Mag-log in"Eh, ternyata lo udah pulang? Kirain gue mati sama bayi lo." Cibir Alice berusaha menutupi wajah terkejutnya melihat Serena yang sangat cantik sekarang, Serena hanya menatap mereka datar.
Di sana hanya ada tiga orang, wanita paruh baya yang ia yakini adalah Casandra Casanova mertua tubuh ini dan gadis kembar yang seumuran dirinya yang satu tanpa ekspresi namanya Elsie Casanova dan satu lagi menatap dirinya mengejek yang tadi berbicara tidak sopan yang tak lain adalah Alice. Suaminya memang memiliki adik kembar dan satu adik laki-laki yang sudah menikah dan ia tidak tahu tinggal dimana. Tatapan mata Cassandra melihat ke arah anaknya yang di gendong Emma, entah apa arti tatapan itu untuk sekarang Serena tidak peduli. "Emma, bisa antarkan aku ke kamar?" "Baik nyonya, kalo begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu Emma membantu memapah Serena ke kamarnya, meninggalkan mereka yang terkejut dengan bahasa Serena yang baru dan biasanya jika Alice berbicara maka serena akan menyahut dengan marah. "Mom, ada apa dengan wanita itu? Apa dia sedang membuat drama lagi, ck sungguh menjijikan." Cibir Alice, dia sungguh benci kepada wanita itu yang sudah menjebak Kakaknya. "Biarkan saja, nanti juga dia yang kena batunya." Cassandra berucap tidak peduli, berbeda dengan Elsie yang menatap Serena aneh. "Elsie yakin setelah semuanya kalian akan luluh, Elsie ke kamar." Setelah mengatakan itu Elsie pergi ke kamarnya. "Woy twins! Lo bilang apa sih? Yang jelas dong kalo ngomong," seru Alice. Casandra terdiam, dia jelas mengerti maksud anaknya tapi dia berusaha tidak peduli. Serena sudah sampai di kamarnya, meskipun pernikahan ini terpaksa tapi keduanya tidur di kamar yang sama karena ada Nenek suaminya yang membela makanya mereka tidak berani bermacam-macam padanya. Tapi, suaminya tidak pernah tidur di sini dan lebih sering menginap di kantor karena tidak ingin tidur bersamanya, mungkin saja jijik. "Nyonya, tuan muda sangat tampan sekali. Dia juga anak yang pengertian dan tidak rewel sama sekali. Emma sangat menyukai tuan muda." ujar Emma semangat, bahkan sekarang sudah tidak takut lagi kepada majikannya. "Ingat! Umur kamu beda jauh sama anakku," ucap Serena membuat Emma cengengesan. "Bukan begitu nyonya, maksud Emma tuan muda sangat tampan." "Baiklah, baiklah. aku mengerti." Kasihan juga jika Emma terus digoda olehnya.. "Oh iya nyonya, siapa nama tuan muda?" tanya Emma. Serena terdiam, benar dirinya belum memberikan nama untuk anaknya. Jika menyuruh suaminya yang memberikan nama pasti tidak akan mau, kira-kira nama yang bagus apa ya. Mata Serena berbinar bahagia, ibunya di kehidupannya dulu memperkenalkan dirinya kepada anak sahabatnya dan namanya sangat Serena sukai. "Sepertinya nama Arcelio cocok, bagaimana menurutmu?" tanya balik Serena. "Wah bagus nyonya, tapi hanya satu kata?" "Arcelio Casanova, itu namanya." Jawab Serena. "Nama yang sangat bagus nyonya dan lihat-lihat tuan muda tersenyum dari tidurnya mungkin dia juga menyukai nama yang nyonya berikan." Seru Emma heboh, serena tersenyum lembut menatap anaknya. Ya, Dirinya sudah menganggap Beby Arce anaknya sendiri. Sekarang Serena sendiri di kamarnya, mengelilingi kamar mewah yang sekarang dirinya tempati. Ia juga masuk ke Walk In Closet milik tubuh ini dan juga suaminya dan keningnya mengernyit heran melihat baju-baju milik tubuh ini. Serena mengambil satu yang berwarna kuning cerah, apakah pemilik tubuh ini memakai baju yang seperti ini? Iuwwww