Masuk“Keluarlah, Zen.”
Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.
“Baik, Pak.”
Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri.
Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.
Ludwig … Ludwig Campbell. Marga pria itu adalah Campbell! Pikiran Sasha berkecamuk, ia meremas jemarinya dengan cemas.
Sasha sama sekali tidak mengira yang dia layani semalam adalah Ludwig Campbell! Pemilik L&C Law Firm, sekaligus seorang pengacara tersohor yang selalu menang dalam kasus-kasus yang ditanganinya.
Konon katanya, semua orang akan langsung mundur dan mencabut gugatan mereka tiap mengetahui pengacara lawan mereka adalah Ludwig Campbell.
Pengacara legendaris sekaligus pemilik firma hukum tempat Sasha magang saat ini, adalah pria yang sama yang telah membelinya semalam?
Sasha yakin hidupnya sudah berakhir sekarang.
“Sasha Briar.”
“Y-ya, Pak!”
Sasha melirik sedikit ke arah Ludwig sebelum menunduk kaku. Pria itu sedang menatap berkas di tangannya dengan tatapan tajam.
“Lulusan jurusan hukum di Universitas X dan sekarang magang di divisi Litigasi,” ucapnya membaca tulisan di berkas.
Alis pria itu terangkat satu, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman miring yang tipis.
“Kenapa anak magang yang tidak punya pengalaman apa-apa seperti kamu ada di ranjang saya semalam?”
Kata-kata itu langsung membuat Sasha tercekat.
Tubuh Sasha semakin bergetar. Ia segera menurunkan pandangannya ke lantai saat Ludwig menatapnya.
Matilah dia. Mungkin Ludwig Campbell benar akan memecatnya sekarang karena latar belakangnya yang tak bersih.
“Jawab saya, Sasha Briar.”
“I-itu …” Sasha menarik napas sejenak, “Sa-saya di-dijual oleh debt collector … k-karena hutang ayah saya ... Makanya semalam … saya bi-bisa melayani Bapak.”
Sasha semakin menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca. “S-saya mohon maaf karena sudah kabur …”
Tidak ada jawaban dari Ludwig. Justru, Sasha merasa dirinya semakin tertekan. Air mata mengambang di pelupuk matanya.
“P-Pak Ludwig … saya berjanji akan menerima konsekuensi apa pun,” lanjut Sasha dengan suara yang semakin bergetar, “J-jadi, saya mohon jangan pecat saya sekarang. Pekerjaan ini adalah harapan saya satu-satunya.”
Ludwig menatap lekat Sasha yang bergetar. Ia tersenyum tipis dan berkata dengan suara berat, “Sayangnya, saya tidak bisa meloloskanmu begitu saja.”
Lalu ia melanjutkan dengan nada tenang, “Sasha Briar, kamu telah memegang rahasia saya. Tidak ada jaminan kamu tidak akan membocorkannya ke siapa pun. Saya punya reputasi yang harus dijaga.”
“K-kalau soal semalam, sa-saya berjanji akan tetap diam, Pak–”
“Karena itu, saya mengajukan kontrak untuk kamu.”
Sasha segera mengangkat kepalanya. Alisnya mengerut dalam. “Kontrak …?” gumamnya.
“Patuhi semua perintah saya. Itu syarat agar kamu tetap bekerja di sini,” ucap Ludwig penuh penekanan, “Termasuk melayani saya di ranjang, seperti yang seharusnya kamu lakukan semalam.”
Sasha terbelalak. Menatap Ludwig tidak percaya. Ia hendak menyuarakan keberatannya, tapi Ludwig mendahuluinya,
"Kalau kamu tidak setuju, maka saya akan memecat kamu dari sini. Dan memastikan kamu tidak bisa bekerja di firma hukum manapun."
Tubuh Sasha merinding di tempat.
Sasha tidak ingin mempercayai ucapannya, tapi ia tahu pasti kalau ancaman Ludwig tadi bukan ancaman kosong.
Dia adalah Ludwig Campbell. Segala hal mungkin di tangannya. Satu ucapan darinya, bisa membuat orang segera tunduk.
Meski begitu, ia tidak menyangka Ludwig Campbell ternyata seorang pria brengsek!
Citranya di masyarakat adalah seorang pengacara dingin dan berwibawa. Catatan hidupnya bersih, tidak ada skandal sedikit pun tentang dirinya, itulah sebabnya dirinya juga dihormati.
