LOGINAyunda tidak memedulikan peringatan itu. Alih-alih melambat, ia justru semakin berani, seolah ingin membuktikan bahwa otoritas Adit tidak berlaku sepenuhnya di atas ranjang ini. Ia tahu persis siapa pria yang ada di hadapannya; Adit bukan pria biasa yang akan tumbang setelah satu kali pelepasan. Energi Adit menjamin keperkasaan yang nyaris tanpa batas; lima ronde pun ia akan tetap kokoh berdiri seperti karang. Dan Ayunda sudah membuktikan hal itu, tak hanya sekali. Tapi selalu setiap mereka bercinta.Dengan pemahaman itu, Ayunda semakin menggila. Gerakannya menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh ritme yang mematikan. Ia menggunakan lidah dan tekanan bibirnya untuk memeras setiap sisa kontrol yang masih dimiliki Adit.Tongkat sakti itu benar-benar tenggelam di tenggorokannya. Ayunda menguncinya sejenak. Lalu jemari tangannya mengusap dua bola di bawa sana, dan terus bergerak ke celahnya, seolah mencari lubang kotor yang ada di sana.Hal itu menciptakan sensasi yang mematikan ba
Uap air mulai memenuhi ruangan sempit itu saat kran pancuran diputar. Suara gemericik air yang jatuh ke lantai keramik menjadi satu-satunya musik yang mengiringi napas mereka yang mulai memburu. Di bawah temaram lampu kamar mandi yang kekuningan, suasana terasa jauh lebih gerah daripada dapur tadi siang.Ayunda tidak membuang waktu. Dengan jemari yang biasanya lihai menguleni adonan roti, ia kini menelusuri lekuk tubuh Adit. Tangannya yang masih basah bergerak nakal, turun ke bawah, memberikan usapan-usapan berani pada milik Adit yang sudah menegang sempurna sejak pertama kali pintu dikunci.Adit menggeram rendah, sebuah suara yang tertahan di tenggorokan. Ia merasakan sensasi keras dan kaku itu berdenyut di bawah elusan Ayunda yang sengaja menggoda. Ayunda menatapnya dari balik helaian rambut yang basah, matanya berkilat nakal; sisi genit yang hanya ia tunjukkan saat mereka benar-benar berdua."Sabar, Dit..." bisik Ayunda lirih, meski ia sendiri tidak bisa menyembunyikan getaran di s
Adit tertawa.Bukan tawa kecil yang bisa disembunyikan di balik ekspresi lain, tapi tawa yang keluar begitu saja melihat wajah Ayunda yang memucat seperti seseorang yang baru menyadari ia sudah berdiri di tepi sesuatu tanpa tahu kapan ia sampai di sana."Kamu kenapa, Ayun?""Dit…" Ayunda melepaskan pelukannya, mundur setengah langkah, matanya mencari wajah Adit dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan antara panik dan tidak percaya. "Sumpah… aku nggak enak banget lah sama pacarmu. Masak iya kamu cerita, terus dia nggak marah gitu?""Lha, tadi kamu lihat sendiri," kata Adit, masih menahan tawanya dengan susah payah. "Dia marah nggak?"Ayunda membuka mulutnya. Menutupnya lagi. "Ya nggak sih… tapi kan…" Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Duh, kan aku malu banget, Dit. Aku berasa kayak cewek nakal tau. Ya aku sadar sih aku bukan cewek baik-baik. Tapi kan…""Stt."Ayunda berhenti.Adit menunggu sampai ia benar-benar berhenti, sampai sisa kalimat yang masih mengambang di udara itu
Teras belakang toko itu terlihat rapi tapi terasa lapang karena tidak ada yang berlebihan di sana; hanya dua kursi rotan, satu meja pendek, dan pot-pot tanaman herbal yang Ayunda rawat sendiri di sepanjang dinding. Lampu teras yang kuning menerangi semuanya dengan cahaya yang hangat dan sedikit kekuningan, berbeda dari lampu dingin di ruang utama toko.Mereka bertiga duduk dengan gelas teh di tangan masing-masing yang Ayunda siapkan dengan cara yang terlalu ribet untuk ukuran membuat teh; cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dilakukan agar tangannya tidak gemetar terus-menerus."Kamu nggak perlu takut lagi, Ayun," kata Adit. Ia memegang gelasnya tapi tidak meminumnya, matanya ke arah Ayunda. "Orang-orang seperti itu tidak akan pernah datang lagi kemari."Ayunda mengangguk pelan. Tapi ada sesuatu yang masih tersangkut di wajahnya, sesuatu yang tidak ikut selesai meski urusannya sudah selesai."Iya, Dit." Ia menyendok tehnya sebentar tanpa tujuan. "Eh, itu tadi… Bang Bayu. Dia…" Kali