bukan tipenya sekali. Pantas saja suaminya jijik kepadanya, ia saja yang hanya melihatnya sudah jijik duluan. Ini pasti ulah Sahabat ularnya itu, Tidak boleh! Ia harus mengganti semuanya. Ia akan memakai baju fashion dirinya di kehidupannya dulu, mana sudi ia memakai baju seperti ini. Serena bergidik ngeri membayangkan jika memakai baju itu, dan entah kenapa ia memikirkan suami pemilik tubuh ini. Bagaimana ya wajah terkejut dia melihat wajahnya yang tanpa makeup? ******* Sudah satu minggu Serena tidak keluar kamar, makan pun ia menyuruh Emma membawanya ke kamar. Bukannya tidak ingin keluar tapi Serena sedang memikirkan rencana ke depannya dirinya harus apa, apalagi ia tidak tahu apapun tentang dunia ini hanya bermodal ingatan pemilik asli saja. Serena sudah bisa menerima keadaannya sekarang, lagian untuk apa ia merenung dan berkoar-koar ingin kembali ke kehidupannya yang dulu. Karena nyatanya ia tidak bisa keluar dari sini, kecuali ada keajaiban dan tubuh asli dirinya di dunia pertama masih hidup. Jadi, ia ikutin saja alurnya mau dibawa kemana. Soal bayi itu Serena tidak masalah merawatnya, anggap saja berterima kasih Kepada Serena asli karena membiarkan ia menempati tubuhnya. Dirinya juga sudah membeli baju-baju seksi dari desainer terkenal langganan keluarga Casanova, Serena yakin mereka pasti terkejut melihat ia belanja baju banyak sekali. Biarkanlah mereka berpikir apa tentang dirinya, ia tidak perduli. "Aku harus bertahan di rumah ini, jika bercerai aku harus kemana? Pemilik tubuh ini saja tidak punya apa-apa hanya modal cantik saja. Tapi, aku harus bagaimana? Apa aku menggoda suami pemilik asli saja ya, agar aku bisa bertahan hidup. Ya, itu ide yang bagus," gumam Serena. Saat sedang asik rebahan Baby Arce menangis, ia langsung menghampiri dan menggendongnya. "Cup, cup, cup, anak baik. Jangan nangis ya," ujar Serena, tapi Beby Arce malah menangis semakin kencang. Serena bingung harus apa, dia berusaha mengingat-ingat apa yang harus dilakukan jika bayinya menangis. Tok tok tok Pintu terbuka ternyata Emma yang datang, Emma langsung menghampiri Serena. "Nyonya, apa yang terjadi dengan tuan muda?" "Aku tidak tahu, tapi Baby Arce sering menangis." Serena menempelkan botol susu ke mulut anaknya, tapi selalu di tolak. Emma terdiam, memikirkan sesuatu yang menurutnya benar. "Nyonya, apa mungkin tuan muda tidak menginginkan susu formula." "Lalu, aku harus apa?" "Maaf lancang nyonya, apa tidak sebaiknya nyonya mencoba menyusui tuan muda dengan asi," ujar Emma hati-hati takut menyinggung majikannya. Serena terdiam, benar yang di ucapkan Emma. Tapi, apakah harus menyusui? Serena belum siap jika memang seperti itu, bagaimana ini? Serena menghela nafasnya pasrah, baiklah. Ia akan memberikan makan anaknya dengan asi milik ibunya yang sekarang dirinya tempati, lagian payudaranya juga terasa sakit karena asinya selalu banyak dan Serena sering membuangnya karena tidak tahu juga harus gimana. Ia tidak mengerti apapun soal urusan bayi, karena dulu dirinya yang selalu dimanja seperti bayi. "Keluarlah Emma." titah Serena. "Baik nyonya, saya permisi." Emma pergi meninggalkan Serena yang sedang menatap bayi di gendongannya yang sedang menangis, Serena duduk ditepi kasur bersiap untuk menyusui anaknya. Serena terkekeh lucu melihat bayi di gendongannya. "Kamu... sungguh bayiku?" Tidak ada yang menjawab hanya angin kosong. Serena membuka kancingnya dan mulai menyusui anaknya, Baby Arce langsung melahap pu*ing miliknya