INICIAR SESIÓN
"Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”
Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakkan kaki di teras satu jam lalu, wanita itu sudah lima kali bolak-balik menanyakan progres pekerjaannya. Terik matahari pukul dua siang seolah memanggang atap seng di area cuci belakang rumah mewah itu. Dayat menyeka keringat yang bercampur jelaga oli di dahinya menggunakan punggung tangan. “Sabar mbak, kabelnya susah.” Di hadapannya, sebuah mesin pompa air yang sudah berumur teronggok pasrah, jeroannya berceceran di atas ubin semen yang lembap. Aroma logam berkarat dan pelumas menyengat indra penciumannya, namun Dayat sudah terbiasa. Ini adalah makan siang sehari-harinya. “Yat!!” "Dikit lagi, Mbak! Dinamonya mampet karena kerak!" seru Dayat tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengencangkan baut dengan kunci inggris. Namun, derap langkah kaki yang mendekat tidak berhenti di ambang pintu. Suara sandal selop yang beradu dengan lantai granit terdengar makin jelas, hingga akhirnya berhenti tepat di belakang punggung Dayat. Hawa panas dari mesin air tiba-tiba terasa kalah dengan aroma sabun bunga mawar yang mendadak menyeruak, menggantikan bau oli yang tadi mendominasi. "Gimana Mas? Aku udah gerah banget nih, mau mandi. AC di kamar juga rasanya kurang dingin kalau airnya nggak jalan," ucap Niken. Suaranya kini terdengar sangat dekat, tepat di samping telinga Dayat, rendah dan sedikit serak. Dayat menelan ludah. "Bentar Mb—" Ucapannya terhenti di kerongkongan. Saat Dayat menoleh untuk memberikan penjelasan teknis, pandangannya justru menabrak pemandangan yang membuat jantungnya seakan melompat dari rongga dada. Niken berdiri di sana, hanya berbalut sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya dari batas dada hingga pertengahan paha. Bahunya yang putih mulus tampak berkilau karena sisa keringat yang mengalir, menciptakan jalur-jalur bening di atas kulitnya yang lembab. Dayat terpaku. Matanya tak sanggup berbohong, menelusuri garis bahu hingga lekuk dada Niken yang tersaji begitu nyata di depan mata. Hawa panas yang tadi berasal dari matahari, kini mendadak menjalar ke wajah dan lehernya. "Ini Mbak, apa namanya... Dinamonya bermasalah, ada kerak yang bikin macet. Lagi saya coba akalin biar nggak usah ganti baru," ucap Dayat terbata-bata. Ia berusaha keras memfokuskan matanya pada mesin di bawahnya, namun bayangan kulit putih di sampingnya terus mengganggu kewarasannya. Tiba-tiba, tanpa peringatan, Niken ikut berjongkok. Ia merapatkan kedua kakinya tepat di hadapan wajah Dayat yang masih berlutut di depan mesin. Jarak yang hanya sejengkal itu membuat Dayat refleks menahan napas. Wangi sabun itu makin kuat, dan dari sudut matanya, ia bisa melihat betapa tipisnya kain handuk yang menutupi bagian vital wanita di depannya. "Apanya sih yang macet, Mas? Emang udah parah ya?" tanya Niken dengan nada lugu yang sangat dibuat-buat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah ingin melihat lebih jelas ke dalam mesin, namun gerakannya itu justru membuat lilitan handuk di dadanya sedikit melonggar. Duh, makin nekat aja nih orang, gumam Dayat dalam hati. Ia memaksakan jemarinya bergerak meski hanya memutar-mutar baut yang sebenarnya sudah kencang. Fantasi liar mulai berebut tempat di kepalanya, menggerus akal sehat yang ia coba pertahankan sekuat tenaga. "Ini, Mbak... bagian ini yang karat. Saya bersihin dulu biar muternya lancar," jawab Dayat asal. Keringatnya kini menetes lebih deras, bukan karena panas, tapi karena tekanan batin yang luar biasa. "Cepet dong Mas, gerah lho ini aku... Tuh, nggak liat ampe keringetan gini?" Niken mengusap lehernya perlahan, sengaja menonjolkan lekuk leher dan bagian atas dadanya yang mulai basah. Matanya mengerling nakal, seolah menikmati kegugupan yang ditunjukkan teknisi muda di hadapannya itu. "I-iya bentar. Mending Mbak tunggu di dalam aja deh... Gak konsen ini saya kalau ditungguin begini," ucap Dayat akhirnya, sebuah upaya terakhir untuk mengusir gangguan yang nyaris membuatnya meledak. Niken hanya memberikan senyuman tipis yang penuh arti. "Yaudah deh, aku tunggu di dalem ya, Mas!" ucapnya manja, lalu perlahan bangkit berdiri. Dayat tetap berjongkok, namun matanya tak bisa menahan diri untuk tidak mengikuti punggung Niken. Gerakan pinggulnya yang bergoyang seiring langkah kaki menuju ruang tamu membuat Dayat hanya bisa kembali menelan ludah dengan susah payah. Lima belas menit kemudian, suara dengung mesin air yang stabil akhirnya terdengar. Dayat menghela napas lega. Ia segera melangkah ke arah keran di sudut halaman, memutarnya, dan seketika air menyembur deras. Dinginnya air yang mengenai tangannya sedikit membantu menurunkan suhu di kepalanya. "Mbaakk!! Udah nyala tuh!" teriak Dayat, suaranya sengaja dikeraskan agar menembus ruang tengah. Hening sejenak. