Share

Bab 4

Penulis: RHS
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-12 17:54:11

Pagi itu, Rahayu bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru menembus tirai kamar, namun tubuhnya sudah bergerak dengan tekad yang kuat. Kini, tinggal bersama keluarga Velia bukan sekadar formalitas. Setiap langkahnya di rumah ini menjadi penilaian diam-diam dari orang tua Velia, Velia sendiri, bahkan Arka yang polos namun jeli menangkap perubahan ayahnya.

Setelah mandi dan merapikan rambut kusut, Rahayu mengenakan kemeja bersih seadanya dan celana panjang sederhana. Ia menatap wajah Radit di cermin—wajah yang dulu dipenuhi kesombongan dan kelicikan kini dipenuhi keteguhan baru. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Ini bukan hanya tentang pekerjaan. Ini tentang membuktikan aku bisa berubah… di depan mereka semua,” gumamnya.

---

Di ruang makan, keluarga besar Velia sudah berkumpul. Pak Darmawan dan Laras duduk di ujung meja, Nadia menatapnya dengan ekspresi menyindir, sementara Velia duduk dekat Arka yang sedang bermain dengan balok. Ibu-ibu rumah tangga lain—pembantu dan kerabat—menatap Rahayu dengan rasa ingin tahu dan skeptis.

“Radit, sarapanmu sudah siap,” ujar Laras sambil menyodorkan piring. Nada suaranya sopan, tapi setiap kata terasa berat untuk “Radit baru”.

Rahayu menunduk, menerima piring itu. “Terima kasih, Bu. Saya akan makan cepat, saya ada urusan penting hari ini.”

Velia menatapnya sekilas, matanya dingin tapi menampakkan sedikit kekhawatiran. Arka, yang duduk di dekat Velia, menoleh dan tersenyum tipis.

“Ayah… jangan lama-lama ya,” kata Arka sambil menggenggam tangan Rahayu. “Aku mau Ayah main sama aku nanti.”

Rahayu tersenyum, mengusap kepala kecil itu. “Iya, Nak. Ayah janji akan pulang cepat. Dan kali ini Ayah tidak akan kabur dari tanggung jawab.”

Nadia menghela napas, terdengar seperti menggerutu, “Astaga… ini lagi. Mau bikin drama di perusahaan juga?”

Rahayu menelan ludah, tapi senyum tipis tetap ada. Dalam hati ia menegaskan: “Aku tidak akan menyerah. Setiap langkah kecil di depan mereka adalah bukti.”

---

Perjalanan menuju gedung perusahaan teknologi terasa panjang. Rahayu memikirkan kemungkinan penolakan, komentar sinis, dan bagaimana menghadapi wawancara yang menuntut ketegasan. Ia tahu reputasi Radit yang buruk bisa menjadi penghalang, tapi tekadnya kini lebih kuat daripada ketakutannya.

Setibanya di gedung, ia menyerahkan CV dan surat lamaran kepada resepsionis. Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya memanggilnya.

“Radit? Silakan ikut saya ke ruang wawancara,” ujar pria itu.

Di ruang wawancara, empat orang duduk menatapnya penuh evaluasi. Satu dari mereka membuka pembicaraan.

“Radit, kami sudah membaca CV-mu. Latar belakang akademismu menarik, tapi pengalaman kerja nyata masih minim. Bisa jelaskan kenapa kamu ingin bekerja di sini?”

Rahayu menarik napas panjang, menatap mereka satu per satu. “Saya memang baru memulai, tapi saya cepat belajar dan mau bekerja keras. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Bukan sekadar mengandalkan nama atau status.”

Salah satu pria mengangkat alis. “Kesalahan masa lalu?”

Rahayu tersenyum tipis. “Maksud saya, sebagai pribadi—masa lalu saya tidak sempurna. Tapi sekarang saya ingin menjadi sosok yang bisa dipercaya dan bertanggung jawab.”

HRD wanita menatapnya dengan pertimbangan. “Baik. Tapi tulus saja tidak cukup. Bagaimana kamu menghadapi tekanan dan konflik?”

Rahayu menunduk sejenak, mengingat semua penolakan dan komentar sinis di rumah Velia, rasa takut Arka terhadap ayahnya yang lama. Ia mengangkat wajah, menatap mata mereka dengan tegas.

“Tekanan adalah bagian dari kehidupan. Saya belajar untuk tidak lari, tapi menghadapi masalah dengan kepala dingin. Konflik bukan untuk dihindari, tapi untuk diselesaikan. Setiap masalah yang bisa saya selesaikan adalah bukti bahwa saya bisa berubah.”

