MasukMata Ivy membulat sempurna. Lidahnya mendadak kelu dihantam sebuah pertanyaan yang begitu telak. Di benaknya, seketika muncul kebingungan besar tentang siapa laki-laki di hadapannya dan kenapa dia bisa tahu kalau cincin ini bukan miliknya. Tapi demi apapun, diseret paksa saat hukuman dari sang guru killer sedang berlangsung, kemudian dituduh sebagai pencuri, sama sekali bukan sesuatu yang bisa Ivy tolerir. Apalagi tudingan itu melayang dari seseorang yang tidak ia kenal.
Setelah mengesampingkan rasa bersalahnya untuk sementara waktu, Ivy melipat kedua tangan di depan dada. Mencoba bersikap defensif dengan meninggikan dagu, sementara raut wajahnya memancarkan ekspresi permusuhan yang nyata. "Jangan asal tuduh, ya! Memangnya kamu siapa berani bicara seperti itu padaku?" Lucas tersenyum mencemooh. Pria jangkung itu mulai memangkas jarak di antara mereka tanpa sedikit pun melepas tatapannya dari Ivy. Langkahnya mengintimidasi. Memaksa Ivy untuk terus mundur, hingga tubuh mungilnya tenggelam dalam bayang-bayang Lucas—terisolasi dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela. "Selain mencuri, ternyata kamu juga suka menyalahgunakan kekuasaan." Di detik Lucas mengakhiri kalimatnya, Ivy merasakan udara di sekitar mereka semakin bertambah berat. "Aku tahu kalau ayahmu merupakan donatur utama di sekolah elit ini. Dan berurusan denganmu, sama saja seperti sedang mencari masalah. Terlebih statusku di sini cuma seorang siswa tidak mampu yang menerima beasiswa. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu, bukan?" Ivy mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dadanya sesak oleh amarah yang sejak tadi berusaha ia tahan. Kurang ajar sekali dia! Mereka bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Lantas, atas dasar apa laki-laki dengan nametag Lucas Anderson ini berlagak seolah paling tahu tentang dirinya? "Aku tidak peduli kamu mau menilaiku bagaimana," desis Ivy tajam. "Tapi, berhenti menyebutku pencuri, apalagi kamu tidak memiliki bukti!" "Kamu masih mau bukti?" Lucas melirik cincin milik ibunya yang masih melingkar di jari manis Ivy lalu tertawa kecil, sementara gadis itu refleks menutupi benda yang mereka perdebatkan dengan gestur canggung. "Dengar Nona Ivy, meski kamu lancang, aku masih menutup mata saat kamu menyentuh piano milik ibuku tanpa izin. Tapi itu bukan berarti kamu boleh membawa kabur cincin milik orang lain seenaknya." Suaranya berat, mengancam. Kontras dengan ekspresinya yang begitu tenang. 'Piano milik ibunya? Jadi, cincin ini juga...' Ivy refleks menutup mulut. Tatapannya turun cepat ke jemarinya sendiri yang mulai gemetar. Ternyata piano itu, melodi-melodi yang ia mainkan kemarin saat di panti, dan cincin misterius ini, semuanya terhubung pada satu benang merah yang sama—hal yang membuat Ivy kehilangan sikap defensifnya kepada Lucas, sekaligus memahami alasan di balik kata-katanya yang kasar dan tajam. "Ak-aku..." Ivy terbata. Keberanian yang tadi ia busungkan di depan dada mendadak ciut seperti balon kehilangan udara. Dia tidak bisa mengelak karena bukti yang ia minta barusan justru ada padanya. Jemarinya meremas satu sama lain dengan gelisah, sementara matanya bergerak liar menghindari tatapan menghakimi dari Lucas. Mencoba menyelamatkan muka, Ivy menarik napas dalam-dalam kemudian berkata, "Aku tidak bermaksud mencurinya, kok. Aku hanya meminjamnya sebentar lalu lupa mengembalikan! Anggap saja aku sedang membantu menyimpannya untukmu, jadi kamu tidak perlu semarah itu padaku." Ivy melengos, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa harga dirinya meski upaya tersebut gagal total. Lucas sama sekali tidak terkesan. Hazelnya seolah berbicara bahwa Ivy baru saja melontarkan lelucon paling bodoh di dunia yang tanpa diberi tahu pun, ia sendiri sadar kalau kalimatnya barusan terdengar sangat menggelikan. Memangnya siapa yang akan percaya alasan sekonyol itu? Ivy merutuki dirinya sendiri dalam hati, menyesali perkataan yang membuatnya terlihat tidak tahu malu. "Meminjam, ya?" Lucas menanggapi dengan nada mengejek yang kental. Dia maju setengah langkah lagi tanpa memutus kontak mata dengan Ivy, lalu mengulurkan tangannya yang terbuka ke depan gadis itu. "Kalau begitu, masa pinjammu sudah habis. Lepaskan cincinnya sekarang, dan ke depannya, jangan pernah menyentuh apa pun yang bukan milikmu lagi, Nona." Ivy