Share

CHAPTER 3: Bertemu Lagi?

Author: Heiho
last update publish date: 2026-06-17 18:23:06

‘Aku berhasil!’ batin Sasha dengan jantung yang berdebar kencang. Ia berdiri sejenak menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya. 

Sasha sama sekali tak menyangka ia berhasil kabur malam itu juga. Begitu ia keluar dari hotel, ia diam-diam pulang ke rumah bibinya. Untungnya, Katie sudah tidur saat ia sampai.

Karena takut dimarahi dan dikembalikan pada debt collector, Sasha langsung berangkat dini hari, mencari toilet di sebuah stasiun terdekat untuk ganti baju dan bersiap, lalu memesan taksi menuju tempat magangnya sekarang. Sebuah firma hukum terkenal di negara ini. 

L&C Law Firm. 

Sejak kuliah, Sasha sudah memimpikan untuk bekerja di situ. Mengingat itu membuatnya merasa gugup. Ini adalah hari pertamanya bekerja.

Sasha menarik napas sejenak. Ia lalu melangkah masuk ke dalam.

Seperti bagian luarnya yang sangat megah, bagian dalam juga tak kalah elit. Sasha menatap takjub lalu-lalang orang berjas di lobi gedung. 

Mereka terlihat sangat rapi dan profesional. Sasha jadi merasa malu dengan dirinya sendiri. Selain menggunakan blazer sederhana, ia hanya berdandan seadanya juga!

Semoga saja penampilan ini tidak terlalu menarik perhatian.

“Sasha!”

Sasha menoleh ke belakang. Wajahnya berubah cerah ketika melihat temannya, Annelise Hoovert, mendekati dirinya. 

“Kamu baru datang?” tanya Annelise. Sasha mengangguk. 

Annelise adalah teman kuliahnya. Ia lulus setahun lebih dulu darinya dan sudah menjadi karyawan tetap di firma hukum ini. 

Dari temannya itulah, Sasha mengetahui informasi soal lowongan magang di L&C Law Firm. Tanpa itu, dia pasti tidak akan bisa masuk kesini!

“Hari pertama magangmu, ya. Kamu pasti gugup,” ucap Annelise ketika mereka sudah di lift. 

Sasha tertawa kaku, “Ya, lumayan. Tanganku bahkan dingin sekarang.”

“Jangan khawatir! Semua orang di sini ramah, kok. Kecuali …” Annelise melirik sekitar sejenak sebelum mendekatkan dirinya ke telinga Sasha. 

“Bos kami,” lanjutnya berbisik.

“Ah, jadi benar, ya? Bos memang segalak itu?” balas Sasha berbisik.

Ia sering mendengar di drama-drama televisi yang berkonflik perebutan kekuasaan perusahaan. Kekuasaan yang dimiliki orang kaya selalu berhasil membuatnya bergidik. 

Masih sambil merendahkan suaranya, Annelise mengangguk pelan.

“Bos kami itu terkenal dingin dan kejam. Tidak ada ampunan untuk kesalahan apa pun. Jadi, kamu harus bekerja sesempurna mungkin.”

Sasha menelan ludah. Ucapan temannya itu semakin membuatnya grogi!

“Meski begitu, dia sangat tampan,” lanjut Annelise dengan cengiran lebar, “Badannya atletis, wajahnya tegas, matanya tajam. Pokoknya dia seperti dipahat langsung oleh Dewa! Jadi, kamu fokus saja dengan ketampanannya itu.”

Sasha mengangguk-angguk. Perkataan itu ada benarnya.

“Tapi, anak magang biasanya tidak banyak berhubungan dengannya. Jadi, kamu tidak usah khawatir,” ucap Annelise mengacungkan jempol.

Sasha mengangguk lagi, menghela napas lega.

Lift mereka akhirnya berhenti. Sasha melangkah keluar bersama Annelise menuju ruangan kerja mereka. 

“Sasha Briar?”

Sasha menoleh ke sumber suara. Seorang pria tinggi berjas mendekatinya. Wajahnya terlihat ramah. 

“Salam kenal. Saya Thomas Brown. Anda pemagang yang baru diterima, kan?” tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya. 

“Iya, benar,” Sasha menjabat tangan pria itu, “Salam kenal, Pak.”

“Mari ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan pekerjaan Anda dan membimbing Anda selama masa magang di sini.”

Sasha mengangguk. Ia melambaikan tangan sejenak ke Annelise lalu mengikuti langkah Thomas menuju ruangannya.

Sesampainya di sana, Thomas segera menjelaskan tentang perusahaan firma hukum ini. Ia kemudian lanjut menjabarkan tugas-tugas Sasha selama magang.

