Share

Bukan Servis Biasa

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-21 08:02:33

"Nah, kalau di sini gimana? Gak bingung lagi kan kamu?" tanya Clara dengan nada puas saat membuka pintu kamar hotel dan melangkah masuk bersama Dayat.

​"Wah, bagus banget kamarnya Tan!" ucap Dayat takjub. Ia melihat sekeliling kamar yang sangat mewah, jauh berbeda dari suasana kontrakannya yang sempit atau bangunan unit yang setengah jadi.

​"Iya, biar kamu gak bingung lagi," sahut Clara sambil meletakkan tasnya di atas meja.

​Dayat menghela napas lega, ketegangan yang tadi ia rasakan di kantor
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Pacar? Drama Apa Lagi ini!

    Semburat cahaya fajar belum sepenuhnya muncul ketika Ajeng perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Dayat masih tertidur sangat lelap, efek dari "servis penutup" yang berlanjut hingga larut malam.Ajeng tersenyum mengingat kejadian semalam, lalu duduk dan menggoyang-goyang pelan bahu Dayat."Mas... Mas Dayat, bangun, Mas. Sudah subuh," bisik Ajeng lembut di dekat telinga Dayat.Dayat hanya melenguh pelan, menarik selimutnya lebih tinggi untuk menghalau dinginnya udara pagi. "Eghm... jam berapa, Jeng? Masih ngantuk banget aku..." gumam Dayat dengan suara yang masih serak dan mata yang terpejam rapat.Ajeng terkekeh geli, lalu menarik pelan selimut Dayat. "Sudah jam lima lewat, Mas. Katanya mau siangan jalan, tapi mending Mas bangun sekarang biar enggak kesiangan banget. Ayo, Mas, dipaksain bangun dulu, terus langsung mandi ya biar segar."Dayat mengosok matanya perlahan, mengumpulkan kesadaran yang masih tersisa sebelum akhirnya memaksakan diri untuk duduk di tepi ran

  • Tukang Servis Spesialis   Keringat Ketagihan

    Dayat melangkah ke meja rias dengan napas yang masih sedikit memburu. Begitu layar ponselnya menyala di tengah temaram lampu kamar, ia mengernyitkan dahi membaca nama yang tertera di sana."Siapa, Mas?" tanya Ajeng dari atas ranjang, posisinya masih telentang dengan daster yang setengah tersingkap."Dita, Jeng," jawab Dayat pendek. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Dit? Kenapa telepon malam-malam?"Dari seberang telepon, terdengar suara Dita yang agak sungkan. "Halo, Mas Dayat. Aduh, maaf banget ya, Mas, kalau aku mengganggu waktu istirahatnya Mas Dayat jam segini.""Iya, enggak apa-apa. Ada keperluan apa, Dit?""Ini, Mas, cuma mau memastikan saja. Hari Minggu besok jadi, kan, pasang alur instalasi listrik di rumah baru aku?" tanya Dita berbasa-basi memastikan.Dayat melirik ke arah Ajeng yang tampak menunggunya dengan wajah cemberut. "Oh, iya, jadi kok. Paling nanti agak siangan ya aku baru bisa ke sana.""Wah, iya, Mas, enggak apa-apa bang

  • Tukang Servis Spesialis   Gangguan Di Tengah Gairah

    Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kalau seandainya dia tiba-tiba tahu, kita bilang saja kalau urusan pulangnya mendadak gitu aja. Daripada kita ngomong dari sekarang, yang ada dia malah rewel duluan dan bikin pusing."Ajeng yang sejak awal memang tidak ingin ambil pusing hanya tersenyum manis lalu mengangguk patuh menuruti keputusan pria di sampingnya itu. "Iya, Mas Dayat. Aku ikut apa kata Mas saja bagaimana baiknya."Mendengar jawaban penurut dari Ajeng, Dayat merasa bebannya sedikit berkurang. Ia kemudian membereskan lembaran kertas di pangkuannya, menumpuknya menjadi satu, lalu memasukkan kembali berkas sisa unit rumah itu ke dalam tas kerjanya di atas meja.Dayat menenggak sisa kopi hitamnya yang sudah mulai hangat, lalu m

  • Tukang Servis Spesialis   Malam Penawaran

    Dayat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib Ajeng yang tiada habisnya menggoda imannya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menepuk pelan kantong plastik di atas meja."Sudah, ah. Jangan ngaco kamu, Jeng," kata Dayat sambil berusaha mengalihkan fokus. "Mendingan sekarang kamu siapkan piring sama nasinya di meja makan. Tolong pindahin sekalian seafood yang baru aku beli ini ke wadah. Aku mau mandi sebentar, badan sudah lengket semua."Ajeng mengerucutkan bibirnya manja, sedikit kecewa karena godaannya belum mempan. "Iya, iya, Mas Dayat... Ini aku siapin," sahut Ajeng akhirnya sambil mengambil bungkusan seafood tersebut.Dayat langsung melangkah cepat menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Guyuran air dingin malam itu sukses membuat pikirannya kembali jernih. Setelah selesai mandi, ia segera masuk ke dalam kamar, mengeringkan rambut, dan berganti pakaian santai dengan kaus oblong serta celana kolor pendek.Setelah penampilannya rapi, D

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan Daster Pinjaman

    Mobil yang dikendarai Dayat akhirnya perlahan berhenti tepat di depan gang masuk rumah Astrid. Dayat memposisikan gigi netral lalu menarik rem tangan sembari menoleh ke arah rekan kerjanya itu.Astrid mulai melepas sabuk pengamannya dan mengambil tas laptop di pangkuannya. Sebelum membuka pintu mobil, ia menoleh ke arah Dayat dengan senyum ramah."Sudah sampai, Mas Dayat. Makasih banyak ya sudah repot-repot mengantar," ucap Astrid. "Mau mampir dulu enggak, Mas? Kebetulan di rumah lagi ada camilan, sekalian minum teh dulu."Dayat tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya dengan sopan. "Terima kasih tawarannya, Mbak Astrid. Lain kali saja ya, aku mau langsung pulang saja, badan rasanya sudah lumayan capek pengen langsung istirahat.""Oh, begitu... Ya sudah, Mas Dayat langsung pulang dan istirahat ya. Hati-hati di jalan, Mas," sahut Astrid memaklumi. Ia kemudian turun dari mobil dan melambaikan tangannya sebelum Dayat kembali melajukan kendaraannya membelah jalanan sore menuju arah ru

  • Tukang Servis Spesialis   Sisi Lembut Sang Perfeksionis

    Mendengar ajakan Bu Clara, pikiran Dayat seketika melayang ke rumah. Wajah Ajeng yang belakangan ini sering ia tinggal sendirian pada malam hari langsung terbayang di benaknya. Meskipun status Ajeng di rumahnya bukanlah tanggung jawab penuh Dayat, ada rasa kasihan dan tidak tega yang mendalam di lubuk hatinya jika harus membiarkan wanita itu kesepian lagi malam ini. Dayat menarik napas pelan, mencoba menyusun kalimat sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan atasannya tersebut. "Waduh, Tan... mohon maaf banget sebelumnya," ucap Dayat dengan nada yang sangat sopan dan penuh rasa sungkan. "Kebetulan nanti malam saya sudah ada janji penting dan ada keperluan sama teman yang enggak bisa dibatalkan, Tan." Mendengar penolakan tersebut, gurat kekecewaan sempat melintas sesaat di wajah cantik Bu Clara. Ia mengembuskan napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Namun, sebagai wanita dewasa yang pengertian, Clara tidak ingin memaksakan kehendaknya. "Yah... saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status