mendengus kesal. Karena enggan memperpanjang keributan, ia akhirnya menyerah. Toh, dia memang salah. Buat apa bersikap keras kepala? "Terserah! Ambil saja kembali! Aku juga tidak menyukainya," katanya ketus, seraya menarik cincin tersebut dari jari manisnya. Namun, kejutan tak terduga lain datang. Saat ditarik, cincin itu seakan menolak untuk lepas, tak peduli seberapa keras Ivy berusaha. Dia mengernyit menahan sakit ketika mencoba menarik cincin itu lagi dan lagi dengan tenaga ekstra. Namun, benda itu tidak bergeser sedikit pun, yang ada malah membuat kulit jarinya terasa semakin perih dan memerah. "Duh... kenapa susah sekali, sih?" keluhnya dengan napas yang mulai memburu panik. Ivy menatap jarinya dengan tidak percaya. "Kenapa tiba-tiba jadi sempit begini? Padahal pas kupakai kemarin tidak apa-apa!" Melihat Ivy yang mulai heboh sendiri, Lucas berdecak. Dia langsung meraih pergelangan tangan Ivy tanpa permisi, membawa jemari gadis itu ke depan matanya untuk diperiksa. "Diam, jangan banyak bergerak," gumam Lucas rendah. Dengan sangat hati-hati, ia memegang pangkal cincin tersebut, mencoba memutarnya, lalu menariknya secara perlahan agar tidak melukai kulit Ivy. Namun, sama seperti Ivy, usaha Lucas tetap tidak membuahkan hasil. Cincin itu benar-benar terjebak di sana. Tuk... Tuk... Tuk... Langkah sepasang sepatu yang beradu dengan lantai koridor mendadak menggema dari arah tangga. Ivy dan Lucas refleks menahan napas, otomatis bersikap waspada begitu suara obrolan dua orang pria paruh baya perlahan terdengar semakin keras, dan salah satu dari suara berat itu sangat familiar di telinga mereka—Pak Darwin, sang guru killer. Merasakan adanya tanda bahaya, Ivy menatap Lucas dengan raut wajah cemas yang tidak lagi bisa disembunyikan. Pria di hadapannya pun tidak jauh berbeda. Meski hanya sekilas, gurat ketegangan sempat melewati wajah tenang Lucas. Keduanya tahu betul jika mereka tertangkap basah berduaan di koridor sepi saat jam pelajaran dimulai—apalagi Ivy dalam status kabur dari hukuman—masalahnya akan berbuntut panjang. Lucas langsung melepas tangan Ivy lalu menatap gadis itu lekat-lekat dengan sorot mata yang super serius. "Nona Donatur, kita tidak punya waktu," bisik Lucas cepat. "Pilih sekarang. Kamu mau pura-pura pingsan lalu aku gendong ke UKS, atau kita pasrah tertangkap basah di sini dan kamu harus menerima hukuman ganda dari guru killer itu?" Ivy sempat tertegun sebelum buru-buru menggelengkan kepala. Menolak keras usul tersebut. "Apa? Digendong? Aku tidak mau! Jangan cari-cari kesempatan—" Ujung sepatu pantofel milik Pak Darwin rupanya tidak membiarkan Ivy berpikir lebih lama. Terdesak keadaan membuat Ivy sengaja melemaskan kedua lututnya mengikuti skenario yang Lucas buat. Memejamkan mata rapat-rapat, lalu membiarkan tubuhnya ambruk ke depan. Grep. Lucas yang sudah mengantisipasi hal tersebut dengan sigap menangkap tubuh mungil Ivy yang limbung tepat sebelum gadis itu menyentuh lantai. Kedua lengannya menarik Ivy masuk ke dalam dekapannya. Memastikan posisi gadis itu aman, sebelum sedetik kemudian mengubah raut wajahnya sendiri menjadi kepanikan yang direkayasa. "Lho, ada apa ini?!" seru Pak Darwin dengan suara menggelegar. Matanya terbelalak, menatap tajam ke arah Lucas yang tengah mendekap erat tubuh lemas Ivy.Di rentang waktu yang sama, Lucas melangkah pelan usai membuang gumpalan tisu bekas ke tempat sampah. Dia membungkuk mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di lantai dekat ranjang, kemudian menyampirkan tali tas itu di bahunya tanpa sedikit pun menyadari adanya badai sunyi yang datang menyergap Ivy. “Aku pergi dulu ya. Ingat baik-baik pesanku tadi.” Lucas berbalik, bersiap melangkah keluar dari ruang UKS. Belum sempat tangannya meraih knop pintu, tepat setelah kalimat pamit itu terucap, sepasang kelopak mata Ivy yang semula terpejam menahan sakit tiba-tiba terbuka lebar. Manik sewarna madu yang biasanya memancarkan keangkuhan kini berubah redup. Terlihat kosong dan hampa, seolah pertahanannya baru saja diruntuhkan sesuatu, sehingga celah yang tercipta di sana, menjadi sarana bagi jiwa lain yang selama ini terbelenggu di dalam cincin milik Lucas untuk mengambil alih. "Lucas..." Nama itu lolos dari bibir Ivy dengan nada yang terdengar begitu asing: terlampau lirih, berget