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Niken muncul dari balik pintu belakang. Wajahnya tampak sumringah, seolah sudah sangat tidak sabar ingin segera membasuh tubuhnya yang gerah. Namun, di sinilah petaka itu terjadi. Tepat saat ia melangkah di atas ubin semen yang basah karena cipratan air tadi, kaki Niken selip. "E-ehh!!" pekik Niken. Tubuhnya limbung seketika. BRAAKK! Niken jatuh terduduk tepat di hadapan Dayat yang baru saja hendak membereskan tas perkakasnya. Posisi jatuhnya tidak beraturan kedua kakinya terbuka lebar untuk menyeimbangkan beban, dan karena ia hanya mengenakan handuk, kain putih itu tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha. Dayat yang berada tepat di depannya seolah mendapatkan sebuah pertunjukan yang tak pernah ia duga. Namun, kain handuk yang sejak awal memang hanya dililitkan itu tidak mampu menahan beban gerakan yang tiba-tiba. Tepat saat Niken berusaha bangkit dengan bertumpu pada satu tangan, lilitan di dadanya menyerah. Kain putih itu merosot jatuh, terlepas sepenuhnya dari tubuh Niken seiring dengan gerakannya yang kikuk.Hari kian merambat siang, namun hawa dingin udara gunung yang menerobos lewat celah jendela kayu justru membuat gairah di ruang keluarga itu mendidih hebat. Di atas karpet bulu tebal bernuansa earth tone, pakaian santai mereka sudah terlepas berhamburan. Dayat berbaring telentang, bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kekar dan kokoh. Clara yang sedang hamil tua tujuh bulan berbaring miring di sisi kanan Dayat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Jemari lentiknya yang mulus bergerak lihai, membelai dan mengocok kejantanan Dayat yang sudah tegang keras, membesar padat sempurna. "Nngghh... Mas Dayat..." desah Clara halus, napasnya berhembus memburu di leher Dayat. "Lihat nih... milik kamu udah keras banget. Pengen banget aku lahap..." Sementara itu, Astrid yang berdiri polos tanpa sehelai benang pun memamerkan lekuk tubuhnya yang kembali kencang dan seksi pasca melahirkan anak pertama mereka. Matanya memancarkan gairah yang begitu dahsyat. Astrid melan
Penyidik Aris membisu. Keringat dingin menetes di pelipisnya saat menyadari posisinya terjepit total. Tanpa pilihan lain, ia meraih kunci dari sakunya dan membuka kunci borgol di tangan Dayat dengan jemari yang gemetaran. "Kertas tuntutan ini... dianggap tidak pernah ada," bisik Aris pasrah, menarik kembali map merah dari atas meja. "Kalian punya waktu sampai matahari terbit untuk menghilang dari kota ini." Dayat mengusap pergelangan tangannya yang memerah, menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. Tanpa mengulur waktu, ia melangkah keluar dari kantor kepolisian dan kembali ke resort VVIP. Menggunakan otoritas teknisnya, Dayat membuka akses panic room dari panel pusat. Pintu hidrolik terbuka perlahan. Astrid dan Clara yang panik seketika bernapas lega melihat Dayat berdiri di ambang pintu dalam keadaan selamat. Tanpa membuang kata, Astrid dan Clara langsung menghambur memeluk pria itu kencang-kencang, membasahi dada kekar Dayat dengan air mata haru. Hari itu juga, keputusan be
"Kalian mengira whistleblower agreement Budi itu valid?" ujar Dayat tiba-tiba, suaranya tetap terkontrol dan berat, menggelegar tenang di tengah kepungan pasukan bersenjata. "Sebagai teknisi yang membongkar seluruh sistem Unit 00 semalam, saya tahu persis server mana yang asli dan mana yang cuma umpan." Penyidik Aris tertawa terkekeh, menggelengkan kepalanya meremehkan. "Jangan mencoba menggertak, Dayat. Rekaman live stream kalian bertiga ada di genggaman kami. Bukti audio visual itu lebih dari cukup untuk menyeret kalian bertiga ke sel tahanan." "Sistem perekaman yang dipasang Budi menggunakan IP dinamis dengan enkripsi ganda dari server lokal resort," potong Dayat dingin, melangkah satu petak ke depan tanpa mengindahkan moncong senjata yang mengarah padanya. "Kalau Anda benar-benar mengakses feed itu tiga hari lalu, harusnya Anda tahu kalau Budi bukan cuma menjual akses ke kepolisian... tapi juga melempar data transaksi bodong bernilai ratusan miliar itu ke pasar gelap. Dan dokum
