Home / Rumah Tangga / Tuan Dingin & Nyonya Luka / Luka yang Tak Terlihat

Share

Luka yang Tak Terlihat

Author: Borneng
last update Last Updated: 2025-08-19 17:24:22

Senja menggelayut kelam di langit Jakarta saat Jifanya melangkah keluar dari rumah kontrakannya. Cahaya oranye pudar seakan tak mampu menghangatkan tubuhnya yang membeku oleh pengkhianatan. Angin sore menerpa wajahnya, menyeka sisa air mata yang belum sempat ia keringkan. Kakinya gemetar, seolah kehilangan kekuatan untuk berpijak. Tangannya masih menggenggam ponsel yang  ia gunakan untuk merekam luka paling pahit dalam hidupnya.

Ia melangkah gontai tanpa tujuan. Jalanan yang biasanya dipenuhi suara klakson dan obrolan warga terasa sunyi. Seolah semesta pun tahu, hatinya sedang hancur berkeping-keping. Dunia Jifanya runtuh dalam sekejap. Fahar — lelaki yang ia cintai, yang ia percayai sebagai calon imam — ternyata lelaki keji yang menyusup ke kehidupan sahabatnya sendiri. Dan Tina — sahabat yang ia bela mati-matian dari gunjingan orang — ternyata menyelipkan belati tepat ke dadanya.

“Kalau luka fisik bisa disembuhkan dengan obat, luka karena pengkhianatan hanya bisa disembuhkan dengan waktu dan keteguhan hati,” batinnya lirih, mengutip nasihat almarhumah ibunya.

Langkah Jifanya membawanya ke taman kecil di ujung kompleks. Tempat biasa ia dan Tina duduk, berbagi cerita tentang Fahar, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi kecil mereka. Duduk di bangku tua itu, Jifanya menangis sejadi-jadinya. Isaknya tenggelam dalam suara gesekan dedaunan dan gesekan ranting.

"Kenapa... Kenapa kalian tega?" gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar.

Ingatannya melayang pada malam-malam keTina Tina menangis karena diselingkuhi pacarnya, dan Jifanya yang pertama memeluk serta menenangkan. Jifanya selalu ada. Jifanya selalu membela Tina saat ada yang mencibir. Bahkan keTina Fahar mulai akrab dengan Tina karena alasan ngaji bareng, Jifanya menepis semua rasa curiga.

"Bukan perempuan baik-baik, Jifanya. Hati-hati, ya," kata Rina, teman kantor Jifanya beberapa bulan lalu.

Tapi Jifanya marah saat itu. Ia membela Tina mati-matian.

"Dia bukan kayak gitu! Dia cuma kesepian, dia butuh teman."

Dan sekarang? Rasa percaya itu dibalas dengan pemandangan menjijikkan—Tina telanjang di bawah tubuh Fahar. Tubuh lelaki yang pernah ia doakan setiap malam, agar menjadi jodohnya, kini justru menyatu dengan sahabatnya sendiri di rumah tempat mereka sering tertawa bersama.

‘Tidak semua yang terlihat baik itu suci. Kadang, yang paling sering tersenyum manis justru menyimpan duri di balik kata-katanya,’  pikir Jifanya getir.

Malam turun perlahan. Langit Jakarta mulai gelap. Lampu taman menyala sendu, seperti mengiringi tangisan hatinya. Ia menatap layar ponsel. Video itu masih ada. Tangan Jifanya gemetar, tapi ia tak menghapusnya. Tidak. Video itu bukti. Bukti kebusukan dua manusia yang pernah ia sebut rumah dan keluarga.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Fahar.

“Sayang, kamu ke mana? Aku ke rumah kamu tadi, kamu nggak ada.”

Jifanya menatap layar itu lama. Matanya membara. Ia ingin membalas. Ia ingin menumpahkan amarah. Tapi tidak. Bukan sekarang. Ia menghela napas panjang, lalu menyimpan ponselnya dalam tas.

