LOGINMarquess Othinel adalah pemimpin wilayah berbahaya yang terpencil dari kerajaan, sekaligus orang kepercayaan Raja Desmond.
Baru-baru ini ia menyelesaikan tugas diplomasi ke kerajaan wilayah Utara yang terkenal sangat berbahaya.
Prestasi itulah yang menjadi alasan mengapa Raja Desmond mengadakan pesta khusus untuk menyambut kepulangan Marquess Othinel di aula Istana.
Pria terhormat, tak tersentuh, tangan kanan sang raja. Seolah melihat tambang emas di depan mata, Castella tanpa sadar malah mengajak pria itu berdansa dengannya.
Yang jelas, sepersekian detik setelah Castella mengajak Marquess Othinel berdansa, wanita itu mulai menyesali tindakannya tersebut.
Orang-orang yang menatapnya tak percaya mulai berbisik-bisik. Tak pernah ada wanita yang berani mengajak Marquess Othinel berdansa.
Namun tubuh pria itu segera bergerak mendekat ke arah Castella, hingga jarak keduanya cukup dekat, nyaris membuat Castella melangkah mundur.
“Tentu.”
Ucap Othinel singkat, datar dan dingin. Tapi benar-benar tak terduga.
Castella yang semula berpikir akan ditolak, kini sumringah kembali. Ia tersenyum cerah.
Irama musik klasik diputar dan mereka mulai berdansa. Castella sesekali mencuri pandang pada Othinel yang ekspresinya tak bisa ia baca.
“Anda mahir berdansa. Saya suka pria yang mahir berdansa. Jika itu tunangan saya … pasti saya senang sekali,” ucap Castella, memancing obrolan. “Apa Anda punya tunangan, Yang Mulia?”
“Tidak.”
Jawaban singkat hampir membuat Castella kehabisan kata-kata. Tapi ia tak menyerah.
“Kalau begitu, bagaimana dengan saya?” tanya Castella, mencondongkan wajahnya tepat di depan Othinel. “Saya pandai menghibur dan menyulam. Saya akan melayani Anda dengan baik sebagai istri.”
Othinel tak menjawab.
Mungkinkah ia hanya menerimanya berdansa karena kasihan? Perbedaan status mereka sudah cukup menyadarkan Castella akan posisi dirinya.
Senyum yang tadinya merekah kini kuncup lagi, bibir wanita itu jadi sedikit mengerucut.
Melihatnya, ujung bibir Othinel kini sedikit terangkat, amat tipis hingga Castella tak menyadarinya.
Akan tetapi, seseorang tiba-tiba menarik kasar lengan Castella hingga ia terhuyung mundur.
“Apa yang kau lakukan!? Mau menjadi wanita murahan dengan menggoda pria lain di hadapan calon suamimu!?” bentak Damian.
Bentakan keras itu sontak membuat perhatian para tamu tertarik pada mereka.
Castella tertegun dan meringis pelan, genggaman tangan Damian benar-benar kuat hingga tangannya memerah.
“Aku tidak—”
“Diam! Jangan coba-coba untuk membela diri disaat kau tahu bahwa kau salah, dasar wanita murahan,” sela Damian.
“Kalau bukan karena aku, mungkin kau hanya akan berakhir menjadi rakyat biasa. Seharusnya kau bersyukur!” lanjut Damian makin naik pitam, kini tangannya tampak sudah siap melayangkan tamparan pada Castella.
Castella hanya menutup mata erat, bersiap menerima tamparan itu. Di hadapan para tamu bangsawan, dipermalukan oleh tunangannya sendiri.
Tetapi tamparan itu tak datang. Saat Castella mendongak, ia melihat tangan Othinel menahan lengan Damian.
“Tindakan kekerasan yang akan kau lakukan hanya akan mencemari nama baik semua bangsawan yang ada disini,” suara Othinel menggema.
Damian tercekat, segera menepis genggaman Othinel.
“Maaf atas tindakan saya, Yang Mulia Marquess Othinel. Tapi saya juga menyayangkan sikap Yang Mulia. Apa anda tahu, wanita ini sudah bertunangan dengan saya, tapi mengajak pria lain berdansa dengannya di pesta?”
Bisik-bisik soal pernikahan Castella dan Damian yang gagal lima kali pun mulai berdengung di aula itu.
Othinel terdiam sejenak, kemudian melirik ke arah Castella yang saat ini tengah menunduk sambil memegangi tangannya yang memerah.
“Kalau kau secara sadar menghina calon istrimu di depan umum seperti ini, mungkin tak aneh jika pernikahan kalian selalu batal.”
Suara dalam Othinel seolah membungkam aula yang tadinya merendahkan Castella hingga hening.
Damian tercekat. Ia tak pernah bertemu orang yang membela Castella. Terlebih lagi, sang Marquess yang sangat dihormati!
“Yang Mulia. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan di aula pesta. Kita bicarakan ini lagi nanti—”
“Tak perlu, lagipula nona ini tampaknya tak ingin berhubungan denganmu lagi,” sela Othinel seraya menoleh ke arah Castella. “Apa aku benar?” lanjutnya.
Castella yang semula tertunduk, kini menatap Marquess, sebelum beralih kepada Damian dengan tatapan tajam.
Rasa muak dari penghinaannya selama ini pun meluap. “Ya. Saya sudah mengajukan pembatalan pertunangan kami.”
Tatapan berani Castella membuat rahang Damian mengeras. Hal itu tak luput dari tatapan Marquess yang sudut bibirnya tertarik tipis.
“Anda mendengarnya sendiri, Baron Celeste.”
Kedua tangan Damian mengerat saat bisik-bisik para tamu berbalik menghinanya.
Ia mendelik ke arah Castella. “Keluar. Kita bicarakan hal ini.”
“Tidak. Aku sudah mengatakannya dengan jelas,” tegas Castella. “Anda yang menginterupsi kami. Saya di sini, masih ingin bicara dengan Tuan Marquess.”
“Castella,” desis Damian.
Tapi ia tak berani melawan Marquess. Apalagi Castella kini sengaja mengaitkan lengannya pada Othinel, dan mengajaknya pergi.
“Ayo, Yang Mulia, kita bisa lanjutkan percakapan kita.”
Othinel seolah paham, membiarkan Castella menariknya menjauh dari Damian.
***
Castella yang bersikap tegar di depan para tamu dan Damian, kini melemas.
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Castella pelan, buru-buru melepaskan tangannya dari lengan pria itu, dan memberi hormat kecil.
Mereka berhasil menjauh dari keramaian pesta. Kini, hanya ada mereka berdua di lorong Istana yang sepi.
“Hanya terima kasih?”
Othinel menghentikan langkahnya, tubuhnya kemudian berbalik menghadap Castella.
Namun Castella langsung terdiam, dadanya berdebar dengan rasa panik. Pikirnya, Othinel sudah marah karena menggunakannya sebagai tameng menghadapi Damian!
“S-saya… saya minta maaf! Saya telah lancang!”
“Aku tak butuh permintaan maaf. Aku menginginkan bayaran.”
Castella menelan ludah. Ia pikir ia salah dengar.
“Maaf, Yang Mulia?”
“Bantuanku tak gratis, kau pikir aku orang dermawan yang tanpa pamrih membantu orang-orang?”
Castella kian panik. Tak mungkin ia melawan tangan kanan raja!
“B-baik, Yang Mulia. Saya akan membayar berapapun harganya.”
Ia hanya putri Baron yang sudah lama meninggal. Ia tak punya apapun. Di benaknya, pastilah Marquess meminta sejumlah uang yang besar.
Tapi Marquess Othinel tersenyum tipis, dan ucapannya selanjutnya membuat Castella tertegun.
“Sebagai bayarannya, menikahlah denganku.”
“Kau ingin ikut berburu!?” Helaan napas kasar terhembus dari bibir Marcus saat mendapat respon anggukan antusias dari Castella. “Kau ingin ikut berburu denganku, saat ini juga!?” ulangnya tampak frustasi. “Iya, Tuan Marcus. Saya dengar, sore hari menjelang malam adalah waktu yang tepat untuk berburu,” ucap Castella. Namun, alih-alih setuju, Marcus malah memberikan tatapan tajam pada Castella, karena pria itu sebelumnya sangat yakin bahwa Castella hanyalah anak manja. Lagipula, lady macam apa yang pergi beburu?Ia masih berpikir alasan mengapa Othinel mau menikahi Castella tanpa meminta izin pada keluarga adalah karena wanita itu memaksa anaknya untuk menikahinya. Mungkin menjebaknya dengan licik, seperti yang diberitakan di koran-koran.Meski bukan ia yang memaksa menikah, Castella sebenarnya salah satu wanita yang cukup tangguh dan memiliki kegemaran yang cukup ekstrim, karena dirinya selalu mengekori mendiang ayahnya sejak kecil.Maka dari itu, Castella memilih menunjukkan bahwa
“Jadi seluruh berita itu benar? Kalian benar-benar punya hubungan gelap?” seru Emily.Castella segera mendelik pada Othinel.Tatapannya kini seolah bertanya mengenai maksud dari ucapan suaminya barusan. Apa ini rencananya?Mereka seharusnya di sini untuk mengambil hati orang tuanya, bukannya memberikan kabar horor itu. Seolah menuang minyak ke dalam api!Tetapi Othinel seolah tak peduli pada reaksi orang-orang, ia hanya duduk sambil memandangi semua orang di meja makan, sepersekian detik kemudian ia meraih tangan Castella seraya mengelusnya pelan.“Maaf… Itu bisa terjadi karena kami saling mencintai,” seru Othinel pelan kemudian beralih menatap kedua orang tuanya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.Emily memandangi dengan seksama, seolah sedang mencari puing-puing kebohongan dari gelagat Othinel. Namun dalam pikiran wanita tua itu, Othinel adalah anak yang terlalu sempurna untuk menjadi seorang penipu. Ia juga tak pernah mendapati anaknya itu berbohong bahkan pada kondisi yang memu
