แชร์

Antara Cinta dan Luka

ผู้เขียน: Borneng
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-08-19 17:37:59

Beberapa hari berlalu setelah badai itu datang, tubuh Jifanya perlahan membaik. Luka fisik memang bisa disembuhkan oleh waktu dan obat, namun luka hati? Itu jauh lebih rumit. Pagi itu, sinar mentari masuk melalui jendela kamarnya, membiaskan cahaya lembut ke wajahnya yang pucat. Ia duduk sendirian di ranjang, tatapannya kosong menembus kaca jendela, seolah mencari jawaban di balik langit biru yang dingin.

Letih menyelimuti tubuhnya, tapi bukan karena sakit. Ada beban lain, jauh lebih berat dari sekadar demam atau pusing—beban yang mencabik jiwanya. Hidup yang dulu sederhana kini berubah menjadi belenggu. Dalam diamnya, Jifanya bertanya pada dirinya sendiri, apa arti pernikahan yang tanpa cinta, tanpa restu, dan tanpa kejujuran?

Setelah pergulatan batin panjang, ia tahu: hidupnya tidak bisa terus dipenjara oleh nama sebuah pernikahan yang dipaksakan. Dengan langkah pelan, seolah setiap pijakan adalah pertarungan, ia turun dari kamar menuju lantai bawah. Nafasnya berat, tapi tekadnya sudah bulat.

Hari itu, ia ingin bicara langsung dengan keluarga Kenan. Meski sah menjadi istri dari anak bosnya, ia tetap merasa asing. Rumah megah itu hanya sebuah bangunan dingin tanpa kehangatan.

Di dapur, dua asisten rumah tangga terlihat sibuk menyiapkan sarapan. Aroma roti panggang dan bubur ayam memenuhi udara.

“Eh, Mbak Jifanya sudah bangun? Mau saya buatkan sarapan?” tanya salah seorang gadis mungil dengan suara ramah.

Jifanya menggeleng pelan. “Tidak usah. Rumah sepi sekali, semua orang ke mana?”

“Sudah pada pergi, Mbak. Kakek Ali titip pesan suruh saya bikinkan bubur untuk Mbak.”

Hanya senyum tipis yang terlukis di wajahnya. Ia tidak lapar. Yang ia butuhkan bukan makanan, melainkan kejelasan. Maka ia melangkah ke taman samping rumah, tempat Nyonya besar biasa merawat tanaman.

Di sana, aroma tanah basah bercampur wangi bunga mawar. Burung-burung kecil berkicau di kejauhan, seolah menghibur. Namun suasana hati Jifanya tetap kelabu.

“Bu, saya boleh bicara sebentar?” suaranya pelan, hampir bergetar.

Nyonya besar menoleh, tatapannya tajam, dingin, penuh penilaian. “Ada apa, Jifanya? Duduklah.”

Jifanya duduk dengan gugup. Udara pagi yang sejuk terasa menekan dada.

“Saya… ingin menyampaikan sesuatu, Bu. Tapi… kalau Ibu ingin bicara lebih dulu, silakan.”

Wanita paruh baya itu menegakkan punggungnya. “Sebenarnya saya juga ingin bicara. Tapi silakan kamu dulu.”

Degup jantung Jifanya semakin kencang. Dengan menarik napas panjang, ia akhirnya berucap:

“Bu, saya pikir Pak Kenan tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan miliknya. Saya… akan mengurus surat cerai. Biar beliau bisa menikah dengan kekasihnya.”

Sesaat, mata sang Nyonya berbinar terang. Namun buru-buru ia menutupi kegembiraannya dengan ekspresi pura-pura iba.

“Sebenarnya saya juga khawatir soal itu. Kenan dan Naya sudah lama merencanakan pernikahan. Kalau kalian bercerai sekarang, itu akan jauh lebih baik. Kami bisa lanjutkan rencana mereka.”

Kata-kata itu bagai pisau menembus hati Jifanya. Ia hanya mengangguk lemah. Tidak perlu diusir secara terang-terangan—ucapan itu sudah cukup jadi aba-aba.

Dengan senyum pahit, ia pamit. Tak lagi menoleh, ia kembali ke kamar. Satu per satu barang-barang miliknya ia masukkan ke dalam tas. Tidak banyak, sebab sejak awal ia datang hanya membawa diri. Ia masuk ke rumah itu sebagai seorang gadis baik-baik, dan kini keluar sebagai janda muda.

