Share

Tujuh Tahun Menjadi Rahasia
Tujuh Tahun Menjadi Rahasia
Penulis: Juju

Bab 1

Penulis: Juju
Dengan gemetar, aku membuka foto itu dan memperbesarnya sedikit demi sedikit.

Bekas luka itu membentang mengerikan di punggung tangannya.

Berulang kali aku telah menciuminya sambil menangis dalam kegelapan, dengan keyakinan bahwa itu adalah bukti cinta Marco padaku.

Tapi sekarang, rasanya lebih seperti pisau yang menusuk mataku.

Tujuh tahun.

Janjinya masih terngiang di telingaku.

Berat kotak cincin sepuluh karat dari tadi malam masih terasa di telapak tanganku.

Aku sudah merencanakan pernikahan kami. Saat dia tidur di sisiku dan tangannya yang memiliki bekas luka itu di atas perutku, aku sudah membayangkan nama-nama untuk anak-anak kami.

Ternyata ... cincin itu sama sekali bukan untukku.

Tidak!

Otakku menolak menerima kenyataan ini!

Aku akan menanyakannya. Aku akan pergi menemuinya!

Aku langsung naik taksi menuju hotel itu sambil meneleponnya.

Dulu, dia selalu mengangkat telepon dalam sekejap. Hari ini hanya ada nada sibuk.

Air mata mengaburkan pandanganku, tapi aku tidak mau menyerah.

Saat aku menelepon untuk yang ke-20 kalinya, terdengar suara tabrakan yang sangat keras.

Tubuhku terlempar seperti boneka tak berdaya.

Suara nyaring klakson menusuk kepalaku yang pusing, rasa sakit yang hebat menyebar ke seluruh tubuhku.

Lalu, cairan hangat mengalir keluar dari tubuhku.

Aku memegangi perutku. Merasakan nyawa yang ada di sana mengalir keluar dari sela-sela jariku.

"Nggak, nggak, nggak ... selamatkan anakku!"

Tapi, tidak ada yang mendengar teriakanku.

Aku menahan rasa sakit yang luar biasa dan menelepon Marco lagi dengan tangan gemetar.

Panggilan ke-21, aku menekan tombol panggil. Jempolku meninggalkan jejak darah di layar.

"Angkat teleponnya. Angkat teleponnya. Sekali ini saja dalam hidupku, kumohon, angkat teleponnya ...."

Telepon akhirnya tersambung.

Aku seperti menemukan cahaya penyelamat, ingin meminta tolong. Hingga suara perempuan terdengar.

"Sayang, dia nggak akan marah kalau lihat berita itu?"

Itu suara Sunny.

Aku menonton video pengumuman resminya berkali-kali, membandingkan diriku dengannya seperti orang bodoh, jadi telingaku sangat kenal dengan suara itu.

"Dia cuma pengganti. Apa haknya marah-marah? Tanpa aku, anak yatim piatu itu sudah membusuk di selokan."

"Lagi pula, dia terlalu mencintaiku. Dia nggak akan meninggalkanku. Bahkan kalau dia lihat berita itu? Dia nggak akan pergi. Dia selalu begitu."

Saat itu, darah di seluruh tubuhku seolah membeku.

Ponsel terlepas dari tanganku. Batas dunia mulai kabur, dan rasa sakit yang tajam di perutku menelan segalanya.

Sebelum pingsan, aku berpikir, 'Itu bukan Marco yang aku cintai.'

'Itu pasti orang asing yang menggunakan suara kekasihku.'

...

Setelah itu, aku terbangun oleh cahaya lampu neon yang menyilaukan dan bau disinfektan.

Dokter belum sempat bicara, tapi raut wajahnya yang sedih sudah memberitahuku segalanya.

"Turut berduka cita. Bayimu baru hampir tiga bulan, kami nggak bisa menyelamatkannya."

Tanganku mengusap perutku yang kosong. Pandanganku terpaku pada langit-langit. Mataku terasa perih.

Aku sebenarnya ingin memberi kejutan untuk Marco. Seorang anak. Sebuah keluarga.

Tapi, semua itu dia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Aku menyeka air mata, menelepon nomor yang sudah lama kusimpan tapi belum pernah kuhubungi.

"Ayah."

Suaranya di ujung sana terdengar gemetaran. "Anakku? Benar ini kamu?"

"Aku sudah memutuskan." Suaraku datar dan dingin. "Aku bersedia menerima perjodohan dan menjadi pewaris keluarga. Tapi aku punya satu syarat."

"Asal kamu pulang, syarat apa pun boleh."

"Usir Sunny dari keluarga kita."

Ayah tidak ragu sedikit pun. "Sepakat. Tapi, anakku sayang, apa yang terjadi?"

Aku menahan isakan yang hampir meledak dari tenggorokanku.

"Bukan apa-apa, aku bisa mengatasinya. Aku telepon lagi nanti."

Setelah mengucapkan itu, aku menutup telepon.

Mereka mengira aku seorang yatim piatu, tidak punya apa-apa.

Mereka salah.

Sebulan yang lalu, orang tua kandungku menemukanku.

Mereka memberitahuku bahwa akulah pewaris sejati Keluarga Sanjaya.

