LOGINTok ...
Tok ... Tok ... Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat. Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang. "Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto." Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald. Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?" "Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati." "Iya. Silakan." "Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh. Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar." "Tunggu." Faela menghentikan langkahnya. Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf." Kalimat itu terdengar tulus. Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tidak pernah mendengar permintaan Nyonya." "Aku tahu." "Saya juga berharap Nyonya melupakan semuanya." Laura tidak menjawab. Faela keluar dari kamar dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup, Laura menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Apa yang sudah kulakukan?" Seharian itu Faela berusaha menghindari Laura. Dia memilih membersihkan gudang. Mencuci gorden. Menyetrika pakaian. Apa pun agar tidak perlu berhadapan langsung dengan majikannya. Namun, pikirannya tidak bisa tenang. Ucapan Laura terus terngiang. "Kalau kamu menolak ... aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih bisa melihatmu bekerja di rumah ini." Faela memejamkan mata. Dia tidak yakin itu ancaman. Laura bukan perempuan yang suka membentak atau memperlakukan pekerja dengan buruk. Justru selama ini Laura dikenal baik hati. Itulah yang membuat Faela semakin bingung. Sebesar apa penderitaan seorang istri hingga sanggup mengucapkan permintaan seperti itu? "Apa Tuan Bald tidak bisa memberikan kepuasan di ranjang kepada Nyonya? Atau ...." Faela langsung menggelengkan kepalanya perlahan. Mencoba melupakan. ----------- Sore hari, Bald pulang dijemput oleh Edward. Begitu turun dari mobil, Bald langsung mencari istrinya. "Laura ...." Perempuan itu yang sedang duduk membaca majalah fashion langsung segera menoleh. "Bald, kamu pulang lebih awal? Tumben ...." Bald tersenyum. "Aku bawakan martabak." Mata Laura langsung berbinar. "Benarkah? Ini luar biasa. Kamu sudah jarang, hampir tak pernah bawakan makanan saat pulang dari kantor." "Iya. Tadi lewat, ingat kamu suka." Bald mengangkat dua kotak martabak manis dan gurih dengan brand mahal itu sambil tersenyum bangga. Melihat ekspresi suaminya, hati Laura justru terasa semakin sesak. Pria itu sama sekali tidak tahu badai apa yang sedang menghampiri rumah tangga mereka. "Kok, malah diam?" tanya Bald. "Enggak apa-apa, Sayang. Aku ... terkejut dan terharu. Sudah lama sekali kamu tidak membawakan hal seperti ini." Laura jadi merasa bersalah dengan keinginan untuk bertukar ranjang. "Iya, kebetulan tadi lewat dan aku ingat kamu suka. Lagi pula, tadi Edward juga cerita kalau hal kecil seperti ini membuat hubungan semakin hangat. Jadi, apa salahnya aku coba," ucap Bald sambil tersenyum, lalu merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan. Edward. Ternyata pria itu yang membuat Bald memberikan perhatian kecil ke Laura. Hal itu membuatnya semakin merasa ingin mencicipi suami pembantunya itu. Setelah makan martabak, Laura merasa hatinya sedikit senang. Bald sudah mandi dan ke kamar utama. Laura sudah menyiapkan teh import dan duduk di dalam ruangan kamar yang luas. Tiba-tiba Bald memeluk Laura dari belakang. Mengecup pipi, kemudian ke telinga dan leher. Memberikan sensasi rangsangan luar biasa. Membangkitkan gairah Laura. Bald pun menggendong istrinya untuk ke atas ranjang. Dia menyentuh kaki jenjang wanita itu dan mengecupnya perlahan. Perlahan naik, ke paha ... lalu ke bagian nikmat yang membuat Laura menggeliat. "Ahhhhh ... Sayang ... Bald ...." Bald masih mengecup, lalu lidahnya bermain di area lembah kenikmatan istrinya. Dia belajar banyak hal dari percakapan dengan Edward. Dan hari ini, dia akan praktekan. "Meski aku tidak bisa berdiri tegak dan loyo, setidaknya jari dan lidahku semoga bisa memuaskanmu, Sayang," batin Bald yang tak mau istrinya bersedih setiap hari. ----------- Malam makin larut, hujan turun rintik-rintik. Edward dan Faela makan malam di kamar kecil mereka. Hari itu Faela tampak jauh lebih pendiam. Edward akhirnya meletakkan sendoknya. "Kamu cerita." "Apa?" "Ada yang mengganggu pikiranmu." Faela tersenyum tipis, "Kamu memang selalu tahu." "Kita suami istri." Faela menggigit bibir