Share

Bab 7

Author: Santari Kirani
Dalam video itu, seorang mahasiswi dan seorang pria masuk ke dalam mobil mewah bersama-sama.

Pria itu hanya terlihat dari belakang sehingga wajahnya tidak jelas. Namun, wajah si mahasiswi terlihat begitu jelas, bahkan sengaja diperbesar.

Itu Amara.

Tepatnya, itu adalah adegan saat Aryan menjemput Amara sore tadi dan mereka berdua masuk ke mobil bersama-sama.

Wajah Amara langsung pucat pasi, kuku-kukunya tertancap kuat ke dalam dagingnya.

"Pria itu barusan kembali mengantarmu pulang, 'kan? Aku lihat semuanya. Apa saja yang kamu lakukan selama dua jam kepergianmu itu? Hmm?"

"Adik kelas yang dingin dan angkuh, di mata orang lain kamu mungkin terlihat seperti gadis cantik yang dingin dan sulit didekati. Tapi, kenyataannya, kamu cuma wanita simpanan pria kaya yang dibiayai hidupnya."

Senyum Yoga yang kejam itu begitu menyakitkan mata dan penuh kebencian.

Yoga mengulurkan satu jarinya dan berniat mengangkat dagu Amara. Namun, gadis itu langsung mengelak.

Amara dengan cepat menenangkan diri, tatapannya tampak sedingin es. "Aku nggak tahu siapa yang menyebarkan video itu dengan niat buruk. Tapi, faktanya sama sekali nggak seperti yang dikatakan di video!"

"Ada satu kalimat yang ingin kusampaikan kepada Kak Yoga, jangan komentar kalau nggak tahu kebenarannya. Aku nggak ingin ada orang yang terus menyebarkan rumor seperti ini. Kalau nggak, aku pasti akan menuntut si penyebar atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong."

Di mata Amara yang dingin, tersirat sedikit amarah. Sosok Amara yang seperti ini, entah kenapa malah membuat Yoga merasa takut.

Yoga tidak percaya kata-kata Amara, tetapi dia juga tidak berani mengambil risiko.

Lagi pula, tidak ada yang punya bukti nyata dan kuat. Jadi, tidak sulit bagi Amara untuk memenangkan gugatan hukum itu.

Yoga merasa sangat geram, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kepada Amara.

"Bagus sekali, Amara. Kamu punya nyali juga. Mending kamu berdoa agar nggak pernah jatuh ke tanganku!"

Setelah melontarkan ancaman kejam itu, Yoga pun berbalik dan pergi.

Di dalam asrama, Amara mengeluarkan ponselnya dan mencari video yang tadi.

Judul videonya sangat lugas dan vulgar, jadi tidak sulit untuk menemukannya.

Setelah memasukkan kata kunci terkait, Amara pun langsung menemukan video itu.

Entah apakah karena si pengunggah asli sedang sial atau apa, video tersebut ternyata tidak banyak yang melihat.

Beberapa komentar yang ada, semuanya berasal dari orang-orang di kampus.

Kira-kira siapa orangnya?

Yang bisa mengambil video saat dia masuk ke mobil pastilah orang kampus. Namun, apakah itu mahasiswa, dosen, atau staf karyawan lainnya, masih belum bisa dipastikan.

Ada ratusan orang di Fakultas Seni Rupa, jadi sangat sulit untuk mengetahui siapa pelakunya.

Amara memeriksa video-video lain milik si pengunggah dan dia bisa memastikan jika pemilik akun tersebut adalah perempuan.

Video-video lainnya menampilkan pakaian atau tas.

Setelah keluar dari halaman profil akun tersebut, Amara langsung menekan tombol laporkan.

Setelah mandi sebentar, Amara menghindari orang lain dan diam-diam mengoleskan obat di dalam kamar mandi.

Lantaran tidak bisa melihat lukanya, Amara hanya bisa meraba-raba dengan tangannya untuk mengoleskan obat tersebut.

Prosesnya sangat sulit dan Amara sendiri tidak tahu apakah obat itu sudah dioleskan di tempat yang benar atau tidak.

Begitu kembali ke ranjangnya, Amara mendengar Kezia berteriak kaget.

Amara bersembunyi di balik tirai ranjang dan tidak melihat ke sana.

Tasya menjadi orang pertama yang bereaksi. Dia bergegas mendekati tempat tidur Kezia dengan khawatir, "Kezia, ada apa?"

Ranjang Amara tepat berhadapan dengan ranjang Kezia. Melalui celah tirai ranjangnya sendiri, Amara bisa melihat Kezia menyibak tirai ranjangnya.

