Início / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / Bab 5 — Tawaran Yang Belum Terjawab

Compartilhar

Bab 5 — Tawaran Yang Belum Terjawab

Autor: SamL9
last update Data de publicação: 2026-07-01 23:51:26

Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.

Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."

Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."

Dia buru-buru meletakkan pisau itu.

"Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur.

"Pagi, Nyonya."

"Pagi."

Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.

Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"

Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."

Laura tahu perempuan itu sedang berbohong, tetapi dia memilih tidak memaksanya. "Kalau butuh bantuan pekerjaan, bilang saja."

"Iya."

Laura berbalik meninggalkan dapur. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia mendengar suara ponsel Faela berdering.

Faela mengangkat panggilan itu dengan tergesa. "Iya, Om ...."

Laura tidak berniat menguping. Tetapi wajah Faela yang perlahan kehilangan warna membuat langkahnya terhenti.

"... Dokter bilang harus segera dirujuk?"

"..."

"... Baik, Om. Aku usahakan."

Telepon berakhir.

Faela menundukkan kepala. Kedua bahunya bergetar pelan.

Laura menghampiri dengan ragu. "Ada apa?"

Faela mengusap air matanya. "Ibu saya kemarin dilarikan ke klinik, Nyonya. Lalu Om saya baru saja telepon bilang kalau kondisinya memburuk."

Laura terdiam.

"Dokter bilang harus segera dirujuk ke rumah sakit di kota."

"Biayanya?"

Faela tersenyum pahit. "Itu yang saya belum tahu."

Ada secerca harapan di dalam benak Laura karena mengetahui pembantunya sedang kesulitan finansial. Dia jadi berpikir mungkin saja tawaran kemarin akan dipertimbangkan.

Di ruang makan ... Bald sedang menikmati kopi pagi.

Edward berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil menunggu jadwal keberangkatan ke kantor.

"Edward ...."

"Iya, Tuan?"

Bald tersenyum. "Kemarin martabak itu berhasil."

Edward terlihat bingung. "Maksud Tuan?"

"Laura senang."

Edward ikut tersenyum. "Syukurlah."

"Sepertinya kamu benar."

"Benar tentang apa, Tuan?"

"Perhatian kecil ternyata memang berarti."

Edward terkekeh pelan. "Istri saya juga begitu, Tuan. Kadang bukan soal mahal atau murah. Yang penting diingat."

Bald mengangguk pelan. "Terima kasih."

Percakapan sederhana itu didengar Laura yang baru memasuki ruang makan. Hatinya kembali terasa sesak. Bald benar-benar sedang berusaha. Dan semua itu justru berawal dari saran Edward.

Menjelang siang ...

Faela menerima pesan singkat dari omnya.

[Rumah sakit meminta uang muka paling tidak lima juta. Tolong usahakan secepatnya. Ibumu masuk ICU.]

Tangannya gemetar. Dia membuka aplikasi rekening. Saldo yang tersisa hampir tidak cukup. Kalaupun ditambah tabungan Edward, jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.

"Ya Allah ...." Air matanya kembali jatuh. Dia tidak ingin membebani suaminya.

Edward sudah bekerja keras setiap hari. Sementara biaya pengobatan ibunya bisa terus bertambah.

Sore hari ... Edward sedang mencuci mobil dinas.

Faela datang membawa segelas es teh. "Mas, minum dulu."

Edward menerima gelas itu sambil tersenyum. "Makasih."

Faela memperhatikan wajah suaminya cukup lama.

"Ada apa?"

"Enggak."

"Kamu dari tadi menatapku terus."

Faela menarik napas panjang. "Mas ...."

"Hmm?"

"Kalau suatu hari nanti aku melakukan keputusan yang menurutmu aneh ...."

Edward langsung menghentikan pekerjaannya. "Kenapa bicara begitu?"

"Aku cuma bertanya."

Edward menatap mata istrinya. "Faela."

"Iya."

"Kalau ada masalah, kita hadapi sama-sama."

Faela menggigit bibir. Dia ingin sekali menceritakan semuanya. Namun setiap kali teringat ancaman kehilangan pekerjaan dan kondisi ibunya, kata-kata itu kembali tertahan.

Edward mengusap kepala istrinya. "Jangan memikul semuanya sendirian."

Faela hanya mengangguk pelan.

Di lantai dua ... Laura berdiri di balik jendela. Dia melihat interaksi sederhana pasangan itu.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada hadiah mahal.

Namun perhatian yang mereka tunjukkan satu sama lain terasa begitu tulus.

Laura menutup tirai. Perasaan bersalah kembali menghampiri. "Aku seharusnya menghentikan semua ini."

Dia mengambil ponselnya. Beberapa kali ingin menghubungi Faela. Lalu menghapus kembali pesan yang sudah diketik. Akhirnya dia memutuskan turun ke bawah.

Menjelang malam ... Laura menemukan Faela sedang melipat pakaian di ruang setrika.

"Faela."

Perempuan itu langsung berdiri. "Iya, Nyonya?"

Laura menyerahkan sebuah amplop.

