Share

Bab 3

Author: Juju
"Aku mau tinggal di rumah temanku dulu."

Aku tidak berani menatap matanya. Pandanganku terpaku pada ritsleting koper, lantai, dan segala hal kecuali dia.

Kening Marco langsung berkerut, matanya memancarkan kekhawatiran.

"Kenapa kamu nggak menungguku dulu sebelum keluar dari rumah sakit? Tubuhmu masih butuh ...."

"Sayang, aku pilih kamar ini. Boleh?"

Tanganku yang memegang pegangan koper tiba-tiba mengencang.

Sunny berdiri di samping Marco, melingkarkan tangannya dengan mesra di lengan Marco.

Sepasang cincin mereka berkilauan di bawah cahaya lampu.

Seolah berteriak, lihat aku. Lihat apa yang tidak akan pernah kamu dapatkan.

"Diana, ya?" Senyumnya seperti racun mematikan yang dilapisi gula. "Aku dengar, kamu pelayan yang paling dipercaya Marco. Melayaninya selama tujuh tahun penuh. Kamu pasti sudah kelelahan."

Pelayan?

Kata itu bagaikan pedang, menusuk hatiku yang paling dalam.

Aku menatap Marco, menunggu dia menyangkal.

Menunggu dia berkata: Bukan, dia bukan pelayan. Dia wanita yang membuatku tergila-gila selama tujuh tahun.

Tapi, dia hanya memicingkan mata. Itu saja.

"Tentu saja," kata pria itu dengan tenang. "Kalau kamu suka kamar ini, pakai saja. Beri tahu semua pelayan, Sunny tunanganku. Berikan pelayanan terbaik untuknya sesuai dengan statusnya sebagai tunanganku."

Kepala pelayan itu melirikku sekilas, lalu membuang muka.

Dia pun mengiakan pelan, lalu mundur keluar.

Di sini, aku merasa hatiku hancur berkeping-keping, bahkan napasku terasa sakit.

Selama tujuh tahun. Saat dia terluka, aku yang menjahit lukanya.

Saat dia terbangun dari mimpi buruk yang penuh darah, aku memeluknya dan menyandarkan kepalanya di pangkuanku.

Tapi, di mata dunia, aku hanya seorang pelayan.

"Terima kasih, Sayang." Wanita itu mencium pipinya. Lalu berbalik kepadaku, wajahnya masih tersenyum. "Diana, rapikan kamarku, ya?"

Marco bergerak sedikit, sorot mata tidak tega melintas sekejap.

"Dia baru kecelakaan mobil kemarin, butuh istirahat. Suruh pelayan lain yang membantumu."

Mata Sunny melebar berlebihan, ekspresi terkejut yang sangat dibuat-buat.

"Aduh, aku nggak tahu. Tentu saja, jangan repotkan Diana."

Marco menoleh kepadaku, suaranya ditekan, dengan nada yang lembut tapi tegas.

"Minta kepala pelayan menyiapkan kamar baru untukmu. Istirahatlah dulu, sembuhkan lukamu. Jangan pergi ke mana-mana."

Dia jelas tidak menganggap serius saat aku mengatakan ingin pergi.

Aku mengerutkan kening, tapi sebelum aku sempat bicara lagi, dia berbalik dan pergi bersama Sunny.

Sepertinya, dia berpikir aku akan patuh seperti biasa.

Aku menggelengkan kepala, lalu membereskan barang-barang lebih cepat.

Perhiasan mahal, semuanya aku tinggalkan di laci.

Semua itu bukan milikku. Karena itu hanya bayaran.

Hanya kenangan ... yang tidak bisa kubawa pergi.

Aku menyeret koper melewati ruang kerja. Pintunya terbuka sedikit, suara kepala pelayan terdengar dari celah pintu.

"Tuan." Suara kepala pelayan sedikit gugup. "Anda bawa pulang Nona Sunny dan menyebutnya tunangan .... Nona Diana pasti sedih. Dia sudah bilang mau pergi."

"Aku juga nggak mau dia sedih." Nada Marco tenang, tapi ada sedikit ketegangan yang tersembunyi.

Hatiku bergetar, langkahku tanpa sadar berhenti.

Setelah sekilas perasaan tadi, nada suaranya menjadi penuh keyakinan.

"Tapi, aku tahu sifatnya. Dia bukan orang yang suka ribut-ribut. Dia penurut. Seluruh dunianya berpusat padaku. Dia bilang mau pergi, itu cuma merajuk saja buat menarik perhatianku. Bukan apa-apa."

"Lagi pula, dia bisa pergi ke mana? Selain aku, dia nggak punya apa-apa."

Di luar pintu, darahku perlahan membeku, ujung jariku gemetar tak terkendali.

Ternyata di hatinya, hatiku yang hancur itu hanya sebuah sandiwara dan merajuk.

Aku meminta pergi hanyalah gertakan saja.

Cintaku selama tujuh tahun hanyalah taruhan yang dia yakini tidak akan pernah kalah.

Taruhan yang tanpa aku sadari telah aku ikuti, sementara dia sudah mengamankan kemenangan.

Aku tidak lagi gemetar.

Aku mengangkat koperku dan berjalan keluar dari pintu itu tanpa menoleh ke belakang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status