“Dunia memang kadang membalikkan nasib dalam hitungan hari,” gumamnya lirih.

Tubuhnya terasa kosong, jiwanya hampa. Namun ia tahu, ia harus tetap melangkah. Dengan air mata yang terus jatuh, ia berkata pada dirinya sendiri:

“Aku masih kuat… meski rasanya lelah.”

Dan langkah berat itu membawanya kembali menuju kontrakan lamanya.

Sementara itu, di sisi lain kota, roda kehidupan terus berputar. Kantor dan toko milik keluarga Kenan kembali ramai. Para karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, namun lidah manusia tak pernah bisa diam. Dalam dua hari saja, kabar tentang pernikahan Jifanya dan Kenan sudah menyebar ke seluruh toko, gudang, bahkan pabrik.

“Eh, kamu tahu nggak, Jifanya nikah sama anak bos!” bisik seorang karyawan.

“Apa? Kapan?” sahut Tina dengan wajah pura-pura kaget.

“Kemarin. Katanya karena diperkosa sama putra Pak Wilson.”

“Apa? Nggak mungkin! Jifanya itu wanita kuat, mana bisa kayak gitu?” timpal Ines, rekan kerja Jifanya yang selalu kritis. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Tina, wanita yang duduk di sebelahnya, justru adalah dalang di balik semua tragedi ini.

Gosip itu menyebar lebih cepat dari angin. Dari mulut ke mulut, dari meja kasir ke ruang gudang, dari gudang ke pabrik. Semua orang membicarakan Jifanya dengan nada heran, kasihan, bahkan ada yang menyindir.

Berita itu akhirnya sampai juga ke telinga Fahar, lelaki yang dulu begitu dicintai Jifanya.

Teleponnya berdering. Nama Tina muncul di layar. Dengan malas ia mengangkat.

“Kita nggak perlu repot-repot singkirin Jifanya, Fah. Dia udah tersingkir sendiri!” tawa Tina meledak seperti petasan, penuh kebanggaan di atas penderitaan orang lain.

Fahar terdiam. Dadanya sesak mendengar kalimat itu. Ada sesuatu yang aneh—entah kenapa, ia justru merasa bersalah.

“Sahabat sejati tidak akan pernah tertawa di atas luka sahabatnya,” pikirnya. Tapi Tina jelas bukan sahabat sejati bagi Jifanya.

“Iya,” jawabnya pendek, suaranya berat.

“Sayang, kita juga akan menikah, kan?” tanya Tina dengan nada manja.

Fahar tidak menjawab. Dalam hatinya, bayangan wajah Jifanya muncul. Jifanya yang sederhana, tulus, dan jauh lebih berharga. Tapi dirinya kini terjebak dalam hubungan dengan Tina, wanita yang telah memberinya segalanya, sekaligus mengikatnya dengan cara yang ia benci.

“Sayang!” suara Tina meninggi.

“Iya… nanti kita bicarakan.”

“Kamu masih mikirin dia? Denger ya, katanya Jifanya dinikahi karena diperkosa. Tapi aku yakin dia sendiri yang nyodorin tubuhnya!”

Fahar mengepalkan tangan. Ia muak.

“Nanti aku hubungi lagi. Aku lagi kerja.”

“Tunggu! Jangan tutup dulu! Kamu ke mana semalam? Nggak ke kontrakan aku!”

“Aku sibuk di gudang. Lembur.”

“Gudang? Bukannya libur? Ivan bilang kamu nggak ada!”

Fahar menggertakkan gigi. Perempuan ini makin cerewet.

“Aku disuruh bersihin gudang. Sudah ya, aku kerja.”

“Denger ya, kamu udah janji nikahin aku! Aku udah bilang ke orang tua, bulan depan kita pulang kampung!”

Tanpa pikir panjang, Fahar menutup telepon. Nafasnya berat, kepalanya pening. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mencari nama Jifanya di kontak. Ia tekan tombol panggil, namun nomor itu sudah tidak aktif.

