LOGIN“Ada masalah?”
Alis pria itu terangkat sebelah, matanya mulai tampak menelisik ke arahnya.
Castella menggeleng sambil menimang dengan lirih.
“Kau sendiri tahu bahwa pernikahan kita tidak dihadiri oleh keluargamu, itu berarti mereka tidak setuju, kan? Lalu, kalau aku menampakkan batang hidungku di hadapan mereka…”
Castella sengaja menggantung ucapannya, ia menatap penuh harap kepada suaminya agar pria itu mau membatalkan janji pada keluarganya.
“Tidak bisa,” sela Othinel tegas. “Karena mereka tidak setuju, mau tak mau kita harus meminta mereka untuk menerima pernikahan ini.”
Castella terdiam lagi. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan agar dapat menghindar dari pertemuan bersama keluarga Othinel.
Lagipula, untuk meluruskan masalah, yang paling utama perlu dimulai dari keluarga.
Beberapa jam pun berlalu, langit perlahan mulai tercoreng dengan warna jingga dan ungu.
Othinel sudah siap dengan baju yang tidak seformal pakaian untuk pekerjaan dinasnya.
Castella keluar dengan terusan biru langit sependek lutut. Rambutnya sengaja ditata untuk menonjolkan leher jenjangnya. Riasan wajahnya sederhana, tapi cukup memperkuat kesan elegan.
“Baik, aku siap,” seru Castella, kemudian mengangkat dagu. “Aku sangat siap untuk mendapatkan hati keluargamu.”
Othinel terdiam sejenak, memperhatikan Castella dari bawah hingga pucuk kepalanya. Pria itu kemudian mengangguk pelan.
“Bagus, walaupun rokmu tampak sangat pendek.”
“Pendek?”
“Ya, keluargaku cukup anti dengan wanita yang menampakkan betisnya,” jawab Othinel, kemudian berbalik hendak menuju mobil miliknya yang sudah terparkir di depan gerbang keluar.
Kini giliran Castella yang termenung sejenak, lalu segera menahan tangan Othinel sebelum pria itu melangkah.
“Aku harus mengganti bajuku!” seru Castella cepat. Wanita itu hendak kembali masuk ke dalam, namun Othinel juga ikut menahan tangan Castella.
“Tidak ada waktu untuk itu. Kau sudah menghabiskan terlalu banyak waktu.”
“Akh! Tidak, lepas! Aku tidak bisa datang dengan penampilan ini!”
Tak mengindahkan protesnya, Othinel justru melingkarkan lengan kokohnya di perut Castella, dengan mudahnya mengangkatnya dan membawanya ke mobil.
“Tenanglah. Penampilanmu sudah sangat memukau,” ujar Othinel.
Castella terduduk di bangku penumpang dengan wajah merah padam.
***
Kediaman keluarga Patton terkenal suram, gerbang depannya seperti pohon oak. Namun yang tak kalah mencengangkan adalah, kawasan itu cukup luas jika dibandingkan dengan kediaman para bangsawan lainnya.
Ayah dari Othinel dulunya pemimpin dari wilayah yang saat ini Othinel pimpin, wajar jika beliau memiliki tanah seluas ini. Terlebih keluarga mereka juga memiliki usaha wine yang sudah sangat terkenal dengan kualitasnya.
Dan disinilah Castella sekarang, di depan gerbang tinggi yang menutupi mansion suram itu.
Tak terhitung sudah berapa kali Castella menelan ludah gugup saat mobil milik Othinel berhenti tepat di gerbang pintu masuk kediaman keluarga Patton.
Namun saat mendapati kedatangan mereka, para penjaga tak kunjung membuka pintu gerbang itu. Othinel harus turun dari mobilnya dan berbicara dengan para penjaga yang menjaga di depannya.
Othinel baru kembali memasuki mobil bersamaan dengan para penjaga yang membukakan pintu gerbang.
“Apa selalu sesulit ini untuk masuk ke rumahmu sendiri?” tanya Castella.
“Tidak. Kurasa orang tuaku meminta agar kita dipersulit.”
Castella terdiam, rasa takut yang sudah ia buang sebelumnya kembali memenuhi pikirannya.
