Mag-log inMalam harinya Serena sedang bersantai, tapi pelayan datang mengganggu waktu santai dirinya.
"Lo disuruh makan di bawah, jangan lelet." Setelah mengatakan itu pelayan pergi. Serena menatap pelayan tadi datar, seperti itulah sikap mereka kepadanya tidak tahu diri dan penyebabnya adalah pemilik asli tubuh ini. Serena menghela nafasnya, detik ini juga ia akan bertemu dengan mereka lagi. Serena menggendong anaknya untuk ikut turun, ia tidak mungkin membiarkannya sendiri atau menitipkan kepada pelayan. Yang ada anaknya terluka oleh mereka, karena saat ini yang dirinya percayai hanyalah Emma dan mungkin juga Nenek dari suaminya. Serena turun ke bawah menggunakan lift, saat ia berjalan dan hampir sampai terdengar suara orang-orang yang sedang mengobrol. Serena sampai di ruang makan dan orang-orang yang tadinya berbicara langsung terdiam karena kedatangannya. "Maaf nak, kamu siapa?" tanya wanita tua yang Serena yakini adalah nenek yang menyayanginya, namanya Abigail Casanova. "Aku Serena." Jawabnya lembut membuat orang-orang yang ada di sana terkejut, bagaimana mungkin? Serena yang dulunya selalu berpakaian norak dan juga berwarna ngejreng sekarang terlihat seksi dengan baju yang pas di tubuhnya, apalagi auranya sekarang seperti wanita bangsawan. Tatapan Serena jatuh kepada pria dewasa yang ia yakini adalah suami pemilik tubuh ini namanya Vincenzo Casanova. Tatapan keduanya bertemu, tapi suaminya menatap ia dingin dan tatapannya turun ke bayi yang dirinya gendong. Setelah suaminya tidak melihatnya lagi Serena bernafas lega, tatapannya sangatlah menakutkan dan juga menyeramkan. Tapi, berapa umurnya? Terlihat seperti pria dewasa dan juga sangat tampan. "Ah, Serena ku sayang kamu banyak berubah nak, semakin cantik. Apakah dia cicitku?" tanya Abigail bingung, semuanya terdiam. "Ya, nenek." "Cepat-cepat bawa ke hadapan nenek, apakah cicitku tampan?" Serena mendekati Abigail dan memperlihatkan wajah bayinya yang sedang tertidur pulas, Abigail memang sudah tahu jika Serena mengandung bayi laki-laki karena ia bertanya padanya dulu. "Sangat tampan sekali seperti Vincenzo." Kagum Abigail, Serena hanya tersenyum simpul. "Siapa namanya?" tanya Abigail lagi. "Arcelio, Baby Arce." "Nama yang bagus, apakah Vincen yang memberikannya?" "Tidak Nenek, aku yang memberikannya." Abigail terdiam, tapi terlihat dari wajahnya ada kemarahan yang terpendam. "Baiklah-baiklah, silahkan duduk nak," ucap Abigail tersenyum lembut. "Boleh aku menitipkan Baby Arce dulu, nenek?" tanya Serena lembut. "Tentu saja, kamu boleh menitipkannya kepada pelayan. Ina, kemari." Abigail memanggil salah satu pelayan. "Ada yang perlu saya bantu nyonya besar?" tanya pelayan itu. "Gendong lah Baby Arce, Serena ingin makan bersama kami." Titah Abigail, spontan Serena memeluk bayinya erat. "Nenek, aku ingin menitipkan bayiku kepada Emma saja." ujar Serena, ia tidak percaya dengan pelayan yang bernama Ina itu dan lagi Serena sangat tidak nyaman berada di sini karena tatapan keluarga Casanova sangat menyeramkan. "Tapi nak- huh, baiklah." Serena tersenyum mempesona. "Terima kasih Nenek, jika begitu aku permisi." Serena sudah pergi, Abigail menatap tajam keluarganya. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalo Serena sudah melahirkan?" tanya Abigail dengan suara dingin dan tatapan tajamnya, mereka semua terdiam tidak berani berucap apapun kepada nyonya besar. Abigail tidak tahu Serena melahirkan karena semenjak suaminya meninggal dirinya tinggal di desa yang sangat asri dan tidak ingin ikut campur masalah keluarga Casanova lagi, dia ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang. "Tidak penting nenek, dia hanya wanita rendahan," ujar Alice santai. "Apa seperti itu caramu mengajarkan anak mu, Cassandra?" Casandra mencubit perut anaknya pelan. "Diamlah, jangan membuat nenek marah padamu." Bisik Casandra, "Maaf, Ibu. Tadinya kami ingin memberitahukan Ibu, tapi Ibu sudah datang duluan." "Dan kamu Vincen, kenapa kamu tidak memberikan nama untuk cucuku? Jangan bilang kamu--" Ucapan Abigail terhenti karena Serena sudah datang dan duduk di samping suaminya. Serena menatap pria paruh baya di samping mertuanya, dia adalah kepala keluarga di sini namanya Zander Casanova. Mereka mengambil makan masing-masing, saat Vincen ingin mengambil nasi Serena lebih dulu mengambilkannya untuk sang suami. "Biar aku ambilkan, Kamu... mau makan sama apa?" tanya Serena, ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang padanya. Yang pasti dirinya harus mengambil hati sang suami mulai sekarang, jika tidak harus kemana ia pergi nanti. Casandra menatap Serena bingung, tidak biasanya Serena bersikap seperti itu. Biasanya dia selalu menyuruhnya melayani Vincen, tapi Serena sering bersikap tidak peduli dan hanya tahu menghamburkan uang saja. Vincen menatap istrinya tajam, apalagi trik yang Serena mainkan. Serena yang tidak mendapatkan jawaban dari sang suami mengambil apapun yang menurutnya enak, setelah itu ia mengambil untuknya. Mereka makan dengan keheningan, tapi ada raut terkejut dari mereka karena cara makan Serena yang terlihat anggun berbeda dengan biasanya yang terlihat seperti kasta bawah. Mereka sudah selesai makan dan mengobrol bersama, Serena merasa ia sangat asing di keluarga ini. Sedari tadi Serena tidak mengucap apapun, jika di tanya ia akan menjawab seadanya tapi jika tidak ia akan diam. "Serena, berapa usia Baby Arce?" tanya Abigail. "Dua Minggu, nenek." "Oh nak, maafkan nenek yang tidak hadir saat kamu melahirkan. Apakah keluarga Casanova berada di samping mu saat itu?" tanya Abigail sambil memegang tangan Serena. Mereka yang mendengarkan was-was, takut Serena jujur. Serena tersenyum anggun, "Nenek tenang saja, mereka... Datang dan ada di samping ku." Mereka terkejut mendengar Serena berbohong, bahkan Vincenzo yang tadinya malas mendengar ocehan orang-orang di sini menatap istrinya intens. "Oh syukurlah, nenek senang mendengarnya." Serena membalasnya dengan senyuman saja. "Ibu, berapa hari Ibu akan tinggal di sini?" tanya Zander, mengalihkan pembicaraan. "Hanya satu Minggu, Ibu ingin menemani cicit Ibu yang sangat tampan." Terlihat raut wajah Abigail yang bahagia. Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing, termasuk Serena yang sekarang menggendong bayinya. Saat membuka pintu ia dibuat terkejut dengan kehadiran Vincen di kamarnya, tapi dirinya berusaha tenang. Mungkin karena ada Abigail di sini makanya Vincen mau tidur di kamar berdua dengannya, bukankah ini kesempatan untuknya. Serena menidurkan Arce di box bayi, setelah itu ia duduk di tempat rias dan melepaskan anting yang dirinya pakai tadi. "Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Serena santai tanpa melihat suaminya. Vincen memejamkan matanya, tidak berniat menjawab ucapan Serena. "Aku tahu kamu tidak tidur, bisa kamu jawab pertanyaanku?" ujar Serena lagi, ia berusaha sabar. "Apa urusannya denganmu?" "Aku istrimu dan sekarang aku baru melahirkan bayimu, kenapa kamu tidak datang dan menjenguk bayi kita?" tanya Serena, entah kenapa hatinya terasa sakit mengucapkan itu. "Bayimu, bukan bayi saya." Serena berdiri mendekati suaminya. "Aku tahu aku salah menjebak mu agar menikahi ku, tapi apa tidak bisa kamu menerima Baby