Ia memutuskan pulang. Dalam diam. Dalam luka. Dalam kehancuran yang tak terlihat mata.

**

Jifanya masih menyusuri trotoar panjang di tengah hiruk-pikuk Jakarta, tak peduli pada mobil-mobil yang melintas kencang dan sesekali mengklakson tajam ke arahnya. Tubuhnya berjalan seperti tanpa jiwa, mata sembabnya tak berhenti mengalirkan air mata yang terasa panas di pipi. Berkali-kali punggung tangannya menyapu wajah, namun tangisan itu tak juga reda.

Sakit. Terlalu sakit.

Dikhianati oleh dua orang yang paling dipercayainya—sahabat dan kekasih—bagaikan dihantam badai tanpa pelindung. Mereka, yang selama ini menjadi tempat ia menaruh kepercayaan, ternyata mampu menikamnya dari belakang tanpa ampun.

“Tiiit! Tiiit!”

Sebuah klakson kembali memekakkan telinga. Jifanya menoleh pelan. Sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Dari dalam mobil, seorang pria berseragam polisi membuka kaca.

"Woi! Kamu dari mana?!"

Jifanya mendongak, wajahnya basah. “Mas Kenan?”

“Masuk! Buruan!”

“Mau ke mana?” tanyanya, bingung.

“Kamu bawa kunci toko, Umi mau ambil barang.”

Tanpa banyak tanya, Jifanya masuk ke dalam mobil. Keheningan mendominasi sepanjang perjalanan. Kenan, si polisi tampan anak dari bos toko bangunan tempat Jifanya bekerja, menatap jalan dengan serius. Pria itu dikenal dingin, wajahnya tenang tanpa ekspresi seperti pahatan batu. Jifanya tak keberatan. Dalam situasi hatinya yang koyak, keheningan justru jadi pelukan yang menenangkan.

Air matanya masih menetes, tapi Kenan tidak bertanya. Ia tidak perlu bertanya. Kadang, luka yang terlalu dalam tak perlu dibicarakan, cukup dipahami dari senyap yang panjang.

Sesampainya di depan toko, Kenan menghenTinan mobilnya.

“Umi mau paku satu kilo. Katanya mau dipakai hari ini.”

“Baik, Mas.”

“Nanti antar ke rumah. Aku langsung ke kantor.”

Tanpa menunggu respons, Kenan langsung tancap gas, meninggalkan Jifanya yang masih terpaku. Gadis berkerudung itu masuk ke toko, mengambil barang yang diminta, lalu melanjutkan perjalanan naik angkot ke rumah bosnya.

Jifanya, Fahar, dan ATina bekerja di sebuah toko bangunan di Jakarta Timur. Hanya Jifanya yang libur setiap Sabtu dan Minggu karena kuliah. Ia mengambil kelas karyawan, berjuang antara mengejar gelar dan mengais rezeki. Bosnya mendukung penuh, karena selain rajin, Jifanya juga dikenal cerdas dan bertanggung jawab.

Tiba di rumah sang bos, langkah Jifanya lesu. Kepalanya mulai terasa berat. Umi Kenan menyambutnya.

“Ji, makan dulu.”

“Bu, aku nggak lapar. Tapi kepala aku pusing sekali,” keluh Jifanya.

“Tidur dulu sana, di kamar Dila. Kami mau ke acara lamaran Kenan. Kamu sama Bibi di rumah ya. Nanti saya bilangin Dila kalau kamu lagi nggak enak badan.”

“Baik, Bu.”

Jifanya sudah seperti keluarga di rumah itu. Kakek Kenan sangat menyayanginya. Ia sering diminta bantu-bantu saat ada acara, atau sekadar ikut makan bersama. Hari itu, keluarga Kenan mengadakan acara pertemuan dengan keluarga calon tunangan Kenan.

Jifanya berjalan ke kamar Dila. Kepalanya makin berat. Pintu kamar terbuka, dan ia langsung merebahkan diri di ranjang. Tubuhnya panas, keringat dingin mulai mengucur. Untung Bibi Jum datang membawa makanan dan obat.

