Share

7. A Sudden Plot.

Author: Aegiyaa
last update publish date: 2026-06-24 11:09:49

Mata Ivy membulat sempurna. Lidahnya mendadak kelu dihantam sebuah pertanyaan yang begitu telak. Di benaknya, seketika muncul kebingungan besar tentang siapa laki-laki di hadapannya dan kenapa dia bisa tahu kalau cincin ini bukan miliknya. Tapi demi apapun, diseret paksa saat hukuman dari sang guru killer sedang berlangsung, kemudian dituduh sebagai pencuri, sama sekali bukan sesuatu yang bisa Ivy tolerir. Apalagi tudingan itu melayang dari seseorang yang tidak ia kenal.

Setelah mengesampingkan rasa bersalahnya untuk sementara waktu, Ivy melipat kedua tangan di depan dada. Mencoba bersikap defensif dengan meninggikan dagu, sementara raut wajahnya memancarkan ekspresi permusuhan yang nyata. "Jangan asal tuduh, ya! Memangnya kamu siapa berani bicara seperti itu padaku?"

​Lucas tersenyum mencemooh. Pria jangkung itu mulai memangkas jarak di antara mereka tanpa sedikit pun melepas tatapannya dari Ivy. Langkahnya mengintimidasi. Memaksa Ivy untuk terus mundur, hingga tubuh mungilnya tenggelam dalam bayang-bayang Lucas—terisolasi dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

"Selain mencuri, ternyata kamu juga suka menyalahgunakan kekuasaan." Di detik Lucas mengakhiri kalimatnya, Ivy merasakan udara di sekitar mereka semakin bertambah berat. "Aku tahu kalau ayahmu merupakan donatur utama di sekolah elit ini. Dan berurusan denganmu, sama saja seperti sedang mencari masalah. Terlebih statusku di sini cuma seorang siswa tidak mampu yang menerima beasiswa. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu, bukan?"

Ivy mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dadanya sesak oleh amarah yang sejak tadi berusaha ia tahan. Kurang ajar sekali dia! Mereka bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Lantas, atas dasar apa laki-laki dengan nametag Lucas Anderson ini berlagak seolah paling tahu tentang dirinya? ​"Aku tidak peduli kamu mau menilaiku bagaimana," desis Ivy tajam. "Tapi, berhenti menyebutku pencuri, apalagi kamu tidak memiliki bukti!"

"Kamu masih mau bukti?" Lucas melirik cincin milik ibunya yang masih melingkar di jari manis Ivy lalu tertawa kecil, sementara gadis itu refleks menutupi benda yang mereka perdebatkan dengan gestur canggung.

"Dengar Nona Ivy, meski kamu lancang, aku masih menutup mata saat kamu menyentuh piano milik ibuku tanpa izin. Tapi itu bukan berarti kamu boleh membawa kabur cincin milik orang lain seenaknya." Suaranya berat, mengancam. Kontras dengan ekspresinya yang begitu tenang.

'Piano milik ibunya? Jadi, cincin ini juga...'

Ivy refleks menutup mulut. Tatapannya turun cepat ke jemarinya sendiri yang mulai gemetar. Ternyata piano itu, melodi-melodi yang ia mainkan kemarin saat di panti, dan cincin misterius ini, semuanya terhubung pada satu benang merah yang sama—hal yang membuat Ivy kehilangan sikap defensifnya kepada Lucas, sekaligus memahami alasan di balik kata-katanya yang kasar dan tajam.

"Ak-aku..." Ivy terbata. Keberanian yang tadi ia busungkan di depan dada mendadak ciut seperti balon kehilangan udara. Dia tidak bisa mengelak karena bukti yang ia minta barusan justru ada padanya. Jemarinya meremas satu sama lain dengan gelisah, sementara matanya bergerak liar menghindari tatapan menghakimi dari Lucas.

Mencoba menyelamatkan muka, Ivy menarik napas dalam-dalam kemudian berkata, "Aku tidak bermaksud mencurinya, kok. Aku hanya meminjamnya sebentar lalu lupa mengembalikan! Anggap saja aku sedang membantu menyimpannya untukmu, jadi kamu tidak perlu semarah itu padaku."