Kezia melirik kesal ke arah ranjang Amara, suaranya terdengar jengkel, "Bukan apa-apa, cuma habis melihat anjing gila yang menggigit ke sana kemari."

Setelah mengatakan itu, Kezia menutup kembali tirai ranjangnya dengan kesal.

Video yang bagus, yang menonton belum banyak, kenapa malah dihapus karena melanggar aturan?

Tidak bisa dibiarkan, dia harus kembali mengunggahnya.

Hari Sabtu, suasana di dalam asrama begitu sunyi. Amara bangun dengan mengendap-endap dan mandi.

Langit baru saja agak terang, tetapi Amara sudah berangkat untuk bekerja paruh waktu.

Beberapa hari, ini Aryan tidak lagi menghubunginya. Namun, Amara juga tidak berhenti untuk terus bekerja paruh waktu. Amara tidak melewatkan satu pun kesempatan untuk bekerja.

Jadwal Amara hari ini sangat padat, dari pagi hingga malam.

Hingga malam tiba, Amara menyeret tubuhnya yang kelelahan menuju ke tempat kerja paruh waktu terakhirnya, yaitu bar terbesar di wilayah sekitar, Bar S&K.

"Halo, Bos."

Setelah masuk, Amara menyapa pemilik bar terlebih dahulu, lalu pergi ke ruang istirahat untuk mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.

Pemilik bar menugaskan Amara untuk melayani tiga meja pelanggan dan berpesan agar Amara benar-benar melayani mereka dengan baik.

Lantaran tahu Amara sedang kekurangan uang, setiap kali ada tamu kaya yang datang berkunjung, pemilik bar selalu menyuruh Amara yang melayani. Jika sedang beruntung, Amara bisa mendapatkan uang tip yang lumayan besar.

Sesuai petunjuk dari bosnya, Amara membawa minuman yang dipesan oleh tamu dan berjalan menuju area sofa.

Sambil menundukkan kepala, Amara menata minuman tersebut satu per satu di atas meja.

"Semua minumannya sudah lengkap, selamat bersenang-senang malam ini."

Setelah berkata seperti itu, Amara baru saja hendak pergi ketika tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram dengan kuat.

Amara menengadah dan langsung bertatapan dengan wajah yang familier.

Yoga menatapnya dengan tatapan mengejek. "Ternyata memang kamu, Amara. Kebetulan sekali, kita ketemu lagi."

Ternyata, orang itu adalah Yoga.

Amara menggigit ujung lidahnya. Rasa sakit yang samar itu membuat pikirannya sedikit lebih jernih.

Amara melirik ke arah pergelangan tangannya yang dicengkeram erat. Senyum di wajahnya langsung hilang dan suaranya terdengar sedingin es, "Kak Yoga, ini tempat umum. Tolong lepaskan tanganmu."

Yoga seakan baru saja mendengar lelucon yang begitu lucu dan tertawa terbahak-bahak.

"Bukankah kamu paling suka bicara soal kebenaran dan logika? Kalau gitu, hari ini giliranku yang akan mengajarimu soal itu."

Yoga mendekat, raut wajahnya tampak mengejek. "Sekarang, aku ini pelanggan, sementara kamu itu pelayan. Sudah sewajarnya kamu memenuhi semua permintaan pelanggan."

Teman-teman Yoga yang berada di area sofa tersebut, semuanya memasang sikap siap menonton pertunjukan, menanti untuk melihat si cantik yang sedingin es itu hancur harga dirinya.

Membayangkan si gadis yang cantik, anggun dan sulit dijangkau itu kehilangan harga dirinya, lalu direndahkan oleh anak orang kaya saja, sudah terasa sangat menarik bagi mereka.

Amara menarik napas dalam-dalam, menahan amarah di hatinya. "Minumannya sudah diantarkan. Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?"

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, gelak tawa langsung terdengar di sekelilingnya.

Salah satu dari mereka ikut memanas-manasi. "Pak Yoga, dia malah tanya apa yang kamu butuhkan. Hahaha, kalau butuh kamu, boleh nggak?"

Yoga mengambil minuman di atas meja, meliriknya sekilas, lalu melemparkannya begitu saja ke arah Amara.

Mata Amara berkilat. Dengan gerakan refleks yang cepat, Amara menangkap botol itu, sebelum botol itu pecah.

"Aku nggak suka minuman ini. Hmm … ganti aja sama sampanye."

Yoga pura-pura berpikir keras selama beberapa saat, lalu angkat bicara.

Semua orang sangat antusias menikmati pertunjukan ini, mereka ingin melihat bagaimana reaksi Amara selanjutnya.

