分享

Bab 16 Peduli?

last update publish date: 2026-06-14 12:35:41

Beberapa detik kemudian, perlahan napas Erin kembali beraturan, dan wanita itu kembali tenang.

Usai memastikan kondisi Erin aman, Rama beranjak pergi melangkahkan kaki keluar dari kamar tersebut.

Begitu langkahnya tiba di ruangan depan, Manajer Lee yang sudah menunggu di sofa seketika menegakkan tubuh.

Setelah Rama duduk di hadapan, pria itu langsung menodongkan pertanyaan tanpa basa-basi terlebih dahulu.

“Apa keputusan membawa Erin ke rumahmu tidak akan menimbulkan masalah?”

Mata Man
catatanintrovert

Kira2, Rama bakal jawab apa tuh? Btw, yg mau tau info2 soal update TRAMB, boleh bgt mampir ke igheku, 00_cnv Makasihh^^

| 2
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (1)
goodnovel comment avatar
senu
ngaku aja ram
查看全部評論

最新章節

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 16 Peduli?

    Beberapa detik kemudian, perlahan napas Erin kembali beraturan, dan wanita itu kembali tenang. Usai memastikan kondisi Erin aman, Rama beranjak pergi melangkahkan kaki keluar dari kamar tersebut. Begitu langkahnya tiba di ruangan depan, Manajer Lee yang sudah menunggu di sofa seketika menegakkan tubuh. Setelah Rama duduk di hadapan, pria itu langsung menodongkan pertanyaan tanpa basa-basi terlebih dahulu. “Apa keputusan membawa Erin ke rumahmu tidak akan menimbulkan masalah?” Mata Manajer Lee memicing, tampak menahan banyak pertanyaan lain. “Bukankah seharusnya dia dibawa ke rumah sakit saja?” “Kalau terjadi apa-apa, kamu bisa terkena masalah, Rama.” Semua bentuk pertanyaan Manajer Lee pada akhirnya mengarah pada satu hal yang sama: pria itu takut sesuatu yang buruk bisa menimpa dan berisiko terhadap pada karier Rama baik sebagai atlet basket profesional maupun sebagai publik figur. Untuk sesaat, suasana di antara keduanya menjadi hening. “Kalau dalam satu jam Erin b

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 15 Di Kamar Rama

    Tepat ketika Rama keluar dari bangunan bar tersebut, sebuah mobil yang tampak familier masuk dan terparkir di depan bar. Begitu pintu pengemudi terbuka, sosok itu langsung turun dan berseru, “Rama!” Manajer Lee menghampiri Rama dan tampak terkejut dengan kondisi Erin di gendongan sang atlet tersebut. “Buka pintu mobil.” Rama langsung memberikannya perintah. Dengan sigap Manajer Lee menuruti perintah Rama untuk membukakan pintu belakang mobil. Rama berjalan membawa Erin ke mobilnya. Namun, sebelum memasukkan wanita itu ke dalam, Erin sempat mencengkram bagian depan kemejanya dengan lemah. “Klinik …,” lirih Erin. Dengan mata terpejam, dia menyambung ucapannya terakhirnya di malam itu. “Tolong bawa aku ke sana.” Kepala Rama sempat menunduk untuk melihat Erin yang kini sudah kehilangan kesadarannya secara total. Baru setelah itu, Rama memasukkan Erin ke dalam mobil dan memastikan ke

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 14 Jangan sampai Lolos!

    Detik berikutnya tangan Rama ditepis dengan gerakan lemah, diikuti usaha Erin menyeret tubuhnya menjauh. Gadis itu bersandar pada pintu bilik sembari memeluk tubuhnya sendiri. Rama dibuat mematung dengan reaksi Erin. Wanita itu tampak seperti tidak mengenali dirinya. Beruntung, seorang pelayan wanita yang mendengar keributan dari luar langsung masuk ke dalam toilet. Seketika dia menutup mulutnya menggunakan kedua tangan melihat apa yang terjadi. “Bawa dia keluar,” ucap Rama. Pelayan wanita itu membelalakan mata begitu melihat siapa yang bicara padanya. Buru-buru dia menyadarkan diri dan menganggukkan kepala. “B–baik.” Pada akhirnya, pelayan wanita itu berjongkok dan menyentuh bahu Erin untuk membantunya berdiri. Dan kali ini, sama sekali tidak ada tepisan atau penolakan kasar. Erin pun dipapah keluar dari toilet oleh pelayan tersebut. Setelah memastikan bahwa wanita itu sudah pe

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 13 Jangan Sentuh Aku!