“Coba saja kau memperbolehkanku untuk mengganti bajuku sebentar, mungkin situasinya akan lebih baik nanti,” keluh Castella.
Othinel menoleh sejenak. Matanya bergerak mengikuti lekuk tubuh Castella dalam balutan terusan biru itu.
Mobil berhenti tepat di pelataran depan, tak ada satupun yang menyambut kedatangan mereka.
Othinel beranjak keluar dari dalam mobilnya diikuti oleh Castella. Pria itu segera menggandeng tangan Castella dan memasuki mansion.
Setelah menelusuri lorong yang menghubungkan pintu masuk dan ruang utama, batang hidung para pelayan pun akhirnya terlihat.
Saat memandang Othinel, mereka langsung tampak sumringah.
“Tuan muda sudah tiba, bagaimana perjalanannya? Apa Tuan mau saya ambilkan handuk hangat?” tanya salah seorang pelayan pada Othinel, ia sepenuhnya menghiraukan keberadaan Castella.
“Tidak. Tawarkan itu pada istriku,” jawabnya singkat.
“Kau ingin ikut berburu!?” Helaan napas kasar terhembus dari bibir Marcus saat mendapat respon anggukan antusias dari Castella. “Kau ingin ikut berburu denganku, saat ini juga!?” ulangnya tampak frustasi. “Iya, Tuan Marcus. Saya dengar, sore hari menjelang malam adalah waktu yang tepat untuk berburu,” ucap Castella. Namun, alih-alih setuju, Marcus malah memberikan tatapan tajam pada Castella, karena pria itu sebelumnya sangat yakin bahwa Castella hanyalah anak manja. Lagipula, lady macam apa yang pergi beburu?Ia masih berpikir alasan mengapa Othinel mau menikahi Castella tanpa meminta izin pada keluarga adalah karena wanita itu memaksa anaknya untuk menikahinya. Mungkin menjebaknya dengan licik, seperti yang diberitakan di koran-koran.Meski bukan ia yang memaksa menikah, Castella sebenarnya salah satu wanita yang cukup tangguh dan memiliki kegemaran yang cukup ekstrim, karena dirinya selalu mengekori mendiang ayahnya sejak kecil.Maka dari itu, Castella memilih menunjukkan bahwa
“Jadi seluruh berita itu benar? Kalian benar-benar punya hubungan gelap?” seru Emily.Castella segera mendelik pada Othinel.Tatapannya kini seolah bertanya mengenai maksud dari ucapan suaminya barusan. Apa ini rencananya?Mereka seharusnya di sini untuk mengambil hati orang tuanya, bukannya memberikan kabar horor itu. Seolah menuang minyak ke dalam api!Tetapi Othinel seolah tak peduli pada reaksi orang-orang, ia hanya duduk sambil memandangi semua orang di meja makan, sepersekian detik kemudian ia meraih tangan Castella seraya mengelusnya pelan.“Maaf… Itu bisa terjadi karena kami saling mencintai,” seru Othinel pelan kemudian beralih menatap kedua orang tuanya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.Emily memandangi dengan seksama, seolah sedang mencari puing-puing kebohongan dari gelagat Othinel. Namun dalam pikiran wanita tua itu, Othinel adalah anak yang terlalu sempurna untuk menjadi seorang penipu. Ia juga tak pernah mendapati anaknya itu berbohong bahkan pada kondisi yang memu
Castella ikut menoleh. Othinel baru saja seolah sengaja berkata demikian agar pelayan itu juga memperhatikan Castella yang sejak tadi diabaikannya.Dengan gerakan kaku karena terpaksa, pelayan itu menolehkan kepalanya ke arah Castella untuk menawarkan handuk hangat.“Nyonya… ingin handuk hangat?” tawarnya.Castella tersenyum sopan. “Tidak, terima kasih. Aku tak membutuhkannya.” Pelayan itu berusaha mempertahankan senyumnya, tetapi dari ekspresinya itu Castella dapat merasakan ketidaksukaan yang pelayan itu sembunyikan. Tentu saja ia tak bisa terang-terangan menunjukkannya pada wanita yang sudah menjadi nyonya dari tuannya.“Baik. Nyonya dan Tuan Patton sedang bersiap untuk pergi ke ruang makan, mari saya antar,” jawabnya sopan.Pelayan itu kemudian menunduk sopan sebelum menunjukkan jalan ke ruangan lain.Di belakangnya, Castella berbisik pelan kepada Othinel. “Orang-orang di sini sepertinya tak menyukaiku.”“Tak usah hiraukan para pelayan, yang terpenting kau harus meluluhkan hati
