LOGINPagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik. Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu." Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...." Dia buru-buru meletakkan pisau itu. "Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur. "Pagi, Nyonya." "Pagi." Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya. Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?" Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya." Laura tahu perempuan itu sedang berbohong, tetapi dia memilih tidak memaksanya. "Kalau butuh bantuan pekerjaan, bilang saja." "Iya." Laura berbalik meninggalkan dapur. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia mendengar suara ponsel Faela berdering. Faela mengangkat panggilan itu dengan tergesa. "Iya, Om ...." Laura tidak berniat menguping. Tetapi wajah Faela yang perlahan kehilangan warna membuat langkahnya terhenti. "... Dokter bilang harus segera dirujuk?" "..." "... Baik, Om. Aku usahakan." Telepon berakhir. Faela menundukkan kepala. Kedua bahunya bergetar pelan. Laura menghampiri dengan ragu. "Ada apa?" Faela mengusap air matanya. "Ibu saya kemarin dilarikan ke klinik, Nyonya. Lalu Om saya baru saja telepon bilang kalau kondisinya memburuk." Laura terdiam. "Dokter bilang harus segera dirujuk ke rumah sakit di kota." "Biayanya?" Faela tersenyum pahit. "Itu yang saya belum tahu." Ada secerca harapan di dalam benak Laura karena mengetahui pembantunya sedang kesulitan finansial. Dia jadi berpikir mungkin saja tawaran kemarin akan dipertimbangkan. Di ruang makan ... Bald sedang menikmati kopi pagi. Edward berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil menunggu jadwal keberangkatan ke kantor. "Edward ...." "Iya, Tuan?" Bald tersenyum. "Kemarin martabak itu berhasil." Edward terlihat bingung. "Maksud Tuan?" "Laura senang." Edward ikut tersenyum. "Syukurlah." "Sepertinya kamu benar." "Benar tentang apa, Tuan?" "Perhatian kecil ternyata memang berarti." Edward terkekeh pelan. "Istri saya juga begitu, Tuan. Kadang bukan soal mahal atau murah. Yang penting diingat." Bald mengangguk pelan. "Terima kasih." Percakapan sederhana itu didengar Laura yang baru memasuki ruang makan. Hatinya kembali terasa sesak. Bald benar-benar sedang berusaha. Dan semua itu justru berawal dari saran Edward. Menjelang siang ... Faela menerima pesan singkat dari omnya. [Rumah sakit meminta uang muka paling tidak lima juta. Tolong usahakan secepatnya. Ibumu masuk ICU.] Tangannya gemetar. Dia membuka aplikasi rekening. Saldo yang tersisa hampir tidak cukup. Kalaupun ditambah tabungan Edward, jumlahnya masih jauh dari kebutuhan. "Ya Allah ...." Air matanya kembali jatuh. Dia tidak ingin membebani suaminya. Edward sudah bekerja keras setiap hari. Sementara biaya pengobatan ibunya bisa terus bertambah. Sore hari ... Edward sedang mencuci mobil dinas. Faela datang membawa segelas es teh. "Mas, minum dulu." Edward menerima gelas itu sambil tersenyum. "Makasih." Faela memperhatikan wajah suaminya cukup lama. "Ada apa?" "Enggak." "Kamu dari tadi menatapku terus." Faela menarik napas panjang. "Mas ...." "Hmm?" "Kalau suatu hari nanti aku melakukan keputusan yang menurutmu aneh ...." Edward langsung menghentikan pekerjaannya. "Kenapa bicara begitu?" "Aku cuma bertanya." Edward menatap mata istrinya. "Faela." "Iya." "Kalau ada masalah, kita hadapi sama-sama." Faela menggigit bibir. Dia ingin sekali menceritakan semuanya. Namun setiap kali teringat ancaman kehilangan pekerjaan dan kondisi ibunya, kata-kata itu kembali tertahan. Edward mengusap kepala istrinya. "Jangan memikul semuanya sendirian." Faela hanya mengangguk pelan. Di lantai dua ... Laura berdiri di balik jendela. Dia melihat interaksi sederhana pasangan itu. Tidak ada kemewahan. Tidak ada hadiah mahal. Namun perhatian yang mereka tunjukkan satu sama lain terasa begitu tulus. Laura menutup tirai. Perasaan bersalah kembali menghampiri. "Aku seharusnya menghentikan semua ini." Dia mengambil ponselnya. Beberapa kali ingin menghubungi Faela. Lalu menghapus kembali pesan yang sudah diketik. Akhirnya dia memutuskan turun ke bawah. Menjelang malam ... Laura menemukan Faela sedang melipat pakaian di ruang setrika. "Faela." Perempuan itu langsung berdiri. "Iya, Nyonya?" Laura menyerahkan sebuah amplop. "Apa ini?" "Buka saja." Faela perlahan membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sejumlah uang. Matanya langsung membelalak. "Nyonya ... ini terlalu banyak." "Anggap pinjaman." "Saya belum tentu bisa mengembalikannya." "Pelan-pelan saja." Faela menatap Laura dengan bingung. "Nyonya ... kenapa membantu saya?" Laura tersenyum tipis. "Karena aku juga punya ibu." Kalimat itu membuat Faela terdiam. Laura melanjutkan, "Aku tidak ingin seseorang kehilangan kesempatan menyelamatkan orang tuanya hanya karena tidak punya biaya." Mata Faela mulai berkaca-kaca. "Terima kasih ...." Laura menggeleng. "Tidak usah berkata begitu." Sesaat kemudian, Laura menambahkan dengan suara pelan, "Tawaran yang pernah kubicarakan ..." Faela langsung menegang. "... anggap saja tidak pernah ada." Faela menatap Laura cukup lama. Dia melihat penyesalan yang tulus di mata perempuan itu. Namun justru hal itu membuat hati Faela semakin berkecamuk. Dia menggenggam amplop tersebut erat-erat. Malam semakin larut, Edward sudah tertidur karena kelelahan. Faela masih duduk di tepi ranjang. Amplop pemberian Laura berada di pangkuannya. Dia menghitung kembali uang itu. Jumlahnya cukup untuk membantu biaya awal perawatan ibunya. Tetapi pikirannya tetap tidak tenang. "Kalau aku menerima bantuan ini ...." "Apa aku akan berutang budi seumur hidup?" Dia memandang wajah Edward yang tertidur pulas. Pria itu tetap terlihat tenang, tidak menyadari badai yang sedang menghampiri keluarga kecil mereka. Air mata Faela kembali jatuh. "Aku cuma ingin Ibu selamat ...." Beberapa menit kemudian ... Dia mengambil keputusan. Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Edward, Faela keluar dari kamar. Koridor belakang rumah terasa sunyi. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan. Faela berhenti di depan pintu kamar Laura. Tangannya terangkat. Namun beberapa detik dia ragu. Tok ... Tok ... Tok ... Dari dalam terdengar suara langkah kaki. Pintu perlahan terbuka. Laura tampak terkejut melihat Faela berdiri di depannya. "Faela?" Perempuan itu menundukkan kepala. Napasnya terdengar tidak beraturan. Dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, dia berkata, "Nyonya ... saya ingin membicarakan tawaran yang kemarin pernah Nyonya sampaikan." Laura membeku, terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. "A-apa??" Sementara dari ujung koridor, tanpa disadari oleh kedua perempuan itu, sebuah bayangan baru saja muncul dan berhenti di balik pilar, seolah menyaksikan pertemuan rahasia tersebut dari kejauhan. Seseorang yang diam-diam tahu apa yang terjadi di antara keduanya dan hanya menunggu dalam diam, tanggal main terjadinya."Kamu akan menjadi milikku selamanya ...."Sepuluh menit tepat setelah panggilan Edward ditutup, bel pintu penthouse berbunyi dengan nada datar. Tidak ada ketukan, tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru. Edward membuka pintu, mempersilakan empat pria berpakaian serba hitam dengan peralatan khusus masuk ke dalam ruangan. Wajah mereka tertutup masker respirator tebal, pandangan mereka sepenuhnya kosong, layaknya mesin yang diprogram hanya untuk satu tujuan: melenyapkan jejak.Mereka bekerja dalam keheningan mutlak. Tubuh kaku Victor Bald dimasukkan ke dalam kantong kedap udara berlapis tebal. Karpet sutra yang ternoda darah digulung rapi dan disegel. Percikan darah di sofa dan meja kaca dibersihkan menggunakan cairan kimia korosif yang langsung menghilangkan DNA tanpa sisa, meninggalkan aroma klorin dan mint yang tajam untuk menutupi bau anyir kematian.Laura duduk di kursi bar dengan kaki menyilang anggun, menyesap segelas air es sambil menyaksikan prosesi itu bak seorang ratu
"Kalau aku jadi ratu ... kamu harus jadi rajanya." Guntur kembali menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse mewah itu hingga berderak pelan. Namun di dalam ruangan, badai yang jauh lebih liar tengah berlangsung. Edward mengangkat tubuh Laura dengan mudah, menjauhkannya dari genangan darah yang perlahan meresap ke dalam karpet sutra. Ia membawa ratunya menuju ranjang king-size di kamar utama penthouse, membaringkan wanita itu dengan sentuhan yang memadukan kekasaran seorang pembunuh dan pemujaan yang buta. Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura dilucuti tanpa sisa kesabaran, robek di bagian bahu tatkala tangan kokoh Edward merenggutnya. Pria itu mengungkung tubuh Laura sepenuhnya, menatap setiap inci kulit wanita itu dengan mata yang gelap, lapar, dan sangat posesif. "Tidak akan ada lagi yang berani menatapmu, apalagi menyentuhmu," geram Edward rendah, napas panasnya menerpa dada Laura. "Malam ini, aku akan menghapus setiap ingatan tentang ayah maupun anak sialan it
