Share

Tuan Marquess Ingin Menikahiku
Tuan Marquess Ingin Menikahiku
Author: Tarunika Herbras

Batal!

last update publish date: 2026-02-12 15:00:48

“Pernikahan ini harus dibatalkan, ada urusan yang lebih penting saat ini.” 

Castella terdiam mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut calon suaminya. 

Itu sudah kelima kalinya pernikahannya dibatalkan sepihak oleh pria itu.

Damian tampak tergesa-gesa melepas suit hitam yang melekat di tubuhnya. 

Semua pelayan yang sejak tadi masih sibuk merias wajah Castella kompak terdiam, namun mereka tampak tak terkejut sama sekali.

Semuanya hanya saling memberi kode agar segera meninggalkan ruangan itu lewat pandang, lalu segera melipir keluar ruangan dengan sesenyap mungkin.

Hanya begitu saja, pernikahan itu batal.

Tapi Castella tak merasa terkejut. Ini sudah kelima kalinya.

Bertahun-tahun lalu, ayah Castella, Baron Wellington yang memimpin distrik Farley bersahabat dengan ayah Damian, Baron Caleste yang memimpin distrik Hadley. Mereka saling menjodohkan putra dan putri mereka.

Tepat pada tahun 1910, setahun setelah Baron Wellington dan istrinya meninggal dunia, ayah Damian bertitah agar Damian segera menikahi Castella. 

Itu adalah permintaan terakhir orang tua Castella sebelum meninggal, demi hubungan baik antar dua keluarga itu.

Tapi, Castella mengetahui, pria yang dijodohkan dengannya itu sama sekali tak mencintainya, ataupun menghargainya sebagai tunangan yang sah.

Pernikahannya sudah gagal sebanyak lima kali dan alasan dibalik itu selalu karena Luna—cinta pertama Damian.

“Luna ada di rumah sakit.”

“Kenapa? Kecelakaan, seperti dua minggu yang lalu? Atau keracunan, seperti bulan lalu?” tanya Castella yang sudah hafal alasan-alasan itu.

“Kalau kau tidak bisa berempati, setidaknya miliki rasa pengertian padanya,” ucap Damian tajam. Di wajahnya sama sekali tak ada yang menyiratkan penyesalan.

Castella menggigit bibir. Meski hanya perjodohan, jika pun tidak dicintai, ia setidaknya ingin dihargai sebagai calon istri. Ia tidak pernah mempermasalahkan jika Damian tidak mencintainya.

Lagipula, Castella sendiri pun hanya menuruti wasiat orang tua.

Tapi lima kali batal menikah, Castella sudah menjadi lelucon satu kerajaan.

“Baiklah,” suara Castella terdengar lebih rendah dan tegas kali ini. “Sebaiknya kita tidak usah menikah saja.” 

Langkah Damian seketika terhenti. Lalu ia berbalik dengan sorot mata penuh amarah.

“Bukan hakmu memutuskan itu! Kau putri bangsawan rendah, jika bukan aku, siapa lagi yang mau menikahimu?” hardiknya.

Setelah mengatakan kata-kata menyakitkan, Damian kembali melangkah pergi. Meninggalkannya demi wanita lain.

Orang-orang memang mudah menghinanya karena status. Tapi kenapa Castella diam begitu saja ketika harga dirinya diinjak-injak, oleh orang yang tak lain adalah tunangannya sendiri?

Kesabaran pun ada batasnya. Castella tersadar. Ia harus mencari cara untuk keluar dari perjodohan ini.

Orang tuanya di surga pasti akan mengizinkannya tidak menikahi pria yang membuatnya sengsara.

Castella menarik napas. Tekadnya sudah bulat. Ia melangkah keluar dari gedung itu, lalu bertemu dengan sosok pelayan pribadi yang selalu setia padanya. 

“Maria, sepertinya hubungan kami benar-benar selesai kali ini,” ucap Castella pelan.

Pelayan yang dipanggil Maria itu sedikit terkejut. Saat nonanya gagal menikah empat kali, ia selalu tampak suram.

Tapi kini, wanita itu hanya bicara dengan lembut dan ceria.

“Kalau begitu, Anda punya waktu luang malam ini. Bagaimana jika datang ke pesta kerajaan yang diadakan oleh Raja Desmond?” ucap Maria, berusaha menghibur, seraya menyerahkan sebuah amplop dengan cap kerajaan yang menghiasi bagian perekatnya.

Pandangan Castella langsung tertuju pada amplop tersebut, tangannya juga ikut meraihnya untuk ia baca sekilas. 

Castella tersenyum. Ini ide yang bagus, pikirnya.

Ia akan berpesta untuk melupakan rasa sakit hatinya.

Dan jika beruntung, ia bisa menemukan pria untuk calon suami penggantinya.

***

Pestanya ramai. 

Riuh para bangsawan juga sudah memenuhi aula Istana sejak tadi, padahal acara belum juga dimulai. 

Hingga saat sebuah terompet berbunyi nyaring memecah perhatian semua orang yang ada di sana. 

“Marquess Othinel sudah datang!” seru salah seorang penjaga bersamaan dengan pintu masuk Istana yang terbuka lebar. 

Tampak pria bertubuh tinggi dengan seragam militer serba hitam melangkah masuk bersama beberapa prajurit, pria itu mendominasi perhatian semua orang. 

Begitu juga dengan Castella, mulutnya menganga sedikit karena terpukau dengan aura yang terpancar dari pria itu.

Badan yang tinggi tegap, wajah tampan dengan garis rahang yang kokoh, dan sorot mata tajam.

Pandangan Castella tak teralihkan. Tanpa sadar, dirinya berandai jika ia dapat menikahi orang seperti Marquess Othinel.

Jika ia bisa menikahi pria dengan status cemerlang, pastilah ia bisa lepas dari jerat perjodohan dengan anak Baron.

Dan kini, kaki wanita itu tanpa sadar sudah bergerak menghampirinya. 

Bersamaan dengan itu, sang Marquess mulai menatap tajam Castella yang sedang mendekat ke arahnya. 

“Yang Mulia Marquess Othinel, maukah kau berdansa denganku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Marquess Ingin Menikahiku   Wanita yang ditunggu-tunggu

    Baroness Elly sudah pergi namun pesta masih berjalan, seolah tak terusik bila wanita itu ada maupun tidak. Elly hanya seperti bayangan kasat mata yang kehadirannya sering tak dipedulikan, bahkan tak dihargai. “Baroness Elly sudah pulang rupanya,” cicit seseorang tiba-tiba.Castella menoleh, “Ya, dia ada urusan lain.” Orang itu tersenyum hingga matanya menyipit seraya kepalanya mengangguk pelan. “Aku sering kali ingin mengajaknya mengobrol.” “Lalu mengapa tidak kau lakukan?” “Aku ingin tahu, apakah ada orang lain yang punya keinginan untuk mengajaknya mengobrol sama sepertiku,” ia melirik Castella, “Ternyata ada, dan itu kau.”Castella terdiam, ia sepenuhnya tak paham dengan apa yang wanita di sampingnya itu katakan. Jika ingin mengajak Elly mengobrol, mengapa tak ia lakukan sejak dulu saja? Mengapa ia harus menunggu seseorang mengajak Elly mengobrol lebih dulu. “Aku tidak paham,” sahut Castella, sebelah alisnya terangkat.Wanita itu kemudian terkekeh pelan saat melihat raut waja

  • Tuan Marquess Ingin Menikahiku   Pesta minum teh

    “Membuat banyak orang terkesan, ya?” gumam Castella pelan, bahkan hampir tak terdengar.Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling area pesta, semua orang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing.Namun matanya segera tertuju pada salah seorang wanita yang tengah terduduk menyendiri, ia juga tampak mengedarkan pandangannya sambil terus menyesap teh di hadapannya. Orang yang sempurna untuk langkah awalku, batin Castella.Sejujurnya Castella tak tahu siapa wanita itu, namun tubuhnya tanpa sadar sudah melangkah mendekatinya. Lalu, saat wanita itu tampaknya menyadari bahwa Castella ingin mendekat ke arahnya. Ia buru-buru berdiri, kemudian dengan gerakan kaku melakukan curtsy tepat saat Castella berada di hadapannya. “S-selamat s-siang, M-marchioness Castella P-patton,” sapa wanita itu dengan terbata-bata, ia juga menunjukkan senyum kaku seraya sedikit menunduk.Badannya tampak menegang, hingga Castella sempat berpikir bahwa wanita itu takut padanya. Apa dia takut padaku, ya? Batin C