"Apa ini?"

"Buka saja."

Faela perlahan membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sejumlah uang. Matanya langsung membelalak.

"Nyonya ... ini terlalu banyak."

"Anggap pinjaman."

"Saya belum tentu bisa mengembalikannya."

"Pelan-pelan saja."

Faela menatap Laura dengan bingung. "Nyonya ... kenapa membantu saya?"

Laura tersenyum tipis. "Karena aku juga punya ibu."

Kalimat itu membuat Faela terdiam. Laura melanjutkan, "Aku tidak ingin seseorang kehilangan kesempatan menyelamatkan orang tuanya hanya karena tidak punya biaya."

Mata Faela mulai berkaca-kaca. "Terima kasih ...."

Laura menggeleng. "Tidak usah berkata begitu."

Sesaat kemudian, Laura menambahkan dengan suara pelan, "Tawaran yang pernah kubicarakan ..."

Faela langsung menegang.

"... anggap saja tidak pernah ada."

Faela menatap Laura cukup lama. Dia melihat penyesalan yang tulus di mata perempuan itu. Namun justru hal itu membuat hati Faela semakin berkecamuk. Dia menggenggam amplop tersebut erat-erat.

Malam semakin larut, Edward sudah tertidur karena kelelahan. Faela masih duduk di tepi ranjang.

Amplop pemberian Laura berada di pangkuannya. Dia menghitung kembali uang itu. Jumlahnya cukup untuk membantu biaya awal perawatan ibunya. Tetapi pikirannya tetap tidak tenang.

"Kalau aku menerima bantuan ini ...."

"Apa aku akan berutang budi seumur hidup?"

Dia memandang wajah Edward yang tertidur pulas. Pria itu tetap terlihat tenang, tidak menyadari badai yang sedang menghampiri keluarga kecil mereka.

Air mata Faela kembali jatuh. "Aku cuma ingin Ibu selamat ...."

Beberapa menit kemudian ... Dia mengambil keputusan. Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Edward, Faela keluar dari kamar. Koridor belakang rumah terasa sunyi. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan.

Faela berhenti di depan pintu kamar Laura. Tangannya terangkat. Namun beberapa detik dia ragu.

Tok ...

Tok ...

Tok ...

Dari dalam terdengar suara langkah kaki. Pintu perlahan terbuka. Laura tampak terkejut melihat Faela berdiri di depannya. "Faela?"

Perempuan itu menundukkan kepala. Napasnya terdengar tidak beraturan.

Dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, dia berkata, "Nyonya ... saya ingin membicarakan tawaran yang kemarin pernah Nyonya sampaikan."

Laura membeku, terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. "A-apa??"

Sementara dari ujung koridor, tanpa disadari oleh kedua perempuan itu, sebuah bayangan baru saja muncul dan berhenti di balik pilar, seolah menyaksikan pertemuan rahasia tersebut dari kejauhan. Seseorang yang diam-diam tahu apa yang terjadi di antara keduanya dan hanya menunggu dalam diam, tanggal main terjadinya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
kwetiau jumbo
e eeeeh, sapa tu yg di balik pilar?
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 136 - Terengah-engah di Balik Kaca

    "Sayang, remukkan tulangku, lalu makan tubuhku agar kita tetap menjadi satu, Sayang. Selamanya menjadi satu ...."Matahari pagi musim gugur menyinari Manhattan dengan cahaya keemasan yang dingin, memantul pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang bagai pilar-pilar beton di bawah kaki Laura. Penthouse di lantai sembilan puluh sembilan Bald Tower itu sangat sunyi, sebuah kontras yang tajam dengan kekacauan yang tengah melanda bursa saham dan koridor-koridor pemerintahan di seluruh dunia pasca-kematian Senator Sterling dan jatuhnya Ordo Bayangan.Laura berdiri di depan dinding kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Sang Nyonya Besar hanya mengenakan kemeja kebesaran berwarna putih murni milik Edward—satu-satunya pakaian yang membalut tubuhnya setelah penerbangan panjang dan buas dari Arktik. Tangannya memegang segelas sampanye, matanya yang segelap malam menatap jutaan manusia di bawah sana yang kini hidup dan bernapas semata-mata karena ia mengizinkannya.

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 135 - Fvck Me Harder!

    Hawa dingin Svalbard yang membekukan tulang tak lagi mampu menembus kulit mereka. Di atas Terminal Genesis yang terbuat dari bongkahan obsidian hitam pekat, napas Laura dan Edward masih beradu dalam ritme yang memburu. Keringat yang membasahi tubuh telanjang Laura menguap tipis di udara Arktik yang kering dan berbau ozon, sementara pelukan protektif lengan kekar Edward menjaganya dari sengatan suhu ekstrem.Data triliunan Euro, kode akses satelit global, dan rahasia paling mematikan di bumi kini mengalir senyap di bawah punggung mereka, menjadi saksi bisu dari penyatuan beringas yang baru saja meruntuhkan warisan terakhir Silas Bald.Edward menarik dirinya perlahan, mengecup dalam-dalam bibir Ratu-nya yang membengkak merah. Ia meraih mantel bulu serigala putih dari lantai baja yang berserakan sisa-sisa selongsong peluru dan rongsokan anjing mekanis, lalu membungkus tubuh Laura dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kebuasannya saat menyetubuhi wanita itu beberapa menit yang lalu