“Neng, kita pindah kamar ya. Nggak enak di sini. Ini Kamar  Bayu.”

“Bi… pusing banget, nggak kuat berdiri.”

“Ya sudah, kamu minum obat dulu, nanti kalau Neng Dila pulang, Bibi bilangin kamu di sini.”

Malam semakin larut. Rumah masih sepi. Di sisi lain kota, sekelompok pria sedang merayakan kepulangan Bayu—adik Kenan yang baru pulang dari luar negeri. Mereka minum sampai mabuk.

*

Pintu kamar tempat Jifanya tidur tiba-tiba terbuka. Tapi ia enggan membuka mata. Kepalanya masih berat, ruangan gelap karena lampu sengaja dimaTinan.

Seseorang naik ke ranjang, masuk ke bawah selimut yang sama.

“Bi Jum… aku kedinginan,” gumam Jifanya lemah.

Orang itu memeluk tubuhnya. Nafasnya hangat, bercampur aroma mint dan alkohol.

“Bi… tambah selimut lagi, ya…”

Orang itu menarik selimut lebih erat dan mendekap tubuh Jifanya lebih erat. Tapi sentuhan yang awalnya hangat, berubah aneh. Tangan asing itu menyentuh kulit Jifanya, membangkitkan sesuatu dalam tubuh pria itu.

Bibirmereka bersentuhan. Jifanya tersentak, mendorong dada lelaki itu, tapi tubuhnya terlalu lemah.

“Apa… apa yang kamu lakukan… Jangan…” bisiknya ketakutan.

Namun lelaki itu—dalam kondisi mabuk dan setengah sadar—tak menggubris. Ia menindih tubuh Jifanya, merobek pakaian mereka.

“Aaa! Sakit! Berhenti!” Jifanya menangis, menjerit, meronta.

Teriakan itu membuat semua orang di rumah heboh. Keluarga besar Kenan yang baru pulang, berlari ke arah kamar. Lampu dinyalakan. Mata semua orang terbelalak.

Seorang pria telanjang menindih Jifanya.

“Bayu!”

Jifanya langsung menarik selimut menutupi tubuhnya.

“Astaga! Apa yang kamu lakukan?!” teriak sang Mama.

Bayu menoleh, mabuk berat. “Siapa ini? Kenapa di kamarku?”

Kenan datang, bingung melihat kerumunan. Ayah mereka mendekat, puak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Bayu.

“Anak tak berguna! Memalukan keluarga!”

Kenan membeku saat melihat darah di seprai putih. Jifanya menangis tersedu, tubuhnya menggigil.

“Aku nggak tahu apa-apa! Aku nggak sengaja!” seru Bayu, masih limbung.

“Kenapa kamu nggak tinggal di luar negeri saja selamanya?!” bentak sang Ayah.

“Berisik!” jawab Bayu, lalu menjatuhkan diri ke sofa dan tertidur lagi.

“Apa yang harus kita lakukan…” Mama Kenan panik. Jifanya terduduk di pojokan, wajahnya tertutup lutut. Dila memeluknya.

Dila adik Kenan mendekat. “Ji… apa yang terjadi? Astaga, Tuhan…!”

“Anak ini merusak anak orang!” teriak sang Kakek.

Jifanya diminta berpakaian. Dila membantu, tubuhnya masih gemetar. Saat kembali ke ruang tamu, wajah Jifanya sangat pucat. Di hadapannya berdiri banyak orang—keluarga besar Kenan, tetangga, bahkan rekan kerjanya seperti Fahar ikut menyaksikan. Malu. Hancur. Terkoyak.

Dila menjelaskan, “Tadi dia sakit. Umi minta dia tidur di atas.”

Satu rumah menatap Jifanya dengan berbagai tatapan. Di hari yang seharusnya jadi lamaran Kenan, Jifanya justru dihancurkan.

“Tanggung jawab! Kamu harus menikahi dia!” bentak sang Ayah.

“Aku nggak mau! Bukan salahku!”