Amara tidak mengatakan apa-apa. Dengan cekatan, dia membereskan minuman yang baru saja dibawanya, menggantinya dengan sampanye dan membawanya masuk kembali.

Yoga jelas-jelas sengaja ingin mempersulit Amara. Tanpa melirik botol itu sedikit pun, Yoga langsung berkata, "Bukan ini yang kumau. Apa bosmu nggak pernah mengajarimu minuman seperti apa yang harus disajikan untuk tamu sekelas aku?"

Meski tahu jelas jika dirinya sedang dipersulit, Amara tidak punya pilihan selain menahannya.

Ketika Amara mengantarkan minuman untuk keenam kalinya ke area sofa itu, secara mengejutkan, Yoga tidak lagi mencari-cari kesalahan Amara, melainkan justru memujinya habis-habisan.

Yoga berkata kepada Amara dengan nada memerintah, "Minumannya lumayan, tuangkan untuk kami."

Amara hanya meliriknya dengan acuh tak acuh, lalu melakukannya dengan patuh.

Begitu botol dibuka, aroma alkohol yang kuat langsung merebak.

Cairan alkohol berwarna ambar mengalir pelan di sepanjang dinding gelas. Yoga kembali angkat bicara, "Bukan begitu cara menuangkan minuman."

Sambil berkata seperti itu, Yoga mengulurkan tangan untuk mempraktikkannya. Dia lalu memberi isyarat agar Amara memegangkan ponselnya sebentar.

Namun, tepat di saat Amara menerimanya, ponsel itu mendadak jatuh ke lantai dengan suara "prak" dan langsung hancur berkeping-keping.

Amara menengadah untuk menatap Yoga dengan wajah yang masam.

Yoga langsung menutup mulutnya dan tampak sangat terkejut. "Ah! Ponselku! Itu model terbaru yang baru aja keluar. Harganya lebih dari 20 juta!"

"Gimana ini? Amara, kayaknya kamu harus ganti yang baru untukku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 50

    Aryan langsung tersadar. Dia baru ingat jika belum sempat memberi tahu tujuannya menyuruh Amara datang ke sini.Pantas saja Amara salah paham dengan niatnya. Namun, kenapa wajah gadis itu malah merona?Jangan-jangan, dia mengira ….Dengan kaki menyilang dan tubuh setengah bersandar di dinding, Aryan menatap punggung Amara dengan tatapan menggoda.Meja di ruang tamu tampak begitu bersih, hanya ada sekotak tisu dan sebuah kantong plastik di atasnya.Kantong plastik yang tampak penuh menggembung itu dibuka Amara dengan wajah yang masih merona.Di dalamnya, menyembul sebuah sudut benda. Ternyata, itu adalah palet lukis.Amara sempat tertegun untuk sesaat. Dia baru menyadari jika isi kantong itu semuanya adalah peralatan melukis, mulai dari kuas, papan sketsa, hingga cat warna.Namun, bahkan, setelah mengubek-ubeknya sampai ke bagian paling bawah, Amara tetap tidak menemukan barang yang sempat ada dalam bayangannya itu.Amara benar-benar dibuat melongo. Jadi, Aryan membeli semua ini?"Kenap

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 49

    Sementara risikonya? Jika sampai ada yang sedang sial dan mendapat tiga rekan tim yang payah, itu bisa jadi bencana.Namun, Amara tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak perlu satu tim dengan orang-orang di kamar asramanya.Tanpa ragu lagi, Amara langsung mengirimkan formulir pendaftaran kompetisi. Begitu mendapat notifikasi jika pendaftarannya berhasil, Amara segera mempelajari jadwal perlombaan dengan saksama.Kompetisi ini benar-benar penting bagi masa depannya. Jadi, Amara harus mencurahkan seluruh perhatiannya ke kompetisi tersebut. Amara perlu memahami jadwal acara sejak awal agar bisa meluangkan waktu untuk bersiap-siap.Jika sudah seperti ini, artinya Amara harus izin libur dahulu dari beberapa kerja paruh waktunya.Untungnya, selama ini performa kerja Amara selalu bagus. Begitu Amara meminta izin, para bos di beberapa tempat kerjanya langsung setuju tanpa ragu. Bahkan, mereka menyuruh Amara untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.Setelah itu, Amara sempat mampi

