LOGINDi dalam kamar Ajeng yang bernuansa sederhana, aroma harum sabun mandi masih menguar dari tubuh Dayat. Pria itu baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan sedang mengancingkan kemeja santai yang diberikan Clara tempo hari. Cklek... Pintu kamar terbuka sedikit, lalu sosok Ajeng menyembul dari balik pintu sebelum akhirnya melangkah masuk. Ia membawa aroma wangi minyak wangi melati yang lembut, tampaknya juga sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi. "Mas Dayat," panggil Ajeng, melangkah mendekat sambil memperhatikan Dayat yang sedang merapikan kerah kemejanya di depan cermin. "Iya, Jeng? Kenapa?" tanya Dayat tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju pada pantulan dirinya di cermin. "Nanti habis ini kita makan malam dulu di meja makan sama Ibu, ya. Baru habis itu kita langsung jalan ke rumah Mbak Cici," ucap Ajeng memberi tahu rencana m
"Iya, Jeng, itu benar semua. Karena kamu di kota, jadi kamu enggak dengar beritanya," sahut Nindi mantap, meyakinkan Ajeng yang masih syok. Nindi mengelus dadanya sendiri sambil mengembuskan napas lega. "Aku malah bersyukur banget suamiku kerjanya di kota. Jadi ke sini cuma sebulan sekali, itu pun paling lama tiga hari sampai seminggu. Jadi aman dari radar dia. Pokoknya, aku wanti-wanti ya, kamu harus hati-hati banget! Kalau enggak, mas gantengmu ini nanti bakal digodain habis-habisan sama Mbak Cici." Mendengar penuturan panjang lebar dari sahabatnya, penyesalan langsung tergambar jelas di wajah Ajeng. Ia menepuk jidatnya pelan. "Duh... nyesel juga aku tadi pakai nawarin Mas Dayat benerin sanyonya," gumam Ajeng lemas. Ajeng kemudian memutar tubuhnya, melirik tajam sekaligus cemas ke arah Dayat. Merasa ditatap intens, Dayat balas menatap Ajeng dengan sebelah alis terangkat,
"Iya nih, Mbak. Aku baru pulang tadi siang sampai sini," jawab Ajeng ramah sembari mengulurkan tangan, menyalami Cici dengan begitu akrab. Matanya kemudian melirik ke arah ember yang dibawa Cici. "Mbak Cici sendiri habis dari mana?"Cici membetulkan lilitan kain jarit di dadanya yang agak melonggar sebelum menjawab. "Ini lho, Mbak habis dari sungai, mandi sekalian nyuci baju sedikit."Ajeng mengernyitkan dahinya, tampak agak heran. "Lho, kenapa mandi di sungai, Mbak? Tumben banget, biasanya kan di kamar mandi rumah."Cici langsung menghela napas panjang dengan raut wajah lelah. "Duh, Jeng... itu lho, mesin sanyo di rumah mati sudah tiga hari ini. Belum sempat panggil tukang servisan dari pasar, makanya terpaksa mandinya numpang ke sungai dulu.""Oh... begitu," Ajeng mangut-mangut paham.Lensa mata Cici kemudian bergeser, melewati pundak Ajeng dan langsung tertuju pada sosok Dayat yang sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam gubuk. Senyum penasaran terukir di wajah Cici."Eh, Jeng..
