Teilen

Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya
Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya
Heiho

CHAPTER 1: Melayani Tamu VIP

last update Veröffentlichungsdatum: 17.06.2026 18:22:29

“Saya mohon jangan jual saya, Bi! Saya berjanji akan membayar hutang ayah pada mereka!” seru Sasha Briar putus asa pada wanita yang berdiri di depan rumah. 

Sasha sama sekali tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Padahal, dia tadi pulang ke rumah dalam keadaan senang setelah lolos mendapatkan posisi magang di sebuah firma hukum terkenal.

Tapi, begitu sampai rumah, ia tiba-tiba disergap oleh debt collector yang dihutangi ayahnya, lalu menarik paksa dirinya untuk pergi!

Katie Briar, bibi Sasha, hanya menatapnya datar saat Sasha memohon-mohon.

“Sudahlah, turuti saja,” ucap Katie ketus, “Hutang ayahmu terlalu besar. Apa salahnya menebus hutang itu dengan putrinya sendiri? Lagipula, kamu tidak mungkin bisa melunasinya meski bekerja sekalipun.”

Mendengar perkataan kejam itu, hati Sasha mencelos seketika.

“Kamu dengar ucapan bibimu, hah? Jadi, cepat masuk ke dalam mobil!” seru salah satu debt collector sambil mendorong Sasha ke dalam mobil. 

“Tunggu! Tidak! Bibi, tolong!” seru Sasha, tapi ia sudah dipaksa masuk ke mobil.

Pintu mobil itu ditutup dengan kencang dan segera terkunci. Sasha terjebak dengan seorang debt collector memeganginya di sampingnya.

Mobil segera melaju pergi. Meninggalkan Katie yang kini mengulas senyum lebar. 

“Harusnya kita melakukan ini sejak ayahmu mati!” seru debt collector yang mengemudi mobil, “Kamu masih perawan, kan? Badanmu bagus, pasti banyak uang yang bisa kau hasilkan. Harusnya kau senang hutang ayahmu bisa lunas.”

Mendengar itu, Sasha tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis terisak-isak membuat debt collector yang di sebelahnya berdecak kesal. 

“Hapus air matamu! Sebentar lagi kau harus melayani tamu penting!” bentaknya. 

Ketakutan, Sasha buru-buru menghapus air matanya. Ia berusaha menghentikannya, tapi air matanya terus saja mengalir keluar. 

Mau bagaimana lagi? Hidupnya sudah sangat hancur sekarang. 

Semua ini terjadi sejak usaha ayahnya bangkrut. Padahal semasa hidupnya, ayahnya menjadi tulang punggung keluarga, bahkan Katie pun hidup dari hartanya.

Tapi, karena usahanya ayahnya yang kemudian bangkrut, dan keluarga besar yang kehilangan sumber keuangan, mereka menjadi tidak peduli pada ayahnya dan menelantarkan ayahnya juga Sasha begitu saja.

Ayahnya tetap bekerja keras sampai sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal. Meninggalkan Sasha sebatang kara. 

Sasha akhirnya tinggal bersama Katie, tapi di sana ia bekerja di rumah Katie sebagai pembantu yang tidak diupah. Bibinya itu juga memeras uang hasil kerja serabutannya selama ini.

Katie bilang, tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi, Sasha harus membayarnya baik dengan materi maupun tenaga. 

Dan sekarang, ketika debt collector tiba-tiba muncul untuk menagih hutang-hutang mendiang ayahnya, bibinya itu menjual Sasha ke para debt collector begitu saja.

“Kita sudah sampai. Persiapkan gadis itu dan bawa dia ke kamar 3501,” perintah debt collector yang mengemudi, menyadarkan Sasha dari isi pikirannya. 

Dua debt collector di sisi Sasha mengangguk. Mereka segera mendorong Sasha keluar. 

Begitu keluar dari mobil, Sasha segera menangkap hotel megah di depannya. Tubuhnya seketika menciut ketika menyadari hal yang selanjutnya akan dia alami. 

