Home / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / Bab 4 — Pertama Kali Dengan Lidah

Share

Bab 4 — Pertama Kali Dengan Lidah

Author: SamL9
last update publish date: 2026-06-30 23:50:09

Tok ...

Tok ...

Tok ...

Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.

Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang.

"Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."

Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.

Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?"

"Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati."

"Iya. Silakan."

"Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.

Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar."

"Tunggu."

Faela menghentikan langkahnya.

Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."

Kalimat itu terdengar tulus.

Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tidak pernah mendengar permintaan Nyonya."

"Aku tahu."

"Saya juga berharap Nyonya melupakan semuanya."

Laura tidak menjawab.

Faela keluar dari kamar dengan langkah cepat.

Begitu pintu tertutup, Laura menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Apa yang sudah kulakukan?"

Seharian itu Faela berusaha menghindari Laura. Dia memilih membersihkan gudang. Mencuci gorden. Menyetrika pakaian. Apa pun agar tidak perlu berhadapan langsung dengan majikannya. Namun, pikirannya tidak bisa tenang.

Ucapan Laura terus terngiang. "Kalau kamu menolak ... aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih bisa melihatmu bekerja di rumah ini."

Faela memejamkan mata. Dia tidak yakin itu ancaman. Laura bukan perempuan yang suka membentak atau memperlakukan pekerja dengan buruk. Justru selama ini Laura dikenal baik hati.

Itulah yang membuat Faela semakin bingung. Sebesar apa penderitaan seorang istri hingga sanggup mengucapkan permintaan seperti itu?

"Apa Tuan Bald tidak bisa memberikan kepuasan di ranjang kepada Nyonya? Atau ...." Faela langsung menggelengkan kepalanya perlahan. Mencoba melupakan.

-----------

Sore hari, Bald pulang dijemput oleh Edward. Begitu turun dari mobil, Bald langsung mencari istrinya. "Laura ...."

Perempuan itu yang sedang duduk membaca majalah fashion langsung segera menoleh. "Bald, kamu pulang lebih awal? Tumben ...."

Bald tersenyum. "Aku bawakan martabak."

Mata Laura langsung berbinar. "Benarkah? Ini luar biasa. Kamu sudah jarang, hampir tak pernah bawakan makanan saat pulang dari kantor."

"Iya. Tadi lewat, ingat kamu suka." Bald mengangkat dua kotak martabak manis dan gurih dengan brand mahal itu sambil tersenyum bangga.

Melihat ekspresi suaminya, hati Laura justru terasa semakin sesak. Pria itu sama sekali tidak tahu badai apa yang sedang menghampiri rumah tangga mereka.

"Kok, malah diam?" tanya Bald.

"Enggak apa-apa, Sayang. Aku ... terkejut dan terharu. Sudah lama sekali kamu tidak membawakan hal seperti ini." Laura jadi merasa bersalah dengan keinginan untuk bertukar ranjang.

"Iya, kebetulan tadi lewat dan aku ingat kamu suka. Lagi pula, tadi Edward juga cerita kalau hal kecil seperti ini membuat hubungan semakin hangat. Jadi, apa salahnya aku coba," ucap Bald sambil tersenyum, lalu merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan.

Edward. Ternyata pria itu yang membuat Bald memberikan perhatian kecil ke Laura. Hal itu membuatnya semakin merasa ingin mencicipi suami pembantunya itu.

Setelah makan martabak, Laura merasa hatinya sedikit senang. Bald sudah mandi dan ke kamar utama. Laura sudah menyiapkan teh import dan duduk di dalam ruangan kamar yang luas.

Tiba-tiba Bald memeluk Laura dari belakang. Mengecup pipi, kemudian ke telinga dan leher. Memberikan sensasi rangsangan luar biasa. Membangkitkan gairah Laura.

Bald pun menggendong istrinya untuk ke atas ranjang. Dia menyentuh kaki jenjang wanita itu dan mengecupnya perlahan. Perlahan naik, ke paha ... lalu ke bagian nikmat yang membuat Laura menggeliat.

"Ahhhhh ... Sayang ... Bald ...."

Bald masih mengecup, lalu lidahnya bermain di area lembah kenikmatan istrinya. Dia belajar banyak hal dari percakapan dengan Edward. Dan hari ini, dia akan praktekan.

"Meski aku tidak bisa berdiri tegak dan loyo, setidaknya jari dan lidahku semoga bisa memuaskanmu, Sayang," batin Bald yang tak mau istrinya bersedih setiap hari.

-----------

Malam makin larut, hujan turun rintik-rintik. Edward dan Faela makan malam di kamar kecil mereka.

Hari itu Faela tampak jauh lebih pendiam.

Edward akhirnya meletakkan sendoknya. "Kamu cerita."

"Apa?"

"Ada yang mengganggu pikiranmu."

Faela tersenyum tipis, "Kamu memang selalu tahu."

"Kita suami istri."

Faela menggigit bibir bawahnya. Berkali-kali dia ingin menceritakan permintaan Laura. Namun setiap kali kata-kata itu hendak keluar, bayangan kehilangan pekerjaan langsung muncul.