"Nindi!! Ngagetin tahu enggak?!" teriak Ajeng spontan, ekspresi terkejutnya langsung berubah menjadi tawa kesal yang renyah.Ajeng dengan cepat melepaskan pelukannya dari lengan Dayat, lalu bangkit berdiri dan melangkah lebar menghampiri wanita berpayung itu. Ternyata sosok tersebut adalah Nindi, sahabat kecilnya sejak zaman main lumpur di sawah dulu.Nindi menurunkan payungnya, matanya langsung melirik genit ke arah Dayat yang masih duduk di atas kasur busa dengan wajah yang perlahan kembali normal setelah sempat jantungan."Hehe, lagian pintu ditutup rapat banget sore-sore begini," goda Nindi sambil menyenggol bahu Ajeng dengan sikunya. Ia berbisik, tapi suaranya cukup terdengar. "Jeng, itu siapa? Ganteng banget, bagi-bagi dong."Ajeng langsung menoleh ke arah Dayat, lalu kembali menatap Nindi. Dengan dagu yang sengaja diangkat dan senyuman super lebar yang tampak begitu menyombongkan diri, Ajeng menjawab dengan nada bangga."Kenalin, ini Mas Dayat. Pacar aku dari kota!" ucap Ajeng
Suara deru hujan di luar perlahan mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari atap rumbia ke atas tanah. Di dalam gubuk yang remang dan hangat, detak jantung Dayat dan Ajeng yang semula berpacu liar perlahan mulai kembali ke ritme normalnya.Dayat merebahkan tubuhnya di samping Ajeng, lalu menarik kain jarik panjang yang terlipat di dekat bantal untuk menutupi tubuh polos mereka berdua dari terpaan angin malam yang mulai terasa. Dengan lembut, Dayat membawa Ajeng ke dalam pelukannya. Ajeng langsung merapat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dayat yang masih terasa hangat dan sedikit berkeringat."Capek, Jeng?" bisik Dayat lembut sembari mengusap-ngusap lengan atas Ajeng dengan jemarinya."He-eh..." sahut Ajeng pelan dengan suara yang agak serak. Ia mendongak sedikit, menatap dagu Dayat dengan tatapan yang luar biasa manja. "Tapi senang banget. Makasih ya, Mas Dayat sayang..."Dayat tersenyum tipis. Ia menundukkan kepalanya sebentar untuk mengecup puncak kepala Ajeng
Dayat yang melihat pintu sudah tertutup rapat langsung menyandarkan punggungnya ke dinding bambu. Melihat Ajeng yang mulai sibuk menata gelas di atas tikar, sebuah ide usil melintas di kepala Dayat. Ia tersenyum tipis, menatap Ajeng dengan tatapan yang sengaja dibuat memicing polos."Ngangetin badannya pakai kopi, Jeng?" tanya Dayat memancing.Ajeng yang sedang memegang sendok seketika menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah Dayat, lalu senyum nakal yang sangat dikenal Dayat perlahan terukir di bibirnya."Ya enggak dong, Mas..." jawab Ajeng dengan suara yang sengaja diayun manja. "Mumpung lagi hujan deras begini, kan enaknya bisa kelonan di sini."Dayat langsung menepuk jidatnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aduh, Jeng... ini lho gubuk ibumu. Kamu ada-ada saja deh pikirannya.""Ya enggak apa-apa, Mas, lagian juga enggak bakal ada orang yang ke sini kalau hujan deras begini," sahut Ajeng santai, sama sekali tidak merasa keberatan.Ajeng kemudian bangkit berdiri. Langk
Semburat cahaya fajar belum sepenuhnya muncul ketika Ajeng perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Dayat masih tertidur sangat lelap, efek dari "servis penutup" yang berlanjut hingga larut malam.Ajeng tersenyum mengingat kejadian semalam, lalu duduk dan menggoyang-goyang pelan b
Dayat melangkah ke meja rias dengan napas yang masih sedikit memburu. Begitu layar ponselnya menyala di tengah temaram lampu kamar, ia mengernyitkan dahi membaca nama yang tertera di sana."Siapa, Mas?" tanya Ajeng dari atas ranjang, posisinya masih telentang dengan daster yang setengah tersingkap.
Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kal
Dayat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib Ajeng yang tiada habisnya menggoda imannya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menepuk pelan kantong plastik di atas meja."Sudah, ah. Jangan ngaco kamu, Jeng," kata Dayat sambil berusaha mengalihkan fokus.