Tapi, ternyata ia hanyalah pria hidung belang yang suka bermain wanita! Bahkan memaksa Sasha untuk menjual dirinya sendiri.
“A-apa tidak ada penawaran lain?” tanya Sasha takut-takut.
“Kontrak itu sudah cukup menguntungkanmu,” jawab Ludwig, “Bersyukurlah karena saya tidak melakukan hal yang lebih daripada ini.”
Sasha menelan ludah mendengar ucapannya. Jika Ludwig Campbell yang mengatakannya, maka itu benar. Ini adalah jalan terbaik untuknya.
Tapi, membiarkan harga dirinya terinjak-injak begitu saja hanya karena pria itu jauh lebih berkuasa?
Apalagi, dia harus berhubungan gelap dengan bosnya sendiri. Kalau hubungan itu terungkap, mudah untuk Ludwig membersihkan namanya, dan Sasha pasti yang akan terkena masalah!
“Jangan memperpanjang hal ini, Sasha Briar,” Ludwig kembali membuka suara, menyadarkan Sasha dalam lamunannya.
“Kamu sendiri yang mengatakannya, pekerjaan ini adalah harapanmu satu-satunya. Ini bukan penawaran. Kamu hanya bisa menerima kontrak ini.”
Sasha seolah lupa caranya bernapas. Jarak di antara mereka sangat kecil dan tipis membuat udara di sekitar mereka terasa menyesakkan. Saking dekatnya, Sasha bisa merasakan napas hangat Ludwig menyentuh bibirnya, membuat jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Mata hitam Ludwig yang menatapnya lekat juga membuat pikiran Sasha terasa kosong. Ia hanya mampu memejamkan mata rapat ketika Ludwig menyatukan bibir mereka.Sasha mulai mendesah dalam permainan bibirnya. Tubuhnya bergetar ketika Ludwig semakin memperdalam ciumannya. Mengajak lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Sasha.Suara decap lidah kembali memenuhi kamar itu untuk kesekian kalinya. AC kamar juga lagi-lagi harus bekerja keras untuk mendinginkan suasana yang mulai panas itu. Jari Ludwig mulai ikut bermain. Ia melepas perlahan kancing kemeja Sasha. Menariknya hingga terlepas dari tubuh Sasha dan membuangnya ke lantai.Tangannya kemudian membuka pengait rok span Sa
Esok paginya, Sasha terbangun sendiri di kamar itu.Ludwig sudah tidak ada. Menyisakan bekas kasur yang sudah ditiduri di sampingnya. Apa pria itu sudah berangkat ke kantor? Padahal sekarang juga masih pagi buta, Sasha jadi bertanya-tanya seberapa pagi pria itu terbangun. Sasha bangkit dari kasur. Hendak bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi, netranya segera menangkap satu set pakaian formal bersih di atas nakas. Itu bukan bajunya kemarin. Yang berarti, Ludwig menyiapkannya lagi untuknya seperti beberapa hari lalu. Sasha mendesah. Perlakuan ini membuatnya seperti wanita simpanan beneran. Walaupun, memang itu statusnya sekarang. Tidak ingin memikirkannya lebih jauh, gadis itu akhirnya beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap karena sebentar lagi sudah jam masuknya.***“Pagi, Sasha. Kamu sudah sibuk saja sepagi ini,” kekeh Annelise saat Sasha menuju mejanya dengan setumpuk dokumen.