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 48

    Amara sudah bisa menebak jika Yoga akan bertanya seperti itu."Kami cuma kebetulan kenal. Dokter Aryan orang yang baik."Amara sengaja menjawabnya secara tidak langsung, berputar-putar demi menghindari inti pertanyaannya.Akan tetapi, wajah Yoga langsung terlihat masam.Apa-apaan sih?Aryan dibilang orang baik?Amara pasti belum pernah melihat sisi iblis pria itu."Kakakku nggak naksir kamu, 'kan?"Yoga jauh lebih memedulikan pertanyaan yang satu ini.Itu karena, jawabannya menentukan apakah Amara akan menjadi kakak iparnya di masa depan atau tidak.Amara memikirkannya baik-baik, sepertinya memang tidak ada.Sejak awal, hubungannya dengan Aryan hanya murni transaksi bisnis, sama sekali tidak melibatkan perasaan."Nggak ada."Yoga merasa agak lega di dalam hati. Baguslah jika kakaknya memang tidak ada rasa.Jika sampai Aryan tahu dia pernah menyatakan cinta pada orang yang disukainya, ditambah juga sempat merundungnya, Yoga pasti akan langsung berakhir di kolom berita pembunuhan besok p

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 47

    Setelah menahan amarah sekian lama, hanya kalimat itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Yoga.Amara menengadah untuk menatap Yoga dan gerombolan sahabatnya. Tanpa terburu-buru, Amara menggigit rotinya, lalu kembali menyesap susu kedelainya."Bukan aku yang merusak kunci pintunya."Ucapan Amara terdengar datar, diiikuti dengan ekspresi wajah yang seakan menyuruh Yoga untuk menyimpulkannya sendiri.Yoga tertegun untuk sesaat. Sebuah jawaban mendadak terlintas di benaknya, tetapi Yoga langsung merasa hal itu sama sekali tidak mungkin.Lagi pula, sepupunya itu bukan orang sembarangan.Selama 20 tahun lebih hidup di dunia, selain ibunya sendiri, tidak ada satu pun perempuan yang bisa berada dekat-dekat dengan sepupunya itu.Zaman sekolah dahulu, ada banyak sekali gadis yang menulis surat cinta untuk Aryan, tetapi tidak pernah dilirik oleh Aryan.Setelah bekerja sekalipun, banyak perempuan yang terang-terangan mengejar dan menyerahkan diri pada Aryan. Namun, tidak peduli seberapa cantikny

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 46

    Amara mengupas telur rebusnya dengan santai dan pelan-pelan, berpura-pura tidak melihat mereka yang sedang saling bertukar pandang.Jujur saja, akting mereka terlalu payah.Berharap Amara tidak menyadari kejanggalannya, itu benar-benar mustahil.Sambil menunduk dan menyesap susu kedelainya, tiba-tiba saja Amara teringat sesuatu."Sarapannya habis berapa? Sini, aku transfer ke kalian."Amara mengeluarkan ponselnya, lalu membuka grup obrolan asrama yang sudah lama tidak dibuka.Riwayat obrolan di sana masih tertahan di musim penghujan tahun lalu, tepatnya saat Amara mengirimkan rincian tagihan listrik asrama.Amara tahu betul jika Kezia dan yang lainnya punya beberapa grup obrolan asrama lain yang sengaja tidak mengajak dirinya.Sehari-hari, mereka memang selalu mengobrol di grup-grup terpisah itu.Cuma berenam, tetapi punya tujuh sampai delapan grup obrolan.Kelihatannya pertemanan mereka tidak sekompak itu, tetapi apa urusannya dengan Amara?Kezia sama sekali tidak ambil pusing soal ua

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 45

    Dalam kegelapan, Kezia menyibak tirai ranjangnya.Seketika itu juga, beberapa tirai ranjang lainnya ikut terbuka secara bersamaan. Teman-teman sekamarnya melongokkan kepala dan melihat ke arah Kezia."Kok bisa sih? Amara itu bebal banget, nggak mempan diapa-apain!"Salah satu dari mereka angkat bicara.Tasya sedikit mengerutkan kening. "Apa kita ketahuan, atau Amara sudah dengar desas-desus?"Setelah berkata seperti itu, Tasya menatap curiga ke arah gadis-gadis lain di kamar asrama itu.Meski sebenarnya, dalam kegelapan seperti ini, Tasya tidak bisa melihat apa-apa."Mana mungkin! Nggak bakalan aku bocorin info ke dia!""Iya, bener! Menurutku, jangan-jangan sikap kalian yang kurang natural, makanya bikin dia curiga?"Kamar asrama itu langsung riuh saat gadis-gadis itu mulai menyahut dan berebut untuk bicara.Meski mereka sudah merendahkan suara, Amara tetap bisa mendengarnya.Awalnya, Amara tidak mendengar dengan jelas. Namun, kamar asrama yang tadinya sunyi itu tiba-tiba dipenuhi suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status