Home / Male Adult / Tukang Servis Spesialis / Proyek Besar, Kendala Besar

Share

Proyek Besar, Kendala Besar

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-11 11:55:37

Dayat menarik napas lega dalam hati saat mendengar nada bicara pria di depannya tidak sedingin yang ia bayangkan. Ia segera melangkah maju dan menarik kursi kayu jati itu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara gesekan yang mengganggu.

"Sini duduk, Yat... Gak usah kaku gitu. Santai aja," ucap suami Clara dengan nada yang cukup ramah.

Dayat mengangguk sopan, lalu duduk dengan posisi tegak tepat di hadapan pria itu. Meskipun diminta santai, punggungnya tetap terasa kaku karena ia sadar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Keusilan Di Pagi Hari

    "Pagi mas,," sapa gadis itu dengan senyuman tipis sambil merapikan rambut panjangnya yang agak berantakan di dekat meja makan. Dayat menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar, matanya berkedip beberapa kali melihat sosok asing yang duduk santai di ruang tengah rumah Mira pagi itu. "I-iya pagii.." sahut dayat dengan nada canggung, ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Mira yang sedang memotong sayuran di dapur kecilnya menoleh sekilas, lalu menunjuk ke arah gadis berkaus ketat di ruang tengah tersebut. "Oh iya mas, kenalin itu sepupuku namanya rita,," ucap mira dengan nada suara yang terdengar sangat santai tanpa beban. Rita bangkit dan melangkah pelan menghampiri dayat, langkah kakinya sengaja dibuat berayun lambat hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter saja. Dia mengamati wajah Dayat dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai, lalu mengulurkan tangannya, "Rita.." Dayat menyambut tangan Rita, membalas genggaman tangan gadis itu yang terasa halus

  • Tukang Servis Spesialis   Pertempuran Berkeringat

    "Mas... pelan dikit mas,, i-ini dalem banget mas,, aaahh.. aaahhh.. ya ampun mas, ahh, ahh," bisik Mira di sela desahnya. "Eeemmmhh,, gak bisa pelan mir, badanmu padat banget,, rasanya aku gak bisa berhenti,," ucap Dayat di sela gerakannya yang tetap cepat dengan hentakannya yang keras. "Ahhh... ohh, mas, terus mas.. ahh, ahh, di situ mas, emmhh.. ughh, aaahhh! Lebih keras, Mas! Ahh, ahh!" desah Mira semakin keras, meremas sprei dengan kuku-kukunya sampai memutih karena tidak tahan menerima tusukan yang bertubi-tubi. "Oohh, iya, Mir? Ini udah keras belum? Hah? Emmhh!" tanya Dayat dengan suara berat, sambil terus menekan pinggul Mira dan menghantamnya tanpa ampun dari belakang. "Aaahh! Udah, Mas! Ahh, ahh, ughh, dalem banget, Mas! Terus, Mas, jangan berhenti, ahh, ahh!" sahut Mira dengan mata terpejam rapat dan dahi berkerut dalam karena kenikmatan yang memuncak. "Emmhh, jepit terus, Mir! Punya lo sempit banget, ahh!" seru Dayat dengan napas memburu, merasakan jepitan dinding

  • Tukang Servis Spesialis   Servis Yang Entah Keberapa Kalinya

    "Tiba di depan rumah Mira, Mas ayo mampir dulu..." ucap Mira sambil menarik tangan Dayat dengan cukup kuat, seolah tidak sabar ingin membawa pria itu masuk melewati pintu pagar rumahnya. Dayat yang tangan kanannya masih memegang setang motor menahan tarikan tersebut sesaat, memposisikan standar dua kendaraannya agar berdiri tegak dengan kokoh di atas lantai semen. "Iya iya bentar aku parkir motor dulu Mir," ucap Dayat menenangkan kegelisahan gadis di depannya yang nampak sangat terburu-buru itu. Mira melepas cekalannya pada tangan Dayat, berbalik dengan cepat lalu melangkah setengah berlari menuju teras depan rumah. Jemarinya yang lentur merogoh isi tas kecil miliknya, mengambil sebatang kunci logam, lalu memasukkannya ke dalam lubang selot pintu kayu rumahnya dengan gerakan yang sangat cepat. Cklek. Mira melangkah lebih dulu dan membuka kunci serta pintu rumahnya, membiarkan lampu ruang tamu yang masih padam terlihat remang-remang dari arah luar halaman. Setelah memastikan motor