“Ada masalah?” Alis pria itu terangkat sebelah, matanya mulai tampak menelisik ke arahnya.Castella menggeleng sambil menimang dengan lirih.“Kau sendiri tahu bahwa pernikahan kita tidak dihadiri oleh keluargamu, itu berarti mereka tidak setuju, kan? Lalu, kalau aku menampakkan batang hidungku di hadapan mereka…” Castella sengaja menggantung ucapannya, ia menatap penuh harap kepada suaminya agar pria itu mau membatalkan janji pada keluarganya. “Tidak bisa,” sela Othinel tegas. “Karena mereka tidak setuju, mau tak mau kita harus meminta mereka untuk menerima pernikahan ini.”Castella terdiam lagi. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan agar dapat menghindar dari pertemuan bersama keluarga Othinel.Lagipula, untuk meluruskan masalah, yang paling utama perlu dimulai dari keluarga.Beberapa jam pun berlalu, langit perlahan mulai tercoreng dengan warna jingga dan ungu. Othinel sudah siap dengan baju yang tidak seformal pakaian untuk pekerjaan dinasnya.Castella keluar dengan terusan bir
“M-menikah?”Mata Castella membulat sempurna setelah mendengar jawaban yang diberikan Othinel padanya. “Apa kau keberatan?”“T-tidak, Yang Mulia!” “Lalu kau setuju untuk menikah denganku?” Castella terdiam sejenak.Ia baru sadar, tawaran itu mungkin tak akan didapatkannya lagi, apalagi ia akan terbebas dari perjodohan bersama Damian jika menikah dengan Othinel. Ini sesuai dengan rencananya.“Ya… saya setuju,” jawab Castella pelan. Othinel mengangguk, ia kembali menarik lembut tangan Castella.“Kalau begitu, mari kita urus pernikahan itu sekarang.”“S-sekarang?” Ia terkejut lagi.“Berhubung di Istana, aku akan meminta izin raja secara langsung.”Castella tertegun. Ia membiarkan Othinel menuntunnya menuju singgasana raja.Dalam semalam, pernikahan itu pun terjadi dengan cepat.Dengan pengaruhnya, Othinel dengan mudah mendapatkan izin kerajaan.Kemudian ia membawa Castella ke gereja dan mengucap sumpah pernikahan di hadapan pastor.Di dalam mobil yang membawanya ke kediaman Marquess
Marquess Othinel adalah pemimpin wilayah berbahaya yang terpencil dari kerajaan, sekaligus orang kepercayaan Raja Desmond. Baru-baru ini ia menyelesaikan tugas diplomasi ke kerajaan wilayah Utara yang terkenal sangat berbahaya.Prestasi itulah yang menjadi alasan mengapa Raja Desmond mengadakan pesta khusus untuk menyambut kepulangan Marquess Othinel di aula Istana. Pria terhormat, tak tersentuh, tangan kanan sang raja. Seolah melihat tambang emas di depan mata, Castella tanpa sadar malah mengajak pria itu berdansa dengannya. Yang jelas, sepersekian detik setelah Castella mengajak Marquess Othinel berdansa, wanita itu mulai menyesali tindakannya tersebut. Orang-orang yang menatapnya tak percaya mulai berbisik-bisik. Tak pernah ada wanita yang berani mengajak Marquess Othinel berdansa.Namun tubuh pria itu segera bergerak mendekat ke arah Castella, hingga jarak keduanya cukup dekat, nyaris membuat Castella melangkah mundur.“Tentu.”Ucap Othinel singkat, datar dan dingin. Tapi bena







