Mabuti na lang talaga at pinagpala akong lubos sa asawa ko dahil napakamaintindihin niyang tao at partner. “Ga, next year na lang kaya ako mag-take?












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore