MasukRhea berdiri di halaman depan, menatap bangunan rumah itu. Cat putihnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Rumput di taman depan tumbuh tidak terawat. Air mancur di tengah halaman kini mati, karena tak ada yang merawat.
‘Rumah ini tidak terurus sejak ayahku pergi.’ Rhea menahan diri untuk tak menunjukkan emosi. Karena ia tidak bisa menunjukkan kesedihan. Ia adalah Rein sekarang. Asisten profesional yang tidak punya hubungan emosional dengan rumah ini. Felix berjalan di depannya, langkahnya tegas menuju pintu utama. Tanpa ragu, ia menekan bel. Suara bel bergema di dalam rumah yang sunyi. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Seorang pria tua dengan rambut putih dan kumis tebal berdiri di ambang pintu. Pakaiannya sederhana, kemeja flanel abu-abu dan celana kain hitam. Matanya sayu, kulitnya keriput, tapi ada aura kewibawaan darinya. Rhea hampir tersedak melihatnya. Griffin Lance. Ayah dari ayahnya. Pria yang membesarkannya sejak kecil setelah ibunya meninggal. Pria yang selalu melindunginya dari bayang-bayang keluarga Ashford. Dan sekarang, pria itu berdiri di hadapannya. “Felix Ashford,” sapa Griffin, suaranya serak karena usia tapi masih tegas. “Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini.” “Selamat pagi, Kakek Griffin,” Felix membungkuk sedikit, sikap hormat yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. “Maaf datang tanpa kabar sebelumnya.” “Tidak apa-apa.” Griffin melirik ke belakang Felix, ke arah Rein. Matanya melihat wajah Rein sekilas. “Siapa ini?” “Dia Rein, asisten saya yang baru.” Griffin mengangguk. “Masuklah. Udara pagi ini sangat dingin.” Felix melangkah masuk. Rhea mengikuti dari belakang, jantungnya berdebar kencang. ‘Jangan menunjukkan emosi. Jangan menatap kakek terlalu lama. Jangan menangis, Rhea.’ Foto-foto keluarga mereka masih terpajang di dinding dan berderet di rak. Potret ayahnya, senyum lebar dengan jas rapi bahkan masih tergantung di ruang tamu. Rhea hampir berhenti berjalan saat melihat potret itu. Namun Ia memaksakan kaki melangkah. Griffin mempersilakan Felix duduk di sofa kulit cokelat tua. Seorang asisten rumah tangga satu-satunya di rumah itu, membawakan teh hangat. Rhea berdiri di belakang Felix, seperti asisten baik yang tidak pernah duduk tanpa perintah. “Jadi,” Griffin memulai setelah menyesap tehnya, “apa yang membuat putra Alaric Ashford datang ke rumah kami? Bukannya hubungan keluarga Lance dan Ashford sedang ... dingin?” Felix tidak terpancing. “Aku datang untuk bertanya tentang Rhea.” Griffin mengangkat alisnya yang putih. “Rhea?” “Ya, Kakek.” Felix menatap Griffin lurus. “Dia menghilang setelah kematian ayahnya. Aku ingin tahu apakah dia pernah menghubungi kakek setelah itu.” Griffin terdiam. Matanya menatap Felix dengan hati-hati, seperti sedang menilai apakah pria muda di hadapannya ini tulus atau hanya sedang mencari informasi untuk tujuan lain. “Tidak,” jawab Griffin akhirnya. “Rhea belum pernah menghubungiku sejak kecelakaan itu.” Rhea menahan napas. “Aku khawatir,” kata Felix. “Bukan hanya karena dia tunanganku. Tapi karena ada yang tidak beres dengan kematian ayahnya.” Griffin terdiam lebih lama. “Apa Kakek tahu sesuatu?” tanya Felix, suaranya sedikit mendesak. “Tentang kecelakaan itu?” “Aku tahu mobil anakku dirusak sebelum meledak,” jawab Griffin pelan. “Tapi polisi sudah tutup kasus. Kata mereka, tidak cukup bukti.” “Tapi kakek percaya?” Griffin menggeleng. “Aku tidak pernah percaya.” “Tapi apa dayaku? Keluarga Lance sudah tidak punya kekuatan seperti dulu. Aku hanya seorang kakek tua yang kehilangan anak dan cucu.” Rhea menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Dia ingin sekali mengatakan, “cucumu ada di sini, Kakek. Aku di sini.” Felix menunduk. “Aku akan menemukannya, Kakek Griffin. Aku berjanji.” Griffin menatap Felix lama. “Kenapa kau repot-repot? Kau tidak pernah mengenal Rhea. Jodoh ini dipaksakan oleh kakekmu dan aku. Anakku memang setuju. Tapi ayahmu? Dia tidak pernah setuju dengan keluarga Lance.” “Benar. Tapi tetap saja, dia tunanganku.” Suara Felix tegas. “Dan aku tidak suka ada orang yang mempermainkan hidupku.” Rhea merasakan dadanya sesak. Griffin tersenyum tipis. Senyum yang penuh kelelahan. “Kau berbeda dari ayahmu, Felix.” “Aku sering mendengar itu.” Griffin mengangguk. “Karena itu benar, Felix.” Keheningan mengisi ruangan itu. Rhea tahu ini saat yang tepat. “Tuan Felix,” Rhea bersuara, berusaha membuat suaranya stabil. “Maaf mengganggu. Bolehkah saya berbicara sebentar dengan Kakek Griffin? Berdua saja?” Felix menoleh, alisnya naik. “Untuk apa?” “Ada beberapa hal administratif yang mungkin Kakek Griffin bisa bantu,” jawab Rhea dengan alasan yang sudah ia siapkan sejak tadi. “Mengenai aset keluarga Lance yang dulu bekerja sama dengan Ashford Group. Mungkin ada dokumen yang bisa membantu pencarian Tuan,” lanjutnya. Felix terdengar ragu. Namun Griffin lebih cepat mengambil alih pembicaraan. “Biarkan dia bicara denganku, Felix,” kata Griffin, berdiri dari sofanya. “Kau tunggu di sini. Aku akan cepat.” Felix mengangguk meskipun matanya tetap terlihat khawatir pada Rein. “Baik, Kakek.” Griffin membawa Rein ke ruangan yang tidak asing bagi Rhea. Ruang belajar ayahnya. Dindingnya masih penuh dengan buku-buku hukum dan bisnis. Meja kayu jati besar di tengah ruangan masih berantakan dengan dokumen. Dan di sudut ruangan, ada foto Rhea saat masih kecil bersama ayahnya, tersenyum lebar di taman belakang. Rhea hampir menangis melihat foto itu. “Kita sudah di sini, hanya berdua,” kata Griffin, menutup pintu di belakang mereka. “Sekarang, katakan yang sebenarnya. Siapa kau?” Rhea menelan ludah. Ia mendekati kakeknya, langkah kakinya pelan, gemetar. Tangannya terangkat ke rambut palsu di kepalanya. Lalu dengan gerakan cepat, ia melepasnya. Rambut aslinya yang berwarna cokelat gelap tergerai ke bahu. Griffin terperangah. “K-kau?” ***Pagi itu, salju masih turun di luar jendela, menutupi pegunungan dengan lapisan putih yang tebal. Di dalam kabin kayu yang hangat, api berderak pelan di perapian, dan aroma kopi serta roti panggang mulai memenuhi ruangan.Rhea berdiri di dapur, mengenakan kemeja putih panjang milik Felix yang menjuntai hingga pahanya. Rambutnya yang pendek masih sedikit basah, dan kulitnya masih terasa hangat dari kolam air panas tadi pagi. Ia sedang menuangkan kopi ke dalam dua cangkir ketika tangan Felix memeluknya dari belakang.“Kau mencuri kemejaku,” bisik Felix di telinganya, napasnya hangat di kulitnya.Rhea tersenyum, bersandar pada dada suaminya yang kokoh. “Kau tidak perlu memakai kemeja, Felix. Kau sudah cukup hangat untukku.”Felix tertawa kecil, tangannya merayap ke perut Rhea, menariknya lebih dekat. Ia mencium leher Rhea, perlahan, menikmati setiap sentuhan.“Kau tahu,” bisik Felix di antara ciumannya, “aku tidak pernah membayangkan pagi hari seperti ini. Bersamamu. Di dapur. Di tengah
Rhea menatap mata Felix. “Aku masih di sini, Felix. Aku tidak akan pergi.”Felix mencium pelipisnya, lalu menatap Rhea dengan penuh rasa syukur. “Aku beruntung memilikimu.”Rhea tertawa kecil. “Kita berdua beruntung, Felix.”“Cepat bersiap, Sayang. Kita akan ke bandara,” bisik Felix.Rhea mengangguk. Mereka bersiap dan bersama menuju mobil Alaric menuju bandara.Mobil Alaric berhenti di depan pintu keberangkatan. Felix dan Rhea turun dengan koper-koper kecil, siap memulai bulan madu mereka. Alaric keluar dari kursi depan, berdiri dengan sedikit canggung, tetapi ada senyum kecil di wajahnya.Hal yang jarang terlihat.“Kalau ada masalah, telepon aku,” kata Alaric, suaranya datar tetapi tidak dingin seperti dulu. “Aku masih punya beberapa kontak di sana.”Felix menatap ayahnya, lalu mengangguk. “Terima kasih, Ayah.”Alaric menatap Rhea. “Jaga dia, Rhea. Dia kadang masih keras kepala.”Rhea tersenyum. “Saya sudah terbiasa, Paman Alaric.”Alaric mendengus pelan. “Panggil aku Ayah.”Rhea te
Malam itu, Felix menggendong Rhea melewati ambang pintu kamar mereka. Kamar utama yang dulu terasa dingin dan sunyi, kini hangat oleh cahaya lilin yang dinyalakan oleh Isabella sebelum mereka tiba.Lampu-lampu di ruangan diredupkan, hanya ada cahaya lilin yang berkedip di sudut-sudut, menciptakan suasana hangat dan intim. Bunga-bunga mawar segar terhampar di atas seprai putih, menyebarkan aroma yang menenangkan.Rhea merasa tubuhnya melayang di pelukan Felix, seperti mimpi yang tak ingin ia banguni. Felix menurunkan Rhea ke atas kasur dengan perlahan, seolah ia menaruh barang paling berharga di dunia.Rhea menatap Felix dari bawah, dan air mata haru menggenang di matanya. Felix tersenyum.Felix berdiri di tepi ranjang, jari-jarinya bergerak ke dasi putih yang masih melilit lehernya. Perlahan ia melepasnya, lalu jasnya, lalu kemejanya, membiarkan semuanya jatuh ke lantai. Sepatu, kaus kaki, semua ia lepaskan tanpa pernah mengalihkan pandangan dari Rhea.Ia naik ke tempat tidur, tubuhny