Dayat menatap layar ponsel Pak Handoko yang memancarkan pendar cahaya kebiruan di tengah kegelapan kamar. Tulisan Pesan Teks - Operasi Tangkap Tangan (OTT) itu tercetak amat jelas. Sensasi dingin merayap cepat di tengkuknya, membekukan sisa-sisa kehangatan gairah yang baru saja padam beberapa menit lalu. Di atas ranjang king size, Astrid dan Clara mulai bergeliat. Padamnya arus AC dan heningnya suasana secara mendadak membuat kenyenyakan tidur mereka terganggu. "Mas Dayat... kok gelap? Lampunya mati ya...?" bisik Astrid dengan suara parau khas bangun tidur, tangannya meraba-raba mencari tubuh kekar Dayat di sampingnya. "Ssshh... diam, Astrid," bisik Dayat tegas namun sangat rendah. Ia merayap turun dari kasur, mengenakan celana kerjanya dengan gerakan secepat kilat. Clara ikut duduk, mengucek matanya yang samar. "Dayat? Ada apa sih? Kok listriknya padam... Nngghh, dingin banget..." "Jangan ada yang nyalain lampu HP atau bersuara," potong Dayat dingin, merangkak mendekati tempat t
Astrid membelalak kaget. Selimut yang ditariknya ke dada membeku di genggamannya. Napasnya tertahan saat melihat bos besarnya—wanita paling berwibawa di perusahaan—berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan mata yang tidak lagi memancarkan keangkuhan formal, melainkan dahaga dan gairah yang begitu kentara. "B-Bu Clara...? Maksudnya apa ini...?" bisik Astrid dengan suara bergetar, pandangannya beralih dari Clara ke Dayat yang masih berada di atas tubuhnya. Dayat tidak menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. Pria itu justru menyunggingkan senyum tenang, mengusap lembut pipi mulus Astrid untuk menenangkannya. "Gak usah panik, Astrid. Ini semua bagian dari rencana kita buat pegang kendali penuh atas resort ini dan menyingkirkan Handoko." Clara melangkah perlahan mendekati kasur king size tersebut. Jemari lentiknya yang terawat rapi melepas kancing terakhir blazer merahnya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begitu saja ke lantai. Di baliknya, Clara hanya mengenakan lingerie sutra hita
Dayat terdiam sejenak. Tatapannya pada dokumen berstempel hukum di tangannya perlahan memudar, berganti dengan pandangan dingin yang menusuk lurus ke manik mata Bu Clara. Wanita matang di hadapannya itu mungkin berpikir bahwa harta, kekuasaan, dan tubuh indahnya bisa membeli segala keputusan Dayat. Namun, Dayat bukan pria yang bisa didekte atau dipaksa mengorbankan darah dagingnya sendiri. Dayat melempar amplop cokelat tebal itu secara kasual ke atas kasur, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Tangan kekarnya bergerak cepat, mencengkeram dagu mulus Bu Clara dengan kuat hingga wanita itu terperanjat, menatap Dayat dengan napas tertahan. "Saya tolak syarat itu, Bu Clara," ujar Dayat dengan suara berat, dalam, dan tanpa ragu sedikit pun. Bu Clara membelalak kaget, matanya menyipit penuh rasa tak percaya. "Kamu gila, Dayat?! Itu setengah saham utama resort VVIP! Nilainya belasan miliar! Kamu cuma perlu memastikan Astrid nggak melahirkan anak itu!" Dayat terkekeh
Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpun
Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket ke
“Hati-hati gimana?”Mendengar ucapan itu Dayat sempat terdiam, ia tahu betul sedikit kesalahan yang ia lakukan nanti atau hal yang membuat Istri dari Bos-nya tidak suka dapat memutus langsung jalur rezekinya.Dayat terkekeh sinis. "Lo tenang deh. Iman gue kuat. Tadi aja di rumah Mbak Niken, gue ham
"Aduh… M-Mbaakk!! Ati-ati dong!" seru Dayat panik. Ia langsung bergerak maju, berusaha meraih lengan Niken. Waktu seolah membeku. Dayat terpaku di tempatnya. Matanya yang tak sempat berpaling merekam dengan sangat jelas setiap inci kulit Niken yang tanpa sehelai benang pun. Dari dada yang berd







