共有

Cemburu Sang Monster

作者: V.W. Anara
last update 最終更新日: 2025-12-31 20:02:47

Suasana kantor lantai lima puluh tujuh HanGroup pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Winda tiba lebih awal, namun ia mendapati sebuah kotak kecil berisi cokelat mewah dan secangkir latte hangat sudah bertengger di meja kerjanya yang berada di sudut ruangan Seonwoo. Ada secarik kertas kecil di bawahnya.

"Semangat untuk hari ini, Winda-ssi. Jangan biarkan ucapan orang lain membuatmu sedih. – Park Jae-hyun."

Winda menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk. Di tengah badai kebencian yang ia terima di kantor ini, sebuah perhatian kecil yang tak pernah ia sangka dari seseoeang bernama Jae-hyun itu terasa seperti oase. Sebelum ia sempat menyentuh cangkir itu, pintu ruangan terbuka dengan bantingan halus namun tegas.

Han Seonwoo melangkah masuk. Aura gelap yang dibawanya seketika memenuhi ruangan. Matanya yang tajam langsung menangkap keberadaan benda asing di meja asistennya. Langkahnya terhenti tepat di depan meja Winda.

"Apa itu?" tanya Seonwoo, suaranya rendah namun penuh pe
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Napas Yang Tersisa

    Keheningan di dalam penthouse Seonwoo terasa begitu mencekam, lebih berat daripada udara sebelum badai besar melanda. Seonwoo masih duduk di kursi kecil di samping ranjang Winda, matanya yang merah dan cekung menatap tanpa henti pada wajah pucat wanita itu. Sudah dua belas jam berlalu sejak insiden kritis tersebut, dan Seonwoo tidak beranjak barang satu inci pun. Ia mengabaikan panggilan telepon dari kantor pusat, mengabaikan laporan dari Jakarta tentang loker yang kosong, dan mengabaikan rasa lapar yang mulai menggerogoti tubuhnya.Pagi itu, cahaya matahari Seoul yang tipis mulai menembus tirai tipis kamar, menyinari butiran debu yang menari-nari di atas wajah Winda. Tiba-tiba, kelopak mata Winda yang halus bergerak. Sebuah gerakan kecil, namun bagi Seonwoo, itu adalah ledakan harapan di tengah kegelapan."Winda?" bisik Seonwoo, suaranya parau dan bergetar.Perlahan, mata itu terbuka. Winda mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan. Pupil mata

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Alasan Dibalik Kesetiaan

    Malam di pinggiran kota Bogor terasa begitu menekan, udara lembap yang merayap masuk ke pori-pori kulit membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di teras sebuah penginapan tua yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, Park Jae-hyun duduk terdiam. Di tangannya, ia memegang sebuah paspor Korea yang sudah usang milik mendiang ayahnya, Park Min-kyu.Bagi dunia, Jae-hyun adalah Manajer Keuangan HanGroup yang cemerlang, pria Korea Selatan yang sukses. Namun, sedikit yang tahu bahwa darah dan air matanya pertama kali tumpah di aspal panas Jakarta.Kilas Balik - JakartaAyah Jae-hyun adalah seorang staf akuntansi dari kantor pusat Seoul yang dipindahkan ke HanGroup Jakarta. Saat itu, HanGroup sedang melakukan ekspansi besar-besaran di Indonesia di bawah kepemimpinan Han Ji-won. Namun, menjadi ekspatriat kelas menengah di negeri asing tidaklah seindah yang dibayangkan.Masalah muncul saat Park Min-kyu memutuskan untuk memboyong istri dan Jae-hyun yang masih kecil untuk menetap di Jakarta. Dan ka