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran Untuk Melanjutkan

    "Oh itu, tadi aku mau nyuruh Mas Dayat WA kamu.. aku mau pulang soalnya," ucap Mira dengan nada suara yang agak cepat, berusaha mencari alasan agar tidak ketahuan. Gita mengangguk pelan sambil menurunkan tas kecilnya dari pundak, meski matanya masih memperhatikan gerak-gerik temannya itu. "Ohh gitu... kamu mau pulang sekarang?" tanya Gita yang merasa agak aneh dengan gelagat Mira yang tampak buru-buru. Tak lama, pintu kamar terbuka sepenuhnya dan Dayat melangkah keluar dengan wajah yang diusahakan sepadat mungkin untuk menutupi kepanikannya. Dia langsung mendapati Gita dan Mira sedang berdiri berhadapan di ruang tengah. "Lho kamu udah pulang Git?" tanya Dayat sambil berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Gita menoleh ke arah Dayat, mengembuskan napas panjang karena merasa lelah setelah menempuh perjalanan sore yang lumayan macet. "Iya Mas, cuma sebentar aja kok.. soalnya kebetulan pamanku disana juga mau pergi katanya," ucap Gita menjelaskan situasi yang membuatnya harus pulang

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan dan Rasa Penasaran

    "Ya, namanya juga memang kerjaanku sehari-hari sebagai tukang servis, Mir. Jadi ya harus pintar servis segala macam barang lah," ucap Dayat dengan nada bicara yang diusahakan tetap tenang dan santai, meskipun ia bisa merasakan deru napasnya sendiri mulai agak tidak teratur. Di dalam benaknya, Dayat mulai menebak-nebak dengan rasa cemas yang tertahan. "Gita udah ngomong apa aja ya ke ini anak?" gumam batin Dayat dalam hati. "Hmmm..." Mira hanya bergumam pelan. Jemarinya yang lentur kembali meremas pelan otot bahu tegap Dayat dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Dayat tampak diam dan sama sekali tidak memberikan gerakan untuk menghindar atau menjauhkan tubuhnya dari sentuhan tersebut. Hal itu membuat Mira merasa berada di atas angin. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang penuh kemenangan di sudut bibirnya. "Bukan servis barang atau sanyo itu maksudku, Mas Dayat. Tapi servis yang lain," ucap Mira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja tepat di samping

  • Tukang Servis Spesialis   Tekanan Yang Lembut

    "Yaaa... mau gimana lagi, Mir," ucap Dayat sambil mengulas senyum tipis, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka setelah mobil Niken melaju pergi. Dayat kemudian meneguk sisa kopinya yang sudah mendingin, lalu menatap Mira yang masih duduk santai di sofa rotan. "Oh iya, kamu mau langsung pulang sekarang apa masih mau di sini dulu sebentar?" tanya Dayat dengan nada bicara yang ramah dan sopan. Mira langsung memundurkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ihh, Mas Dayat ini kok ketahuan banget sih mau mengusir aku ya? Belum juga semenit Gita jalan, udah langsung ditanya begitu," ucap Mira dengan wajah cemberut yang dibuat-bikin. Dayat tertawa kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah bicara. "Yaa enggak begitu, Mir. Maksudku, aku cuma tanya aja. Kalau kamu masih mau di sini dulu ya nggak apa-apa. Mau nunggu sampai Gita pulang nanti juga nggak apa-apa kok, santai aja." Raut wajah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status