Share

Bab 6

Author: Santari Kirani
Saat ujung jari yang dingin itu menyentuh kulitnya, rasa merinding dan kesemutan langsung menjalar ke seluruh tubuh Amara.

Amara menunduk dan melihat Aryan sedang memeriksa lukanya dengan raut wajah serius.

"Apa sangat parah?"

Amara menggigit bibir bawahnya, sementara matanya mulai berkaca-kaca.

Dia belum pernah mengalami hal seperti ini dan tidak tahu apa-apa. Namun, melihat tatapan fokus Aryan, tampaknya situasi ini cukup sulit untuk ditangani.

Mendengar hal itu, Aryan pun sedikit mengangkat alisnya. "Memang agak merepotkan, karena ada anak kucing liar yang nggak mau nurut."

Aryan mengamati luka itu dengan saksama untuk sesaat, lalu mengeluarkan sarung tangan sekali pakai dari dalam laci dan memakainya.

Amara menggigit bibir bawahnya erat-erat, sementara butiran air matanya yang bening perlahan bergulir jatuh melewati pipinya.

Seiring dengan gerakan Aryan yang lembut, rasa perih dan panas perlahan-lahan tergantikan oleh sensasi dingin yang menyejukkan.

Akan tetapi, Amara merasa sangat tidak nyaman, sehingga membuat tubuhnya bergerak-gerak gelisah.

Aryan sedikit mengerutkan kening, sementara api amarah yang tidak dapat dijelaskan mulai membakar lubuk hatinya.

"Kalau kamu terus berpikiran yang nggak-nggak, obat yang dioleskan ini akan sia-sia."

Jakun Aryan bergerak-gerak dan suaranya terdengar makin serak.

Amara merasa malu sekaligus kesal, malu karena dia bisa begitu tegang. Padahal hanya disentuh sedikit, tubuhnya sudah begitu terangsang.

Sudah berkali-kali Amara mempermalukan diri di depan Aryan.

Amara memejamkan mata, berusaha keras mengendalikan diri agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.

Namun, ketika mata Amara tidak bisa melihat, pikirannya justru melayang-layang. Meski dalam keadaan terpejam, Amara tetap bisa merasakan ada yang salah dengan gairah di tubuhnya sendiri.

Aryan merasa tidak berdaya. Dia tidak punya pilihan selain mengoleskan obat dengan lebih lembut lagi.

Setelah beberapa saat, begitu merasakan tangan Aryan akhirnya menjauh dari tubuhnya, barulah Amara membuka matanya.

Pipi Amara tampak memerah. Amara pun segera bangkit berdiri dan memakai celananya.

Sambil memunggungi Aryan, Amara merapikan barang-barangnya, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengutak-atiknya sebentar.

Di atas meja, ponsel Aryan bergetar dua kali.

Aryan mengambil ponselnya, meliriknya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Amara.

Di layar ponselnya, terlihat sebuah notifikasi transfer uang.

Jelas-jelas sedang butuh uang, tetapi masih saja keras kepala.

Aryan mengembalikan uang yang ditransfer itu. Tatapan matanya tampak muram. "Mulai sekarang, kalau aku butuh, kamu harus selalu siap kapan pun dipanggil."

Daripada membiarkan Amara bertransaksi dengan orang lain, lebih baik dia saja yang berbaik hati.

Bagaimanapun, tubuh Amara memang bisa membangkitkan gairahnya.

Aryan membuka pintu kantor lalu melangkah keluar. Dia sama sekali tidak menyadari betapa pucatnya wajah Amara di belakangnya.

Amara mencengkeram tas kanvasnya kuat-kuat. Bibirnya hampir berdarah karena digigitnya keras-keras.

Setelah beberapa lama, barulah Amara bisa menggerakkan langkahnya perlahan untuk menyusul Aryan. Seluruh tenaga Amara seakan sudah dikuras habis, sehingga membuat Amara berjalan seperti mayat hidup di koridor rumah sakit.

Uang adalah hal terakhir yang meruntuhkan pertahanan Amara. Di depan kenyataan, semua harga diri dan kebanggaan tidak ada artinya sama sekali.

Baru saja, dokter yang menangani ibunya mengirimkan pesan mengenai pengobatan lanjutan. Satu sesi terapi saja membutuhkan biaya lebih dari 200 juta.

Satu pil khusus harganya mencapai satu juta. Bahkan, meski pekerjaan paruh waktunya itu dilakukan seharian penuh tanpa berhenti sekalipun, Amara tetap tidak akan mampu membeli satu pil khusus itu.

Setidaknya Aryan royal dan tidak punya hobi yang aneh.