Arce? Dia tidak bersalah, sayangilah bayi kita." Serena menatap serius suaminya, Vincen membuka matanya dan menatap Serena tajam. "Tidak." "Baiklah, tapi satu pesan dariku untukmu. Tidak masalah kamu membenci ku, tapi aku minta jika di hadapan orang lain anggap dia sebagai anakmu. Agar besar nanti, dia tahu kalo dia pernah disayangi oleh Daddy-nya dan agar dia tidak membenci Daddynya sendiri." Setelah mengatakan itu Serena berlalu ke kamar mandi tanpa mendengar jawaban dari suaminya lagi. Vincen menatap istrinya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan, tapi dari pupil matanya terlihat terkejut dengan sikap istrinya yang biasa saja jika melihatnya. Apalagi bahasanya yang berbeda menjadi aku kamu, biasanya Serena akan menggoda dan bersikap murahan, tapi sekarang sungguh sangat berbeda dengan sikap Serena yang dulu. Dia juga sudah bertanya kepada Emma, dan ternyata sikap istrinya dua minggu ini sungguh sudah berbeda dan sudah berubah. Ya, Emma adalah mata-mata dia untuk mengawasi istrinya dan melaporkan apapun tentang bayinya. Meskipun dia terlihat tidak peduli, tapi sebenarnya dia sangat peduli. Orang tua mana yang tidak peduli kepada anaknya sendiri? Meskipun hadir karena kesalahan tapi bayi itu tetaplah bayinya. Hanya saja tidak tahu harus bersikap seperti apa dirinya terlalu kaku dan juga gengsi mengakuinya, makanya menyuruh Emma mengawasi takut Serena berbuat macam-macam kepada bayinya. Bersambung ... Di awal cerita memang membosankan, tapi coba baca sampai beberapa bab lagi pasti ketagihan. Yang suka cerita tokoh utamanya badas, Skuyy langsung baca sampai selesaiii!!Keduanya sudah tidur, tapi suara bising bayinya yang menangis membangunkan Serena yang tertidur nyenyak. Serena meregangkan ototnya yang terasa sangat sakit, ia menatap sekelilingnya dan tatapannya jatuh pada suaminya yang sedang tidur. Apakah kalian mengira keduanya tidur bersama? Jawabannya TIDAK ia tidur di sofa karena sang suami yang menyuruhnya, lagian Serena juga masih canggung jika harus tidur bersama dengan pria untuk pertama kalinya. Oeee Oeee Oeee Serena menghampiri bayinya dan menggendongnya. "Baby, berhentilah menangis oke? Nanti tenggorokan mu sakit." Serena menatap suaminya lagi, ia bernafas lega suaminya masih tidur jadi ia bebas menyusui bayinya. Serena memberikan asi-nya kepada anaknya dan dilahap oleh anaknya dengan rakus, Serena terkekeh melihat bayinya yang menggemaska. Sesekali meringis, rasanya masih sakit. "Ternyata kamu lapar, pelan-pelan baby awss. Lihat? Daddy mu masih tidur dan dia tidak akan mengambilnya." Serena terkekeh mendengar ucapannya sendiri,
Malam harinya Serena sedang bersantai, tapi pelayan datang mengganggu waktu santai dirinya. "Lo disuruh makan di bawah, jangan lelet." Setelah mengatakan itu pelayan pergi. Serena menatap pelayan tadi datar, seperti itulah sikap mereka kepadanya tidak tahu diri dan penyebabnya adalah pemilik asli tubuh ini. Serena menghela nafasnya, detik ini juga ia akan bertemu dengan mereka lagi. Serena menggendong anaknya untuk ikut turun, ia tidak mungkin membiarkannya sendiri atau menitipkan kepada pelayan. Yang ada anaknya terluka oleh mereka, karena saat ini yang dirinya percayai hanyalah Emma dan mungkin juga Nenek dari suaminya. Serena turun ke bawah menggunakan lift, saat ia berjalan dan hampir sampai terdengar suara orang-orang yang sedang mengobrol. Serena sampai di ruang makan dan orang-orang yang tadinya berbicara langsung terdiam karena kedatangannya. "Maaf nak, kamu siapa?" tanya wanita tua yang Serena yakini adalah nenek yang menyayanginya, namanya Abigail Casanova. "Aku Serena.