“Tugas Anda secara garis besar adalah membantu para karyawan dan pengacara,” jelas Thomas, “Mulai dari pengurusan berkas, arsip dokumen, juga membantu pengurusan kasus bersama mereka.”

Sasha mengangguk paham. Tugas-tugas ini sesuai dengan bayangannya. Ia jadi tidak sabar untuk melaksanakannya. 

“Lalu, yang perlu Anda per–”

Tok. Tok.

Sasha dan Thomas menoleh ke pintu yang terbuka. Muncul seorang pria berjas lain dari sana. 

“Tuan Zen. Ada apa?” tanya Thomas sambil mengernyitkan alis bingung. 

“Maaf mengganggu. Tapi, Tuan CEO meminta bertemu dengan Sasha Briar,” balas Zen, “Beliau ingin mengenal pemagang yang baru.”

Alis Thomas terangkat, tampak terkejut. “Tidak biasanya Tuan Campbell menyambut anak magang.”

Thomas mengalihkan pandangannya ke Sasha. “Pergilah, Nona Briar. Kita lanjut nanti.”

Sasha mengangguk pelan. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan mengikuti Zen. 

Sepanjang perjalanan, jantung Sasha tak henti berdebar. Berbagai pertanyaan menyeruak di benaknya saat mengingat kembali perkataan Thomas tadi.

Apalagi, saat mengingat ucapan Annelise kalau bosnya itu menyeramkan. 

Belum ada satu jam sejak ia masuk gedung ini sebagai pemagang baru. Apa ia sudah membuat kesalahan di hari pertamanya bekerja?

Jantung Sasha semakin berdebar kencang saat ia dan Zen sudah berdiri di depan ruangan sang CEO. Zen segera mengetuk pintu. Tak lama, terdengar sahutan dari dalam menyuruh mereka masuk.

Sasha menarik napas pelan saat Zen membuka pintu.

Ia masuk setelah dipersilahkan, dan matanya segera menangkap sosok pria di sana yang duduk di balik meja kerjanya. 

Pria bertubuh jangkung dan tegap, dalam balutan jas hitam yang membingkai tubuhnya, garis wajah tegas dan sorot mata dingin.

Sasha seketika terbelalak.

Wajah itu … bukankah dia Tuan Ludwig, yang membelinya semalam?!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 20: Buka Kakimu

    Sasha seolah lupa caranya bernapas. Jarak di antara mereka sangat kecil dan tipis membuat udara di sekitar mereka terasa menyesakkan. Saking dekatnya, Sasha bisa merasakan napas hangat Ludwig menyentuh bibirnya, membuat jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Mata hitam Ludwig yang menatapnya lekat juga membuat pikiran Sasha terasa kosong. Ia hanya mampu memejamkan mata rapat ketika Ludwig menyatukan bibir mereka.Sasha mulai mendesah dalam permainan bibirnya. Tubuhnya bergetar ketika Ludwig semakin memperdalam ciumannya. Mengajak lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Sasha.Suara decap lidah kembali memenuhi kamar itu untuk kesekian kalinya. AC kamar juga lagi-lagi harus bekerja keras untuk mendinginkan suasana yang mulai panas itu. Jari Ludwig mulai ikut bermain. Ia melepas perlahan kancing kemeja Sasha. Menariknya hingga terlepas dari tubuh Sasha dan membuangnya ke lantai.Tangannya kemudian membuka pengait rok span Sa

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 19: Mandi Bersama

    Esok paginya, Sasha terbangun sendiri di kamar itu.Ludwig sudah tidak ada. Menyisakan bekas kasur yang sudah ditiduri di sampingnya. Apa pria itu sudah berangkat ke kantor? Padahal sekarang juga masih pagi buta, Sasha jadi bertanya-tanya seberapa pagi pria itu terbangun. Sasha bangkit dari kasur. Hendak bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi, netranya segera menangkap satu set pakaian formal bersih di atas nakas. Itu bukan bajunya kemarin. Yang berarti, Ludwig menyiapkannya lagi untuknya seperti beberapa hari lalu. Sasha mendesah. Perlakuan ini membuatnya seperti wanita simpanan beneran. Walaupun, memang itu statusnya sekarang. Tidak ingin memikirkannya lebih jauh, gadis itu akhirnya beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap karena sebentar lagi sudah jam masuknya.***“Pagi, Sasha. Kamu sudah sibuk saja sepagi ini,” kekeh Annelise saat Sasha menuju mejanya dengan setumpuk dokumen.