Seakan dihantui rasa bersalah, ia pulang dari kerja dengan langkah terburu. Malam itu ia nekat datang ke kontrakan Jifanya. Tapi yang ia dapati hanyalah pintu kosong, tanpa penghuni.

Ia tidak tahu, bahwa semua ini adalah buah dari pengkhianatannya sendiri.

Di kamar kontrakannya yang sempit, Jifanya duduk bersandar di dinding. Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia merasa seperti boneka yang kehilangan tali pengendali.

Dikhianati oleh dua orang yang paling ia percaya—kekasih dan sahabat—itu luka yang tak mudah sembuh. Tapi ia tahu, air mata tak akan memperbaiki masa lalu. Hidup harus terus berjalan.

Dalam keheningan malam, ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Kadang, Tuhan menjatuhkan kita ke dasar agar kita tahu siapa yang benar-benar peduli. Kadang, luka justru membuka jalan menuju kekuatan.”

Ia memejamkan mata, berharap esok masih ada secercah harapan.

Namun tak seorang pun tahu, bahwa langkahnya baru saja memasuki jalan penuh misteri. Jalan yang akan mempertemukannya kembali dengan cinta lama, dendam lama, dan rahasia yang lebih gelap dari sekadar pernikahan tanpa cinta.

Dan malam itu, di luar jendela kontrakan, seseorang berdiri dalam bayangan gelap, menatapnya dengan sorot mata penuh rahasia.

“Aku akan menemukannya… sebelum orang lain menghancurkannya,” bisik suara itu pelan, tenggelam dalam kegelapan malam.

Bersambung

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Rumah yang Dipenuhi Cahaya (TAMAT)

    Pagi di Jakarta datang dengan cahaya lembut yang menembus jendela-jendela besar rumah Kenan. Udara terasa sejuk, burung-burung berkicau di taman belakang, dan aroma teh hangat menyebar dari dapur. Rumah besar itu kini tak lagi sunyi. Ia hidup, berdenyut, penuh tawa dan langkah kecil yang berlarian.Jifanya duduk di sofa ruang keluarga dengan bantal kecil menyangga punggungnya. Perutnya yang mulai membesar membuat semua orang memperlakukannya bak ratu. Setiap geraknya diawasi dengan penuh cinta.“Ji, jangan bangun sendiri,” tegur Kenan yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengenakan kaus rumah. “Panggil aku kalau mau apa-apa.”Jifanya tersenyum kecil. “Mas, aku cuma mau ambil air putih.”“Air putih juga tugas suami,” jawab Kenan sambil mengambil gelas dan menyerahkannya. Nada suaranya lembut, matanya penuh perhatian.Dari dapur, Neha memperhatikan mereka. Wanita itu kini berbeda. Tak ada lagi sorot mata tajam atau nada suara dingin. Sejak t

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ketika Senja Mengajarkan Memaafkan

    Langit senja Jakarta sore itu tampak seperti kanvas raksasa yang dilukis Tuhan dengan warna jingga dan keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seolah ikut menjadi saksi bahwa sebuah keputusan besar baru saja diambil. Angin sore berembus lembut, namun di hati Mustofa, ayah Kenan, hembusannya terasa dingin dan berat.Pria paruh baya itu berdiri di teras rumah sederhana miliknya, memandangi jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu rumah warga satu per satu menyala, menandai peralihan hari. Namun pikiran Mustofa masih tertahan pada percakapan siang tadi. Keputusan Kenan untuk berdamai dengan ibunya terasa seperti batu besar yang menekan dadanya.Mustofa menghela napas panjang. Ia mengenal betul watak mantan istrinya, Neha. Wanita itu keras kepala, mudah terhasut, dan sulit mengakui kesalahan. Luka yang ia goreskan di hati Kenan dan Jifanya bukan luka kecil yang bisa sembuh hanya dengan waktu singkat.Namun sore itu, Kenan pulang dengan wajah yang b

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ada Kebahagian di Balik Musibah