Jantung Sasha berdebar kencang. Keringat gugup mengalir di pelipisnya ketika melihat pemandangan di depannya. Ia sudah melihatnya sekali, tapi masih tak menyangka kalau ‘barang’ pria ini bisa sebesar itu. Bahkan, ketika Sasha mulai menaruh tangannya di sana, tidak semua bagiannya bisa tertutupi. Sasha menarik napas pelan. Ini pertama kalinya Sasha memegang kemaluan pria. Jadi, sensasinya terasa aneh di tangan Sasha. Ia bertanya-tanya apakah semua kemaluan pria memang terasa seperti ini. Panas, licin, berurat, dan— Sasha buru-buru menggelengkan kepalanya. Wajahnya kembali memerah, merasa malu karena sudah memikirkan hal mesum seperti itu. “Sasha,” panggil Ludwig tiba-tiba, menyentakkan dirinya. “Y-ya, Pak?” tanya Sasha balik. “Gerakkan tanganmu,” perintah Ludwig pelan. Wajahnya terlihat sedikit mengeras. Sasha mengangguk pelan. Perlahan, tangannya mu
Sasha menelan ludah. Ia menundukkan pandangan lalu perlahan jemarinya mulai membuka kancing kemejanya. Kemeja itu perlahan luruh dari badannya. Mengekspos kulit mulus Sasha yang sudah basah karena keringat. Mata Ludwig memicing. Ia kembali mendekat dan membubuhkan bibirnya di atas dada Sasha.“A-ah …” tubuh Sasha bergetar lebih kencang. Matanya terpejam erat merasakan sensasi geli dari ciuman Ludwig itu.Tangan Ludwig merambat lebih naik. Gerakan jarinya terasa sensual di punggung Sasha, membuatnya merinding. Ia akhirnya menghentikan tangannya di pengait bra Sasha lalu membukanya dengan cepat.Sasha tercekat pelan saat merasakan branya juga luruh. Wajahnya semakin memerah.Padahal sudah beberapa kali ia menunjukkan badan polosnya di depan Ludwig, tapi tetap saja ia merasa malu. Entah kapan Sasha akan terbiasa.“Sepertinya kamu bersemangat sekarang,” ucap Ludwig tiba-tiba.
Sasha tiba tepat waktu di hotel. Tapi, saat ia memasuki kamar, Ludwig ternyata masih belum ada di sana.Mungkinkah pria itu telat?Tidak ada pesan dari Ludwig. Sasha sendiri juga tidak enak untuk menanyakannya, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja.Gadis itu duduk di atas kasur. Mendesah lega karena akhirnya bisa duduk setelah seharian berdiri terus.Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia bersiap terlebih dulu, seperti membuka baju?Membayangkan Ludwig langsung melihat tubuh telanjangnya begitu datang, membuat wajah Sasha memerah. Ia tidak bisa membayangkan reaksi pria itu nanti, karena selama ini dia hanya menunjukkan ekspresi seram.
Sasha mematung. Tubuhnya mendadak mendingin, seolah aliran darahnya tiba-tiba tersumbat.Lagi-lagi pria itu mengancamnya. Tapi, ancaman kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.Tentu saja. Setelah pria itu tidak bisa menjauhkannya dari Isabel, ia pasti semakin merasa was-was hubungan gelap mereka akan terbongkar.Apalagi, Sasha akan terus menempel dengan Isabel ke depannya. Ludwig pasti juga merasa waspada kalau tunangannya itu dekat-dekat dengan wanita yang punya hubungan gelap dengannya.Menarik napas pelan, Sasha akhirnya mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaan ini,” ucapnya.Ludwig mendengus pelan.
“Ah! Tu-tunggu, Tuan…”Sasha mendesah pelan saat bibir Ludwig mulai menjamah lehernya, ciumannya lembut. Hidung mancungnya menggesek kulit sensitif di sana. Begitu geli! Sensasinya tidak tertahankan.Kedua tangan Sasha mendorong dada bidang Ludwig, membuat pria itu berhenti sejenak.“Tunggu?” ulang
“Saya mohon jangan jual saya, Bi! Saya berjanji akan membayar hutang ayah pada mereka!” seru Sasha Briar putus asa pada wanita yang berdiri di depan rumah. Sasha sama sekali tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Padahal, dia tadi pulang ke rumah dalam keadaan senang setelah lolos mendapatkan
Sasha segera menyembunyikan dirinya di balik sebuah pilar besar. Ia menatap lekat keduanya dari jauh. Wanita di hadapan Ludwig sangat cantik dan elegan. Wajahnya putih bersih dan senyumannya begitu memikat. Seperti halnya Ludwig, wanita itu juga seperti dipahat langsung oleh dewa!‘Apa jangan-jang
Tubuh Sasha seketika menegang. Apa dia baru saja menyindirnya, dan kontrak mereka barusan? Apa pria itu melakukannya untuk mengintimidasi dirinya?Padahal tanpa melakukan itu, Sasha sudah sangat tertekan sekarang. Tak lama, Ludwig mematikan panggilannya. Ia kini menatap Sasha seutuhnya yang masih