Hari yang dinantikan tiba.Matahari pagi menyinari langit yang biru jernih, menembus jendela-jendela kaca gereja yang tinggi, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai marmer. Bunga-bunga putih dan merah muda menghiasi setiap sudut, menyebarkan aroma harum yang lembut. Para tamu mulai duduk di bangku-bangku kayu, berbisik-bisik dengan senyum di wajah mereka.Rhea berdiri di depan altar, gaun putihnya berkilau di bawah cahaya pagi, kerudung tipis menutupi wajahnya, membuatnya terlihat seperti malaikat. Di hadapannya, Felix berdiri dengan jas putih rapi, rambutnya disisir ke belakang, wajahnya berseri-seri meskipun bekas luka di pipinya masih samar terlihat.Mata mereka bertemu, dan dunia di sekitar mereka seakan menghilang.“Kau cantik sekali,” bisik Felix, cukup keras untuk didengar hanya oleh Rhea.Rhea tersenyum, jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan putih menggenggam erat tangan Felix. “Kau juga le
Rhea baru saja kembali dari koridor, kalung ayahnya masih tergenggam erat di tangannya, ketika ia melihat Felix mulai bergerak di tempat tidur. Kelopak matanya berkedut, jari-jarinya menggenggam sprei, dan perlahan, membuka mata.“Rhea …” suaranya serak, nyaris tak terdengar.Rhea buru-buru mendekat, duduk di samping tempat tidurnya, tangannya langsung menggenggam tangan Felix. “Aku di sini, Felix. Syukurlah kau sudah siuman. Aku akan panggilkan dokter.”Namun, Felix menahan Rhea agar tak beranjak dari sana. “Tunggu.”Felix menatapnya lama, seolah memastikan bahwa ia tidak bermimpi. Lalu ia mengangkat tangan Rhea dengan susah payah, membawanya ke bibirnya, dan mencium punggung tangan itu lembut.“Aku mencintaimu,” bisik Felix, matanya menatap Rhea dengan penuh kehangatan meskipun wajahnya masih bengkak. “Terima kasih sudah kuat untuk dirimu sendiri.”Rhea merasakan dadanya sesak. Air mata mengalir de
Pria itu, Alaric Ashford.“Maafkan aku, Felix,” katanya lalu menurunkan pistolnya.Rhea tidak bisa bergerak. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.Felix masih tidak sadar. Tidak tahu bahwa ayahnya sendiri baru saja menyelamatkannya.Alaric berjalan mendekati mobil, matanya menatap Felix yang terbaring lemah di kursi belakang.“Aku tidak pernah menjadi ayah yang baik,” katanya, suaranya pelan, “tapi aku tidak akan membiarkan anakku mati di tangan pengkhianat seperti Aldric.”Alaric mengisyaratkan anak buahnya untuk membawa Aldric pergi dari sana.Rhea bersama dengan Argus dan Felix meneruskan perjalanan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan lukanya.Beberapa jam setelahnya, di kamar perawatan Felix Rumah Sakit yang sunyi. Hanya suara mesin-mesin medis yang berbunyi pelan, setia memantau detak jantung Felix yang perlahan mulai stabil. Tubuhnya masih dipe
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Felix turun lebih dulu tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Rhea mengikuti dari belakang, berusaha menjaga jarak yang sopan namun tidak terlalu jauh.Di ambang pintu, seorang pria tua berjas rapi menyambut mereka. Kepala pelayan keluarga
Esoknya, Rhea menemani Felix menuju kediaman Lance. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit. Rhea menatap keluar jendela, menyaksikan pemandangan kota berganti menjadi perumahan elit yang lebih sepi. Kediaman Lance berada di distrik berbeda dari Ashford—lebih tenang, tanpa bayang-baya
Rhea tidak punya pilihan. Ia duduk, dan seketika tubuhnya terasa kaku seperti patung.Aleena menyipitkan mata melihat interaksi itu. “Wah,” komentar Aleena pelan, “kalian berdua benar-benar dekat, ya?”Felix tidak menjawab.Untungnya, saat itu juga Alaric
Rhea menggigit bibir bawahnya. Ia ingat semua rumor yang beredar tentang Felix Ashford sebelum ia menyamar. Pria itu disebut-sebut sebagai playboy kelas kakap. Tidak terlihat di publik, tapi kabarnya sudah meniduri puluhan wanita mulai dari model, penyanyi, bahkan istri orang.“Bren