“Pengecut! Kamu kayak Ibumu!”

“Jangan hina Ibu!” teriak Bayu lalu kabur.

Kakek Kenan meninju meja, “Bangsat! Malu kita!”

“Apa yang harus kita lakukan? Umi yang meminta Jifanya tidu di kamar atas. Bagaimana kalau semua orang tahu. Nama baik keluarga kita, aduh…” Umi Kenan memegang kepalanya dengan panik. Semua orang dalam ketegangan. Jifanya menangis histeris, dia memukuli wajahnya dengan prustasi. Membuat suasana semakin menegang.

“Saya… saya yang akan menikahinya.”

Semua mata menoleh. Kenan berdiri dengan tatapan tenang.

Jifanya menatap Kenan. Dunia berputar. Dan detik itu juga, ia… pingsan.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Aku Tak Pernah Pergi

    Pagi masih menyisakan sisa embun musim dingin. Di salah satu apartemen mewah di Roma, sinar matahari menyelinap malu-malu melalui tirai renda yang melambai pelan tertiup angin. Aroma kopi dan parfum mawar lembut berpadu dalam keheningan kamar tidur yang hangat.Jifanya baru saja terbangun. Rambut panjangnya tergerai acak, mata indahnya masih menyisakan kantuk. Ia tampak lelah, namun tetap menawan. Kecantikan itu seolah tak pernah luntur, bahkan semakin memesona seiring waktu.Hidup di antara keluarga bangsawan Turki membuat Jifanya harus menyesuaikan diri. Penampilannya kini selalu terlihat elegan dan muda. Tak sedikit yang mengira ia masih gadis dua puluhan. Padahal ia telah menjadi ibu dari seorang anak perempuan yang sebentar lagi berusia enam tahun.Ponselnya bergetar. Nama Aqila terpampang di layar.Dengan senyum mengembang, Jifanya menyentuh layar dan menjawab panggilan video itu lagi.“Mama! Apa aku bisa ikut dengan Papa?” suara Aqila yang ceria menyapa dari ujung layar.Jifany

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Lima Tahun Menunggumu

    Musim dingin menyelimuti kota tua Istanbul. Kabut tipis melayang di atas taman yang luas di kediaman keluarga Osmanoglu, tak jauh dari pusat kota tua. Salju yang turun sejak pagi membalut bunga-bunga musim gugur yang belum sepenuhnya gugur, meninggalkan kontras putih di atas merah dan jingga yang nyaris membeku. Di tengah hamparan itu, seorang gadis kecil berlari sambil tertawa riang.Dialah Aqila Fahira Yildiz, gadis kecil berwajah secantik boneka porselen, rambutnya hitam legam tergerai panjang, pipinya bersemu merah karena gigitan angin musim dingin. Ia cucu kesayangan di rumah megah itu. Putri dari Jifanya, wanita yang pernah jatuh dalam jurang luka, dan kini berdiri sebagai pribadi yang kuat dan tangguh.Aqila bermain dengan kakeknya, Emir Osmanoglu, pria paruh baya yang kini seakan menebus dosa masa lalunya dengan mencurahkan kasih tak terbatas kepada cucunya. Sementara itu, Jifanya duduk di balik kaca jendela besar ruang keluarga, matanya tak

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Pelukan Terakhir di Taman Kenangan

    Hari itu datang, seperti babak akhir dari sebuah sandiwara panjang yang melelahkan. Langit Jakarta mendung, awan kelabu menggantung di langit sore seolah turut merasakan beratnya hati Jifanya. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Wajah cantiknya tampak tegang, beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai dalam dadanya.Hari ini, ia akan bertemu dengan sosok yang selama ini menjadi bayangan gelap di hatinya, ayah kandungnya, Emir Yaslan Osmonoglu. Lelaki yang telah meninggalkannya dan ibunya tanpa jejak, meninggalkan luka yang bertahun-tahun ia coba sembuhkan sendiri.Di sisi lain, rumah keluarga Jifanya yang megah dan klasik mulai dipenuhi tamu-tamu penting. Termasuk keluarga Kenan yang untuk pertama kalinya datang secara resmi. Neha, sang ibu mertua yang dulunya sangat vokal merendahkan Jifanya, kini menunduk malu. Saat memasuki rumah yang megah bak istana, wajahnya pucat. Bahkan perhiasan yan

