Home / Male Adult / Tukang Servis Spesialis / Proyek Besar, Kendala Besar

Share

Proyek Besar, Kendala Besar

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-11 11:55:37

Dayat menarik napas lega dalam hati saat mendengar nada bicara pria di depannya tidak sedingin yang ia bayangkan. Ia segera melangkah maju dan menarik kursi kayu jati itu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara gesekan yang mengganggu.

"Sini duduk, Yat... Gak usah kaku gitu. Santai aja," ucap suami Clara dengan nada yang cukup ramah.

Dayat mengangguk sopan, lalu duduk dengan posisi tegak tepat di hadapan pria itu. Meskipun diminta santai, punggungnya tetap terasa kaku karena ia sadar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Proyek Besar, Kendala Besar

    Dayat menarik napas lega dalam hati saat mendengar nada bicara pria di depannya tidak sedingin yang ia bayangkan. Ia segera melangkah maju dan menarik kursi kayu jati itu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara gesekan yang mengganggu."Sini duduk, Yat... Gak usah kaku gitu. Santai aja," ucap suami Clara dengan nada yang cukup ramah.Dayat mengangguk sopan, lalu duduk dengan posisi tegak tepat di hadapan pria itu. Meskipun diminta santai, punggungnya tetap terasa kaku karena ia sadar betul siapa pria yang ada di depannya."Mau kopi? Atau teh? Atau wine mau? Haha..." tanya suami Clara, disusul tawa kecil yang seolah ingin mencairkan suasana.Dayat ikut terkekeh canggung, berusaha menyesuaikan frekuensi. "Hehe... Kopi aja nggak apa-apa, Pak. Terima kasih," jawab Dayat sopan."Oke, masih aman... masih aman," gumam batin Dayat. Ia mulai bisa sedikit mengatur detak jantungnya yang tadi sempat berpacu liar. Sepertinya obrolan ini memang mengarah ke hal profesional, atau setidaknya

  • Tukang Servis Spesialis   Kesempatan Atau Kesialan?

    Dayat menyodorkan layar ponselnya ke depan muka Luki dengan tangan yang sedikit gemetar. "Anjir, Luk! Besok pagi gue disuruh ke rumahnya lagi buat ketemu suaminya. Ada apa ya? Perasaan gue nggak enak banget, asli."Luki sempat terdiam membaca pesan itu, tapi sedetik kemudian ia malah tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak kopinya. "Hahaha! Kenapa panik gitu muka lo? Kenapa? Abis ketahuan mesum ya lo sama Clara?"Wajah Dayat mendadak panas. Ia langsung mendorong pelan bahu Luki hingga temannya itu hampir terjungkal dari kursi kayu warkop. "Sialan lo! Omongan lo dijaga, kampret!"Dayat memijat pelipisnya, berusaha meredam rasa cemas yang mulai menggerogoti pikirannya. Bayangan wajah tegas suami Clara saat berpapasan di tangga tadi kembali muncul. "Duh, gimana nih, Luk? Kalau bukan soal kerjaan gimana? Mati gue," tanya Dayat dengan nada yang benar-benar bingung.Luki berhenti tertawa, ia menyesap sisa kopinya lalu menatap Dayat dengan lebih serius, meski masih ada sisa seringai di

  • Tukang Servis Spesialis   Kesempatan Tak Terduga

    Suasana kamar yang tadinya panas dan penuh gairah seketika berubah menjadi medan tempur yang mencekam. Jantung Dayat seolah dipompa paksa oleh rasa takut yang luar biasa setelah mendengar kabar dari Luki di telepon. "Terus ini AC-nya udah benar belum, Yat?" tanya Clara dengan suara gemetar. Ia tidak lagi memikirkan gairah, melainkan bagaimana menutupi jejak sebelum badai datang. Tangannya dengan cekatan meraih pakaian yang berantakan di lantai. Dayat memeriksa panel AC sejenak dengan tangan yang dingin. "Udah, Tan. Udah aman ini, suaranya udah halus," jawab Dayat cepat. Ia menyambar kaus dan celananya, memakainya dengan gerakan secepat kilat hingga hampir kehilangan keseimbangan. "Yaudah kalau gitu kamu keluar dulu deh, tunggu di teras depan aja. Nanti saya bawakan kopi," ucap Clara, berusaha mengatur napas agar terlihat normal meskipun wajahnya masih pucat pasi. "Siap, Tan. Makasih ya, Tan," sahut Dayat. Ia segera mencangklong tas perkakasnya, memastikan tidak ada baut atau o

  • Tukang Servis Spesialis   Pelayanan Spesialis Di Siang Hari

    "Maksud Tante servis gimana ya, Tan?" tanya Dayat pelan. Suaranya terdengar pecah, berusaha keras menahan gugup yang kini menjalar ke seluruh sarafnya saat tangan Clara semakin berani.Clara mendongak, menatap mata Dayat dengan tatapan yang sangat haus. "Suamiku jarang banget pulang, Yat. Aku butuh servis dari kamu," bisik Clara. Tangannya kini mendarat tepat di atas kejantanan Dayat yang terbungkus celana kerja, mulai mengelusnya dengan gerakan memutar yang provokatif."T-tapi Tan... saya—" ucapan Dayat terputus.Clara justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan. "Badan kamu keras, ya.”Dayat tidak bisa berbohong lagi saat jemari Clara menjamah bidang dadanya.Clara menarik ujung ikat pinggang Dayat hingga terlepas dari pengaitnya. Ia menurunkan ritsleting dan menarik celana Dayat ke bawah hingga ke lutut. Tanpa ragu, Clara mengeluarkan kejantanan Dayat dari balik kain terakhirnya.“Tan– jangan— saya—”"Udah sebesar ini kamu masih bilang takut, Yat?" tanya Clara den

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran Dan Pertanyaan

    Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpung ada loker nih! Gaji oke, benefit lengkap. Gimana?” Dayat tertegun. Andini adalah teman satu angkatannya dulu di Teknik Elektro, orang yang tahu persis betapa briliannya otak Dayat sebelum ia terpaksa drop out. Kata "Engineer" itu terasa seperti sembilu yang mengiris harga dirinya. Seharusnya itu gelarnya sekarang. Seharusnya ia duduk di ruangan ber-AC dengan kemeja rapi, bukan berlumuran oli di gudang gelap milik istri orang kaya. "Gaji oke, benefit lengkap..." gumam Dayat lirih. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berjamur. Tawaran Andini adalah jalan keluar yang bersih. Tapi bayangan utang bokapnya yang ratusan juta dan tenggat waktu dari rentenir membuat angka "gaji oke" itu t

  • Tukang Servis Spesialis   Lolos Dan Di Nanti

    Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket kerjanya, menyumbat paru-parunya dengan sensasi yang menyesakkan sekaligus candu. Begitu sampai di area ruko depan kantor pemasaran, Dayat langsung membanting standar motornya di depan warkop langganan. Ia berjalan terburu-buru, wajahnya tegang, keringat dingin masih mengucur dari pelipisnya. Di sudut warkop, Luki sedang asyik menyesap kopi hitam sambil menghisap rokok dalam-dalam. Melihat kedatangan Dayat yang berantakan, Luki hanya menyeringai lebar. "Wuidih... santai, Yat! Kayak abis liat kuntilanak siang bolong lo," goda Luki sambil menarik kursi plastik di depannya. Dayat tidak menyahut, ia merasa sudah di kerjai oleh kawannya itu. Ia justru langsung duduk dan menggebrak meja pela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status