Amara meyakinkan dirinya sendiri di dalam hati dan merasa jauh lebih rileks saat kembali masuk ke mobil Aryan dibanding sebelumnya.

Langit sudah mulai gelap, Amara pun berpamitan dengan sopan kepada Aryan.

Amara memandangi mobil itu pergi menjauh, lalu berjalan menuju asrama.

Namun, bayangan hitam tiba-tiba muncul di hadapannya. Amara menengadah dan tatapannya bersirobok dengan mata yang hitam pekat dan dalam.

Amara mengenalnya, orang itu adalah Yoga Devara.

Sama seperti namanya, Yoga adalah sosok yang bersinar, yang selalu menjadi pusat perhatian di kampus.

Wajahnya tampan, berasal dari keluarga kaya dan humoris. Nama Yoga sudah berkali-kali masuk forum kampus sebagai salah satu pria yang paling ingin dijadikan pacar.

Kisah-kisah asmaranya sudah beredar luas di kampus dan bukan merupakan rahasia lagi, jadi tidak aneh jika Amara mengetahuinya.

Hanya saja, mengapa pria itu tiba-tiba mendatanginya?

Di tengah rasa herannya, Yoga tiba-tiba mengeluarkan seikat bunga mawar dari balik punggungnya, sambil tersenyum cerah dan menawan.

Mata Yoga tampak berbinar. "Amara, aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku menyukaimu, maukah kamu jadi pacarku?"

Suara Yoga yang jernih terdengar bagaikan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.

Amara menjadi bingung oleh pernyataan cinta Yoga yang tiba-tiba ini.

Suka?

Kata itu terlalu mewah bagi Amara. Setiap hari, Amara begitu sibuk hingga tidak punya waktu luang, apalagi untuk memikirkan urusan asmara.

Lagi pula, Yoga terkenal sebagai playboy di kampus dan Amara sama sekali tidak tertarik untuk bermain-main dengan perasaannya.

"Terima kasih, kamu sudah menyukaiku. Tapi, untuk saat ini aku belum ada rencana untuk pacaran."

Menghadapi Yoga, Amara menjawab dengan sangat hati-hati.

Jika tidak benar-benar terpaksa, Amara tidak ingin menyinggung orang seperti Yoga.

Yoga sendiri jelas tidak menyangka jika akan ada orang yang menolaknya. Sampai-sampai, dia tidak sempat menyembunyikan rasa terkejut di wajahnya.

Namun, dengan cepat, Yoga bisa kembali menguasai emosinya.

"Amara, jangan buru-buru nolak dong. Kalau sebelumnya belum kepikiran, sekarang kan bisa mulai dipertimbangkan."

"Aku Yoga Devara, tinggi 183 sentimeter, punya otot perut dan punya lumayan banyak uang. Pokoknya, dijamin nggak bakal rugi kalau memilihku!"

Yoga tampak begitu percaya diri. Dia menunjukkan sikap seolah pasti akan berhasil.

Biasanya, para gadis yang selalu berinisiatif mendekatinya dan tidak pernah ada seorang pun yang menolak ajakannya. Jika Amara menolaknya, itu pasti karena Amara belum mengenalnya saja, 'kan?

Namun, tidak apa-apa. Cepat atau lambat, Amara juga akan mengenalnya.

Amara agak mengerutkan kening. Dia benar-benar tidak menyukai kegigihan Yoga.

Lagi pula, bukankah kata-kata Yoga terdengar begitu narsis?

Wajah Yoga memang tampan. Namun, entah mengapa wajah Aryan mendadak terlintas di benak Amara. Jika dibandingkan, ketampanan Yoga kalah jauh dan tidak ada apa-apanya.

Ketampanan Aryan bukan sekadar penampilan fisik, melainkan karisma yang terpancar dari dalam. Jika dibandingkan, ketampanan Yoga hanya di permukaan saja dan hanya sebatas penampilan luar.

"Kak Yoga, sebaiknya cari orang lain saja. Aku benar-benar nggak ada niat untuk pacaran."

Amara sudah mulai tidak sabar. Dia berniat berjalan melewati Yoga. Namun, setiap kali dia melangkah ke samping, Yoga ikut melangkah ke samping, terus saja mengadang jalannya dengan keras kepala.

Amara pun menengadah dan menatap Yoga dengan kesal. "Tolong minggir, ini sudah malam. Aku mau kembali ke asrama."

Yoga pun merasa sangat jengkel karena Amara adalah wanita pertama yang menolaknya mentah-mentah.

Bukankah Amara hanya sedikit lebih cantik? Lagi pula, Yoga sama sekali tidak pernah kekurangan wanita cantik.

