Share

Bab 2

Penulis: Juju
Dia terkejut sejenak, lalu merebut ponsel dari tanganku.

"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan."

Rahangnya menegang. Di balik mata biru tua yang telah memikatku berkali-kali, ada sebuah perhitungan yang terpendam.

Dia mulai mengarang alasan.

"Dia pewaris Keluarga Sanjaya."

Marco meletakkan ponsel itu dengan hati-hati, seolah-olah itu granat yang telah dinyalakan sumbunya.

"Keluarga Sanjaya sedang merencanakan akuisisi pelabuhan baru. Kalau dia mau memberikan hak pengelolaannya kepadaku, kekuasaan keluargaku akan meluas. Meningkat tiga kali lipat. Aku harus pura-pura menurutinya. Semua ini murni bisnis."

Aku menatapnya, tidak bersuara. Membiarkannya berkeringat dingin hingga kerah baju mahalnya basah kuyup.

Dia menghela napas dan suaranya melembut.

"Oke, aku akui Sunny teman masa kecilku. Tapi itu waktu kecil. Sudah tujuh tahun penuh kami nggak pernah berhubungan. Kirim pesan pun nggak pernah."

"Sayang, begitu kontrak ditandatangani, aku akan mengumumkan hubungan kita kepada semua orang."

"Kamu satu-satunya bagiku. Satu-satunya cinta sejatiku."

Betapa manis kata-kata itu. Dulu, aku menganggapnya sebagai bahan bakar untuk jiwaku.

Selama tujuh tahun, aku bertahan hidup dengan kata-kata itu, seperti burung lapar yang mematuk remah-remah roti.

Aku tersenyum getir. "Jadi maksudmu, selama kamu sibuk mengurus bisnis ini, aku harus jadi selingkuhanmu yang nggak pantas diakui? Atau, haruskah aku ganti sebutanku menjadi mantan?"

Ekspresinya membeku sesaat. Rasa terkejut yang bukan bagian dari pura-puranya.

Dia tidak pernah membayangkan aku akan menolaknya.

Dia memelukku erat. Sangat erat hingga hampir membuatku remuk.

"Mana mungkin aku tega kamu disebut selingkuhanku? Apalagi putus, nggak mungkin!"

"Cuma tujuh hari lagi, sampai kontraknya ditandatangani. Sayang, kamu selalu baik padaku, selalu sabar. Bisakah kamu sabar sebentar lagi? Demi kita?"

Secara logika, aku sudah menunggu selama tujuh tahun, jadi apa artinya tujuh hari lagi?

Tapi, aku tidak ingin menunggu lagi.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat lembut, sangat manis. Persis seperti yang dia sukai dariku.

"Aku mengerti."

Dia mencium keningku dengan lega. Lalu, dia kaitkan kalung berlian itu di leherku.

"Aku tahu kamu pasti mendukungku. Aku janji, saat kita menikah nanti, aku akan memberimu kalung berlian yang nggak ada duanya di dunia."

Menikah?

Aku tidak menjawab.

Dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi bunyi dering telepon yang mendesak terdengar.

Dia bahkan tidak melihat layar sebelum mengangkat telepon. Dia selalu begitu, selalu siaga, siap kapan saja.

Kecuali aku. Dia tidak pernah ada untukku.

"Marco?" Suara Sunny terdengar dari telepon. Napasnya terengah-engah dan gemetar. "Tasku dirampok! Bateraiku hampir habis. Aku takut, bisa jemput aku? Kumohon ...."

Marco langsung berubah. Seluruh ototnya menegang, seakan baru mendengar suara tembakan.

"Kamu terluka? Di mana? Aku ke sana sekarang."

Dia melonjak berdiri. Baru kemudian, seperti teringat sesuatu, dia menoleh dan menatapku.

Marco menyerahkan sebuah kartu kredit hitam kepadaku, lalu mencium pipiku dengan cepat.

"Sayang, beli saja apa pun yang kamu mau. Dia nggak boleh terluka sedikit pun, paling nggak untuk saat ini. Aku harus memastikan dia aman. Aku akan menjemputmu kalau kamu sudah boleh pulang."

Dengan ucapan itu, dia bergegas keluar sebelum aku sempat memberikan persetujuan.

Aku kira aku akan marah.

Tapi, aku hanya duduk diam, tidak bergerak.

Aku melepas kalung itu, mengambil mawarnya, lalu membuang keduanya ke tempat sampah.

"Marco, kamu nggak akan menikahiku," bisikku pada ruangan yang kosong. "Sekarang atau selamanya."

...

Aku mengurus administrasi rumah sakit untuk pulang.

Aku tidak mematuhi perintah dokter. Aku juga mengabaikan naluri lembut yang telah membuatku bertahan di sisinya selama tujuh tahun penuh.

Kecelakaan itu merenggut anakku, dan juga merenggut cintaku pada Marco.

Aku kembali ke vila tempat aku tinggal selama tujuh tahun.

Kenangan tujuh tahun itu terukir dalam di setiap dinding, setiap lantai, dan setiap seprai yang pernah basah oleh keringat kami.

Saat pertama kali bertemu Marco, dia belum menjadi bos mafia.

Pada saat itu, dia mengambil alih Keluarga Hardianto yang sudah di ambang kehancuran, dan sedang diburu oleh banyak musuh.

Tidak memiliki apa-apa selain ambisi.

Aku menemaninya melewati setiap krisis, penculikan, pembunuhan.

Aku sebenarnya memiliki bakat bisnis yang luar biasa. Seharusnya, aku bisa membangun kerajaan bisnisku sendiri.

Tapi, aku mengubur masa depanku dengan tanganku sendiri.

Dan kini menjadi wanita yang berdiri di depan jendela vila, menanti dengan penuh kesedihan.

Aku pernah berpikir, semua ini akan berakhir dengan sebuah cincin.

Tapi, yang akhirnya kudapatkan hanya sebuah kalung yang dibuang ke tempat sampah.

Aku mengeluarkan koper dan mulai mengemas barang-barang.

Kepala pelayan yang mendengar suara itu mendekat dengan wajah penasaran.

"Nona, mau ke mana?"

Aku menjawab seolah tidak terjadi apa-apa, "Aku mau pulang sebentar."

Kepala pelayan terdiam sebentar. "Tapi ... bukannya rumah Anda di sini?"

Senyumku perlahan berubah menjadi pahit.

Bukan, tempat ini sudah bukan rumahku lagi.

Terdengar suara langkah kaki, Marco berjalan mendekat.

Pandangannya tertuju pada koper itu. Raut wajahnya yang hangat seketika memudar.

"Pulang?" Suaranya pelan. "Pulang ke mana?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status