Share

Tidur Seranjang

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-08-27 09:21:11

Keesokan harinya, Gray duduk di balik meja kerjanya yang megah. Jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan teratur sebelum ia menekan tombol intercom.

​"Jack, ke ruanganku sekarang," perintah Gray singkat.

​Tak sampai sepuluh menit, Jack sudah berdiri tegak di hadapan Gray. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

​"Cari tahu semua hal tentang Lily. Kampusnya, prestasinya, dan apa saja yang dia lakukan di sana."

​Jack sedikit terkejut, namun dengan sigap mengangguk. "Baik, Tuan. Beri saya waktu satu jam."

​Sebelum batas waktu habis, Jack kembali membawa sebuah map dokumen tipis dan meletakkannya di meja Gray.

​"Ini data mengenai Lily, Tuan," ujar Jack mulai membeberkan. "Dia mahasiswi jurusan Manajemen Bisnis semester empat di universitas ternama. Lily masuk melalui jalur beasiswa penuh dan selalu meraih IPK sempurna setiap semester."

​Gray menyesap kopinya pelan. "Lalu?"

​"Karena sudah beberapa hari tidak masuk tanpa kabar, pihak kampus membatalkan beasiswanya hari ini. Bahkan, surat pemecatan atau drop out sedang diproses."

​Gerakan tangan Gray terhenti. Matanya memicing menatap berkas di hadapannya. "Kasihan juga dia."

​Jack seketika terperangah. Matanya membelalak menatap atasannya. Sepanjang bertahun-tahun mengabdi, ini pertama kalinya ia mendengar kata 'kasihan' keluar dari mulut sang bos mafia yang dingin dan tidak berhati.

​Gray yang menyadari reaksi Jack langsung memberi tatapan tajam. "Kenapa melihatku seperti itu? Keluar."

​"B-baik, Tuan," cicit Jack buru-buru mundur.

​Sepanjang hari, fokus Gray terus terganggu. Pikiran tentang Lily yang terancam dikeluarkan dari kampus membayangkannya. Semester empat, pintar, dan berprestasi—sayang sekali jika masa depannya hancur hanya karena ulah mantan kekasihnya yang brengsek.

​Malam harinya, Gray tiba di mansion. Langkah kakinya membawa pria itu ke dalam kamar utama. Di sana, ia melihat lembaran kertas catatan bisnis milik Lily yang tergeletak rapi diatas meja samping sofa. Tulisan tangannya rapi dan analisisnya tajam. Gray tersenyum tipis tanpa sadar.

​"Tuan, Anda sudah pulang?" suara lembut Lily memecah keheningan. Gadis itu tergesa mendekat.

​"Iya."

​"Anda mau mandi sekarang?" tanya Lily polos.

​Gray menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum jahil. "Aku baru pulang kamu sudah tanya tentang mandi. Apa kamu sudah ketagihan memandikanku?"

​Seketika wajah Lily memerah padam hingga ke ujung telinga. Kepalanya sontak menggeleng cepat. "T-tidak, Tuan! Biar... biar saya siapkan air hangatnya saja," cicitnya pelan sambil menunduk dalam-dalam.

​"Ya sudah, siapkan."

​Dari tempatnya berdiri, Gray mengamati gerak-gerik Lily yang cekatan mondar-mandir menyiapkan perlengkapan mandi ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali berdiri di hadapannya.

​"Sudah siap, Tuan. Mari saya bantu mandi," ucap Lily pelan, menyodorkan tangannya ragu-ragu untuk menopang lengan Gray.

​Usai membersihkan diri dan mengenakan kemeja santai, Gray duduk di tepi ranjang king size milik mereka. Pria itu menatap Lily yang sedang merapikan baju kotor di sudut ruangan.

​"Lily, kemari," panggil Gray datar.

​Lily menghentikan kegiatannya lalu berjalan mendekat. Gray menepuk area kosong di samping tempat tidurnya, memberi isyarat agar Lily duduk di sana. Dengan agak ragu dan canggung, Lily mendudukkan diri di tepi kasur.

​Gray menatap lurus ke mata gadis itu. "Apa kamu ingin kuliah lagi?"

​Lily terperangah. Matanya membelalak lekat menatap paras tegas di hadapannya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "S-sangat, Tuan. Saya sangat ingin menyelesaikan kuliah saya."

​"Baiklah, aku akan mengizinkanmu kembali kuliah."

​Seketika mata Lily berbinar penuh antusiasme, rasa bahagia yang membuncah mengalahkan rasa takutnya. "Benarkah, Tuan? Anda serius?"

​"Ya," sahut Gray tenang, lalu memiringkan tubuhnya sedikit mendekati Lily. "Tapi... kamu harus menuruti satu syarat dariku."

​Binar di mata Lily sedikit surut, berganti rasa waspada. "S-syarat apa, Tuan?”