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 134 - Kiamat di Titik Beku

    Angin Arktik melolong bagai raungan roh penasaran saat Laura menempelkan Apex Drive ke atas panel pemindai di sisi pintu baja raksasa itu. Lampu LED yang membeku oleh lapisan es seketika berkedip hijau. Terdengar suara desis hidrolik yang memekakkan telinga, memecah kebekuan yang telah bersemayam selama puluhan tahun. Pintu setebal dua meter itu bergeser perlahan, menghembuskan udara kering yang berbau ozon dan mesin dari dalam kegelapan.Edward melangkah masuk lebih dulu, laras FN SCAR-H miliknya membelah gulita, tubuh raksasanya menjadi perisai mutlak bagi sang Ratu. Begitu ujung sepatu bot mereka melewati ambang pintu, deretan lampu darurat berwarna merah darah menyala secara berurutan, menerangi lorong panjang yang terbuat dari beton dan baja padat.Namun, bukan keheningan yang menyambut mereka. Dari ujung lorong, terdengar derap mekanis yang berat dan mematikan.Empat siluet merangkak keluar dari bayang-bayang. Mereka bukan manusia. Itu adalah combat drones berkaki empat—anjing p

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 133 - Bunuh Saja

    Perintah itu adalah pelatuk yang meledakkan kewarasan Edward. Sang algojo mengaum rendah, mengangkat tubuh Laura dari lantai dan membantingnya dengan kasar namun penuh perhitungan ke atas ranjang kabin yang luas. Jubah sutra hitam itu terlepas sepenuhnya, mengekspos kemolekan sempurna Laura di bawah cahaya temaram pesawat.Edward merobek sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan otot-ototnya yang bergemuruh tegang dan kejantanannya yang telah mengeras buas, berkedut menuntut pelampiasan dari rasa frustrasi dan protektivitas yang membakar dadanya.Pria itu merangkak naik, mengungkung tubuh Laura layaknya predator yang mengunci mangsanya. "Dia hanya masa lalu yang sudah membusuk, Laura. Sementara aku... aku adalah masa depanmu. Aku adalah kenyataanmu!"Edward menunduk, menghisap salah satu payudara Laura dengan rakus, menggigit putingnya yang mengeras hingga Laura menjerit nikmat. Tangan Edward yang besar dan kapalan menyusuri paha jenjang sang Ratu, secara paksa melebarkan kedua kaki wan

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 132 - Neraka di Ujung Nol Derajat

    Di tengah layar merah itu, sebuah video perlahan muncul. Kualitasnya sangat jernih, direkam dalam sebuah ruangan kerja bergaya klasik yang sangat familiar bagi mereka berdua.Di dalam video itu, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam pinstripe, menghisap cerutu Kuba dengan keangkuhan seorang kaisar. Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus menembus lensa kamera.Itu adalah Silas Bald. Ayah Laura.Edward menahan napas. Jantung Laura berdetak satu ketukan lebih cepat. Silas telah mati, tubuhnya telah mereka lihat sendiri, namun hantu penguasa lama itu kini menatap mereka dari balik alam kubur."Jika rekaman ini diputar, itu berarti dua hal," suara bariton Silas yang berat dan berwibawa menggema di dalam kabin jet. "Pertama, Ordo Bayangan telah runtuh. Kedua, putriku, Laura... kau telah mengambil alih takhta dan memegang Apex Drive."Silas dalam video itu menghembuskan asap cerutunya pelan."Kau mungkin mengira kau sudah menang, Putriku. Kau mengira dengan membunuh par

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 131 - Abu, Darah, dan Hantu dari Masa Lalu

    Kobaran api dari reruntuhan kendaraan taktis milisi menjilat langit malam gurun, mengubah kanvas gelap itu menjadi lautan jingga yang membara. Di tengah pusaran debu, asap mesiu, dan bau daging terbakar, ciuman beringas antara Laura dan Edward menjadi satu-satunya sumber kehidupan, sebuah sirkuit gairah yang menyedot energi dari kematian di sekeliling mereka.Tangan besar Edward yang berlumuran darah segar merengkuh pinggang Laura, mengangkat tubuh Ratu-nya hingga kaki jenjang wanita itu melingkar erat di pinggangnya. Sang algojo berjalan menembus panggung pembantaian itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka, membawa Laura kembali ke dalam perut jet supersonik yang mesinnya masih menderu konstan.Begitu pintu hidrolik pesawat tertutup, mengunci hawa panas gurun dan pemandangan neraka di luar sana, Edward menjatuhkan punggung Laura ke dinding panel kabin."Kau selalu tahu cara membuatku gila, Laura," geram Edward parau. Ia mencium rahang wanita itu, turun ke lehernya, menghisap kulit p

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status