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 18: Gerakkan, Sasha

    Jantung Sasha berdebar kencang. Keringat gugup mengalir di pelipisnya ketika melihat pemandangan di depannya. Ia sudah melihatnya sekali, tapi masih tak menyangka kalau ‘barang’ pria ini bisa sebesar itu. Bahkan, ketika Sasha mulai menaruh tangannya di sana, tidak semua bagiannya bisa tertutupi. Sasha menarik napas pelan. Ini pertama kalinya Sasha memegang kemaluan pria. Jadi, sensasinya terasa aneh di tangan Sasha. Ia bertanya-tanya apakah semua kemaluan pria memang terasa seperti ini. Panas, licin, berurat, dan— Sasha buru-buru menggelengkan kepalanya. Wajahnya kembali memerah, merasa malu karena sudah memikirkan hal mesum seperti itu. “Sasha,” panggil Ludwig tiba-tiba, menyentakkan dirinya. “Y-ya, Pak?” tanya Sasha balik. “Gerakkan tanganmu,” perintah Ludwig pelan. Wajahnya terlihat sedikit mengeras. Sasha mengangguk pelan. Perlahan, tangannya mu

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 17: Gunakan Tanganmu

    Sasha menelan ludah. Ia menundukkan pandangan lalu perlahan jemarinya mulai membuka kancing kemejanya. Kemeja itu perlahan luruh dari badannya. Mengekspos kulit mulus Sasha yang sudah basah karena keringat. Mata Ludwig memicing. Ia kembali mendekat dan membubuhkan bibirnya di atas dada Sasha.“A-ah …” tubuh Sasha bergetar lebih kencang. Matanya terpejam erat merasakan sensasi geli dari ciuman Ludwig itu.Tangan Ludwig merambat lebih naik. Gerakan jarinya terasa sensual di punggung Sasha, membuatnya merinding. Ia akhirnya menghentikan tangannya di pengait bra Sasha lalu membukanya dengan cepat.Sasha tercekat pelan saat merasakan branya juga luruh. Wajahnya semakin memerah.Padahal sudah beberapa kali ia menunjukkan badan polosnya di depan Ludwig, tapi tetap saja ia merasa malu. Entah kapan Sasha akan terbiasa.“Sepertinya kamu bersemangat sekarang,” ucap Ludwig tiba-tiba.

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 16: Panas?

    Sasha tiba tepat waktu di hotel. Tapi, saat ia memasuki kamar, Ludwig ternyata masih belum ada di sana.Mungkinkah pria itu telat?Tidak ada pesan dari Ludwig. Sasha sendiri juga tidak enak untuk menanyakannya, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja.Gadis itu duduk di atas kasur. Mendesah lega karena akhirnya bisa duduk setelah seharian berdiri terus.Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia bersiap terlebih dulu, seperti membuka baju?Membayangkan Ludwig langsung melihat tubuh telanjangnya begitu datang, membuat wajah Sasha memerah. Ia tidak bisa membayangkan reaksi pria itu nanti, karena selama ini dia hanya menunjukkan ekspresi seram.

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 15: Sasha Sakit

    Sasha mematung. Tubuhnya mendadak mendingin, seolah aliran darahnya tiba-tiba tersumbat.Lagi-lagi pria itu mengancamnya. Tapi, ancaman kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.Tentu saja. Setelah pria itu tidak bisa menjauhkannya dari Isabel, ia pasti semakin merasa was-was hubungan gelap mereka akan terbongkar.Apalagi, Sasha akan terus menempel dengan Isabel ke depannya. Ludwig pasti juga merasa waspada kalau tunangannya itu dekat-dekat dengan wanita yang punya hubungan gelap dengannya.Menarik napas pelan, Sasha akhirnya mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaan ini,” ucapnya.Ludwig mendengus pelan.

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 4

    “Keluarlah, Zen.”Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.“Baik, Pak.”Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri. Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.Ludwig … Lu

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 2

    “Ah! Tu-tunggu, Tuan…”Sasha mendesah pelan saat bibir Ludwig mulai menjamah lehernya, ciumannya lembut. Hidung mancungnya menggesek kulit sensitif di sana. Begitu geli! Sensasinya tidak tertahankan.Kedua tangan Sasha mendorong dada bidang Ludwig, membuat pria itu berhenti sejenak.“Tunggu?” ulang

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 5

    Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 1

    “Saya mohon jangan jual saya, Bi! Saya berjanji akan membayar hutang ayah pada mereka!” seru Sasha Briar putus asa pada wanita yang berdiri di depan rumah. Sasha sama sekali tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Padahal, dia tadi pulang ke rumah dalam keadaan senang setelah lolos mendapatkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status