MasukSasha segera menyembunyikan dirinya di balik sebuah pilar besar. Ia menatap lekat keduanya dari jauh.
Wanita di hadapan Ludwig sangat cantik dan elegan. Wajahnya putih bersih dan senyumannya begitu memikat. Seperti halnya Ludwig, wanita itu juga seperti dipahat langsung oleh dewa!
‘Apa jangan-jangan itu tunangannya?’ batin Sasha bertanya-tanya.
Melihat pria setampan Ludwig dan wanita secantik itu bersandingan terlihat seperti lukisan. Siapapun yang melihatnya, pasti berpikir mereka benar-benar cocok.
Ada perasaan tidak enak di hati Sasha ketika memikirkan hal itu. Mungkin sedikit kesal, sebab mengetahui tindakan kotor Ludwig di belakang tunangannya.
Di depan lobi, Ludwig berpisah dengan wanita itu setelah membukakan pintu mobil untuknya. Sikap itu mengingatkan Sasha tentang ucapan Annelise di jam makan siang, bahwa perhatian Ludwig hanya tercurah ke satu orang spesial saja, yaitu kekasihnya.
Mobil yang dinaiki wanita itu melaju, dan Ludwig berjalan kembali ke dalam hotel.
Sasha tersentak, segera tersadar dari pikirannya. Dari arahnya, pria itu menuju lift khusus tamu VIP. Ia menuju kamar suite yang dikirimnya ke Sasha tadi!
Sasha segera beranjak pergi dari tempatnya. Ia menaiki lift lain dan memencet tombol untuk menuju lantai kamarnya. Selama di perjalanan, Sasha bergerak-gerak gelisah, takut terlambat sesuai jam yang diminta Ludwig.
Lift sampai di lantai tertinggi. Ini adalah lantai kamar khusus VIP. Sasha menelan ludah. Hanya untuk menghabiskan semalam dengan gadis simpanan, Ludwig menyewa kamar termahal di hotel ini?
Kekayaan pria itu sepertinya memang di level yang berbeda.
Sasha mengecek lagi nomor pintu megah itu, menyesuaikan dengan yang telah dikirim padanya. Ia mengetuk pintu kamar itu, sebelum perlahan membukanya.
Matanya segera menangkap sosok Ludwig yang tengah berdiri di depan dinding kaca, menghadap ke arah pemandangan malam kota di bawah sana.
“Terlambat tiga menit,” ucapnya singkat, suara rendahnya bergema di kamar yang sepi. Ia melirik Sasha dengan sorot dingin, membuat gadis itu seketika berjengit ketakutan.
“M-maafkan saya… Saya tidak biasa dengan hotel sebesar ini, jadi tadi sempat tersesat…” ujarnya beralasan.
Ludwig tidak menjawab, ia hanya mengangkat jarinya dan menggerakkannya, menyuruh Sasha mendekat.
Sasha menelan ludah, dan perlahan mendekati tubuh besar pria itu. Seperti malam sebelumnya, Sasha merasa tubuhnya begitu kecil di hadapannya.
Dengan satu gerakan, lengan Ludwig yang kokoh seketika meraup pinggang Sasha. Tiba-tiba saja, ia sudah berada di dalam dekapan pria itu, aroma parfumnya yang maskulin seketika memenuhi indra penciumannya.
Satu tangan pria itu yang lain meraih sisi wajah Sasha, lalu tanpa aba-aba, pria itu mendaratkan bibirnya ke bibir Sasha.
“Mmmh?”
Kedua bola mata Sasha membulat. Sontak tangan Sasha meraih kemeja Ludwig, bertumpu di dada bidangnya. Napasnya tercekat.
Ciuman itu rakus, bibir Ludwig yang tebal itu melumat milik Sasha, seolah hendak melahapnya bulat-bulat. Lalu lidahnya ikut bermain, masuk ke dalam bibir Sasha, membuat tubuh gadis itu menegang.
Sasha membuka mata saat Ludwig melepas tautan bibirnya. Napas pria itu berat, beradu dengan Sasha yang juga terengah-engah.
“Apa saya berciuman dengan patung?” desisnya rendah. “Seharusnya kamu yang berusaha untuk memuaskan saya. Ciuman saja tidak bisa?”
Wajah Sasha memerah, jantungnya berdegup kencang. “T-tapi… ini pertama kalinya saya berciuman, Pak…”
Ludwig terdiam sejenak, sebelum bibirnya mengulas sebuah seringai kecil. “Oh?”