Sunny adalah penipu. Ibunya menukar kami saat kami masih bayi, mencuri tempat tidurku, namaku, dan hak warisku.

Saat itu, aku tidak peduli.

Aku punya Marco, aku tidak butuh kerajaan mafia.

Betapa bodohnya diriku.

Sekarang, Sunny ingin mengambil identitasku, menikahi kekasihku, lalu menguburku di pemukiman kumuh.

'Langkahi dulu mayatku,' pikirku.

Tapi, tak lama kemudian, telepon berdering lagi. Sebuah pesan masuk.

[Diana, kamu pikir Marco mencintaimu? Tiga bulan lalu, saat kamu dituduh mencuri di toko dan ingin minta bantuannya, dia sedang bercinta selama denganku tiga jam di ruang ganti sebelah.]

Kuku-kukuku menancap dalam di telapak tanganku, tubuhku gemetar.

Pesan kedua.

[Kamu beruntung masih selamat dari kecelakaan itu. Menjauhlah dari Marco. Lain kali, aku nggak akan meleset dan kamu nggak akan pernah bangun lagi.]

Ternyata ... Sunny yang merencanakan semua ini.

Dia bahkan ingin membunuhku demi mendapatkan Marco.

Anakku ... meninggal karena dia.

Aku menatap kata-kata itu sampai pandanganku kabur.

Lalu menyimpan dua pesan itu dalam tangkapan layar.

Bukti dan kesabaran. Hidup dalam bayang-bayang selama tujuh tahun telah mengajariku banyak hal.

Berita dari media sosial kembali muncul di ponselku.

Aku refleks membukanya, dan melihat Sunny mengumumkan kabar gembira tentang dirinya dan Marco.

Komentar di bawahnya penuh dengan ucapan selamat.

[Tujuh tahun, akhirnya dia berhasil mendapatkan hati Sunny. Hebat!]

[Cincin itu disimpan selama tujuh tahun, menunggu dia yang menerima. Ini yang namanya cinta sejati.]

[Kekasih paling setia. Selamat!]

Kata-kata itu menghantam hatiku dengan keras.

Selama tujuh tahun, tak seorang pun dari teman-temannya mengenalku.

Tapi, kisah cinta mereka malah menjadi berita utama.

Dia mendapatkan status resmi, ciuman di depan umum, dan seratus kali lamaran.

Sedangkan aku ... hanya pantas dikurung di kamar, mendengarkan dia mengucapkan kata-kata cinta bekas yang sudah didengar orang lain.

Tepat pada saat itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka.

Marco muncul di pintu dengan seikat mawar, wajahnya masih dihiasi senyum lembut dan penuh kasih sayang.

"Sayang, aku dengar kamu dirawat di rumah sakit, jadi aku langsung bergegas ke sini. Untung, kamu nggak luka serius."

Dia meletakkan mawar itu di meja samping tempat tidurku, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru.

Lagi-lagi sebuah kalung berlian, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Selamat hari jadi yang ketujuh."

Aku tidak berkata apa-apa.

Dia mendekat, mengira aku sedih karena dia tidak mengangkat teleponku.

Tangannya menyentuh daguku, mengangkat wajahku dengan lembut, jarinya menyapu bibirku.

Lembut, mesra, seperti yang selalu dia lakukan sebelum menciumku.

"Maaf, aku sedang sibuk. Kamu tahu aku nggak akan sengaja mengabaikanmu. Maafkan aku, ya?"

Matanya sangat tulus, sangat berpengalaman.

Lalu, pandangannya beralih ke bawah.

Ke ponselku yang masih menyala di atas pangkuanku.

Di sana terpampang berita tentang Sunny yang mengumumkan hubungan dengannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 4

    Saat aku sampai di gerbang vila, pengawal menghentikanku.Suara yang penuh amarah tiba-tiba terdengar dari belakangku. "Kamu beneran mau pergi?"Aku berbalik dan melihat Marco berjalan mendekat dengan langkah cepat.Wajahnya tampak dingin, jelas sedang marah."Jangan ngambek lagi. Kembalilah."Sunny

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 8

    Temannya tiba-tiba menerjang ke arahku, mencoba menangkapku.Aku mencengkeram pergelangan tangannya, lalu mendorongnya dengan keras."Kamu bilang aku pencuri? Mana buktinya?"Seketika itu juga, siaran langsung dipenuhi dengan komentar pedas.[Orang yang bersalah pasti punya seribu alasan.] [Lihat s

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 3

    "Aku mau tinggal di rumah temanku dulu."Aku tidak berani menatap matanya. Pandanganku terpaku pada ritsleting koper, lantai, dan segala hal kecuali dia.Kening Marco langsung berkerut, matanya memancarkan kekhawatiran."Kenapa kamu nggak menungguku dulu sebelum keluar dari rumah sakit? Tubuhmu masi

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 2

    Dia terkejut sejenak, lalu merebut ponsel dari tanganku."Ini nggak seperti yang kamu pikirkan."Rahangnya menegang. Di balik mata biru tua yang telah memikatku berkali-kali, ada sebuah perhitungan yang terpendam.Dia mulai mengarang alasan."Dia pewaris Keluarga Sanjaya."Marco meletakkan ponsel it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status