로그인Serina yang sekarang kita sebut Serena sedang termenung memikirkan nasibnya, ia masih tidak menyangka jiwanya memasuki tubuh orang lain dan lebih tidak menyangka lagi dirinya memasuki tubuh wanita yang sudah memiliki suami dan anak. Ingatan pemilik tubuh ini sudah datang kepadanya saat ia tidak sadarkan diri sehabis melahirkan, ternyata Serena sama sepertinya yang tidak mempunyai orang tua.
Nama tubuh ini Serena Casanova, karena ia masih istri dari marga yang dirinya pakai sekarang. Kerjaannya hanya menghamburkan uang bersama sahabatnya, setelah itu merawat diri agar suaminya melihatnya tetapi ternyata tidak ada perubahan apapun. Serena sangat tidak menyukai sifat Serena asli yang semena-mena dan egois tapi dirinya juga kasihan, mungkin dia seperti itu karena keadaan yang mengharuskannya seperti itu. Karena diingatkannya yang dulu Serena anak yang baik dan penyayang tapi semenjak menjadi nyonya Casanova sifat dan sikapnya berubah. Ditambah lagi ia selalu dihasut oleh sahabat yang Serena asli sudah anggap keluarga, nyatanya sahabatnya itu menginginkan posisi nyonya Casanova. Dan lebih kasihan lagi Serena asli ternyata tidak dianggap oleh suami dan keluarga suaminya. Padahal Serena sangat mencintai suaminya, mungkin karena Serena melakukan cara kotor mendapatkan suaminya. Ya, ia memasukkan afrodisiak kepada minuman suaminya dan akhirnya ia hamil lalu meminta pertanggung jawaban itulah ingatan yang pemilik asli berikan. Serena menatap bayinya kasihan, ia tidak masalah jika mereka membenci pemilik tubuh yang ia tempati, tapi kenapa harus membenci bayi yang tidak bersalah. Meskipun ia masih syok tiba-tiba mempunyai anak, tapi tetap saja anak itu lahir di tubuh pemilik asli yang sekarang ia tempati. Serena menghela nafas, sekarang ia masih di rumah sakit sendirian. Biasanya ada satu pelayan yang datang, Serena penasaran seperti apa rupa tubuh yang ia tempati? Serena berdiri ingin ke toilet. "Suster, saya titip anak saya," ucap Serena. "Baik nyonya." Serena melanjutkan jalannya menuju toilet dan terlihatlah wajah dan bentuk tubuh pemilik asli, satu kata untuk tubuh ini adalah wow. Meskipun di kehidupannya dulu ia baru lulus sekolah, tapi Serena sangat menyukai tubuh yang bentuknya seperti gitar spanyol. Apalagi pakaiannya yang seksi dan pas body, uh Serena sangat suka sekali. Serena meneliti wajahnya, terlihat sangat cantik. Tapi, kenapa suaminya tidak jatuh cinta padanya? Ah, ia lupa pemilik tubuh ini menutupi wajah cantiknya dengan makeup menor karena hasutan yang katanya sahabat, tapi tidak masalah mulai sekarang ia akan membuat pria itu bertekuk lutut padanya. Setelah puas melihat tubuh barunya, Serena keluar melihat bayi mungil yang sekarang sedang memejamkan mata. Tak lama mata itu terbuka dan mulai bergerak sesekali tersenyum, seperti tahu ibunya sedang melihatnya atau mungkin menyambut ibu barunya? Serena tersenyum canggung kepada bayinya, meskipun masih bayi tapi dia sangatlah tampan dan juga bola mata birunya yang sangat mempesona. Ia yakin jika besar nanti, bayinya pasti akan menjadi incaran banyak wanita. Tok tok tok Seseorang masuk, ternyata pelayan yang kemarin datang. Kalo tidak salah namanya Emma, Serena hanya menatap sekilas lalu tatapannya kembali kepada sang bayi. "Ny-nyonya ki-kita bisa pu-pulang se-karang," ujar Emma gagap, mungkin karena takut dengan pemilik tubuh ini. "Kenapa mereka tidak datang menemui bayiku?" tanya Serena datar. Emma gelagapan tidak tahu harus jawab apa, Serena yang mengerti ketakutan pelayannya menghela napas lalu tersenyum. "Tidak perlu takut, aku