Kedua lengan pria itu tiba-tiba melingkari pinggul Sasha, mengangkatnya dengan mudah, seolah berat badannya tidak ada.
“P-Pak?!” Sasha kaget, buru-buru mencengkram kerah kemeja pria itu, dan melingkarkan dua kaki di pinggang lebarnya karena takut jatuh.
“Karena semua hal adalah pertama kalinya bagi kamu, maka saya akan menunjukkan caranya. Satu per satu,” bisik Ludwig rendah. “Anak magang yang tidak tahu apa-apa ini … memang perlu diajari dengan benar.”
Pria itu membawa Sasha ke atas kasur ukuran king size itu, merebahkannya di sana. Lalu ia merunduk dan menciumi lehernya, sesekali memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Sasha menggeliat pelan.
Tangan Ludwig tidak tinggal diam, jemarinya dengan lincah menanggalkan kancing blus Sasha satu per satu, hingga tubuh atasnya terekspos, menyisakan lapisan bra menutupi dada.
Sasha tersentak pelan, ia tiba-tiba teringat dengan pemandangan Ludwig dan wanita di depan lobi.
“Ngh… Tu-tunggu, Pak,” pinta Sasha cepat sambil menahan bahu Ludwig, meski pria itu mengacuhkan permintaannya, hingga ia melontarkan pertanyaan, “P-perempuan di lobi tadi … apakah wanita itu tunangan Bapak?”
Gerakan Ludwig terhenti. Wajahnya seketika menggelap. Sasha terkesiap, mungkinkah ia salah bertanya?
Pria itu mengangkat wajahnya, lalu menarik dasinya hingga longgar dan mengusap rambutnya ke belakang.
“Seharusnya saya menambahkan satu lagi klausul di kontrak itu,” bisiknya. Ia mencengkram kedua tangan Sasha dan menekannya di kasur, seketika memerangkap gadis itu di bawahnya.
Saat Ludwig merunduk kembali, napasnya beradu dengan kulit Sasha, membuat sekujur tubuh gadis itu meremang.
“...Bahwa di ranjang saya, kamu dilarang untuk memikirkan hal apapun, selain fokus untuk memuaskan saya.”
Sasha seolah lupa caranya bernapas. Jarak di antara mereka sangat kecil dan tipis membuat udara di sekitar mereka terasa menyesakkan. Saking dekatnya, Sasha bisa merasakan napas hangat Ludwig menyentuh bibirnya, membuat jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Mata hitam Ludwig yang menatapnya lekat juga membuat pikiran Sasha terasa kosong. Ia hanya mampu memejamkan mata rapat ketika Ludwig menyatukan bibir mereka.Sasha mulai mendesah dalam permainan bibirnya. Tubuhnya bergetar ketika Ludwig semakin memperdalam ciumannya. Mengajak lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Sasha.Suara decap lidah kembali memenuhi kamar itu untuk kesekian kalinya. AC kamar juga lagi-lagi harus bekerja keras untuk mendinginkan suasana yang mulai panas itu. Jari Ludwig mulai ikut bermain. Ia melepas perlahan kancing kemeja Sasha. Menariknya hingga terlepas dari tubuh Sasha dan membuangnya ke lantai.Tangannya kemudian membuka pengait rok span Sa
Esok paginya, Sasha terbangun sendiri di kamar itu.Ludwig sudah tidak ada. Menyisakan bekas kasur yang sudah ditiduri di sampingnya. Apa pria itu sudah berangkat ke kantor? Padahal sekarang juga masih pagi buta, Sasha jadi bertanya-tanya seberapa pagi pria itu terbangun. Sasha bangkit dari kasur. Hendak bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi, netranya segera menangkap satu set pakaian formal bersih di atas nakas. Itu bukan bajunya kemarin. Yang berarti, Ludwig menyiapkannya lagi untuknya seperti beberapa hari lalu. Sasha mendesah. Perlakuan ini membuatnya seperti wanita simpanan beneran. Walaupun, memang itu statusnya sekarang. Tidak ingin memikirkannya lebih jauh, gadis itu akhirnya beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap karena sebentar lagi sudah jam masuknya.***“Pagi, Sasha. Kamu sudah sibuk saja sepagi ini,” kekeh Annelise saat Sasha menuju mejanya dengan setumpuk dokumen.