​Ivy melengos, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa harga dirinya meski upaya tersebut gagal total. ​Lucas sama sekali tidak terkesan. Hazelnya seolah berbicara bahwa Ivy baru saja melontarkan lelucon paling bodoh di dunia yang tanpa diberi tahu pun, ia sendiri sadar kalau kalimatnya barusan terdengar sangat menggelikan. Memangnya siapa yang akan percaya alasan sekonyol itu? Ivy merutuki dirinya sendiri dalam hati, menyesali perkataan yang membuatnya terlihat tidak tahu malu.

​"Meminjam, ya?" Lucas menanggapi dengan nada mengejek yang kental. Dia maju setengah langkah lagi tanpa memutus kontak mata dengan Ivy, lalu mengulurkan tangannya yang terbuka ke depan gadis itu. "Kalau begitu, masa pinjammu sudah habis. Lepaskan cincinnya sekarang, dan ke depannya, jangan pernah menyentuh apa pun yang bukan milikmu lagi, Nona."

Ivy mendengus kesal. Karena enggan memperpanjang keributan, ia akhirnya menyerah. Toh, dia memang salah. Buat apa bersikap keras kepala? "Terserah! Ambil saja kembali! Aku juga tidak menyukainya," katanya ketus, seraya menarik cincin tersebut dari jari manisnya. ​Namun, kejutan tak terduga lain datang. Saat ditarik, cincin itu seakan menolak untuk lepas, tak peduli seberapa keras Ivy berusaha.

Dia mengernyit menahan sakit ketika mencoba menarik cincin itu lagi dan lagi dengan tenaga ekstra. Namun, benda itu tidak bergeser sedikit pun, yang ada malah membuat kulit jarinya terasa semakin perih dan memerah.

​"Duh... kenapa susah sekali, sih?" keluhnya dengan napas yang mulai memburu panik. Ivy menatap jarinya dengan tidak percaya. "Kenapa tiba-tiba jadi sempit begini? Padahal pas kupakai kemarin tidak apa-apa!"

​Melihat Ivy yang mulai heboh sendiri, Lucas berdecak. Dia langsung meraih pergelangan tangan Ivy tanpa permisi, membawa jemari gadis itu ke depan matanya untuk diperiksa. ​"Diam, jangan banyak bergerak," gumam Lucas rendah. Dengan sangat hati-hati, ia memegang pangkal cincin tersebut, mencoba memutarnya, lalu menariknya secara perlahan agar tidak melukai kulit Ivy. Namun, sama seperti Ivy, usaha Lucas tetap tidak membuahkan hasil. Cincin itu benar-benar terjebak di sana.

​Tuk... Tuk... Tuk...

​Langkah sepasang sepatu yang beradu dengan lantai koridor mendadak menggema dari arah tangga. Ivy dan Lucas refleks menahan napas, otomatis bersikap waspada begitu suara obrolan dua orang pria paruh baya perlahan terdengar semakin keras, dan salah satu dari suara berat itu sangat familiar di telinga mereka—Pak Darwin, sang guru killer.

Merasakan adanya tanda bahaya, Ivy menatap Lucas dengan raut wajah cemas yang tidak lagi bisa disembunyikan. Pria di hadapannya pun tidak jauh berbeda. Meski hanya sekilas, gurat ketegangan sempat melewati wajah tenang Lucas. Keduanya tahu betul jika mereka tertangkap basah berduaan di koridor sepi saat jam pelajaran dimulai—apalagi Ivy dalam status kabur dari hukuman—masalahnya akan berbuntut panjang.

​Lucas langsung melepas tangan Ivy lalu menatap gadis itu lekat-lekat dengan sorot mata yang super serius. ​"Nona Donatur, kita tidak punya waktu," bisik Lucas cepat. "Pilih sekarang. Kamu mau pura-pura pingsan lalu aku gendong ke UKS, atau kita pasrah tertangkap basah di sini dan kamu harus menerima hukuman ganda dari guru killer itu?"

Ivy sempat tertegun sebelum buru-buru menggelengkan kepala. Menolak keras usul tersebut. "Apa? Digendong? Aku tidak mau! Jangan cari-cari kesempatan—"

Ujung sepatu pantofel milik Pak Darwin rupanya tidak membiarkan Ivy berpikir lebih lama. Terdesak keadaan membuat Ivy sengaja melemaskan kedua lututnya mengikuti skenario yang Lucas buat. Memejamkan mata rapat-rapat, lalu membiarkan tubuhnya ambruk ke depan.