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Reruntuhan Topeng Seonwoo

    Suara statis dari monitor jantung yang memanjang, sebuah garis datar yang melambangkan keheningan maut seolah menyedot seluruh oksigen di dalam kamar utama penthouse itu. Seonwoo masih berlutut di samping ranjang, tangannya yang gemetar menggenggam jemari Winda yang terasa dingin sedingin es. Di sekelilingnya, tim medis bergerak dalam kekacauan yang terukur. Dokter Oh berteriak memberikan instruksi, sementara seorang perawat dengan cepat mengisi alat pacu jantung elektrik."Siapkan dua ratus joule! Sekarang!" teriak Dokter Oh. Suaranya pecah, penuh dengan urgensi yang mengerikan.Seonwoo dipaksa mundur oleh salah satu petugas keamanan agar tidak menghalangi tindakan medis. Ia berdiri mematung, menatap tubuh Winda yang terhentak ke atas saat aliran listrik menghantam dadanya. Sekali. Dua kali. Garis di monitor itu masih tetap datar, mengeluarkan bunyi berdenging yang menyiksa pendengaran.Di sudut ruangan, Lee Sooyoung berdiri dengan keanggunan yang tidak terusik. Ia menyilangkan ta

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Taruhan Nyawa

    Kabin jet pribadi itu berguncang hebat saat menembus awan badai di atas Laut China Selatan, namun guncangan itu tak sebanding dengan kekacauan di dalam hati Han Seonwoo. Ia menatap layar tabletnya dengan napas tertahan. Grafik biometrik Winda di layar menunjukkan fluktuasi yang mengerikan. Garis hijau yang melambangkan detak jantung itu melonjak tajam, lalu melambat secara tidak wajar. "Tingkatkan kecepatan! Aku tidak peduli dengan konsumsi bahan bakar atau izin lintas udara!" raung Seonwoo kepada kopilot melalui interkom. Tangannya menggenggam kunci loker berkarat dari Jae-hyun hingga pinggiran logamnya melukai telapak tangannya. Darah merembes, namun ia tak merasakannya. Pikirannya melayang pada sosok ibunya, Lee Sooyoung. Wanita yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung, kini berubah menjadi bayangan iblis yang siap mencabut nyawa wanita yang.. ia cintai. Cinta. Atau mungkin lebih tepatnya perasaan terlarang. "Jangan berani menyentuhnya, Ibu... Jangan berani," bis

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Konfrontasi Tambora

    Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Han Seonwoo. Di tengah gang sempit Tambora yang berbau lembap dan pengap, sorot lampu SUV hitam miliknya membelah kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding bata yang berlumut. Di hadapannya, Park Jae-hyun berdiri dengan kemeja yang sudah kotor, namun tatapan matanya tetap setajam silet, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski moncong senjata tim keamanan Seonwoo mengepungnya dari segala arah.Seonwoo menerjang maju, mencengkeram kerah kemeja Jae-hyun hingga kain itu mengerit . "Di mana kunci itu, Jae-hyun? Jangan mengujiku di tanah kotor ini! Aku bisa membuatmu membusuk di sini tanpa ada satu orang pun di Seoul yang akan menemukan jasadmu!"Jae-hyun tersenyum, sebuah senyuman pahit yang penuh ejekan. Ia perlahan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci logam tua yang sudah berkarat, digantung pada sebuah gantungan plastik kusam bertuliskan nomor '304'."Kunci ini menuju ke sebua

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perburuan Di Jakarta

    Deru mesin pesawat jet pribadi HanGroup membelah kegelapan langit malam menuju arah selatan. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, Seonwoo duduk terpaku, menatap gelas wiskinya yang belum tersentuh. Matanya merah, bukan karena kantuk, melainkan karena gejolak emosi yang saling beradu: amarah pada Jae-hyun, kecemasan pada kondisi Winda yang ia tinggalkan, dan ketakutan luar biasa akan kata-kata Dokter Oh yang terus berdengung di telinganya.Seseorang sengaja memicu jantungnya... dan orang itu bukan Anjar."Tuan Han, kita akan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma dalam tiga puluh menit," lapor asistennya melalui interkom. "Tim lapangan di Jakarta sudah melacak sinyal terakhir ponsel cadangan Jae-hyun di kawasan Jakarta Pusat, dekat gedung lama kantor cabang kita."Seonwoo hanya mengangguk dingin. Ia tidak peduli seberapa jauh Jae-hyun berlari, ia akan menyeret pria itu kembali ke Seoul dan memastikan rahasia itu mati bersamanya.Sementara itu, di Penthouse Seoul...Winda

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status