    Kabar kehamilam Jifanya sampai juga ke teliga ayah. Mustofa sangat bahagia dan menagis terharu, akhirnya putranya memiliki anak kandung juga dari istrinya. Setelah menunggu lima tahun perjuangan menahlukkan hati Jifanya, akhirnya pemilik semesta mem beri hadiah terindah untuk kesabaran untuk Kenan.“Aku sangat bahagia, selamat untukmu, Nak,” ucap Mustofa di ujung telepon.“Aku sangat bahagia Ayah, Qila akan punya adik,” ujar Kenan dengan suara bergetar.“Kalian masih di rumah sakit?”“Iya Ayah, kami akan pulang, Qila pasti sudah khawatir sama Mamanya.”“Bailklah pelan-pelan bawa mobilnya, jangan sampai Jifanya, capek. Ayah akan ke rumahhmu. Dila juga sudaha ada di rumah.”Di rumah, Dila dan suaminya dan putra mereka Izam datang ke rumah Kenan, setelah Qila menelpon menangis, dia mengadu kalau mamanya sakit dan di bawa ke rumah sakit.“Tenanglah

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Kepanikan yang Membahagiakan

    Matahari sore itu menyinari halaman rumah Kenan dengan lembut. Suara tawa Aqila terdengar dari teras, bercampur dengan suara ceria Jifanya yang sedang bermain bersamanya. Rumah yang dulu sempat diselimuti kegelisahan kini mulai kembali berdenyut dengan keceriaan. Namun, di balik senyum hangat yang menghiasi wajah Kenan, ada satu hal yang tak bisa ia sembunyikan, beban di hatinya masih berat.Meski telah memaafkan ibunya, luka itu belum sembuh. Luka yang tak terlihat, tapi terus mengganggu setiap detak jantungnya.Sore itu, Kenan duduk sendirian di bangku kayu di taman depan rumah. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma bunga kenanga yang mekar di sudut halaman. Tiba-tiba, langkah ringan terdengar mendekat dari belakang. Kenan tak perlu menoleh, ia tahu itu adalah Jifanya.“Ada apa, Sayang?” suara Jifanya terdengar lembut, seperti biasa. Ia duduk di sebelah Kenan, menatapnya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.Kenan menghela napas, panda

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Demi Cinta dan Luka yang Tertinggal

    Sore itu langit menggantung kelabu, seakan ikut menyerap semua resah yang mengendap di hati Kenan. Angin yang bertiup dari arah utara membawa aroma tanah basah, namun sama sekali tidak menenangkan pikirannya. Hari ini, di ruang tamu sebuah rumah megah namun terasa dingin tanpa kehangatan, kenyataan pahit akhirnya terkuak, pelaku penculikan Aqila bukan orang lain, melainkan darah dagingnya sendiri ibunya, Bu Neha.Polisi hebat itu sudah terbiasa menghadapi kriminal, tetapi kali ini hatinya nyaris runtuh. Seandainya pelakunya orang lain, mudah saja ia seret ke penjara tanpa ragu. Namun bagaimana jika tangan itu adalah tangan yang dulu menimangnya? Bagaimana jika pelakunya adalah perempuan yang selama ini ia junjung tinggi, yang telapak kakinya disebut-sebut sebagai pintu surga?Duduk di hadapannya, Bu Neha menunduk dengan mata bengkak. Tangisnya mungkin sudah mengering, tetapi luka yang ia tinggalkan di hati anak-anaknya baru saja menganga.“Iya,” ucap

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ketikan Pelukan Menjadi Benteng

    Hanya beberapa menit dibutuhkan untuk melumpuhkan para pelaku. Kenan berlari ke mobil, wajahnya pucat menahan marah sekaligus khawatir. Kaca belakang mobil sudah retak lebar. Ia membuka pintu dengan tergesa, memeluk Jifanya erat, lalu langsung menggendong Aqila yang menangis tersedu.“Papa…!” teriak Aqila sambil memeluk lehernya erat-erat.“Tidak apa-apa, Sayang. Papa sudah menghukum mereka,” ucap Kenan, menciumi kepala putrinya berulang-ulang. Nada suaranya bergetar, meski ia mencoba tegar.“Mereka membentak Mama sama Om Bagas,” isaknya.“Iya, Papa sudah memborgol tangan mereka. Mereka tidak akan macam-macam lagi sama Qila.”Jifanya tetap berusaha terlihat tenang. Ia tahu, jika ia ikut panik, Aqila bisa trauma. Tapi begitu Kenan memeluknya, seluruh kekuatan pura-puranya runtuh. Kakinya lemas. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah.Kenan menoleh ke arah Theo, rekan se

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status