bukan Serena yang dulu lagi." Bukannya tenang Emma malah menunduk, Serena yang melihat itu mendengus. "Sudah ku bilang jangan takut," ujar Serena lagi, setidaknya ia butuh teman di dunia yang dirinya tidak tahu. "Bu-bukan itu ny-nyonya, anda sungguh sang-sangat cantik ji-jika tersenyum," ucap Emma tidak bohong, Serena terdiam. Benar, tubuh ini tidak pernah tersenyum sukanya marah-marah membuat orang-orang jadi membencinya. "Baiklah, jika senyumku membuatmu tidak takut aku akan sering tersenyum." "Jangan nyonya! Ah mak-maksud ke--" Hahahaha, Serena tertawa merdu. Pelayannya sungguh sangat lucu, Serena menghampiri Emma dan memegang tangannya membuat pelayan itu terdiam terpaku. "Emma, sebelumnya maafkan aku karena berbuat jahat kepada mu. Tapi, aku sungguh ingin berubah dari diriku yang dulu. Bisakah kamu membantuku dan menjadi temanku? Aku tidak tahu harus kepada siapa lagi, keluarga suamiku tidak menyukaiku bahkan mereka tidak datang menjenguk bayiku dan aku juga tidak mempunyai keluarga lagi." Serena sengaja mengucap itu agar Emma bersimpati padanya dan mau membantunya, jika tidak seperti itu Emma tidak akan percaya. Mata Emma berkaca-kaca, nyonya nya sungguh wanita malang. Meskipun dulu nyonya jahat tapi dia tidak pernah menghukum dirinya hanya membentaknya saja dan sekarang Emma sungguh bersyukur jika nyonya mau berubah. Emma membalas genggaman majikannya dan berusaha tersenyum tulus. "Nyonya tidak perlu minta maaf. Emma sudah memaafkan nyonya, harusnya Emma yang berterima kasih kepada nyonya. Berkat nyonya, Emma mendapatkan pekerjaan ini dan bisa membiayai pendidikan adik Emma. Emma janji akan membantu nyonya dan selalu ada di samping nyonya." Serena terkejut mengetahui itu, jadi pemilik tubuh ini yang memperkerjakan Emma makanya Emma sering datang ke rumah sakit. Tapi, kenapa tidak ada diingatkannya? "Emma tahu nyonya Serena yang membawa Emma ke sini dari pelayan lain, terima kasih nyonya." Serena bernafas lega, itu berarti Serena sembunyi-sembunyi membawa Emma atau mungkin tidak melihat wajah Emma saat itu. Makanya ingatan ia yang membawa Emma tidak ada, hanya ingat ia pernah membawa pelayan tapi tidak tahu siapa. Serena hanya tersenyum, setelah itu Emma membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Tak sengaja Emma melihat susu formula, rasa penasaran membuat Emma bertanya. "Nyonya, apa tuan muda meminum susu formula?" tanya Emma hati-hati, dia masih sedikit takut. Serena memang menyuruh suster tadi untuk memberikannya susu formula padahal ASI nya keluar dan sangat banyak, hanya saja ia masih malu menyusuinya. Hey! Di kehidupannya dulu ia masih perawan dan dirinya belum siap menyusui bayinya. "Hemm, hanya sementara." ********* Keduanya sudah berada di mobil taksi, yang menggendong bayinya Emma karena katanya takut Serena keberatan habis melahirkan. "Nyonya, boleh Emma bertanya?" "Apa?" tanya Serena, sepertinya umur Emma 19 tahun seperti dirinya di kehidupan pertamanya dan dia sangatlah polos. Sedangkan Serena sendiri sekarang berumur 25 tahun, beda 6 tahun dengannya. "Kenapa selama ini nyonya menutupi wajah cantik nyonya?" Jika boleh jujur saat Emma masuk ke ruangan rawat Serena, dia sangat terpesona melihat majikannya sangat berbeda dengan biasanya. "Kalo ga ditutupi nanti semua orang kayak kamu yang terpesona sama aku." Ledek Serena membuat pipi Emma merona, imut sekali pelayannya ini. "Nyonya juga biasanya panggil gue lo tapi sekarang beda," cicit Emma. "Aku pernah bilang, aku ingin berubah." "Kenapa?" Emma buru-buru menutup mulutnya, jiwa kepo nya suka tidak tahu