Kalau Tuan Bald mengetahui semua ini ... Belum tentu yang dipecat hanya dirinya. Edward pun bisa ikut kehilangan mata pencaharian.

"Mas ...."

"Hmm?"

"Kalau suatu hari nanti kita harus keluar dari rumah ini ...."

Edward tersenyum santai. "Ya kita cari kerja lagi."

"Enggak takut?"

"Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan pekerjaan." Kalimat itu membuat dada Faela semakin sesak. Dia memaksakan senyum.

"Tapi cari kerja sekarang susah."

Edward mengangguk. "Memang."

"Lalu?"

"Aku masih punya dua tangan." Edward mengangkat kedua telapak tangannya. "Selama masih sehat, kita pasti bisa makan."

Faela menundukkan kepala. Air matanya hampir jatuh. Dia merasa semakin bersalah karena menyembunyikan sesuatu dari suaminya.

Tiba-tiba ada panggilan telepon masuk dari ponsel milik Faela. Bergegas wanita itu mengangkat panggilan telepon yang berasal dari orang tuanya di desa.

"Hallo, Faela. Maaf ini Om langsung telepon kamu malam-malam begini karena ibumu sakit parah. Saat ini harus dibawa ke rumah sakit, tetapi untuk memanggil ambulans saja harus membayar sejumlah uang. Dokter di klinik bilang kalau Ibumu harus segera dibawa ke ICU. Apa kamu bisa kirim uang sekarang juga?"

Faela terkejut bagai disambar petir di tengah malam. "A-apa? Ibu sakit apa, Om? Ya, aku kirim ke rekening Ibu. Kalau aku kirim lima ratus ribu apakah cukup?"

"Mungkin cukup untuk panggil ambulance. Nanti Om kabari lagi. Itu Ayahmu pingsan karena tidak kuat lihat Ibumu kesakitan."

"Ya, Om. Tolong urus Ibu dan Ayah dulu. Aku transfer uangnya."

Faela merasa terkejut dengan kabar tersebut dan setelah panggilan telepon berakhir langsung dia masuk ke aplikasi online dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening ibunya.

"Ada apa, Sayang?" tanya Edward dengan khawatir.

"Ibu sakit parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Saat ini di klinik dan butuh biaya memanggil ambulans. Aku kirim uang terakhirku lima ratus ribu, Mas."

"Ya sudah, tak apa. Besok coba kita izin pulang ke desa, bagaimana?" Edward ikut khawatir.

"Mas, uang kita habis. Kalau pulang tanpa ubah, harus bagaimana?" Faela menggigit bibir bawahnya, resah gelisah.

"Aku masih ada uang simpanan satu juta, Sayang. Aman. Bisa digunakan pulang ke desa." Edward berharap uang itu bisa meringankan keresahan istrinya.

"Mas, itu kurang ...." Faela menghela nafas panjang. Dia merasa kenapa hidup sangat tidak adil.

Dia mencoba menjaga diri dari tawaran Nyonya Laura, tetapi justru kondisi saat ini berkata berbeda.

Dia butuh uang.

"Apa aku terima saja?" batin Faela berkecamuk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kwetiau jumbo
pasti akan terjadi...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 133 - Bunuh Saja

    Perintah itu adalah pelatuk yang meledakkan kewarasan Edward. Sang algojo mengaum rendah, mengangkat tubuh Laura dari lantai dan membantingnya dengan kasar namun penuh perhitungan ke atas ranjang kabin yang luas. Jubah sutra hitam itu terlepas sepenuhnya, mengekspos kemolekan sempurna Laura di bawah cahaya temaram pesawat.Edward merobek sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan otot-ototnya yang bergemuruh tegang dan kejantanannya yang telah mengeras buas, berkedut menuntut pelampiasan dari rasa frustrasi dan protektivitas yang membakar dadanya.Pria itu merangkak naik, mengungkung tubuh Laura layaknya predator yang mengunci mangsanya. "Dia hanya masa lalu yang sudah membusuk, Laura. Sementara aku... aku adalah masa depanmu. Aku adalah kenyataanmu!"Edward menunduk, menghisap salah satu payudara Laura dengan rakus, menggigit putingnya yang mengeras hingga Laura menjerit nikmat. Tangan Edward yang besar dan kapalan menyusuri paha jenjang sang Ratu, secara paksa melebarkan kedua kaki wan

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 132 - Neraka di Ujung Nol Derajat

    Di tengah layar merah itu, sebuah video perlahan muncul. Kualitasnya sangat jernih, direkam dalam sebuah ruangan kerja bergaya klasik yang sangat familiar bagi mereka berdua.Di dalam video itu, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam pinstripe, menghisap cerutu Kuba dengan keangkuhan seorang kaisar. Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus menembus lensa kamera.Itu adalah Silas Bald. Ayah Laura.Edward menahan napas. Jantung Laura berdetak satu ketukan lebih cepat. Silas telah mati, tubuhnya telah mereka lihat sendiri, namun hantu penguasa lama itu kini menatap mereka dari balik alam kubur."Jika rekaman ini diputar, itu berarti dua hal," suara bariton Silas yang berat dan berwibawa menggema di dalam kabin jet. "Pertama, Ordo Bayangan telah runtuh. Kedua, putriku, Laura... kau telah mengambil alih takhta dan memegang Apex Drive."Silas dalam video itu menghembuskan asap cerutunya pelan."Kau mungkin mengira kau sudah menang, Putriku. Kau mengira dengan membunuh par