"Jangan pernah berpikir untuk kabur," potong Gray tegas sebelum Lily sempat meragukan keputusannya. "Meskipun kamu kembali kuliah, kamu tetap milikku. Dan ingat satu hal lagi... di kampus, jangan pernah dekat dengan pria siapapun! Aku tidak suka milikku dijamah atau jadi bekas orang lain!"

​Lily mengangguk cepat, tak berani membantah.

​"Kamu berangkat akan diantar supir, dan pulang harus ada yang menjemput. Tidak ada bantahan," tambah Gray dengan nada memutus.

​Bukannya merasa terkekang, senyum bahagia justru merekah lebar di wajah Lily. Kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikannya adalah hal yang paling ia impikan.

​"Terima kasih banyak, Tuan Gray! Anda sangat baik!" seru Lily tulus.

​Tanpa sadar, didorong oleh rasa gembira yang membuncah, Lily meluncur maju dan memeluk leher tegak Gray dengan erat.

​Deg.

​Dada Gray berdesir hebat. Tubuhnya seketika membeku di tempat. Seumur hidupnya, belum pernah ada orang yang memeluknya dengan ketulusan sebiasa dan sehangat ini. Rasa asing yang mendadak menyeruak di dadanya membuat napas sang mafia tertahan sejenak.

​"Apa kamu tidak takut kalau pelukanmu ini membuatku khilaf?" bisik Gray rendah, suaranya sedikit serak.

​Lily tersentak sadar. Menyadari apa yang baru saja ia lakukan, ia buru-buru melepaskan pelukannya dan mundur dengan wajah memerah padam.

​"M-maaf, Tuan... saya sangat senang sampai lupa diri," cicit Lily gugup, tak berani menatap mata Gray. Ia buru-buru berbalik. "Ya sudah, saya... saya ke sofa dulu mau istirahat."

​Namun, baru saja Lily hendak menurunkan kakinya dari tepi tempat tidur, pergelangan tangannya ditangkap oleh cengkeraman hangat jemari Gray.

​"Mulai malam ini, tidur di ranjang bersamaku," titah Gray datar namun mengikat.

​Lily membeku. Ia menelan ludah kasar dengan susah payah. Pikiran bahwa tidur seranjang berarti ia harus menyerahkan tubuhnya dan melakukan pelayanan ranjang malam ini membuat jantungnya kembali berdegup kencang karena panik.

​"T-tapi, Tuan..."

​"Tidak ada penolakan," potong Gray cepat, menyipitkan matanya tajam. "Aku sudah memberimu izin kuliah dan membiayai semuanya. Tentu saja kamu harus membayarnya, bukan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
ya ampun seru bsnget ni novel
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Cium Aku!

    Erangan dan desahan Lily maupun Gray menggema di kamar mandi, untung saja kamar mandi Gray kedap suara, jadi hanya mereka berdua yang mendengar suara-suara merdu mereka. Setelah mandi, Lily langsung bersiap-siap, dia memasukkan buku serta laptopnya ke dalam tas. Wajahnya panik saat melirik jam dinding. ​"Tuan, saya sudah terlambat!" seru Lily gusar.​Gray yang sedang mengancingkan kemejanya bersikap sangat tenang. "Tenang saja. Kamu tidak akan terlambat."​"Tapi ini sudah terlambat, Tuan! Kelas pertama saya mulai jam delapan tepat," protes Lily panik.​Gray tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambil ponselnya lalu mengetik pesan singkat untuk asisten pribadinya. "Undurkan kelas pertama Lily menjadi jam sepuluh pagi."​Hanya dalam hitungan detik, Gray memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Sudah kuundur jadi jam sepuluh."​Mata Lily memelotot sempurna. Ia terpaku menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Sampai jam kuliah pun bisa dia atur seenaknya, gumam

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Di Kamar Mandi

    ​Napas Lili masih terengah-engah. Pelepasan tadi malam benar-benar menguras seluruh tenaganya. Di sampingnya, Gray terkapar terlentang dengan satu lengan menutupi dahi, berusaha mengatur napasnya sendiri.​"Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba kamu merindukanku?" tanya Gray tanpa menatap Lili.​Wajah Lili memanas. Ia menolak berterus terang tentang alasan di balik sikap agresifnya malam ini. "Tidak kenapa-kenapa Tuan, memangnya tidak boleh ya merindukan anda?" tanyanya."Boleh." Jawab Gray. Wajah Lili memerah lalu dia beranjak untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, waktunya dia tidur karena besok harus bangun pagi untuk kuliah."Kamu tidur dulu, aku ingin merokok sebentar." ​Sementara Lili berbaring di tempat tidur, Gray duduk di sofa kamar, menyesap minumannya sambil menyalakan sebatang rokok.Tatapan pria itu terus menatap sang gadis, melihat gadis kecilnya telah tertidur Gray pun menyunggingkan senyuman. Kini pan