Lucas memindahkan fokus matanya dari Ivy ke Pak Darwin yang kini berdiri tak jauh darinya. Dia terlihat sangat cemas—akting yang begitu natural, sampai-sampai Pak Darwin yang tadi masih memasang wajah galak, mulai melunak dan ikut memasang ekspresi khawatir, terlebih setelah melihat sendiri wajah Ivy yang tampak pucat.Di dalam dekapan Lucas, jantung Ivy bertalu begitu kencang. Ia bahkan harus mengatur napas agar dadanya tidak naik-turun terlalu kentara. Saking tegangnya, jemari Ivy tanpa sadar meremas ujung seragam Lucas, menyalurkan rasa takutnya jika sampai sandiwara ini terbongkar. Lucas yang merasakan remasan itu sengaja mengeratkan pelukannya, memberi isyarat tak bersuara agar Ivy tetap tenang."Maaf, Pak Darwin. Saya juga tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tadi saya melihat dia berjalan agak sempoyongan saat menuruni tangga. Karena situasinya tampak berbahaya, saya berniat menghampirinya. Namun, dia sudah tidak sadarkan diri sebelum saya sempat bertanya.""Ya, sudah. Tolong
Mata Ivy membulat sempurna. Lidahnya mendadak kelu dihantam sebuah pertanyaan yang begitu telak. Di benaknya, seketika muncul kebingungan besar tentang siapa laki-laki di hadapannya dan kenapa dia bisa tahu kalau cincin ini bukan miliknya. Tapi demi apapun, diseret paksa saat hukuman dari sang guru killer sedang berlangsung, kemudian dituduh sebagai pencuri, sama sekali bukan sesuatu yang bisa Ivy tolerir. Apalagi tudingan itu melayang dari seseorang yang tidak ia kenal. Setelah mengesampingkan rasa bersalahnya untuk sementara waktu, Ivy melipat kedua tangan di depan dada. Mencoba bersikap defensif dengan meninggikan dagu, sementara raut wajahnya memancarkan ekspresi permusuhan yang nyata. "Jangan asal tuduh, ya! Memangnya kamu siapa berani bicara seperti itu padaku?"Lucas tersenyum mencemooh. Pria jangkung itu mulai memangkas jarak di antara mereka tanpa sedikit pun melepas tatapannya dari Ivy. Langkahnya mengintimidasi. Memaksa Ivy untuk terus mundur, hingga tubuh mungilnya tengg
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bisa fokus menghadapi jam pelajaran pertama yang diisi oleh pak guru paling galak di sekolah. Namun perlawanan Ivy akhirnya tumbang tak lama kemudian. Dia menjatuhkan kepala di atas tangannya yang terlipat. Mencoba memanfaatkan sisa waktu sebelum bel masuk berbunyi. Baru saja kesadarannya menipis, sekelebat bayangan muncul secara paksa begitu kegelapan datang mengambil alih. Di balik kelopak mata yang terpejam, visual mimpi semalam kembali berputar. Kekacauan, suara teriakan, lalu wajah perempuan misterius yang mendadak muncul, membuat napasnya tertahan dan dia pun tersentak bangun. Tubuh Ivy menegak. Matanya bergerak liar, berusaha mencerna situasi sekeliling sampai dia sadar bahwa dirinya m
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala Ivy masih saja memutar ulang kejadian barusan. Rasanya masih tidak masuk akal. Bagaimana mungkin pertengkaran hebat yang terjadi tadi, disulap sedemikian rupa sehingga tampak seperti tidak pernah terjadi apa-apa? Tidak memberikan jeda untuk menangis lebih lama, ibunya tanpa banyak basa-basi langsung mengerahkan seluruh tenaganya demi terlihat "biasa saja". Membersihkan sisa-sisa kekacauan secepat yang ia bisa, memasak makan malam, mengajak Ivy makan bersama dalam keheningan yang mencekik, lalu masuk ke kamar masing-masing. Semua itu mereka lakukan tanpa membahas apa pun. Baik itu rencana untuk kabur, atau tentang gundik ayah yang hamil bahkan ingin dinikahi. Ivy menghela napas berat. Top
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang bertengkar hebat untuk ke sekian kali. “Jangan terlalu mendramatisir, Sara! Itu hanya masalah kecil.” "Selingkuh sampai gundikmu hamil kamu bilang masalah kecil?! Dimana otakmu?!" Jeff malah memutar malas kedua bola matanya. “Ya memang kecil. Aku cuma menghamili perempuan lain, bukan membunuh orang. Lagi pula, selama aku masih membiayai keluarga ini, apa yang kamu ributkan?" “Aku istrimu, Jeff! Kamu pikir uangmu bisa mengganti kehormatanku yang kamu injak-injak? Kamu pikir makan enak dan rumah mewah ini cukup untuk membayar rasa malu karena suamiku punya anak haram di luar sana?! Tidak hanya memiliki anak haram, kau bahkan ingin membawanya ke sini. Kurang gila apalagi coba?!" “Tutup mulut
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt
“Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus korn