tempat. Lagi-lagi Serena tertawa, Emma sangat mirip dengan managernya yang sudah ia anggap kakak. Serena sangat merindukan kak Tania Sekarang, apa kak Tania sedih ya dengan kepergiannya? "Mungkin, karena sudah menjadi ibu?" ujar Serena, untung saja dirinya punya alasan. Keduanya sudah sampai di mansion milik suaminya, Serena turun pelan-pelan karena masih sakit sehabis melahirkan. Serena melihat mansion di hadapannya dengan pandangan kagum, mansion ini sangat mewah bahkan lebih mewah dari miliknya di dunianya dulu. Pantas saja Serena asli sering diinjak-injak, wong suaminya saja kaya raya pake banget. Keduanya masuk ke dalam, tidak ada sambutan apapun untuk kedatangannya dan bayinya. Serena tidak habis pikir dengan keluarga ini, saat ia melewati ruang makan terdengar suara canda tawa. "Siapa dia Bi?" tanya wanita muda, namanya Alice Casanova adik dari suaminya. Mereka tidak mengenalinya karena Serena tidak memakai makeup tebal. "Di-dia nyonya Serena nona muda," ucap Emma menunduk takut, dapat Serena lihat wajah mereka terkejut. Ah, bukan mereka tapi hanya dua saja karena yang satunya sedari tadi menatap dirinya tanpa ekspresi. "Oh ternyata lo udah pulang? Kirain gue mati sama bayi lo." Cibir Alice berusaha menutupi wajah terkejutnya melihat Serena yang sangat cantik sekarang, Serena hanya menatap mereka datar. Bersambung...Agatha yang sedang bercanda tawa dengan seorang pria yang dulu pernah ia tolak dan sekarang menjadi sahabat karibnya terkejut, saat tangannya di tarik pelan oleh seseorang. Melihat siapa yang menarik, wajah yang tadinya ingin marah pun tidak jadi, ia melongo. "Pak buta, ngapain kamu di sini?" Ngegas Agatha berdiri, tubuhnya tersentak saat Marcel merengkuh pinggangnya untuk lebih dekat kepada Marcel. "Bisa kamu menjauh dari Agatha?" ujar Marcel dingin, menatap pria yang tadi bercanda tawa dengan Agatha. Agatha yang sudah tersadar kembali memberontak, tapi bukannya terlepas pelukan Marcel malah semakin mengerat di pinggangnya. "Pak, Lepas! Kamu apa-apaan sih," bisik Agatha. Pria yang bersama Agatha menatap keduanya santai, ide jahil terlintas di pikirannya. "Oh, memangnya kenapa kalo saya dekat dengan Agatha, memangnya siapa kamu?" tanya pria itu, namanya Galang.
Agatha Evanora, sosok gadis yang tangguh, pejuang keras, blak-blakan, humoris. Harus berubah menjadi gadis pendiam karena kematian sahabatnya yang sudah ia anggap keluarga sendiri, bahkan Agatha pernah melakukan bunuh diri lantaran tidak sanggup kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki. Rasanya Agatha ingin ikut dengan sahabat dan keluarganya yang sudah tiada, kadang ia bingung harus melakukan apa, kesepian adalah hal yang paling Agatha benci. Sekarang Agatha sedang berada di Paris bersama mantan bos buta dirinya, keduanya berada di sini gara-gara permainan konyol dari keluarga Casanova yang memberikan liburan gratis kepada pemenang dansa dan ia menjadi salah satu pemenang dansa itu karena tidak sengaja terjatuh. "Kenapa kamu resign dari kantor saya?" tanya Marcellio Neiland, dia sengaja menyetujui liburan ini karena ingin berbicara empat mata dengan Agatha yang menjauhinya tanpa sebab. "Buka
