LOGINLampu sorot studio atelier itu belum mati, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di tengah ruangan, sebuah gaun pengantin berenda guipure melingkar sempurna di manekin kayu. Detail payet di bagian dada memantulkan cahaya redup, membiaskan kilau halus dari setiap jahitan yang dikerjakan dengan teliti, bahkan ketika rasa lelah mulai menuntut jemari untuk berhenti.Ivy menunduk, satu jarum pentul terselip di antara bibirnya. Jarinya yang cekatan merapikan bagian kelim bawah gaun, memastikan jatuh kain silk tulle itu tetap sempurna untuk fitting besok pagi.Dua kali getaran dari ponsel di atas meja potong memecah keheningan. Ivy tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang memanggil.Dia mencabut jarum dari bibirnya, menancapkannya ke bantalan busa di pergelangan tangan, lalu menggeser tombol hijau tanpa menjauhkan pandangan dari manekin."Sebentar lagi, ya, Tanteku sayang," potong Ivy langsung, bahkan sebelum suara di ujung telepon sempat mengudara.Suara hel
Ivy membeku. Refleks menutupi jari manisnya yang polos. Cincin yang Lucas maksud masih ia simpan. Ivy memang sengaja tidak memakainya karena takut sewaktu-waktu Lucas akan memintanya kembali. Ia pikir selama benda itu tidak terlihat, Lucas akan lupa. Ternyata dugaan Ivy keliru. Lucas menyadarinya jauh lebih cepat daripada yang Ivy perkirakan. Setelah selama ini benda tersebut begitu sulit dilepaskan dari jarinya, ketiadaannya tentu akan memunculkan pertanyaan. Ivy menatap iris mata Lucas dalam diam. Ada bagian dari dirinya yang menyuruhnya untuk menyerah, karena bagaimanapun, menahan barang yang bukan haknya adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi, bibirnya terlanjur terikat oleh ego dan rasa takut. Sebab bagi Ivy, mengembalikan cincin itu sama saja dengan melepaskan satu-satunya hal yang masih menghubungkannya dengan Lucas, sebelum dunia mereka berubah menjadi dua sisi yang seolah tidak pernah bersinggungan. “Cincin milikku yang ada padamu. Kembalikan,” ulang Lucas, penuh pe
Beruntung toilet perempuan sedang sepi. Setidaknya di tempat ini, Ivy tidak perlu memasang wajah dingin atau berpura-pura bahwa semua bisikan tentang Lucas sama sekali tidak mengusiknya.“Omong kosong...” gumamnya lirih. “Siapa yang menyebarkan rumor sialan seperti ini?”“Apa ini ulahnya Jeno?”Ivy buru-buru mematikan layar ponselnya. Kedua tangannya bertumpu di pinggiran wastafel, sementara tatapannya yang dipenuhi kekesalan menatap lurus ke arah pantulan cermin. Setelah dia berhasil menguasai diri, Ivy keluar dari sana dengan topeng acuh tak acuh yang terpasang sempurna. Namun, semakin jauh ia melangkah menyusuri koridor, semakin banyak bisikan yang sampai ke telinga.“Itu Ivy, kan? Yang diperebutkan Lucas dan Jeno?”“Katanya Lucas hampir mati lho gara-gara tantangannya sendiri.”“Kan dia yang cari mati. Benar-benar tidak sadar diri.”Langkah Ivy mendadak terhenti. Oksigen yang ia hirup seolah tertahan di ten
Lucas tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang sedang berusaha keras memastikan dirinya tetap memiliki tempat di sekolah itu. Ruang kepala sekolah Kingsley Junior High School terasa sunyi. Ivy berdiri dengan wajah tegang di seberang meja kerja, sementara sebuah amplop tebal tergeletak di hadapannya. Kepala sekolah menatap benda yang Ivy sodorkan kepadanya selama beberapa saat sebelum mengangkat wajah dengan ekspresi yang sarat akan tanda tanya. “Apa ini, Ivy?”“Ini... seluruh tabungan yang saya punya, Pak.”Pak kepala sekolah menaikkan sebelah alisnya. Jari-jemarinya saling bertaut di atas meja, menunggu Ivy memberikan penjelasan lebih lanjut. Di sisi lain, Ivy menghela napas dalam-dalam. Ada perasaan takut yang sempat mengusik tatapannya, tetapi ia buru-buru menekannya kembali agar emosi itu tidak menguasai dirinya. Ia sudah mengambil keputusan, dan dia tidak boleh gagal. “Saya… saya ingin Lucas tetap bersekolah di sini.”
Yurina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengembuskan napas berseling tawa sumbang yang dingin. Walau ia tidak mengetahui secara spesifik apa yang dipertaruhkan oleh Jeno dan Lucas, keberadaan Ivy di tepi kolam malam itu sudah cukup untuk menyambungkan semua titik di kepalanya. “Ini semua karena Ivy, bukan?” tebak Yurina tepat sasaran. Napas Lucas tertahan sejenak, namun ia tetap memilih untuk bungkam. Melihat reaksi tersebut, dada Yurina bergemuruh oleh campuran rasa kasihan dan amarah yang membakar. “Kamu benar-benar menyedihkan, Lucas,” cibir Yurina tanpa ampun. “Apa kamu sudah tidak memiliki harga diri lagi, sampai rela mengejar perempuan yang bahkan tidak mencintaimu hingga sebegitunya?” Rangkaian kata dari Yurina menerjang dada Lucas seperti pukulan benda tumpul. Setiap kalimatnya menguliti sisa-sisa harga diri yang selama ini berusaha ia pertahankan. Yurina bangkit dari duduknya, merapikan pakaiannya tanpa memandang Lucas lagi. “Pikirkan hal itu
Lucas perlahan membuka mata. Pandangannya masih kabur, sementara suara sirene terdengar samar dari balik kesadarannya yang masih setipis tisu. Ia merasakan tubuhnya terguncang mengikuti laju ambulans, dengan masker oksigen masih menutupi hidung dan mulut.“Lucas?”Mendengar namanya dipanggil, Lucas menggerakkan mata ke arah suara itu. Pandangannya berhenti pada wajah Yurina yang pucat. Rambutnya basah dan sebagian menempel di pipi serta lehernya, sementara gaun pesta yang dikenakannya tampak lembap dan melekat di beberapa bagian tubuh.“Yu...rina...”“Aku di sini.”Lucas menatapnya dalam diam. Kelopak matanya masih terasa berat, tetapi untuk beberapa detik, ia terus berusaha mempertahankan pandangan sebelum semuanya kembali hitam.— — —Lampu lorong IGD berpijar putih, menusuk mata Lucas yang perlahan membias dari kegelapan. Bau antiseptik yang pekat menyergap inderanya, diiringi bunyi bip... bip... konstan dari monitor
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
“Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus korn