Castella ikut menoleh. Othinel baru saja seolah sengaja berkata demikian agar pelayan itu juga memperhatikan Castella yang sejak tadi diabaikannya.Dengan gerakan kaku karena terpaksa, pelayan itu menolehkan kepalanya ke arah Castella untuk menawarkan handuk hangat.“Nyonya… ingin handuk hangat?” tawarnya.Castella tersenyum sopan. “Tidak, terima kasih. Aku tak membutuhkannya.” Pelayan itu berusaha mempertahankan senyumnya, tetapi dari ekspresinya itu Castella dapat merasakan ketidaksukaan yang pelayan itu sembunyikan. Tentu saja ia tak bisa terang-terangan menunjukkannya pada wanita yang sudah menjadi nyonya dari tuannya.“Baik. Nyonya dan Tuan Patton sedang bersiap untuk pergi ke ruang makan, mari saya antar,” jawabnya sopan.Pelayan itu kemudian menunduk sopan sebelum menunjukkan jalan ke ruangan lain.Di belakangnya, Castella berbisik pelan kepada Othinel. “Orang-orang di sini sepertinya tak menyukaiku.”“Tak usah hiraukan para pelayan, yang terpenting kau harus meluluhkan hati
“Ada masalah?” Alis pria itu terangkat sebelah, matanya mulai tampak menelisik ke arahnya.Castella menggeleng sambil menimang dengan lirih.“Kau sendiri tahu bahwa pernikahan kita tidak dihadiri oleh keluargamu, itu berarti mereka tidak setuju, kan? Lalu, kalau aku menampakkan batang hidungku di hadapan mereka…” Castella sengaja menggantung ucapannya, ia menatap penuh harap kepada suaminya agar pria itu mau membatalkan janji pada keluarganya. “Tidak bisa,” sela Othinel tegas. “Karena mereka tidak setuju, mau tak mau kita harus meminta mereka untuk menerima pernikahan ini.”Castella terdiam lagi. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan agar dapat menghindar dari pertemuan bersama keluarga Othinel.Lagipula, untuk meluruskan masalah, yang paling utama perlu dimulai dari keluarga.Beberapa jam pun berlalu, langit perlahan mulai tercoreng dengan warna jingga dan ungu. Othinel sudah siap dengan baju yang tidak seformal pakaian untuk pekerjaan dinasnya.Castella keluar dengan terusan bir
“M-menikah?”Mata Castella membulat sempurna setelah mendengar jawaban yang diberikan Othinel padanya. “Apa kau keberatan?”“T-tidak, Yang Mulia!” “Lalu kau setuju untuk menikah denganku?” Castella terdiam sejenak.Ia baru sadar, tawaran itu mungkin tak akan didapatkannya lagi, apalagi ia akan terbebas dari perjodohan bersama Damian jika menikah dengan Othinel. Ini sesuai dengan rencananya.“Ya… saya setuju,” jawab Castella pelan. Othinel mengangguk, ia kembali menarik lembut tangan Castella.“Kalau begitu, mari kita urus pernikahan itu sekarang.”“S-sekarang?” Ia terkejut lagi.“Berhubung di Istana, aku akan meminta izin raja secara langsung.”Castella tertegun. Ia membiarkan Othinel menuntunnya menuju singgasana raja.Dalam semalam, pernikahan itu pun terjadi dengan cepat.Dengan pengaruhnya, Othinel dengan mudah mendapatkan izin kerajaan.Kemudian ia membawa Castella ke gereja dan mengucap sumpah pernikahan di hadapan pastor.Di dalam mobil yang membawanya ke kediaman Marquess
Marquess Othinel adalah pemimpin wilayah berbahaya yang terpencil dari kerajaan, sekaligus orang kepercayaan Raja Desmond. Baru-baru ini ia menyelesaikan tugas diplomasi ke kerajaan wilayah Utara yang terkenal sangat berbahaya.Prestasi itulah yang menjadi alasan mengapa Raja Desmond mengadakan pesta khusus untuk menyambut kepulangan Marquess Othinel di aula Istana. Pria terhormat, tak tersentuh, tangan kanan sang raja. Seolah melihat tambang emas di depan mata, Castella tanpa sadar malah mengajak pria itu berdansa dengannya. Yang jelas, sepersekian detik setelah Castella mengajak Marquess Othinel berdansa, wanita itu mulai menyesali tindakannya tersebut. Orang-orang yang menatapnya tak percaya mulai berbisik-bisik. Tak pernah ada wanita yang berani mengajak Marquess Othinel berdansa.Namun tubuh pria itu segera bergerak mendekat ke arah Castella, hingga jarak keduanya cukup dekat, nyaris membuat Castella melangkah mundur.“Tentu.”Ucap Othinel singkat, datar dan dingin. Tapi bena