Grep.

Lucas yang sudah mengantisipasi hal tersebut dengan sigap menangkap tubuh mungil Ivy yang limbung tepat sebelum gadis itu menyentuh lantai. Kedua lengannya menarik Ivy masuk ke dalam dekapannya. Memastikan posisi gadis itu aman, sebelum sedetik kemudian mengubah raut wajahnya sendiri menjadi kepanikan yang direkayasa.

​"Lho, ada apa ini?!" seru Pak Darwin dengan suara menggelegar. Matanya terbelalak, menatap tajam ke arah Lucas yang tengah mendekap erat tubuh lemas Ivy.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    98. She Came Back

    Lucas membuka kunci gudang dengan tergesa. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertumbuk ke tubuh Ivy yang terkulai di lantai.“Ivy,” panggilnya, sambil mencoba menguasai diri supaya tidak terlihat khawatir. Tidak ada jawaban. “Cepat bangun! Jangan pura-pura.”Lucas menggoyangkan kaki Ivy dengan kakinya beberapa kali. Begitu dia lagi-lagi tidak mendapatkan respon, pria itu mengembuskan napas kasar. Membungkuk dan mengangkat tubuh Ivy ke dalam pelukannya. Kali ini gerakan Lucas jauh lebih hati-hati daripada ketika ia menyeret Ivy ke tempat tersebut. Ia bahkan sempat memastikan napas Ivy masih teratur sebelum membawanya naik menuju kamar lalu membaringkannya di atas kasur. Jika logika Lucas mendikte bahwa dia harus pergi karena Ivy akan baik-baik saja, hatinya tidak berbicara seperti itu. Lucas akhirnya memilih untuk tidak pergi. Ia duduk di sisi kasur, mengawasi wajah pucat Ivy dalam diam.Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam. Hampir satu jam berlalu, tetapi Ivy mas

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    97. Trauma

    “Kau mau bawa aku ke mana?” “Lepaskan aku, Brengsek!” “Aku tidak mau ikut denganmu!” “Lucas! Aku pasti akan membunuhmu begitu keluar dari tempat terkutuk ini! LEPAS!” “Aku tunggu hari itu tiba,” jawab Lucas tanpa beban, “tapi sayangnya hari itu tidak akan datang, Baby.” Sumpah serapah Ivy tak sedikit pun menggoyahkan Lucas. Alih-alih melonggarkan pegangannya, jemarinya justru semakin mengetat, memaksa wanita itu terus mengikutinya tanpa memberi kesempatan untuk melepaskan diri. Dia menyeret Ivy melewati lorong, sebelum akhirnya menuruni tangga menuju bagian bawah rumah yang selama ini belum pernah gadis itu lihat. Suasana di sana terasa dingin dan lembap, mengisyaratkan area yang tersisolasi dari dunia luar. Langkah Lucas terhenti di depan sebuah pintu besi. Ia membuka kaitnya dengan satu gerakan, lalu mendorong Ivy masuk hingga wanita itu tersungkur di atas lantai beton yang dingin. “Sebenarnya aku ke sini hanya untuk mengajakmu makan siang bersama. Tapi kau malah me

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    96. Hadiah Kecil

    Kilau deretan perhiasan di atas etalase beludru hitam itu memantulkan cahaya lampu kristal. Lucas mengamati satu per satu perhiasan yang tersaji di hadapannya, menelusuri setiap detail dengan tatapan tenang dan penuh perhitungan. Hanya berselang beberapa menit, manajer toko datang sambil membawa sebuah kotak kayu mahoni. Dengan hati-hati ia membukanya. Memperlihatkan sebuah cincin berhiaskan berlian emerald-cut berukuran fantastis, yang memancarkan semburat merah muda langka. ​"Ini adalah Pink Star, Tuan. Salah satu koleksi paling eksklusif kami. Sangat anggun, namun memiliki karakter yang begitu kuat," jelas sang manajer, suaranya bergetar penuh harap. ​Lucas mengambil perhiasan tersebut dan menimbang bobotnya di ujung jari. Kilau merah mudanya memang terlihat luar biasa. Namun rangkanya terasa terlalu tebal dan berbobot. ​"Indah," ucap Lucas dingin. "Tapi berat. Aku menginginkan sesuatu yang begitu halus hingga terasa menyatu di kulit tanpa membebani jarinya. Tunjukkan yang