Selama satu jam berikutnya, Rahayu menghadapi simulasi pengambilan keputusan, analisis masalah, dan kerja tim dengan pegawai lain yang disiapkan sebagai “partner” tes. Beberapa kali ia melakukan kesalahan, tapi cepat memperbaiki. Keberanian dan ketegasannya membuat para penguji diam-diam mengangguk.

Setelah sesi selesai, HRD wanita berkata, “Kamu memiliki potensi, Radit. Kami akan mempertimbangkanmu untuk tahap selanjutnya. Tapi ingat, kerja kerasmu baru akan dimulai nanti.”

Rahayu mengangguk. “Terima kasih, Bu. Saya tidak akan mengecewakan.”

---

Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Ia duduk di bangku taman dekat halte, menyesap kopi panas, dan merenungkan semua pengalaman hari ini. Keringat di dahinya menandakan ketegangan, tapi juga keberhasilan melewati ujian pertama.

Sesampainya di rumah, suasana tetap menegangkan. Pak Darmawan menatapnya diam-diam, Laras memperhatikannya dengan penuh evaluasi, sementara Nadia terus menatap dengan sinis. Velia duduk dekat Arka, matanya tetap dingin tapi Arka terus meraih tangan Rahayu.

“Ayah… cepat pulang, ayo main,” seru Arka riang, menggenggam tangan Rahayu.

Rahayu mengangkat Arka, menatap Velia dengan tulus. “Aku pulang, Vel. Hari ini Ayah mencoba sesuatu yang baru. Dan aku berjanji, Ayah tidak akan menyerah lagi.”

Velia menatapnya sebentar, lalu berpaling. Senyum tipis di wajahnya menandakan sedikit kelonggaran hati. Arka tersenyum, tanpa sadar memberikan kekuatan baru bagi Rahayu.

Malam itu, setelah Arka tertidur di kamar sebelah, Rahayu duduk di tepi ranjang. Suasana rumah yang sunyi membuatnya lebih fokus pada pikirannya sendiri. Lampu kamar redup, hanya menyoroti wajahnya yang tampak tenang dari luar, namun di dalam hatinya ada pergulatan yang terus berlangsung.

Ia menatap langit-langit kamar, mengingat semua kejadian hari ini. Wawancara yang menegangkan, komentar sinis dari beberapa orang, dan tatapan dingin Velia yang tak sepenuhnya memercayainya. Semua itu menjadi ujian pertama dari banyak ujian yang akan datang.

“Kalau aku gagal lagi… kalau aku tidak bisa membuktikan diri… apa yang akan terjadi dengan mereka? Apa yang akan terjadi dengan Arka?” gumamnya lirih. Rasa takut muncul, tapi segera ia ingat janji yang ia buat di hadapan anak kecil itu: tidak akan lari dari tanggung jawab.

Rahayu menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Tubuh Radit yang kini ia tinggali terasa berat di awal, namun ia perlahan mulai menerima kenyataan. Ia harus belajar menjadi sosok yang berbeda—lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab.

Di dalam hati, ia merenungkan Velia. Wanita itu dingin, keras kepala, dan trauma karena Radit yang dulu. Menaklukkan hatinya tidak akan mudah, namun ia sadar bahwa bukan cinta semata yang akan memenangkan hati Velia, melainkan perubahan nyata yang bisa dilihat dan dirasakan.

“Aku harus sabar. Aku harus konsisten,” bisiknya. “Setiap tindakan kecil akan membentuk citra baru. Aku tidak bisa terburu-buru, tapi aku tidak boleh menyerah.”

Rahayu menulis catatan kecil di buku hariannya: tentang wawancara yang dijalani, kesan para pewawancara, dan kesalahan kecil yang bisa diperbaiki. Semua itu menjadi bahan refleksi, sekaligus strategi untuk menghadapi hari-hari berikutnya.

> “Hari ini aku belajar bahwa dunia nyata tidak memberi kesempatan kedua begitu saja. Tapi aku punya kesempatan untuk membuktikan diri, jika aku mau bertindak dengan sungguh-sungguh.”

Ia menutup buku, mematikan lampu, dan menatap langit-langit yang gelap. Suara angin malam yang lembut menenangkan hatinya. Arka yang sedang tidur di kamar sebelah sesekali terdengar menggerak-gerakkan tubuh kecilnya, seakan mengingatkan Rahayu tentang tanggung jawab yang menunggu di pagi hari.