dan menyedot sangat kuat. Bahkan Baby Arce langsung berhenti menangis, diawal Serena merasa kesakitan sampai rasanya ingin menangis tapi berusaha ia tahan, sesekali meringis sambil menatap bayinya yang sedang minum asi miliknya dengan lahap dan cepat, mungkin karena pertama kalinya. "Pelan-pelan boy, tidak ada yang mengambilnya darimu." Serena mengelus pipi bayinya, tubuh anaknya sangat kurus mungkin tidak cocok dengan susu formula. Ia juga pernah bertanya kepada dokter dan katanya harus memberikan asi dirinya jika memang asi-nya keluar, lalu pandangan Serena terarah ke jendela. "Setelah ini aku harus apa? Aku kira aku akan mati dan berkumpul bersama keluargaku, tapi kenapa aku harus bertransmigrasi ke dunia yang aku sendiri ga tahu dimana," gumam Serena kembali meringis kesakitan. "Dan lebih tidak masuk akal, aku sudah mempunyai suami dan anak. Bagaimana mungkin? Bahkan umurku baru 19 tahun. Apakah di sini tidak ada sistem yang membantu aku seperti cerita-cerita transmigrasi lainnya? Harusnya masukan saja aku ke dalam novel agar aku tahu alurnya. Jika begini, aku tidak tahu harus apa." Lagi-lagi Serena menghela nafasnya gusar, andai saja kak Tania juga ada di sini pasti bebannya sedikit berkurang. Baby Arce tidur kembali karena kenyang meminum asi miliknya, ia menidurkan bayinya dengan pelan-pelan. Untung saja di kehidupan pertamanya ia pernah belajar menggendong bayi suruhan kak Tania, katanya takut dirinya di tes menjadi seorang ibu. Bersambung...Keduanya sudah tidur, tapi suara bising bayinya yang menangis membangunkan Serena yang tertidur nyenyak. Serena meregangkan ototnya yang terasa sangat sakit, ia menatap sekelilingnya dan tatapannya jatuh pada suaminya yang sedang tidur. Apakah kalian mengira keduanya tidur bersama? Jawabannya TIDAK ia tidur di sofa karena sang suami yang menyuruhnya, lagian Serena juga masih canggung jika harus tidur bersama dengan pria untuk pertama kalinya. Oeee Oeee Oeee Serena menghampiri bayinya dan menggendongnya. "Baby, berhentilah menangis oke? Nanti tenggorokan mu sakit." Serena menatap suaminya lagi, ia bernafas lega suaminya masih tidur jadi ia bebas menyusui bayinya. Serena memberikan asi-nya kepada anaknya dan dilahap oleh anaknya dengan rakus, Serena terkekeh melihat bayinya yang menggemaska. Sesekali meringis, rasanya masih sakit. "Ternyata kamu lapar, pelan-pelan baby awss. Lihat? Daddy mu masih tidur dan dia tidak akan mengambilnya." Serena terkekeh mendengar ucapannya sendiri,
Malam harinya Serena sedang bersantai, tapi pelayan datang mengganggu waktu santai dirinya. "Lo disuruh makan di bawah, jangan lelet." Setelah mengatakan itu pelayan pergi. Serena menatap pelayan tadi datar, seperti itulah sikap mereka kepadanya tidak tahu diri dan penyebabnya adalah pemilik asli tubuh ini. Serena menghela nafasnya, detik ini juga ia akan bertemu dengan mereka lagi. Serena menggendong anaknya untuk ikut turun, ia tidak mungkin membiarkannya sendiri atau menitipkan kepada pelayan. Yang ada anaknya terluka oleh mereka, karena saat ini yang dirinya percayai hanyalah Emma dan mungkin juga Nenek dari suaminya. Serena turun ke bawah menggunakan lift, saat ia berjalan dan hampir sampai terdengar suara orang-orang yang sedang mengobrol. Serena sampai di ruang makan dan orang-orang yang tadinya berbicara langsung terdiam karena kedatangannya. "Maaf nak, kamu siapa?" tanya wanita tua yang Serena yakini adalah nenek yang menyayanginya, namanya Abigail Casanova. "Aku Serena.