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    95. Setelah Mimpi Buruk

    Suara robekan kain yang terputus paksa menjadi akhir dari belenggu di pergelangan tangan Ivy. Akan tetapi, kebebasan fisik yang baru saja dikembalikan justru terasa seperti bentuk penyiksaan baru. Terutama ketika otot-otot lengannya yang kaku merespons dengan denyut ngilu menyengat di atas kulit yang lecet. Lucas menarik pisau lipatnya dan membiarkan sisa kain itu jatuh ke atas kasur, menatap kulit Ivy yang terkoyak dengan raut wajah tanpa penyesalan. Dia mencondongkan tubuh ke arah Ivy, mengunci pandangannya yang redup sebelum membisikkan ancaman dengan nada yang teramat tenang namun terasa mematikan. ​“Aku memberimu kebebasan di rumah ini,” desis Lucas tepat di depan wajahnya. “Tapi jangan pernah sekalipun berpikir untuk kabur. Karena jika kau berani melakukannya, aku bersumpah akan menyeretmu ke rumah bordil paling hina begitu aku menemukanmu.” Tanpa menunggu balasan dari Ivy yang masih dilanda tremor, sambil sesekali menahan napas untuk meredam isak yang tertahan, Lucas mene

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    94. Never Be the Same.

    Protes terakhir yang hampir meluncur dari bibir Ivy seketika buyar, berubah menjadi desahan tertahan begitu Lucas mengubah ritme permainannya. Sentuhan yang tadinya terasa cukup kasar sebagai bentuk hukuman, kini bergeser menjadi sesuatu yang membakar kulit. Membuat batas antara amarah dan hasrat melebur dalam isak tangis yang kian tak beraturan. ​Ivy melawan sekeras yang ia bisa. Berusaha menarik pergelangan tangannya yang terkunci di kepala ranjang, meski tahu bahwa tindakannya itu hanya akan menyakitinya. Dia tidak peduli dengan rasa nyeri menyiksa yang timbul di atas luka terbuka akibat gesekan ketika ia meronta tanpa henti. Semuanya Ivy lakukan hanya demi mempertahankan sisa-sisa kewarasan di saat tubuhnya justru mengangkat pinggul secara naluriah, memohon dengan begitu tak tahu malu pada pria yang tengah menatapnya dengan seringai puas. “Bagus, Ivy... lepaskan semua gengsi tidak bergunamu itu,” suara Lucas terdengar rendah, serak, dan menghanyutkan. Desahan Ivy semakin men

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    93. First Night

    Rasa takut luar biasa mencekik leher Ivy. Mengubah sisa jeritannya menjadi rintihan putus asa, begitu Lucas merangkak naik ke atas tubuhnya dengan perlahan dan penuh teror. Pria itu menyelipkan satu tangannya ke balik punggung Ivy, mengangkatnya sedikit, lalu dengan lihai melepas kaitan bra yang masih melekat di tubuh sang tawanan sebelum benda tersebut ia lempar secara sembrono ke arah lain. Lucas tidak melakukan apa pun selain memperhatikan wajah cantik Ivy yang basah oleh air mata, juga lekuk indah yang membusung di bawah tubuhnya. Pemandangan luar biasa yang kini memenuhi matanya, tak ayal membuat jakun Lucas naik turun. Tarikan napasnya berat dan dalam, sementara senyum segaris menghiasi wajahnya yang tampan. Rasa takut yang tercetak jelas di wajah Ivy memberikannya dua hal: kepuasan karena orang yang ia benci tak berdaya di bawah kendalinya, sekaligus gelenyar nyeri yang mencubit hati karena Ivy terlihat begitu takut padanya. Kontradiksi itu membuat Lucas mendengus pe

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    6. Kesan Pertama.

    Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    5. Mimpi yang Menghantui

    Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    2. Pria Baik yang Berubah Menjadi Jahat.

    “Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya

  • Tukar Takdir: Semakin Kujauhi, Semakin Kucintai.    1. Ingat Aku?

    "JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus korn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status