"Dasar lelaki tak tahu diri! Sial!"Tubuh Victor menegang kaku bagaikan patung batu. Hawa dingin dari laras pistol peredam milik Edward yang menempel di tengkuknya seolah membekukan darah di pembuluhnya. Sisa-sisa arogansi yang beberapa detik lalu menguasai wajah pewaris Bald itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepanikan instingtual seekor mangsa yang tertangkap masuk ke dalam perangkap."Kau ...." suara Victor bergetar, mencoba mempertahankan sisa wibawanya meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau berani menarik pelatuk itu, video rekaman pembunuhan ayahku akan tersebar ke seluruh dunia. Sistem di ponselku ....""Sistem Dead Man's Switch milikmu yang terenkripsi itu?" potong Edward dengan nada mengejek yang sangat dingin.Dari sudut ruangan, Laura berjalan dengan langkah gemulai mendekati sofa. Ia memungut jas basah Victor, merogoh saku bagian dalamnya, dan mengeluarkan ponsel pintar milik pria itu. Dengan senyum seringai yang begitu mematikan, Laura mengetuk layar ya
Pukul sembilan tepat. Hujan badai yang mengguyur kota sejak sore belum juga mereda. Kilat sesekali menyambar, menerangi kaca jendela penthouse mewah di lantai empat puluh yang menjadi arena jebakan malam ini. Di dalam ruangan, lampu sengaja diredupkan, menyisakan pendaran keemasan dari lampu hias dan perapian elektrik. Alunan musik jazz klasik mengalun pelan, menyamarkan ketegangan yang mengudara kental.Pintu ganda penthouse terbuka dengan bunyi klik pelan. Victor Bald melangkah masuk, mengibaskan tetesan air hujan dari mantel panjangnya. Senyum pongah menghiasi wajah tirusnya yang angkuh. Matanya langsung tertuju pada sosok Laura yang tengah berdiri di dekat minibar, menuangkan cairan amber ke dalam dua gelas kristal.Gaun sutra merah marun yang dikenakan Laura menempel bak kulit kedua, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan gaun yang tinggi memamerkan paha putihnya yang jenjang setiap kali ia bergerak. Bagi Victor, pemandangan itu adalah trofi kemenangannya. Ia
Jarum jam di dinding marmer baru menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan deras yang mengguyur kota sejak senja kini berubah menjadi badai, menghantam kaca-kaca jendela mansion keluarga Bald dengan suara bergemuruh.Di ruang persenjataan bawah tanah yang tersembunyi di balik garasi utama, Edward berdiri di depan meja logam. Ia sedang memeriksa perangkat kloning peretas nirkabel seukuran kotak korek api, memastikan alat mematikan itu berfungsi sempurna sebelum pertemuan mereka dengan Victor pukul sembilan nanti. Pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah terselip rapi di balik jas hitamnya.Namun, indra predator Edward yang tajam tiba-tiba menangkap suara sekecil apa pun. Derit halus sol sepatu bot di atas lantai beton. Bukan hanya satu orang, melainkan tiga.Edward tidak membalikkan badan, tangannya tetap tenang merakit sisa peralatannya. "Kalian tahu, menyelinap di belakangku saat aku sedang memegang senjata adalah cara tercepat untuk mati."Tiga pria berseragam hitam melangkah kelu
"Ternyata apa yang terlihat indah, terkadang tidak seindah itu ... apa aku sudah salah melangkah, ya?" batin Laura bergejolak.Pemandangan kota metropolitan yang membentang di bawah sana seakan menjadi saksi bisu dari keliaran yang meledak di lantai teratas menara Bald Corporation. Dinding kaca yang dingin berembun oleh napas Laura yang tersengal, berpadu dengan panas tubuh Edward yang mengungkungnya tanpa ampun. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dihujamkan Edward dipenuhi oleh rasa cemburu yang gelap, amarah yang mendidih, dan kepemilikan mutlak."Katakan padaku," geram Edward di sela-sela ciuman basahnya di leher Laura, jemarinya mencengkeram pinggul wanita itu dengan kuat, mengklaim setiap jengkal kulit yang berani ditatap oleh Victor beberapa menit lalu. "Katakan siapa penguasa tubuh ini, Laura.""Hanya kau... ahh... hanya kau, Edward," rintih Laura tertahan, jari-jarinya meremas erat rambut gelap pria itu, menariknya semakin dalam ke pusaran gairah yang menyesakkan dada.Penyat