"Eh, ternyata lo udah pulang? Kirain gue mati sama bayi lo." Cibir Alice berusaha menutupi wajah terkejutnya melihat Serena yang sangat cantik sekarang, Serena hanya menatap mereka datar. Di sana hanya ada tiga orang, wanita paruh baya yang ia yakini adalah Casandra Casanova mertua tubuh ini dan gadis kembar yang seumuran dirinya yang satu tanpa ekspresi namanya Elsie Casanova dan satu lagi menatap dirinya mengejek yang tadi berbicara tidak sopan yang tak lain adalah Alice. Suaminya memang memiliki adik kembar dan satu adik laki-laki yang sudah menikah dan ia tidak tahu tinggal dimana. Tatapan mata Cassandra melihat ke arah anaknya yang di gendong Emma, entah apa arti tatapan itu untuk sekarang Serena tidak peduli. "Emma, bisa antarkan aku ke kamar?" "Baik nyonya, kalo begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu Emma membantu memapah Serena ke kamarnya, meninggalkan mereka yang terkejut dengan bahasa Serena yang baru dan biasanya jika Alice berbicara maka serena akan menyahut deng
Serina yang sekarang kita sebut Serena sedang termenung memikirkan nasibnya, ia masih tidak menyangka jiwanya memasuki tubuh orang lain dan lebih tidak menyangka lagi dirinya memasuki tubuh wanita yang sudah memiliki suami dan anak. Ingatan pemilik tubuh ini sudah datang kepadanya saat ia tidak sadarkan diri sehabis melahirkan, ternyata Serena sama sepertinya yang tidak mempunyai orang tua. Nama tubuh ini Serena Casanova, karena ia masih istri dari marga yang dirinya pakai sekarang. Kerjaannya hanya menghamburkan uang bersama sahabatnya, setelah itu merawat diri agar suaminya melihatnya tetapi ternyata tidak ada perubahan apapun. Serena sangat tidak menyukai sifat Serena asli yang semena-mena dan egois tapi dirinya juga kasihan, mungkin dia seperti itu karena keadaan yang mengharuskannya seperti itu. Karena diingatkannya yang dulu Serena anak yang baik dan penyayang tapi semenjak menjadi nyonya Casanova sifat dan sikapnya berubah. Ditambah lagi ia selalu dihasut oleh sahabat yang Se
SERINA baru keluar dari ruangan dengan senyuman merekah, ia berhasil lolos dan akan menjadi aktris. "Kak Tania, aku lolos!" seru Serina bahagia memeluk manajernya yang sudah dirinya anggap sebagai Kakak sendiri. "Selamat ya Ser, Kakak bilang apa kamu pasti diterima. Apalagi body kamu yang kayak gitar spanyol ditambah bakat kamu yang jago akting turunan ibu kamu," ucap Tania ikut bahagia. Ya, dulu ibunya juga seorang aktris sedangkan ayahnya chef di cafe milik ibunya. Meskipun ayahnya tidak terlalu terkenal, tapi masakannya sangatlah enak menurut Serina dan ibunya. Tapi sayang dua bulan yang lalu keduanya sudah pergi meninggalkannya karena kecelakaan, dan hanya dirinyalah yang selamat dari kecelakaan itu. "Aku masih tidak menyangka kak," ujar Serina tak henti-hentinya. "Iya-iya yang lagi bahagia, ngomong-ngomong kamu ga ada niatan buat lanjut kuliah?" tanya Tania. "Ga tahu kak." "Lanjut aja, sayang tahu kalo ga dilanjut. Apalagi kamu kan pintar dapet juara satu terus." Serina mem