bawahnya. Berkali-kali dia ingin menceritakan permintaan Laura. Namun setiap kali kata-kata itu hendak keluar, bayangan kehilangan pekerjaan langsung muncul. Kalau Tuan Bald mengetahui semua ini ... Belum tentu yang dipecat hanya dirinya. Edward pun bisa ikut kehilangan mata pencaharian. "Mas ...." "Hmm?" "Kalau suatu hari nanti kita harus keluar dari rumah ini ...." Edward tersenyum santai. "Ya kita cari kerja lagi." "Enggak takut?" "Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan pekerjaan." Kalimat itu membuat dada Faela semakin sesak. Dia memaksakan senyum. "Tapi cari kerja sekarang susah." Edward mengangguk. "Memang." "Lalu?" "Aku masih punya dua tangan." Edward mengangkat kedua telapak tangannya. "Selama masih sehat, kita pasti bisa makan." Faela menundukkan kepala. Air matanya hampir jatuh. Dia merasa semakin bersalah karena menyembunyikan sesuatu dari suaminya. Tiba-tiba ada panggilan telepon masuk dari ponsel milik Faela. Bergegas wanita itu mengangkat panggilan telepon yang berasal dari orang tuanya di desa. "Hallo, Faela. Maaf ini Om langsung telepon kamu malam-malam begini karena ibumu sakit parah. Saat ini harus dibawa ke rumah sakit, tetapi untuk memanggil ambulans saja harus membayar sejumlah uang. Dokter di klinik bilang kalau Ibumu harus segera dibawa ke ICU. Apa kamu bisa kirim uang sekarang juga?" Faela terkejut bagai disambar petir di tengah malam. "A-apa? Ibu sakit apa, Om? Ya, aku kirim ke rekening Ibu. Kalau aku kirim lima ratus ribu apakah cukup?" "Mungkin cukup untuk panggil ambulance. Nanti Om kabari lagi. Itu Ayahmu pingsan karena tidak kuat lihat Ibumu kesakitan." "Ya, Om. Tolong urus Ibu dan Ayah dulu. Aku transfer uangnya." Faela merasa terkejut dengan kabar tersebut dan setelah panggilan telepon berakhir langsung dia masuk ke aplikasi online dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening ibunya. "Ada apa, Sayang?" tanya Edward dengan khawatir. "Ibu sakit parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Saat ini di klinik dan butuh biaya memanggil ambulans. Aku kirim uang terakhirku lima ratus ribu, Mas." "Ya sudah, tak apa. Besok coba kita izin pulang ke desa, bagaimana?" Edward ikut khawatir. "Mas, uang kita habis. Kalau pulang tanpa ubah, harus bagaimana?" Faela menggigit bibir bawahnya, resah gelisah. "Aku masih ada uang simpanan satu juta, Sayang. Aman. Bisa digunakan pulang ke desa." Edward berharap uang itu bisa meringankan keresahan istrinya. "Mas, itu kurang ...." Faela menghela nafas panjang. Dia merasa kenapa hidup sangat tidak adil. Dia mencoba menjaga diri dari tawaran Nyonya Laura, tetapi justru kondisi saat ini berkata berbeda. Dia butuh uang. "Apa aku terima saja?" batin Faela berkecamuk."Kalau aku jadi ratu ... kamu harus jadi rajanya." Guntur kembali menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse mewah itu hingga berderak pelan. Namun di dalam ruangan, badai yang jauh lebih liar tengah berlangsung. Edward mengangkat tubuh Laura dengan mudah, menjauhkannya dari genangan darah yang perlahan meresap ke dalam karpet sutra. Ia membawa ratunya menuju ranjang king-size di kamar utama penthouse, membaringkan wanita itu dengan sentuhan yang memadukan kekasaran seorang pembunuh dan pemujaan yang buta. Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura dilucuti tanpa sisa kesabaran, robek di bagian bahu tatkala tangan kokoh Edward merenggutnya. Pria itu mengungkung tubuh Laura sepenuhnya, menatap setiap inci kulit wanita itu dengan mata yang gelap, lapar, dan sangat posesif. "Tidak akan ada lagi yang berani menatapmu, apalagi menyentuhmu," geram Edward rendah, napas panasnya menerpa dada Laura. "Malam ini, aku akan menghapus setiap ingatan tentang ayah maupun anak sialan it
"Dasar lelaki tak tahu diri! Sial!"Tubuh Victor menegang kaku bagaikan patung batu. Hawa dingin dari laras pistol peredam milik Edward yang menempel di tengkuknya seolah membekukan darah di pembuluhnya. Sisa-sisa arogansi yang beberapa detik lalu menguasai wajah pewaris Bald itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepanikan instingtual seekor mangsa yang tertangkap masuk ke dalam perangkap."Kau ...." suara Victor bergetar, mencoba mempertahankan sisa wibawanya meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau berani menarik pelatuk itu, video rekaman pembunuhan ayahku akan tersebar ke seluruh dunia. Sistem di ponselku ....""Sistem Dead Man's Switch milikmu yang terenkripsi itu?" potong Edward dengan nada mengejek yang sangat dingin.Dari sudut ruangan, Laura berjalan dengan langkah gemulai mendekati sofa. Ia memungut jas basah Victor, merogoh saku bagian dalamnya, dan mengeluarkan ponsel pintar milik pria itu. Dengan senyum seringai yang begitu mematikan, Laura mengetuk layar ya
