Home / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Lantai Lima Puluh Tujuh

Share

Lantai Lima Puluh Tujuh

Author: V.W. Anara
last update Last Updated: 2025-12-31 12:26:55

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela penthouse terasa seperti ejekan bagi Winda. Tubuhnya masih merasakan sisa-sisa sentuhan Seonwoo semalam, sentuhan yang menghancurkan sekaligus membekas secara fisik dan mental. Namun, tidak ada waktu untuk meratapi diri. Pukul tujuh pagi, Seonwoo sudah berdiri di ruang tengah, rapi dengan setelan jas navy buatan penjahit terbaik Italia, seolah-olah dia tidak pernah "menghancurkan" Winda beberapa jam yang lalu.

"Sepuluh menit. Jika kau belum siap di mobil, kau akan tahu konsekuensinya." ucap Seonwoo tanpa menoleh, suaranya sedingin es sambil mengancingkan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.

Winda terburu-buru mengenakan rok span hitam dan kemeja putih yang paling tertutup. Ia sengaja menaikkan kerah kemejanya, berusaha keras menyembunyikan tanda-tama kemerahan di lehernya yang masih terasa berdenyut panas.

Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Seonwoo sibuk dengan tabletnya, sementara Winda terus menunduk, meremas ponsel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Taruhan Nyawa

    Kabin jet pribadi itu berguncang hebat saat menembus awan badai di atas Laut China Selatan, namun guncangan itu tak sebanding dengan kekacauan di dalam hati Han Seonwoo. Ia menatap layar tabletnya dengan napas tertahan. Grafik biometrik Winda di layar menunjukkan fluktuasi yang mengerikan. Garis hijau yang melambangkan detak jantung itu melonjak tajam, lalu melambat secara tidak wajar."Tingkatkan kecepatan! Aku tidak peduli dengan konsumsi bahan bakar atau izin lintas udara!" raung Seonwoo kepada kopilot melalui interkom.Tangannya menggenggam kunci loker berkarat dari Jae-hyun hingga pinggiran logamnya melukai telapak tangannya. Darah merembes, namun ia tak merasakannya. Pikirannya melayang pada sosok ibunya, Lee Sooyoung. Wanita yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung, kini berubah menjadi bayangan iblis yang siap mencabut nyawa wanita yang.. ia cintai.Cinta.Atau mungkin lebih tepatnya perasaan terlarang."Jangan berani menyentuhnya, Ibu... Jangan berani," bisiknya den

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Konfrontasi Tambora

    Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Han Seonwoo. Di tengah gang sempit Tambora yang berbau lembap dan pengap, sorot lampu SUV hitam miliknya membelah kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding bata yang berlumut. Di hadapannya, Park Jae-hyun berdiri dengan kemeja yang sudah kotor, namun tatapan matanya tetap setajam silet, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski moncong senjata tim keamanan Seonwoo mengepungnya dari segala arah.Seonwoo menerjang maju, mencengkeram kerah kemeja Jae-hyun hingga kain itu mengerit . "Di mana kunci itu, Jae-hyun? Jangan mengujiku di tanah kotor ini! Aku bisa membuatmu membusuk di sini tanpa ada satu orang pun di Seoul yang akan menemukan jasadmu!"Jae-hyun tersenyum, sebuah senyuman pahit yang penuh ejekan. Ia perlahan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci logam tua yang sudah berkarat, digantung pada sebuah gantungan plastik kusam bertuliskan nomor '304'."Kunci ini menuju ke sebua

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perburuan Di Jakarta

    Deru mesin pesawat jet pribadi HanGroup membelah kegelapan langit malam menuju arah selatan. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, Seonwoo duduk terpaku, menatap gelas wiskinya yang belum tersentuh. Matanya merah, bukan karena kantuk, melainkan karena gejolak emosi yang saling beradu: amarah pada Jae-hyun, kecemasan pada kondisi Winda yang ia tinggalkan, dan ketakutan luar biasa akan kata-kata Dokter Oh yang terus berdengung di telinganya.Seseorang sengaja memicu jantungnya... dan orang itu bukan Anjar."Tuan Han, kita akan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma dalam tiga puluh menit," lapor asistennya melalui interkom. "Tim lapangan di Jakarta sudah melacak sinyal terakhir ponsel cadangan Jae-hyun di kawasan Jakarta Pusat, dekat gedung lama kantor cabang kita."Seonwoo hanya mengangguk dingin. Ia tidak peduli seberapa jauh Jae-hyun berlari, ia akan menyeret pria itu kembali ke Seoul dan memastikan rahasia itu mati bersamanya.Sementara itu, di Penthouse Seoul...Winda

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Penjara Emas

    Kesunyian di dalam penthouse milik Han Seonwoo kini bukan lagi sekadar sunyi, melainkan sebuah tekanan yang nyaris meledak. Tiga hari telah berlalu sejak Seonwoo mengunci pintu utama dan memutus seluruh akses komunikasi Winda. Selama itu pula, tidak ada satu butir nasi pun yang melewati kerongkongan Winda. Ia tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak memohon. Ia hanya duduk diam di sudut balkon yang terkunci, menatap langit Seoul dengan pandangan kosong, mencoba melakukan perlawanan paling sunyi yang tidak pernah dihadapi Seonwoo.Seonwoo masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tidak lagi tenang. Di tangannya, sebuah nampan berisi bubur hangat yang masih mengepul tampak tak tersentuh sejak tiga jam lalu. Ia meletakkan nampan itu di atas meja dengan dentingan keras yang memecah kesunyian."Makan, Winda." perintah Seonwoo. Suaranya rendah, namun ada getaran kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik nada ketegasannya.Winda tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh. Wajahnya yang semu

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Jebakan Sistem

    Pagi itu, atmosfer di gedung utama HanGroup terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Udara seolah membeku, meninggalkan rasa pahit di setiap helaan napas para karyawan. Park Jae-hyun melangkah masuk ke lobi dengan setelan abu-abu gelap yang disetrika sempurna, wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun ia segera menyadari bahwa dunia yang ia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini telah runtuh dalam semalam.Tidak ada sapaan hormat dari staf administrasi. Tidak ada bungkukan badan dari para juniornya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang cepat-cepat dialihkan, bisik-bisik yang tertahan di balik telapak tangan, dan aura pengucilan yang sangat nyata.Begitu ia sampai di depan meja kerjanya, dua pria dari Divisi Kepatuhan dan Keamanan Internal sudah berdiri menunggu dengan tangan bersedekap. Di atas meja Jae-hyun, sebuah kotak karton kosong telah disiapkan, sebuah simbol kematian karier yang paling hina bagi seorang eksekutif."Manajer Park Jae-hyun." ucap salah satu pria it

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Bayang-Bayang Jakarta

    Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti kamar utama penthouse mewah itu. Seonwoo masih berada di atas tubuh Winda, namun seluruh ototnya menegang kaku seperti patung granit. Kata-kata Winda tentang tangan yang membimbingnya pulang bukan sekadar ucapan, melainkan bagaikan sebuah anak panah perak yang melesat menembus perisai kebencian yang telah ia bangun dengan susah payah selama dua puluh dua tahun.Seonwoo perlahan melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Winda. Jemarinya yang tadi kasar kini gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah temaram lampu kamar, seolah-olah ia bisa melihat bayangan tangan kecil seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang pernah berkeringat dingin karena takut, namun tetap berusaha menggenggam erat jemari mungil seorang gadis kecil yang lebih ketakutan darinya."Jangan membual, Winda." suara Seonwoo terdengar serak, hampir pecah di ujung kalimatnya.Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang cukup gontai, berusaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status