Jantung Sasha berdebar kencang. Keringat gugup mengalir di pelipisnya ketika melihat pemandangan di depannya. Ia sudah melihatnya sekali, tapi masih tak menyangka kalau ‘barang’ pria ini bisa sebesar itu. Bahkan, ketika Sasha mulai menaruh tangannya di sana, tidak semua bagiannya bisa tertutupi. Sasha menarik napas pelan. Ini pertama kalinya Sasha memegang kemaluan pria. Jadi, sensasinya terasa aneh di tangan Sasha. Ia bertanya-tanya apakah semua kemaluan pria memang terasa seperti ini. Panas, licin, berurat, dan— Sasha buru-buru menggelengkan kepalanya. Wajahnya kembali memerah, merasa malu karena sudah memikirkan hal mesum seperti itu. “Sasha,” panggil Ludwig tiba-tiba, menyentakkan dirinya. “Y-ya, Pak?” tanya Sasha balik. “Gerakkan tanganmu,” perintah Ludwig pelan. Wajahnya terlihat sedikit mengeras. Sasha mengangguk pelan. Perlahan, tangannya mu
Sasha menelan ludah. Ia menundukkan pandangan lalu perlahan jemarinya mulai membuka kancing kemejanya. Kemeja itu perlahan luruh dari badannya. Mengekspos kulit mulus Sasha yang sudah basah karena keringat. Mata Ludwig memicing. Ia kembali mendekat dan membubuhkan bibirnya di atas dada Sasha.“A-ah …” tubuh Sasha bergetar lebih kencang. Matanya terpejam erat merasakan sensasi geli dari ciuman Ludwig itu.Tangan Ludwig merambat lebih naik. Gerakan jarinya terasa sensual di punggung Sasha, membuatnya merinding. Ia akhirnya menghentikan tangannya di pengait bra Sasha lalu membukanya dengan cepat.Sasha tercekat pelan saat merasakan branya juga luruh. Wajahnya semakin memerah.Padahal sudah beberapa kali ia menunjukkan badan polosnya di depan Ludwig, tapi tetap saja ia merasa malu. Entah kapan Sasha akan terbiasa.“Sepertinya kamu bersemangat sekarang,” ucap Ludwig tiba-tiba.
Sasha tiba tepat waktu di hotel. Tapi, saat ia memasuki kamar, Ludwig ternyata masih belum ada di sana.Mungkinkah pria itu telat?Tidak ada pesan dari Ludwig. Sasha sendiri juga tidak enak untuk menanyakannya, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja.Gadis itu duduk di atas kasur. Mendesah lega karena akhirnya bisa duduk setelah seharian berdiri terus.Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia bersiap terlebih dulu, seperti membuka baju?Membayangkan Ludwig langsung melihat tubuh telanjangnya begitu datang, membuat wajah Sasha memerah. Ia tidak bisa membayangkan reaksi pria itu nanti, karena selama ini dia hanya menunjukkan ekspresi seram.
Sasha mematung. Tubuhnya mendadak mendingin, seolah aliran darahnya tiba-tiba tersumbat.Lagi-lagi pria itu mengancamnya. Tapi, ancaman kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.Tentu saja. Setelah pria itu tidak bisa menjauhkannya dari Isabel, ia pasti semakin merasa was-was hubungan gelap mereka akan terbongkar.Apalagi, Sasha akan terus menempel dengan Isabel ke depannya. Ludwig pasti juga merasa waspada kalau tunangannya itu dekat-dekat dengan wanita yang punya hubungan gelap dengannya.Menarik napas pelan, Sasha akhirnya mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaan ini,” ucapnya.Ludwig mendengus pelan.
Tubuh Sasha seketika menegang. Apa dia baru saja menyindirnya, dan kontrak mereka barusan? Apa pria itu melakukannya untuk mengintimidasi dirinya?Padahal tanpa melakukan itu, Sasha sudah sangat tertekan sekarang. Tak lama, Ludwig mematikan panggilannya. Ia kini menatap Sasha seutuhnya yang masih
Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha
“Ah! Tu-tunggu, Tuan…”Sasha mendesah pelan saat bibir Ludwig mulai menjamah lehernya, ciumannya lembut. Hidung mancungnya menggesek kulit sensitif di sana. Begitu geli! Sensasinya tidak tertahankan.Kedua tangan Sasha mendorong dada bidang Ludwig, membuat pria itu berhenti sejenak.“Tunggu?” ulang
“Saya mohon jangan jual saya, Bi! Saya berjanji akan membayar hutang ayah pada mereka!” seru Sasha Briar putus asa pada wanita yang berdiri di depan rumah. Sasha sama sekali tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Padahal, dia tadi pulang ke rumah dalam keadaan senang setelah lolos mendapatkan