Delapan bulan kemudian… "Awss… Mas, perutku sakit banget, kayaknya aku mau melahirkan!" seru Serina histeris. Vincen yang baru mandi langsung menggendong istrinya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. "Vincen, kenapa dengan Serina?" tanya Zander. "Serina mau melahirkan, Dad, aku duluan. Nanti kalian nyusul." Vincen berlari sambil menggendong Serina menuju parkiran, saat sudah sampai parkiran Vincen mencari kunci mobil di saku jas, tapi dia lupa baru selesai mandi dan hanya memakai bathrobe saja. "Sial, kuncinya di dalam lagi," umpat Vincen. Merasa kasihan melihat Serina yang kesakitan. "Huh! Sa-sakit, mas." "Sabar sayang..." Vincen melihat mobil yang baru datang, tanpa berucap apapun Vincen masuk ke dalam mobil itu. “Woy, cepat ke rumah sakit!” seru Vincen tanpa melihat siapa yang menyetir. "Kamu nyuruh saya?" Vincen yang mengenali suaranya melihat siapa? Dan wajahnya berubah datar, ternyata Piel si makhluk menyebalkan. “Cepat, ke rumah sakit sekarang,” titah Vin
Sudah beberapa hari Keduanya menghabiskan waktu bersama di Bali dan sekarang keduanya pulang karena anaknya merindukan orang tuanya. Serina dan Vincen sudah sampai di mansion Casanova, kedatangan keduanya disambut hangat oleh mereka. "OMMY, DADDY!" seru Arce dan Aurel berlari menghampiri orang tuanya, dengan sigap Vincen dan Serina menggendongnya. "Kenapa talian lama? Ulel nunggu lamaaaa anget, tapi Ommy dan Daddy ndak ulang-ulang," ucap Aurel cemberut. Vincen mengusap-usap rambut anaknya sayang. “Maaf ya Princess, kita lagi buat adik buat kalian,” bisik Vincen. "Mas!" seru Serina mencubir pinggang suaminya. Arce yang memang mendengar karena berada di gendongan Serina pun menatap Daddy-nya heran. "Telus sekalang adiknya mana?" tanya Arce polos. "Masih launching Abang," jawab Vincen santai tanpa melihat Serina yang kesal kepada suaminya. "Ulel ndak mau unya adik, nanti talian ndak cayang agi cama Ulel." Aurel menyilangkan tangannya di dada dengan wajah menatap orang tuanya cembe
"Kamu masih mengingat istrimu, Serena?" tanya Serina yang ingin mendengar respon suaminya. "Sudah menjadi kenangan indah, kenapa bahas itu?" tanya balik Vincen menatap istrinya, dia tidak ingin menganggap Serina adalah Serena lagi. "Waktu itu kamu bilang, aku adalah Serena. Betul?" tanya Serina, Vincen mengusap rambut istrinya lembut. "Jangan bahas itu ya, aku tidak ingin menyakiti kamu." Serina tersenyum menatap suaminya misterius. "Tidak menyakiti aku sama sekali, hubby." Deg "Kamu?" Mata Vincen menatap Serina terkejut, apakah Vincen salah mendengar? Tolong, dia ingin melupakan Serena dan memulai hidup baru bersama istrinya sekarang. "Aku sudah mengingat semuanya," lirih Serina. Tadinya ia tidak akan memberitahukan kepada Vincen tapi setelah melihat ketulusan Vincen padanya, akhirnya ia memberitahunya. "Aku tidak mengerti sayang," lirih Vincen. "Kecurigaan kamu benar Mas, aku Serena. Entah kapan…" Belum selesai Serina berbicara, Vincen langsung memeluk istrinya, dia takut
Vincen dan Serina baru sampai di Bali, keduanya berbulan madu di villa hadiah pemberian Zander untuk pernikahan keduanya. Soal Arce dan Aurel mereka di titipkan ke keluarga Casanova, katanya biarlah Serina dan Vincen menghabiskan waktu berdua jika perlu tambah cicit untuk mereka. "Mewah sekali Mas," ujar Serina terpukau. Keduanya masuk ke Villa dan Serina melihat kelopak bunga mawar di sepanjang jalan menuju kamar utama. "Daddy tidak mungkin memberikan Villa yang murahan sayang, ayo kita masuk kamar." Vincen menggandeng istrinya untuk masuk. Ceklek Pintu terbuka, hal pertama yang keduanya lihat adalah kamar yang sudah didekorasi indah dengan rangkaian kelopak bunga mawar lagi yang berada di atas kasur bertuliskan l Love U, bahkan ada bebek-bebekan yang saling berhadapan. Serina tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan ini, ia melihat suaminya dengan senyum menggodanya. "Mas, sayang banget deh kalo tidur di kasur yang banyak bunganya." "Terus kamu mau tidur dimana, d