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ternyata Seorang Putri

    Semua keluarga panik mencari Jifanya dan Bayu yang menghilang tanpa kabar. Mereka bahkan belum tahu kalau Jifanya sudah melahirkan. Rupanya Kenan menolak menandatanganin surat cerai Jifanya. Itu artinya Bayu berbohong dan membawa kabur Jifanya.Kakek Ali sangat takut Jifanya diculik orang. Itu sebabnya dia bertindak sangat jauh. Ia akhirnya menelepon keluarga Jifanya.Keesokan harinya , Bandara Internasional Juanda, SurabayaBeberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Dua pria tinggi mengenakan setelan jas elegan turun. Kakek Ali dan Mustofa membungkuk dalam-dalam di hadapan mereka.“Kenan, cepa hormat,” bisik Mustofa menyenggol putranya. Walau bingung, Kenan ikut membungkuk. Ia merasa kecil, tak mengerti apa yang sedang terjadi.Percakapan pun berlangsung dalam bahasa Turki. Sorot mata Kenan tajam, namun penuh sesal. Ia tak pernah menyangka bahwa Jifanya yang dulu ia abaikan, yang pernah ia sakiti ternyata darah bangsawan.“Kenapa Anda menyembunyikan putri s

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Membawamu Pergi

    Pagi itu, Jipanya kembali masuk kantor karena Bayu menolak dia keluar dari pekerjaan, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut memantulkan perasaan Jifanya yang tengah keruh. Di dalam ruang kantor yang biasa riuh, Jifanya kini menjadi sosok yang sunyi. Jika dulu ia dikenal sebagai perempuan ceria yang mampu menghidupkan suasana, kini ia lebih banyak diam, menyembunyikan rasa kecewa dalam senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Bayu, yang selama ini menjadi tempat curhatnya, pun merasa kehilangan sosok Jifanya yang dulu.Ia mencoba segala cara, mulai dari membelikan makanan favoritnya, hingga mentraktir seluruh karyawan hanya demi melihat senyum Jifanya kembali merekah. Namun hasilnya nihil. Jifanya hanya mengangguk, makan secukupnya, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaan.“Jifanya,” ujar Bayu suatu sore ketika wanita itu masuk ke ruangannya sambil membawa berkas desain. “Pertengkaran suami-istri itu wajar. Apalagi kamu sebentar lagi akan melahirkan. Kamu butuh Kenan.”Jifanya mele

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Di Antara Luka dan Cinta

    Senja mulai turun perlahan ketika Jifanya meninggalkan Kenan dengan wajah tanpa ekspresi. Hatinya remuk, namun ia tahu harus pergi. Ia tak membawa apapun, hanya dirinya dan luka yang semakin dalam. Ia melangkah ke rumah tua peninggalan orang tuanya, rumah kecil yang dulu penuh tawa dan kehangatan. Di sana, kenangan masa kecilnya kembali menyeruak, saat ayahnya masih ada, saat dunia terasa sederhana.Rumah itu sepi. Aroma kayu tua dan debu menyambutnya, namun Jifanya merasa damai. Ia duduk di lantai berdebu ruang tamu, memandangi foto usang ayah dan ibunya. Air matanya tumpah perlahan. Ia ingin sendiri, ingin diam, ingin menyatu dengan luka yang terlalu sesak untuk dipendam.Sementara itu, rumah keluarga besar geger. Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana Jifanya pergi. Dila, yang biasanya tenang, panik bukan main. Dengan terpaksa, ia menghubungi Bayu, dan tanpa pikir panjang lelaki itu terbang kembali ke Indonesia. Di sisi lain, Pak Mustofa masih terbari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status