“Cepat jalan. Jangan diam saja!” hardik debt collector di belakangnya sambil mendorong dirinya.

Sasha kemudian masuk ke dalam hotel dengan langkah berat. Debaran jantungnya semakin kencang begitu lift membawa mereka ke lantai tertinggi. 

Mereka akhirnya berhenti di depan kamar 3501. Kamar presidential suite.

Menyadari mewahnya interior hanya dari depan pintunya saja, tubuh Sasha gemetar ketakutan. Penyewa kamar ini pastilah orang kaya!

“Masuk kamar ini dan pakai baju di dalam tas ini,” perintah debt collector sambil memberikan tas tenteng kecil ke Sasha. 

“Tunggu di kasur. Sebentar lagi Tuan Ludwig akan datang. Pastikan layani dia dengan baik. Jangan coba-coba untuk kabur!” ancamnya lagi. 

Ia membuka pintu dan mendorong Sasha ke dalam. Keduanya segera pergi meninggalkan Sasha sendiri. Pintu di belakangnya pun tertutup.

Sasha dengan gemetar membuka tas jinjing itu, sebuah lingerie putih tipis di dalamnya. Matanya berkaca-kaca.

Inikah nasibnya? Ia benar-benar harus melakukan melayani nafsu seorang pria? Menjual harga dirinya sendiri?

Padahal, besok adalah hari pertamanya magang di firma hukum, tempat karir impiannya. Ia sudah membayangkan akan bekerja dan bisa membayar hutang, lepas dari bibinya dan membiayai hidupnya sendiri. 

Sasha mengusap air matanya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti ke lingerie itu. Ia menatap dirinya di cermin. Lekuk tubuhnya tampak jelas di balik kain tipis yang terasa mewah itu, tapi sorot matanya sayu.

Setelah sekian lama menguatkan diri, Sasha melangkah keluar dari kamar mandi.

Ia tercekat begitu mendapati siluet seorang pria yang sedang berdiri di depan dinding kaca yang menghadap ke pemandangan malam kota.

Sudah berapa lama sejak pria ini masuk? Sasha tidak mendengar apapun dari dalam kamar mandi.

“Jadi, kamu yang melayani saya malam ini?”

Suara rendah dan dalam itu terdengar, membuat Sasha melebarkan mata.

Pria itu berbalik, memperlihatkan wajah tampan dengan garis wajah yang tegas. Tubuhnya yang tinggi dan besar dibalut bathrobe sutra yang memperlihatkan garis otot di dadanya yang kekar.

Tuan rupawan ini … tamu yang akan dilayaninya? Sasha pikir ia akan melayani seorang pria tua mesum yang gendut.

“A-Anda Tuan Ludwig?” tanya Sasha, memastikan ia tidak salah orang.

Pria itu tidak menjawab, hanya tersenyum miring. Sasha nyaris saja terpesona, sebelum pria itu bergerak mendekat, memangkas jarak di antara mereka.

Satu tangan kokohnya meraih dagu Sasha, mengangkat dan memindai wajahnya.

“Masih sangat muda, sudah bekerja melayani pria,” gumamnya, sarat dengan sindiran.

Sasha menelan ludah. Ia membeku di tempat. Sekujur tubuhnya gemetar. Di hadapan pria bertubuh besar ini, ia merasa sangat kecil. Tatapan tajamnya mengintimidasi.

Sasha terkesiap pelan ketika pria itu membungkuk sedikit, lalu menggendong Sasha dengan mudah. Ia kemudian duduk di tepi kasur berukuran king size itu, mendudukkan Sasha di pangkuannya.

Kedua tangan pria itu memegangi pinggang ramping Sasha, ibu jarinya mengusap kulit di balik kain tipis dengan gerakan pelan.