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 131 - Abu, Darah, dan Hantu dari Masa Lalu

    Kobaran api dari reruntuhan kendaraan taktis milisi menjilat langit malam gurun, mengubah kanvas gelap itu menjadi lautan jingga yang membara. Di tengah pusaran debu, asap mesiu, dan bau daging terbakar, ciuman beringas antara Laura dan Edward menjadi satu-satunya sumber kehidupan, sebuah sirkuit gairah yang menyedot energi dari kematian di sekeliling mereka.Tangan besar Edward yang berlumuran darah segar merengkuh pinggang Laura, mengangkat tubuh Ratu-nya hingga kaki jenjang wanita itu melingkar erat di pinggangnya. Sang algojo berjalan menembus panggung pembantaian itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka, membawa Laura kembali ke dalam perut jet supersonik yang mesinnya masih menderu konstan.Begitu pintu hidrolik pesawat tertutup, mengunci hawa panas gurun dan pemandangan neraka di luar sana, Edward menjatuhkan punggung Laura ke dinding panel kabin."Kau selalu tahu cara membuatku gila, Laura," geram Edward parau. Ia mencium rahang wanita itu, turun ke lehernya, menghisap kulit p

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 130 - Tengah Gurun

    Udara malam di atas perairan internasional Mediterania terasa membekukan, namun di dalam kabin jet supersonik yang melesat membelah awan menuju Timur Tengah, suhu terasa mendidih.Laura duduk bersandar di kursi kulit Nappa, membiarkan Edward membalutkan kembali perban baru di perutnya yang masih menyisakan nyeri tumpul. Sang algojo melakukan tugasnya dengan kehati-hatian seorang pemuja, jemarinya yang kapalan menyentuh kulit pucat sang Nyonya Besar seringan bulu."Timur Tengah bukanlah arena bermain seperti Eropa atau Amerika, Laura," suara Edward mengalun berat, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi dengung pelan mesin jet. Matanya tak lepas dari luka Laura, namun pikirannya membedah setiap ancaman yang menanti mereka. "Di sana, uang dan ancaman politik tidak selalu berarti. Faksi-faksi ini digerakkan oleh fanatisme dan darah. Mereka tidak peduli jika kau memegang Interpol di tanganmu."Laura tersenyum miring, senyum sosiopat yang selalu berhasil memabukkan akal sehat Edward. Ia m

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 129 - Lima Menit Saja

    Hanya butuh waktu enam puluh lima menit bagi Edward untuk melintasi langit malam dari Washington D.C. kembali ke Manhattan menggunakan jet tempur siluman berkecepatan supersonik yang dulu menjadi mainan rahasia Dewan Eropa. Di bawah sana, dunia sedang terbakar oleh kepanikan massal. Berita kematian Senator Sterling menyiarkan teror tanpa henti, memicu kejatuhan pasar saham global dan status siaga militer tingkat tertinggi.Namun di lantai sembilan puluh sembilan Bald Tower, kesunyian yang mencekik hanya dipecahkan oleh suara desisan pelan pintu lift pribadi.Edward melangkah keluar dari kabin lift. Setelan jas hitamnya yang mewah kini kusut, kemeja putihnya ternoda oleh percikan darah Sterling yang telah mengering, dan aroma mesiu serta besi menguar pekat dari pori-porinya. Sang algojo berjalan melewati pilar-pilar marmer dengan langkah berat nan beringas, matanya yang kelam menyapu kegelapan penthouse mencari tuhan satu-satunya.Laura masih berada di atas sofa kulit Nappa, jubah sutr

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 128 - Mimbar Kehormatan

    Lampu sorot berkekuatan ribuan watt menyapu kemegahan aula National Building Museum di Washington D.C. Ribuan pasang mata, kamera televisi dari seluruh jaringan media nasional, dan riuh rendah tepuk tangan menyambut langkah tegap Senator Robert Sterling menuju mimbar. Spanduk merah, putih, dan biru raksasa membentang di belakangnya, menggemakan slogan kampanye kepresidenan yang menjanjikan era baru tanpa korupsi dan bayang-bayang masa lalu.Sterling tersenyum lebar, melambaikan tangannya kepada para pendukungnya. Di balik senyum karismatik itu, dada sang senator bergemuruh oleh kelegaan yang luar biasa. Ia telah mendengar rumor dari Eropa dan New York. Silas Bald telah mati. Tujuh penguasa Ordo Bayangan telah menjadi abu. Rantai tak kasatmata yang mencekik lehernya selama satu dekade terakhir kini telah hancur. Ia merasa tak tersentuh. Ia merasa menjadi tuhan atas nasibnya sendiri.Tiga ratus enam puluh mil dari sana, di dalam kemewahan penthouse lantai sembilan puluh sembilan Bald To

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status