Rahayu menutup mata, membiarkan tubuhnya beristirahat. Namun pikirannya tetap aktif, membayangkan skenario keesokan hari: bangun pagi, sarapan bersama keluarga besar Velia, menghadapi tatapan orang tua Velia yang selalu menilai, dan terus menunjukkan bahwa “Radit baru” bukan lagi pria yang sama seperti dulu.

Dalam hati, ia menegaskan satu prinsip yang akan menjadi pegangan:

“Kesalahan masa lalu tidak menentukan siapa aku sekarang. Yang menentukan adalah bagaimana aku bertindak hari ini dan esok.”

Rahayu menarik selimut lebih rapat, mencoba menenangkan hati. Malam itu ia tidur dengan tenang, meski tahu tantangan besok akan lebih berat. Ia tahu, tinggal bersama keluarga besar Velia akan menuntut kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk menghadapi setiap komentar, tatapan sinis, dan ekspektasi yang menumpuk di sekitarnya.

Di ujung malam, satu tekad menguat di dalam dirinya: menjadi sosok yang bisa dipercaya, ayah yang bisa diandalkan oleh Arka, dan menebus kesalahan masa lalu Radit di mata Velia dan keluarga besarnya.

Dengan pikiran itu, Rahayu akhirnya terlelap, bersiap menghadapi hari baru yang akan menjadi ujian berikutnya dalam perjalanannya menebus kesalahan dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit   Bab 99

    Malam turun perlahan di pinggiran kota kecil tempat Faris dibesarkan. Tidak ada lampu jalan berlebihan, hanya cahaya kekuningan yang memantul di aspal lembap. Rumah itu berdiri sederhana, catnya mulai pudar, tapi jendelanya bersih—dirawat dengan penuh cinta.Di sanalah semuanya bermula.Dari atap bangunan kosong dua ratus meter jauhnya, Dewi mengatur napasnya sambil mengintai melalui scope. Angin malam menyentuh wajahnya, dingin tapi stabil. Di telinganya, suara Rian terdengar lirih.“Semua jalur kamera publik sudah loop. Tetangga kiri-kanan bersih. Nggak ada kendaraan mencurigakan masuk radius satu kilometer.”Radit berdiri di sisi lain atap, memantau peta taktis di wristpad. “Bima, status perimeter?”“Gerak normal. Ada satu motor lewat, pengendara lokal. Nggak ada tail.”Faris berdiri paling belakang, punggungnya menempel pada dinding beton dingin. Dari sudut itu, ia bisa melihat rumah keluarganya—lampu ruang tamu menyala, siluet ibunya bergerak pelan.Dadanya mengencang.“Faris,” s

  • Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit   Bab 98

    Pagi di markas RHS Intel terasa berbeda. Tidak ada alarm latihan, tidak ada suara sepatu berlari di lorong, tidak ada teriakan komando. Yang ada hanya dengungan AC, aroma kopi yang terlalu pahit, dan tubuh-tubuh lelah yang duduk tanpa banyak bicara.Radit datang paling pagi. Bukan karena tugas, tapi karena ia tahu—diam di rumah terlalu lama setelah misi justru membuat pikirannya berisik. Ia mengenakan pakaian sipil, sederhana, tanpa senjata. Tangannya memegang cangkir kopi yang hampir tak disentuh.Satu per satu anggota tim Bayangan muncul.Bima datang dengan langkah berat, menjatuhkan tubuhnya ke sofa tanpa basa-basi.“Punggung gue masih kerasa kayak ditabrak truk,” gumamnya.Rian menyusul, membawa tablet, tapi kali ini layar gelap. Ia duduk tanpa membuka apa pun.“Aneh ya,” katanya pelan. “Biasanya gue langsung ngecek data. Hari ini… nggak pengin.”Surya masuk terakhir bersama Aldi. Surya langsung bersandar ke dinding, menyilangkan tangan, sementara Aldi berdiri agak canggung, seper

  • Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit   Bab 97

    Pagi di Ravenholt City datang tanpa suara. Tidak ada burung yang berkicau di antara gedung-gedung tinggi, hanya dengung AC, kendaraan logistik, dan layar iklan digital yang terus menyala meski matahari sudah naik. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur—dan itu membuat Radit tidak memejamkan mata sama sekali sejak malam tadi.Ia berdiri di dekat jendela hotel, memandang jalanan dari lantai tujuh. Jaket tipis masih menempel di tubuhnya, rambutnya sedikit acak, tapi matanya tajam. Hari ini bukan lagi tentang adaptasi. Hari ini adalah hari eksekusi.“Semua bangun,” ucap Radit pelan tapi tegas lewat saluran komunikasi internal. “Kita mulai.”Satu per satu respons masuk.“Siap,” suara Faris terdengar lebih tenang dari biasanya.“Online,” Rian menjawab singkat.“Aman,” Dewi.“Posisi siap,” Surya dan Bima hampir bersamaan.Aldi menghela napas pendek. “Aku masih nggak nyangka sekarang aku ada di sisi kalian.”Radit menoleh sedikit, seakan Aldi berdiri di sampingnya. “Yang penting sekarang, ka

  • Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit   Bab 96

    Pagi itu, ruang briefing bawah tanah di markas RHS Intel terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu putih di langit-langit menyinari meja oval hitam yang melingkar, tempat Radit dan seluruh anggota Tim Bayangan duduk dengan sikap lebih serius daripada beberapa minggu terakhir. Liburan di tepi danau sudah berakhir—dan kini, mereka kembali ke dunia yang menuntut ketepatan, keberanian, dan keputusan-keputusan dingin.Pak Wira masuk sambil membawa dua map tebal dan satu flash drive. Tubuhnya tegap, wajahnya seperti biasa tanpa ekspresi, namun dari sorot matanya terlihat jelas: sesuatu besar sedang menunggu.“Selamat pagi,” ucapnya datar.“Pagi, Pak,” jawab semua hampir serempak.Pak Wira menaruh map ke meja dan menatap mereka satu per satu—Radit, Faris, Rian, Surya, Bima, Dewi, dan Aldi—sebuah tim yang dulunya hanya sekumpulan orang buangan, kini menjadi salah satu unit paling efektif yang dimiliki negara.“Aku harap kalian sudah menyimpan energi dari liburan kemarin,” katanya sambil m

  • Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit   Bab 95

    Suasana villa tepi danau itu masih dipenuhi cahaya pagi yang lembut ketika Radit membuka pintu balkon, menghirup udara segar yang menusuk hidung dengan aroma tanah lembap. Di belakangnya, suara kecil menguap panjang—Rama, dengan piyama biru dan rambut acak-acakan seperti kapas terkena angin. Anak itu menyeret boneka dinosaurus hijau kesayangannya sambil memandangi ayahnya dengan mata bulat yang masih setengah tertutup.“Ayah… dingin…” gumamnya cadel, memegangi lutut Radit.Radit tersenyum, menunduk, lalu menggendong Rama yang langsung menyandarkan kepala di bahunya. “Ini namanya pagi, Nak. Pagi itu memang dingin. Tapi papa suka.”“Diding…” Rama mengangguk, seolah memahami sesuatu yang sangat filosofis.Velia baru keluar dari kamar mandi, rambut masih setengah basah, memandang keduanya dengan wajah lembut. “Rama bangun cepat banget hari ini.”“Dia nyariin Velia,” jawab Radit. “Aku cuma bonus.”Rama mengangkat kepala, menunjuk ibunya. “Bunda….” katanya pelan.Velia menghampiri, mencium

  • Transmigrasi: Tebusan dalam Diri Radit   Bab 94

    Dewi menatap Laras yang duduk di ujung sofa dengan pipi merah muda, sisa kecanggungan dari momen hampir cium beberapa menit lalu masih mengambang di udara. AC dingin, tapi ruangan terasa hangat—atau mungkin itu hanya karena jarak mereka yang makin lama makin dekat.“Kamu masih deg-degan?” tanya Dewi pelan, senyumnya nakal.Laras memainkan rambutnya. “Enggak.”“Yakin?”“Enggak…” Laras akhirnya mengaku, wajahnya makin merah.Dewi tertawa kecil dan mendekat, menahan diri agar tidak terlihat terlalu menggoda, meski seluruh tubuhnya jelas ingin memeluk Laras saat itu juga. “Aku juga,” bisiknya.Laras akhirnya menatap mata Dewi. Ada kejujuran di sana—dan sesuatu yang dulu selalu dia sembunyikan.Dewi hendak menyentuh pipinya ketika—BRUK!Suara keras dari pintu membuat mereka berdua tersentak.“WOY! DI DALAM ADA ORANG PACARAN YA??!”Rian berteriak begitu pintu terbuka sedikit.“Rian…” suara Faris muncul di belakangnya, terdengar lelah. “Kita itu tamu. Bisa pakai otak dikit nggak?”“Kepencet

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status