“Sekarang,” bisik pria itu di telinga Sasha, membuat kulitnya meremang. “Tunjukkan bagaimana kamu akan melayani saya malam ini.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 36: Pesan di Malam Hari

    “Ini daftar pekerjaan yang harus kau lakukan sebelum sidang besok.”Sasha menelan ludah melihat daftar catatan yang diberikan Isabel. Ia menerimanya dan membaca saksama tulisan yang tertera di sana.Ada banyak sekali tugasnya. Ia perlu mengecek dokumen perkara, mereview kembali jawaban dan bukti-bukti yang sudah disiapkan, menyusun materi, bahkan sampai harus datang ke tempat sidang besok untuk mengecek teknis persiapannya?Bukankah ini terlalu banyak?Sasha merasakan kepalanya kembali berdenyut. Bahkan sekelilingnya terasa berputar-putar membuatnya mual. Meski begitu, ia tidak bisa menunjukkan kelemahannya sekarang di depan Isabel. Apalagi, dia sudah menyanggupinya dengan pede barusan.Sasha akhirnya mengangguk pelan. Ia berusaha mengulas sebuah senyum sebelum menjawab, “Baik, Nona. Saya akan mengerjakannya.”Isabel tersenyum. Mengangguk-angguk puas. “Kamu memang bisa diandalkan, Sasha! Ludwig harusnya lebih memercayaimu. Pria tua itu kadang terlalu meremehkan anak baru.”Sasha tertaw

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 35: Awasi Dia

    Kegugupan seketika melanda Sasha. Jantungnya berdegup kencang, takut melihat reaksi Ludwig. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya, meski lehernya mulai terasa pegal.Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan?Dasar Sasha bodoh! Padahal, Annelise waktu itu sudah mewanti-wantinya untuk terus memerhatikan penampilan karena bos mereka sangat ketat soal itu. Ia bahkan tidak segan mengkritik karyawannya di depan umum sekali pun, apabila mereka tidak memenuhi standar kerapihannya.Maklum saja karena pekerjaan mereka berkaitan dengan pelayanan, jadi penampilan tentulah nomor satu!“Apa dia sesibuk itu sampai tidak bisa memerhatikan penampilannya?”

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 34: Teror Dimulai

    Sasha akhirnya sampai di hotel.Ia tidak tahu bagaimana caranya bisa berjalan sampai sana, mengingat kakinya begitu lemas ketika digerakkan tadi. Ia bahkan sempat berpikir tidak akan bisa sampai.Sasha mendudukkan dirinya di atas kasur. Ludwig masih belum datang. Padahal dia bilang akan datang lebih awal. Apa pria itu tidak jadi melakukannya?Padahal Sasha sudah bersusah payah untuk datang tepat waktu.Sasha menghela napas. Menggeleng pelan. Ia tidak seharusnya merasa seperti itu. Memang sudah kewajibannya untuk datang tepat waktu. Lagipula, ia sendiri juga tidak yakin bisa melayani Ludwig dengan baik kalau mereka jadi melakukannya. Ia masih terlalu lemah dan lemas untuk melakukan sesuatu setelah kejadian barusan. Jadi, ini situasi yang bagus.Mengingatnya kembali membuat dada Sasha seketika sesak. Ia meremas rambutnya, berusaha melupakan kejadian itu. Tapi, potongan kejadian tersebut justru mengalir deras di kepalanya.Suasana mencekam. Tatapan tajam mereka. Tamparan. Dan … ancaman p

