Home / Male Adult / Tukang Servis Spesialis / Tekanan Yang Lembut

Share

Tekanan Yang Lembut

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-05-24 12:00:04

"Yaaa... mau gimana lagi, Mir," ucap Dayat sambil mengulas senyum tipis, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka setelah mobil Niken melaju pergi.

Dayat kemudian meneguk sisa kopinya yang sudah mendingin, lalu menatap Mira yang masih duduk santai di sofa rotan. "Oh iya, kamu mau langsung pulang sekarang apa masih mau di sini dulu sebentar?" tanya Dayat dengan nada bicara yang ramah dan sopan.

Mira langsung memundurkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Panggilan Penting?

    Mendengar ucapan Dayat, Astrid tertawa kecil lalu makin merapatkan tubuh polosnya ke pelukan pria itu. Mereka berbaring berdua di balik selimut tipis, saling melempar senyum danusapan mesra di bawah semilir angin sepoi-sepoi yang masuk dari celah jendela vila.Jemari Astrid menelusuri dada tegap Dayat yang masih hangat, membelai pelan otot-ototnya yang rileks. Namun, di tengah keheningan yang romantis itu, mendadak terdengar suara keroncongan pelan dari perut Astrid.Astrid tersentak kecil, lalu tertawa malu sambil menutupi wajahnya di dada Dayat."Duh, Mas... gara-gara kamu nih," keluh Astrid manja sambil mendongak. "Aku jadi laper banget..."Dayat terkekeh geli melihat tingkah wanita di sampingnya. Ia mencium kening Astrid singkat lalu mengusap rambutnya yang sedikit berantakan."Ya iyalah laper, kan tadi udah ngeluarin tenaga ekstra," goda Dayat sambil mencubit pelan hidung Astrid. "Yaudah, ayo kita cari makan."Astrid memiringkan kepalanya, menatap Dayat penasaran. "Makan di mana

  • Tukang Servis Spesialis   Keringat Gairah

    Astrid merayap pelan di atas tubuh Dayat, gerakannya begitu santai dan tenang namun sarat akan godaan. Luapan kehangatan dari tubuh mulusnya terasa begitu dekat saat ia mengangkangi paha tegap pria itu.Dengan tatapan mata sayu yang mengunci pandangan Dayat, Astrid memposisikan dirinya tepat di atas kejantanan Dayat yang kembali menegang keras."Mas... liat aku," bisik Astrid halus. Bibirnya mengukir senyum tipis yang nakal.Dayat menelan ludah, memegangi kedua pinggul mulus Astrid dengan cengkeraman erat. "Jangan pelan-pelan banget, Mbak... makin bikin gemes kalau digantungin gini."Astrid terkekeh pelan. Jemarinya yang lentur bergerak ke bawah, meraih batang perkasa Dayat lalu mengarahkannya tegak lurus, menyejajarkannya tepat di bibir kewanitaannya yang sudah sangat basah dan hangat."Sabar dong, Mas Montir... yang nikmat itu justru pas proses masuknya," goda Astrid sambil menggoyangkan pinggulnya perlahan, membiarkan kebasahan intinya mengolesi ujung kejantanan Dayat."Shhh... uda

  • Tukang Servis Spesialis   Tarik Ulur Kenikmatan

    "Eits, maksudnya vila penginapan kita, Mas Dayat! Mikir apa kamu? Kok mukanya langsung panik gitu, hahaha!" tawa Astrid meledak melihat reaksi kaget Dayat. Ia melepaskan genggaman tangannya sambil menepuk bahu Dayat gemas."Aduh, Mbak... ngomong tuh yang jelas, bikin kaget aja," gerutu Dayat sambil mengelus dadanya yang sempat berdebar kencang, meski akhirnya ikut tertawa pasrah."Ya udah, yuk! Mumpung laporan udah dikirim dan kita lagi 'bebas tugas' nunggu arahan Bu Clara, mending kita geser ke vila penginapan sekarang. Bisa rebahan beneran, mandi, terus santai," ajak Astrid bersemangat.Tanpa membuang waktu, mereka berdua langsung merapikan perlengkapan yang berserakan. Astrid memasukkan laptop dan dokumennya ke dalam tas, sementara Dayat membereskan tas perkakas serta memastikan pintu dan jendela proyek resort sudah terkunci rapat.Setelah semua barang masuk ke bagasi mobil, Dayat melajukan kendaraannya pelan menelusuri jalanan kecil nan asri menuju kompleks vila penginapan yang ta