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Kita Bersama

    Kamar tidur itu diliputi suasana hangat dan hening. Gray menuntun langkah Lily perlahan menuju tepi tempat tidur, menatap manik matanya dengan dalam sebelum merebahkan tubuh wanita itu secara perlahan. Dengan lembut, pria itu memiringkan wajah dan mendaratkan ciuman mesra di bibir Lily.​Suara decakan lembut terdengar dari pautan bibir mereka yang kian intens dan penuh kehangatan.​"Engh... Tuan..." bisik Lily lirih di antara sela-sela ciuman mereka, mengikis jarak yang tersisa di antara tubuh mereka.​Tangan Gray bergerak perlahan turun ke bawah, melepaskan satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Lily dengan ketelitian yang sabar. Begitu pakaian atas itu terbuka dan terlepas dari bahu Lily, tangan kekarnya yang hangat langsung menangkup dada Lily, meremasnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian.​Sentuhan itu membuat Lily semakin berani. Ia membalas ciuman itu dengan memagut bibir Gray lebih dalam, menyerahkan seluruh rasanya pada momen tersebut.​"Tuan... ayo," bisik Lily penuh

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Saya Rindu

    "Pikirkan cara untuk melayaniku dengan baik dan benar," jawab Gray tenang, menyandarkan punggungnya dengan santai.​Lily mengerutkan alisnya, merasa ambigu dan samar dengan jawaban pria di sampingnya. "Apa maksudnya, Tuan? Melayani dengan baik dan benar yang seperti apa?" tanya Lily dengan nada penuh kepenasaran.​Gray terkekeh rendah, mengusap rahang Lily dengan telapak tangannya yang hangat. "Kamu cari tahu sendiri. Kalau kamu bisa melayaniku dengan baik dan benar nanti malam, aku akan memberikan semua bukti keterlibatan Justin di dunia gelap."​Lily terdiam menatap Gray. Di satu sisi, hatinya bersorak senang karena sebentar lagi ia bisa mendapatkan bukti kuat untuk menyelamatkan Natasya dari jeratan Justin. Namun di sisi lain, kepalanya mendadak pusing membayangkan apa arti sebenarnya dari frasa 'melayani dengan baik dan benar' yang dimaksud oleh bos mafia itu.​"Setelah mengantarkanmu ke mansion, aku harus pergi lagi karena masih ada urusan yang belum selesai," lanjut Gray dingin.

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Syarat

    Siang itu, suasana kantin kampus tampak ramai oleh lalu lalang mahasiswa. Natasya dan Justin duduk berdampingan di salah satu meja, menikmati makan siang mereka. Tak jauh dari sana, Lily dan Mia baru saja mendapatkan tempat duduk yang kebetulan berada tepat di belakang meja Justin dan Natasya.​Awalnya, Lily dan Mia memilih diam dan menyantap makanan mereka karena tidak ingin mencari keributan. Namun, percakapan yang terdengar dari meja belakang perlahan membuat telinga Lily panas dan dadanya bergemuruh geram.​"Sayang... kamu yang bayarin makan siang kita dulu, ya?" suara Justin terdengar memelas.​Natasya menghentikan suapannya, menatap Justin dengan raut bingung. "Tapi, Justin... uang di dompetku ini kan untuk bayar buku sore nanti. Katanya tadi kamu yang mau traktir aku?"​"Iya, maaf banget, Sayang. Aku benar-benar lupa kalau dompetku ketinggalan di mobil teman," alibi Justin dengan nada memelas yang dipaksakan. "Aku ganti nanti malam, ya? Plis... kamu kan baik."​"Tapi uangku pas

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Dia Hebat

    Di sisi lain, Mia menunggu Lily dengan panik di lorong luar. Ia bahkan sama sekali tidak menyentuh pekerjaannya karena terlalu cemas.​"Mia!" panggil Lily menghampiri.​Mia langsung berlari mendekati Lily, matanya meneliti seluruh tubuh sahabatnya. "Kamu tidak apa-apa, kan?"​"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Lily mencoba tersenyum menenangkan.​"Mereka itu siapa, Li? Kenapa pria itu memintamu untuk tinggal di dalam?" tanya Mia beruntun.​"Ceritanya panjang, tapi dia orang baik kok," jawab Lily seadanya. "Lalu... lebih baik kamu pulang saja sekarang. Nanti aku yang minta Tuan Gray untuk bicara pada manajer bar."​Mia mengernyit bingung. "Lalu kamu gimana?"​"Aku harus kembali ke ruang nomor dua. Tadi aku sudah berjanji pada Tuan Gray," kata Lily.​"Sebenarnya dia itu siapa sih, Li?" Mia kembali bertanya penasaran.​"Sudah, jangan banyak tanya. Lebih baik kamu pulang sekarang, kasihan kakakmu menunggu," bujuk Lily lembut.​Setelah memastikan Mia pulang dengan selamat, Lily melangkah m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status