Pukul sembilan tepat. Hujan badai yang mengguyur kota sejak sore belum juga mereda. Kilat sesekali menyambar, menerangi kaca jendela penthouse mewah di lantai empat puluh yang menjadi arena jebakan malam ini. Di dalam ruangan, lampu sengaja diredupkan, menyisakan pendaran keemasan dari lampu hias dan perapian elektrik. Alunan musik jazz klasik mengalun pelan, menyamarkan ketegangan yang mengudara kental.Pintu ganda penthouse terbuka dengan bunyi klik pelan. Victor Bald melangkah masuk, mengibaskan tetesan air hujan dari mantel panjangnya. Senyum pongah menghiasi wajah tirusnya yang angkuh. Matanya langsung tertuju pada sosok Laura yang tengah berdiri di dekat minibar, menuangkan cairan amber ke dalam dua gelas kristal.Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura menempel bak kulit kedua, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan gaun yang tinggi memamerkan paha putihnya yang jenjang setiap kali ia bergerak. Bagi Victor, pemandangan itu adalah trofi kemenangannya. Ia
Jarum jam di dinding marmer baru menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan deras yang mengguyur kota sejak senja kini berubah menjadi badai, menghantam kaca-kaca jendela mansion keluarga Bald dengan suara bergemuruh.Di ruang persenjataan bawah tanah yang tersembunyi di balik garasi utama, Edward berdiri di depan meja logam. Ia sedang memeriksa perangkat kloning peretas nirkabel seukuran kotak korek api, memastikan alat mematikan itu berfungsi sempurna sebelum pertemuan mereka dengan Victor pukul sembilan nanti. Pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah terselip rapi di balik jas hitamnya.Namun, indra predator Edward yang tajam tiba-tiba menangkap suara sekecil apa pun. Derit halus sol sepatu bot di atas lantai beton. Bukan hanya satu orang, melainkan tiga.Edward tidak membalikkan badan, tangannya tetap tenang merakit sisa peralatannya. "Kalian tahu, menyelinap di belakangku saat aku sedang memegang senjata adalah cara tercepat untuk mati."Tiga pria berseragam hitam melangkah kelu
"Ternyata apa yang terlihat indah, terkadang tidak seindah itu ... apa aku sudah salah melangkah, ya?" batin Laura bergejolak.Pemandangan kota metropolitan yang membentang di bawah sana seakan menjadi saksi bisu dari keliaran yang meledak di lantai teratas menara Bald Corporation. Dinding kaca yang dingin berembun oleh napas Laura yang tersengal, berpadu dengan panas tubuh Edward yang mengungkungnya tanpa ampun. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dihujamkan Edward dipenuhi oleh rasa cemburu yang gelap, amarah yang mendidih, dan kepemilikan mutlak."Katakan padaku," geram Edward di sela-sela ciuman basahnya di leher Laura, jemarinya mencengkeram pinggul wanita itu dengan kuat, mengklaim setiap jengkal kulit yang berani ditatap oleh Victor beberapa menit lalu. "Katakan siapa penguasa tubuh ini, Laura.""Hanya kau... ahh... hanya kau, Edward," rintih Laura tertahan, jari-jarinya meremas erat rambut gelap pria itu, menariknya semakin dalam ke pusaran gairah yang menyesakkan dada.Penyat
Ketegangan di ruang rapat lantai teratas itu terasa begitu pekat, seolah menyedot seluruh oksigen yang tersisa. Laras pistol Edward masih terarah kokoh di antara kedua mata Victor Bald. Jari telunjuk pengawal itu sudah menekan pelatuk setengah jalan. Satu tarikan napas saja, dan kepala pewaris sah keluarga Bald itu akan berlubang.Namun Laura, dengan ketenangan yang mengerikan, mengangkat tangan kirinya dan menyentuh lengan Edward yang tegang."Turunkan senjatamu, Edward," perintah Laura pelan, namun nadanya mutlak tak terbantahkan.Rahang Edward mengeras hingga otot-ototnya menonjol. Matanya memancarkan kilatan pembunuh yang haus darah. "Dia memegang bom waktu, Laura. Jika aku membunuhnya sekarang, kita bisa membersihkan tim IT-nya nanti.""Dan memicu protokol keamanan otomatis yang akan mengirimkan video itu ke seluruh dunia dalam hitungan menit?" sahut Victor dengan tawa meremehkan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. "Oh, ayolah, anjing penjaga. Jangan bodoh. Kau pi