Jika bukan karena sikap dingin dan acuh tak acuh Amara yang setiap harinya membangkitkan hasrat teman-temannya untuk menaklukkannya, sampai mereka menghasutnya untuk menundukkan Amara, Yoga juga sama sekali tidak akan sudi untuk meliriknya!

Terkait taruhan tujuh hari itu, Yoga datang dengan penuh rasa percaya diri. Yoga sangat yakin jika dia pasti bisa membuat Amara setuju menjadi pacarnya dalam waktu kurang dari sehari.

Namun, akhirnya, Amara malah mempermalukannya habis-habisan, sehingga membuat Yoga sangat murka.

"Nggak usah sok suci! Kamu itu cuma ngerasa aku nggak punya duit karena udah punya sugar daddy, 'kan?"

Yoga tersenyum sinis, sorot matanya penuh ejekan.

Yoga langsung melemparkan buket mawar yang berisi 99 tangkai mawar itu ke dalam tong sampah.

Yoga merasa benar-benar membuang-buang uang dengan membeli bunga itu, memangnya Amara pantas menerimanya?

Tubuh Amara sedikit limbung, dia menatap Yoga dengan terkejut.

Mengapa Yoga bisa bicara seperti itu?

Apakah Kezia dan yang lainnya sudah mengatakan sesuatu di luar sana?

Selain Kezia, Amara tidak bisa memikirkan kemungkinan lain.

Kezia sudah berkali-kali menyebarkan rumor buruk tentang dirinya. Sebelumnya, Kezia juga sudah sering menyindir dirinya di depannya.

"Jangan menatapku seperti itu dong, Cantik! Sini, aku tunjukkan sesuatu yang menarik."

Dengan sikap misterius, Yoga mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi TikTok, lalu memutar video pertama yang ada di daftar favoritnya.

Belum ada dua detik video itu diputar, mata Amara sudah langsung terbelalak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 50

    Aryan langsung tersadar. Dia baru ingat jika belum sempat memberi tahu tujuannya menyuruh Amara datang ke sini.Pantas saja Amara salah paham dengan niatnya. Namun, kenapa wajah gadis itu malah merona?Jangan-jangan, dia mengira ….Dengan kaki menyilang dan tubuh setengah bersandar di dinding, Aryan menatap punggung Amara dengan tatapan menggoda.Meja di ruang tamu tampak begitu bersih, hanya ada sekotak tisu dan sebuah kantong plastik di atasnya.Kantong plastik yang tampak penuh menggembung itu dibuka Amara dengan wajah yang masih merona.Di dalamnya, menyembul sebuah sudut benda. Ternyata, itu adalah palet lukis.Amara sempat tertegun untuk sesaat. Dia baru menyadari jika isi kantong itu semuanya adalah peralatan melukis, mulai dari kuas, papan sketsa, hingga cat warna.Namun, bahkan, setelah mengubek-ubeknya sampai ke bagian paling bawah, Amara tetap tidak menemukan barang yang sempat ada dalam bayangannya itu.Amara benar-benar dibuat melongo. Jadi, Aryan membeli semua ini?"Kenap

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 49

    Sementara risikonya? Jika sampai ada yang sedang sial dan mendapat tiga rekan tim yang payah, itu bisa jadi bencana.Namun, Amara tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak perlu satu tim dengan orang-orang di kamar asramanya.Tanpa ragu lagi, Amara langsung mengirimkan formulir pendaftaran kompetisi. Begitu mendapat notifikasi jika pendaftarannya berhasil, Amara segera mempelajari jadwal perlombaan dengan saksama.Kompetisi ini benar-benar penting bagi masa depannya. Jadi, Amara harus mencurahkan seluruh perhatiannya ke kompetisi tersebut. Amara perlu memahami jadwal acara sejak awal agar bisa meluangkan waktu untuk bersiap-siap.Jika sudah seperti ini, artinya Amara harus izin libur dahulu dari beberapa kerja paruh waktunya.Untungnya, selama ini performa kerja Amara selalu bagus. Begitu Amara meminta izin, para bos di beberapa tempat kerjanya langsung setuju tanpa ragu. Bahkan, mereka menyuruh Amara untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.Setelah itu, Amara sempat mampi