"Eh, ternyata lo udah pulang? Kirain gue mati sama bayi lo." Cibir Alice berusaha menutupi wajah terkejutnya melihat Serena yang sangat cantik sekarang, Serena hanya menatap mereka datar. Di sana hanya ada tiga orang, wanita paruh baya yang ia yakini adalah Casandra Casanova mertua tubuh ini dan gadis kembar yang seumuran dirinya yang satu tanpa ekspresi namanya Elsie Casanova dan satu lagi menatap dirinya mengejek yang tadi berbicara tidak sopan yang tak lain adalah Alice. Suaminya memang memiliki adik kembar dan satu adik laki-laki yang sudah menikah dan ia tidak tahu tinggal dimana. Tatapan mata Cassandra melihat ke arah anaknya yang di gendong Emma, entah apa arti tatapan itu untuk sekarang Serena tidak peduli. "Emma, bisa antarkan aku ke kamar?" "Baik nyonya, kalo begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu Emma membantu memapah Serena ke kamarnya, meninggalkan mereka yang terkejut dengan bahasa Serena yang baru dan biasanya jika Alice berbicara maka serena akan menyahut deng
Serina yang sekarang kita sebut Serena sedang termenung memikirkan nasibnya, ia masih tidak menyangka jiwanya memasuki tubuh orang lain dan lebih tidak menyangka lagi dirinya memasuki tubuh wanita yang sudah memiliki suami dan anak. Ingatan pemilik tubuh ini sudah datang kepadanya saat ia tidak sadarkan diri sehabis melahirkan, ternyata Serena sama sepertinya yang tidak mempunyai orang tua. Nama tubuh ini Serena Casanova, karena ia masih istri dari marga yang dirinya pakai sekarang. Kerjaannya hanya menghamburkan uang bersama sahabatnya, setelah itu merawat diri agar suaminya melihatnya tetapi ternyata tidak ada perubahan apapun. Serena sangat tidak menyukai sifat Serena asli yang semena-mena dan egois tapi dirinya juga kasihan, mungkin dia seperti itu karena keadaan yang mengharuskannya seperti itu. Karena diingatkannya yang dulu Serena anak yang baik dan penyayang tapi semenjak menjadi nyonya Casanova sifat dan sikapnya berubah. Ditambah lagi ia selalu dihasut oleh sahabat yang Se
SERINA baru keluar dari ruangan dengan senyuman merekah, ia berhasil lolos dan akan menjadi aktris. "Kak Tania, aku lolos!" seru Serina bahagia memeluk manajernya yang sudah dirinya anggap sebagai Kakak sendiri. "Selamat ya Ser, Kakak bilang apa kamu pasti diterima. Apalagi body kamu yang kayak gitar spanyol ditambah bakat kamu yang jago akting turunan ibu kamu," ucap Tania ikut bahagia. Ya, dulu ibunya juga seorang aktris sedangkan ayahnya chef di cafe milik ibunya. Meskipun ayahnya tidak terlalu terkenal, tapi masakannya sangatlah enak menurut Serina dan ibunya. Tapi sayang dua bulan yang lalu keduanya sudah pergi meninggalkannya karena kecelakaan, dan hanya dirinyalah yang selamat dari kecelakaan itu. "Aku masih tidak menyangka kak," ujar Serina tak henti-hentinya. "Iya-iya yang lagi bahagia, ngomong-ngomong kamu ga ada niatan buat lanjut kuliah?" tanya Tania. "Ga tahu kak." "Lanjut aja, sayang tahu kalo ga dilanjut. Apalagi kamu kan pintar dapet juara satu terus." Serina mem