  • Tukang Servis Spesialis   Kesempatan Dalam Kesempitan

    Dayat menyingsingkan lengan bajunya sampai ke siku, menatap langit-langit dapur yang masih terbuka itu dengan raut wajah mantap."Mbak, aku bakal naik ke dalam plafon sekalian," ujar Dayat sambil memeriksa saku celananya untuk memastikan ponselnya aman. "Aku mau rayap seluruh celah di atas, ngecek sejauh mana kerusakan kabelnya sekaligus foto-fotoin tiap sudut buat bukti."Astrid menatap Dayat dengan rasa khawatir yang tidak bisa disembunyikan. "Hah? Kamu mau masuk ke dalam sana, Mas? Maksudku... di atas kan gelap, pengap, terus takutnya roboh atau ada binatang...""Tenang aja, Mbak. Kayu penopangnya masih kuat kok. Lagian kalau cuma diliat dari bawah sini gak bakal keliatan seberapa parah hancurnya," potong Dayat menenangkan. "Mbak Astrid tunggu di bawah aja ya, pegangin kursinya pas aku naik."Dengan sigap, Dayat memanjat kursi lalu mendorong tubuhnya ke atas lewat lubang kontrol plafon. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Dayat sudah menghilang di kegelapan langit-langit, disusul sua

  • Tukang Servis Spesialis   Inspeksi Resort

    Keesokan harinya, perjalanan panjang mereka akhirnya sampai pada tujuan. Mobil yang dikendarai Dayat memasuki area proyek pembangunan resort yang tampak megah sekaligus asri. Dayat memarkirkan mobilnya di area parkir yang agak teduh, lalu turun untuk meregangkan otot-otot tubuhnya setelah berjam-jam menyetir.Dayat bersandar di depan kap mobil sambil menyalakan sebatang rokok. Dari posisinya, ia memperhatikan sekitar area proyek yang masih setengah jadi, sembari menunggu Astrid yang sedang pergi ke kantor pengelola untuk mengambil kunci akses.Tidak lama kemudian, langkah kaki Astrid terdengar mendekat. Dayat menoleh dan langsung mendapati Astrid berjalan ke arahnya dengan senyuman cerah, sambil menggoyangkan gantungan di tangannya. Dayat memperhatikan jemari Astrid yang ternyata memegang dua buah kunci dengan gantungan yang berbeda."Gimana, Mbak? Udah beres urusan kuncinya?" tanya Dayat sambil mengembuskan asap rokoknya."Udah dong," jawab Astrid riang. Ia menunjukkan kedua kunci it

  • Tukang Servis Spesialis   Obrolan Ringan Menggoda

    Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Astrid, Dayat sempat menahan napas sesaat. Namun, instingnya sebagai laki-laki langsung mengambil alih. Ia tidak mau kalah lagi. Dayat menoleh, menatap langsung ke dalam mata Astrid dengan senyuman yang sengaja dibuat semanis dan senakal mungkin."Khusus buat Mbak Astrid mah... free," bisik Dayat, sengaja menekankan kata terakhirnya tepat di depan wajah cewek itu. "Gak perlu bayar pakai uang, Mbak."Astrid seketika melebarkan senyumnya, tampak sangat puas karena berhasil memancing reaksi yang ia inginkan dari Dayat.Namun, sedetik kemudian Dayat langsung memundurkan kepalanya, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat sambil tertawa renyah. Sisi canggungnya kembali muncul karena tidak terbiasa membahas urusan "ranjang" seserius ini dengan rekan kerjanya sendiri."Aduh... tapi lagian kenapa jadi malah ngomongin gituan sih, Mbak?" keluh Dayat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Aku jadi canggung banget ini, Mbaaakk... hahahaha!"Ast

  • Tukang Servis Spesialis   Pacar? Drama Apa Lagi ini!

    Semburat cahaya fajar belum sepenuhnya muncul ketika Ajeng perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Dayat masih tertidur sangat lelap, efek dari "servis penutup" yang berlanjut hingga larut malam.Ajeng tersenyum mengingat kejadian semalam, lalu duduk dan menggoyang-goyang pelan b

  • Tukang Servis Spesialis   Gangguan Di Tengah Gairah

    Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kal

  • Tukang Servis Spesialis   Peringatan Tak Kasat Mata

    "Aduh… M-Mbaakk!! Ati-ati dong!" seru Dayat panik. Ia langsung bergerak maju, berusaha meraih lengan Niken. Waktu seolah membeku. Dayat terpaku di tempatnya. Matanya yang tak sempat berpaling merekam dengan sangat jelas setiap inci kulit Niken yang tanpa sehelai benang pun. Dari dada yang berd

  • Tukang Servis Spesialis   Langkah Yang Salah!

    "Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status