    “Akh!” Satu ringisan lolos dari bibir Erin bersamaan darah segar keluar dari sudut bibir kanannya. Di tengah kepanikan dan rasa takutnya, Erin sempat menghubungi nomor Rama sebelum pria itu merebut paksa ponselnya. “Sudah aku bilang jangan macam-macam!” Pria mabuk itu kembali membentak kasar Erin sesaat setelah melemparkannya ke sembarang arah. Beberapa menit lalu, begitu Erin selesai membasuh wajahnya dengan air dingin, dia langsung bergegas keluar dari toilet wanita. Namun, di lorong kecil itu dia sempat berpapasan dengan seorang pria bertubuh bongsor yang tampaknya sudah mabuk parah. Dari sorot matanya yang menatap Erin membuatnya merasa tidak nyaman. Alhasil cepat-cepat dia mempercepat laju langkahnya. Akan tetapi, pada langkah ketiga, tiba-tiba saja dari belakang, tubuh Erin melayang ke udara. “Hei!” Erin memekik kaget bercampur panik saat seseo

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 12 Tidak Puas

    Detik berikutnya, Rama sudah berlutut di hadapan Erin. “Apa yang terjadi?” Pria itu bertanya. Diletakkannya ponsel secara sembarang, meski fungsi senternya masih menyala. Erin tidak menjawab. Wanita itu masih sibuk mengatur napasnya yang berantakan, membuat Rama mengernyit tidak paham. “Tidak apa-apa,” ucap Erin kemudian, meskipun wajahnya masih pucat. Dia memaksakan diri untuk berdiri, menumpukan tubuhnya pada dinding belakang sebagai penopang. “Ayo kita lanjutkan ke sesi terapi, Rama.” Tanpa menunggu balasan, Erin berjalan masuk ke salah satu ruangan yang tidak jauh dari mereka. Rama masih tidak bergerak. Sepasang mata tajamnya mengamati langkah Erin yang sempat limbung. Namun, dia tidak berkomentar apa-apa dan menyusul Erin masuk ke dalam ruang VIP itu. Bagi Erin, sesi terapi kali ini berbeda dari yang biasanya. Bukan karena kliennya adalah Rama, pemain basket terkenal sekaligus mantan pacar yang menyimpan dendam terhadap Erin, melainkan karena kejadian tadi. Hampi

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 11 Insiden Kecil

    “Erin, aku pulang duluan, ya!” Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, hari ini adalah pertama kalinya Erin melaksanakan tugas sebagai fisioterapis pribadinya Rama. Saat ini, dia sedang menunggu kehadiran pria itu di klinik kecilnya. “Hati-hati,” ucap Erin, membalas Cakka yang barusan berpamitan. Dipandanginya kepergian rekannya itu. Tepat saat itu, Erin melihat cahaya kilat, disusul gema petir dari kejauhan. Namun, Erin tidak memikirkan cuaca malam ini terlalu banyak dan langsung fokus kembali ke catatan di hadapan, tentang riwayat cedera Rama. Lima tahun lalu, pergelangan kaki Rama pernah mengalami cedera saat pertandingan nasional. Disusul tiga tahun setelahnya, jari manis kirinya sempat patah. Belum lagi beberapa cedera ringan lain yang terjadi saat latihan. Dan baru-baru ini, Rama mengalami cedera meniskus pada lututnya setelah pertandingan liga terakhir. Hal itu membuat Erin ingat ucapan Manajer Lee saat itu padanya. “Untungnya bukan cedera yang parah. Tapi, tetap saj

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status