  • Tuan Marquess Ingin Menikahiku   Salah paham

    “Masuk.” Beberapa detik setelahnya, pintu kamar segera terbuka. Lalu derap langkah kaki terdengar mendekat.“Maaf membuatmu menunggu, Marquess,” ucap orang tersebut, suaranya terdengar rendah dan serak.Othinel mengangguk pelan, “Tak apa, William,” sahutnya. “Lagipula, aku juga minta maaf karena telah membuat pertemuan di tempat ini. Karena cuma tempat ini yang aman.” Pria yang dipanggil Willian terkekeh pelan, “Tak apa, asal istrimu tidak mencurigainya saja, Marquess.” Castella tertegun, ia kemudian mendongak hingga matanya bertemu dengan mata suaminya. “Ya, kurasa dia tidak akan bertindak bodoh dengan mencurigaiku,” ucap Othinel dengan nada datar namun tersirat suatu sindiran untuk Castella, pria itu kemudian melirik sekilas ke arah Castella. Sedangkan si wanita hanya dapat cengar-cengir, namun dalam benaknya ia memaki dirinya sendiri karena rasa malu yang kini harus ia tanggung.“Lalu, bisa kita mulai sekarang?”Wiliam mengangguk sebagai jawaban, ia kemudian mengeluarkan sebua

  • Tuan Marquess Ingin Menikahiku   Skandal sang Marquess

    Fakta bahwa di laci meja kerja suaminya terdapat surat dengan kertas merah muda itu sudah cukup meyakinkan Castella bahwa ada sesuatu yang suaminya tak mau Castella ketahui, apalagi Othinel menaruhnya tepat di bawah dasar laci. Seolah benar-benar ingin menyembunyikannya.Namun, fakta itu sekaligus menyenggol ego Castella. Alih-alih senang karena pencariannya ternyata membuahkan hasil, wanita itu justru malah merasa sedikit kesal setelah membaca isi suratnya. “Undangan minum wine siang ini, namun lokasinya… b-bukannya ini di rumah bordil?” Alis Castella mengkerut dalam. Ia kemudian bangkit, mondar-mandir di belakang meja sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi saat suaminya benar-benar datang kesana. “Apa wajar jika melakukan pertemuan di rumah bordil?” tanyanya pelan, namun matanya menyiratkan kekesalan yang tertahan saat skenario suaminya bersenggama dengan wanita lain mulai terlintas di benaknya.Karena Castella tahu betul bahwa tidak pernah ada undangan

  • Tuan Marquess Ingin Menikahiku   Penyelidikan kecil-kecilan

    Pagi hari setelah makan malam kemarin, Arthur sudah resmi bekerja dibawah mansion sang Marquess. Perannya? tentu saja membantu mengawasi Castella, sang Marchioness yang dalam pandangan sang Marquess adalah istri keras kepala dan pembangkang. “Arthur, pelan-pelan saat mencabut rumput di bagian itu, nanti Lena dan anakmu jadi terganggu,” protes Castella. Arthur menoleh, lalu mengangguk pelan sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada pekerjaannya membersihkan kuburan istri dan anak nya pagi ini. Sementara Maria, hanya berdiri mematung tak jauh dari sana. Sesekali wanita muda itu terkekeh pelan melihat tingkah sembrono majikannya dan pengawal baru majikannya itu. “Nyonya, aku telah selesai membersihkan rumputnya,” ucap Arthur sambil tersenyum bangga. Castella menoleh, ikut tersenyum saat memandangi hasil kerja Arthur.“Bagus, tinggal menaruh bunga di atasnya. Aku hampir selesai memetik bunganya jadi tunggu sebentar,” sahut Castella kemudian kembali memetik bunga. Hingga setelah wa

  • Tuan Marquess Ingin Menikahiku   Pelayan baru

    Othinel berdiri di depan meja makan yang panjangnya hampir dapat menampung 1 kamp prajurit tempur, posturnya tampak tak berubah walau sudah berdiri tiga puluh menit lamanya.Di belakangnya. Puluhan pelayan, penjaga, staff dapur, dan staff kebersihan berjejer rapi dengan kepala tertunduk kaku. Mereka tampak sudah tak kuasa menahan posisi seperti itu lebih lama lagi.Sementara, Castella yang berdiri tepat di samping Othinel mulai menerka-nerka kelakuan tak masuk akal apalagi yang akan suaminya itu lakukan.Pasalnya, mereka sudah berdiri selama lebih dari tiga puluh menit, dan mereka hanya dipaksa berdiri tegak menghadap meja makan.“Suamiku—”“Diam, aku sedang menunggu seseorang,” sela Othinel dingin.Castella tercekat, ia sempat menoleh dengan wajah tak percaya ke arah suaminya itu. Menunggu siapa, sih!? Padahal kan bisa menunggu sambil duduk! protes Castella dalam hatinya seraya memutar bola matanya jengah.Namun Castella tak dapat menyuarakan protesnya karena saat ini puluhan pasang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status