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 33: Ancaman

    Sasha terhenyak. Bola matanya menatap tak percaya sekaligus ngeri pada pria di hadapannya setelah mendengar ancaman tersebut.Apa yang sebenarnya terjadi di sini?Ia tiba-tiba dituduh meminjam uang lima puluh miliar dan belum selesai Sasha memproses hal tersebut, sekarang ia diminta untuk mengembalikan uangnya!Ini benar-benar gila. Sasha yakin tidak melakukannya.Sejak ayahnya meninggal dengan hutang ratusan juta ke rentenir, Sasha sudah bersumpah tidak akan mengikuti jejaknya. Dia sudah merasakan sendiri betapa beratnya menanggung hutang-hutang tersebut. Jadi, ia sebisa mungkin menghindari meminjam uang seberat apa pun hidupnya.Karena itu, situasi ini sangat tidak masuk akal. Seseorang pasti menjebaknya!“Kenapa diam saja? Cepat serahkan uangnya!” bentak sang ketua lagi. Wajahnya mulai memerah dan mengeras, tak sabaran.Sejujurnya sangat menyeramkan melihatnya seperti itu. Sasha merasa dirinya menciut lagi karenanya. Tapi, ia tidak bisa membiarkan ketidakadilan ini begitu saja.Jad

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 32: Terjebak

    [Saya kembali lebih awal hari ini. Persiapkan dirimu di hotel.]Pesan itu mendadak muncul di ponselnya saat Sasha baru saja menyelesaikan tugasnya. Sasha menghela napas panjang. Menyandarkan badannya yang lelah di atas kursi. Ia memerhatikan sejenak pesan itu sebelum menjawab dengan, [Baik, Pak] andalannya.Sasha lagi-lagi pulang larut. Mungkin lebih larut dari biasanya. Hal ini karena selain mengerjakan tugas dari Isabel dan Ludwig, ia juga harus mengerjakan pekerjaan Isabel selama wanita itu dinas.Isabel yang memintanya, jadi mau tak mau Sasha harus melakukannya.Dengan tugas yang bertumpuk itu, maka tak heran ia baru menyelesaikannya sekarang.“Semoga masih ada taxi lewat,” desah Sasha. Jarak kantor ke hotel memang tidak terlalu jauh. Tapi, cukup melelahkan apabila harus menempuhnya dengan berjalan kaki. Dengan kondisi begini, Sasha pasti akan tumbang begitu sampai hotel. Yang mana ia tidak boleh melakukannya, karena Ludwig sepertinya akan menagih layanannya malam ini.Sasha ban

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 31: Katie Menghilang?

    Katie tidak menerornya lagi setelah kejadian hari itu. Tidak ada pesan spam juga telpon mendadak yang mengagetkan Sasha.Wanita itu seolah lenyap begitu saja.Awalnya, Sasha merasa gelisah. Ia takut bibinya akan melakukan hal lebih gila lagi, seperti mendatanginya ke kantor langsung dan memarahi dirinya lagi seperti waktu itu. Karena itu, tiap hari ia selalu was-was saat berangkat ke kantor.Sasha juga merasa resah tiap kali pergi ke hotel. Ya, Ludwig masih suka memintanya pergi ke hotel. Meski akhir-akhir ini, mereka tidak pernah bertemu lantaran pria itu selalu datang ketika Sasha sudah ketiduran menunggunya.Kata orang-orang, yang Sasha ketahui juga dari Annelise, pria itu akhir-akhir ini sibuk dinas

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 5

    Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 4

    “Keluarlah, Zen.”Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.“Baik, Pak.”Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri. Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.Ludwig … Lu

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 3

    ‘Aku berhasil!’ batin Sasha dengan jantung yang berdebar kencang. Ia berdiri sejenak menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya. Sasha sama sekali tak menyangka ia berhasil kabur malam itu juga. Begitu ia keluar dari hotel, ia diam-diam pulang ke rumah bibinya. Untungnya, Katie sudah tidur s

  • Tuan Pengacara Menjebakku di Ranjangnya   CHAPTER 2

    “Ah! Tu-tunggu, Tuan…”Sasha mendesah pelan saat bibir Ludwig mulai menjamah lehernya, ciumannya lembut. Hidung mancungnya menggesek kulit sensitif di sana. Begitu geli! Sensasinya tidak tertahankan.Kedua tangan Sasha mendorong dada bidang Ludwig, membuat pria itu berhenti sejenak.“Tunggu?” ulang

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status