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 48

    Amara sudah bisa menebak jika Yoga akan bertanya seperti itu."Kami cuma kebetulan kenal. Dokter Aryan orang yang baik."Amara sengaja menjawabnya secara tidak langsung, berputar-putar demi menghindari inti pertanyaannya.Akan tetapi, wajah Yoga langsung terlihat masam.Apa-apaan sih?Aryan dibilang orang baik?Amara pasti belum pernah melihat sisi iblis pria itu."Kakakku nggak naksir kamu, 'kan?"Yoga jauh lebih memedulikan pertanyaan yang satu ini.Itu karena, jawabannya menentukan apakah Amara akan menjadi kakak iparnya di masa depan atau tidak.Amara memikirkannya baik-baik, sepertinya memang tidak ada.Sejak awal, hubungannya dengan Aryan hanya murni transaksi bisnis, sama sekali tidak melibatkan perasaan."Nggak ada."Yoga merasa agak lega di dalam hati. Baguslah jika kakaknya memang tidak ada rasa.Jika sampai Aryan tahu dia pernah menyatakan cinta pada orang yang disukainya, ditambah juga sempat merundungnya, Yoga pasti akan langsung berakhir di kolom berita pembunuhan besok p

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 47

    Setelah menahan amarah sekian lama, hanya kalimat itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Yoga.Amara menengadah untuk menatap Yoga dan gerombolan sahabatnya. Tanpa terburu-buru, Amara menggigit rotinya, lalu kembali menyesap susu kedelainya."Bukan aku yang merusak kunci pintunya."Ucapan Amara terdengar datar, diiikuti dengan ekspresi wajah yang seakan menyuruh Yoga untuk menyimpulkannya sendiri.Yoga tertegun untuk sesaat. Sebuah jawaban mendadak terlintas di benaknya, tetapi Yoga langsung merasa hal itu sama sekali tidak mungkin.Lagi pula, sepupunya itu bukan orang sembarangan.Selama 20 tahun lebih hidup di dunia, selain ibunya sendiri, tidak ada satu pun perempuan yang bisa berada dekat-dekat dengan sepupunya itu.Zaman sekolah dahulu, ada banyak sekali gadis yang menulis surat cinta untuk Aryan, tetapi tidak pernah dilirik oleh Aryan.Setelah bekerja sekalipun, banyak perempuan yang terang-terangan mengejar dan menyerahkan diri pada Aryan. Namun, tidak peduli seberapa cantikny

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 46

    Amara mengupas telur rebusnya dengan santai dan pelan-pelan, berpura-pura tidak melihat mereka yang sedang saling bertukar pandang.Jujur saja, akting mereka terlalu payah.Berharap Amara tidak menyadari kejanggalannya, itu benar-benar mustahil.Sambil menunduk dan menyesap susu kedelainya, tiba-tiba saja Amara teringat sesuatu."Sarapannya habis berapa? Sini, aku transfer ke kalian."Amara mengeluarkan ponselnya, lalu membuka grup obrolan asrama yang sudah lama tidak dibuka.Riwayat obrolan di sana masih tertahan di musim penghujan tahun lalu, tepatnya saat Amara mengirimkan rincian tagihan listrik asrama.Amara tahu betul jika Kezia dan yang lainnya punya beberapa grup obrolan asrama lain yang sengaja tidak mengajak dirinya.Sehari-hari, mereka memang selalu mengobrol di grup-grup terpisah itu.Cuma berenam, tetapi punya tujuh sampai delapan grup obrolan.Kelihatannya pertemanan mereka tidak sekompak itu, tetapi apa urusannya dengan Amara?Kezia sama sekali tidak ambil pusing soal ua

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 45

    Dalam kegelapan, Kezia menyibak tirai ranjangnya.Seketika itu juga, beberapa tirai ranjang lainnya ikut terbuka secara bersamaan. Teman-teman sekamarnya melongokkan kepala dan melihat ke arah Kezia."Kok bisa sih? Amara itu bebal banget, nggak mempan diapa-apain!"Salah satu dari mereka angkat bicara.Tasya sedikit mengerutkan kening. "Apa kita ketahuan, atau Amara sudah dengar desas-desus?"Setelah berkata seperti itu, Tasya menatap curiga ke arah gadis-gadis lain di kamar asrama itu.Meski sebenarnya, dalam kegelapan seperti ini, Tasya tidak bisa melihat apa-apa."Mana mungkin! Nggak bakalan aku bocorin info ke dia!""Iya, bener! Menurutku, jangan-jangan sikap kalian yang kurang natural, makanya bikin dia curiga?"Kamar asrama itu langsung riuh saat gadis-gadis itu mulai menyahut dan berebut untuk bicara.Meski mereka sudah merendahkan suara, Amara tetap bisa mendengarnya.Awalnya, Amara tidak mendengar dengan jelas. Namun, kamar asrama yang tadinya sunyi itu tiba-tiba dipenuhi suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status