Adit melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Bukan ugal-ugalan, tapi ada ketegasan dalam cara Adit menginjak pedal gas yang membuat Vera sekali-sekali melirik ke spidometer lalu memilih untuk tidak berkomentar. Ia mengenal Adit cukup lama untuk tahu perbedaan antara Adit yang terburu-buru karena malas menunggu dan Adit yang terburu-buru karena ada sesuatu yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama."Mereka masih di sana?" tanya Vera, memecah keheningan."Ayunda bilang belum pergi."Vera mengangguk pelan, menatap jalan di depan. "Siapa mereka?""Belum tahu. Katanya orang pajak. Tapi aku nggak percaya. Ayunda itu terlalu polos kadang-kadang." Adit menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Makanya kita ke sana."Vera tidak bertanya lagi setelah itu.15 menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga.Adit memarkirkan mobilnya di depan toko rotinya dengan cara yang efisien. Lalu ia pun turun, disusul oleh Vera.Ayunda berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang memadukan antara
Proses syuting telah selesai. Hari itu, Bu Ria ingin mengadakan pesta syukuran. Dan hari itu juga, Adit dan Vera tidak akan menginap lagi. Usai pesta, mereka berencana untuk pamit; pulang ke rumah Renata.Nasi tumpeng itu berdiri dengan gagah di tengah meja panjang yang didirikan di sisi set yang sudah dibersihkan dari peti-peti kayu dan matras stunt. Kerucut kuning dari nasi kunyit itu dihiasi lauk-pauk di sekelilingnya, ayam goreng, tempe orek, sambal, telur balado; dan di meja sebelahnya, bubur sumsum putih berendam dalam genangan kinca gula merah di mangkok-mangkok lucu menunggu giliran untuk disentuh.Sesederhana apapun tampilannya, ada sesuatu yang terasa sungguh dalam dari ritual ini; bahwa sebuah pekerjaan besar telah selesai, dan selesai dengan baik.Pak Teguh yang memotong puncak tumpeng, seperti tradisi yang memang sudah semestinya."Untuk semua yang sudah bekerja keras," katanya singkat, mengangkat potongan puncak itu sebentar sebelum menyerahkannya ke Adit di sebelahnya.
Keheningan di kamar tamu itu hanya diisi oleh suara napas yang tidak teratur dan debar jantung yang masing-masing dari mereka coba sembunyikan.Vera duduk di kursi sudut dengan postur yang kaku. Matanya menatap ke arah Adit dan Clara yang masih di sofa; berciuman dengan penuh gelora.Delapan menit.
Adit melangkah maju, berdiri tepat di antara para perampok dan pintu bus, menjadikan dirinya sebagai pagar yang jelas dan tegas; memberi tanda kepada para perampok itu jika ia tak akan pasrah memberi apa yang mereka mau."Semua masuk ke dalam bus. Sekarang," katanya. Suaranya tenang, tidak tinggi,
Petang mulai menyelinap masuk lewat jendela koridor rumah sakit. Cahaya oranye keemasan menerangi wajah-wajah tegang para anak buah Renata yang masih setia berjaga. Adit duduk di bangku tunggu dengan kepala bersandar di dinding, mata memandang kosong ke arah pintu ruang ICU di mana Renata masih ter
Adit terbangun dengan tubuh yang terasa... segar.Aneh, mengingat dia tidur di bangku panjang yang keras, dengan bantal seadanya, jaket yang dilipat dan selimut yang bahkan tidak ada. Tapi entah kenapa, tidurnya sangat nyenyak. Seperti tubuhnya tahu bahwa dia butuh istirahat total setelah menguras







