LOGIN“Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel.
Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. Lagian itu karburator rusak, bikin motor brebet terus. Tapi ya sudah, sini uangnya buat beli es teh. Lumayan, lagi haus juga.” Mr. Joe langsung mengambil uang lima dolar itu dari tangan Kaelan, pria itu merasa untung karena sampah di bengkelnya jadi uang. “Terima kasih, Tuan.” Setelah mencapai tujuannya, Kaelan mengajak Brad duduk di pinggir selokan di bawah pohon rindang tak jauh dari bengkel. “Bos, itu beneran rusak kata Mr. Joe. Rugi dong kita lima dolar?” keluh Brad. “Diam dan perhatikan," perintah Kaelan. Kaelan memungut sedikit bensin sisa yang ada di botol bekas dekat situ, lalu mulai membongkar karburator tersebut. Karena kecerdasannya dan entah dari pengalaman apa … tanpa obeng, Kaelan menggunakan plat besi tipis yang ia temukan di tanah untuk memutar baut. Dia terlihat sangat mahir, bahkan seperti sudah melakukan ini ribuan kali. “Brad, tiup lubangnya ini dengan kuat ya,” perintah Kaelan sambil menyodorkan sesuatu berukuran kecil berbahan kuningan. Brad menurut, meski bingung. “Fuuuhhh!” “Sekali lagi. Lebih kuat!” “FUUUHHHH!” Tiba-tiba, gumpalan kotoran hitam kecil keluar dari ujung lubang jarum itu. “Ok. Cukup,” ucap Kaelan. Ia merakit kembali karburator itu dalam waktu kurang dari dua menit. Setelah dibersihkan dengan sedikit bensin, tulisan Made in Germany yang terukir di karburator terlihat mengkilap. “Ini... jadi baru lagi?” mata Brad terbelalak. “Bukan baru, tapi asli. Di dunia otomotif, barang asli bekas lebih ada harganya daripada barang baru tapi palsu," jelas Kaelan sambil berdiri. Tepat saat itu, seorang pria tua menuntun motor bebek tuanya masuk ke bengkel Mr. Joe dengan napas ngos-ngosan. “Mr. Joe, tolongin motor saya. Mogok lagi. Padahal besok mau dipakai ngojek ke pasar. Motornya memang sudah tua, tapi semoga aja masih bisa diperbaiki,” keluh pria tua bernama Mr. Thomas itu. Mr. Joe mengecek sebentar, lalu menggeleng. "Waduh, Mr. Thomas. Ini karburatornya sudah aus. Harus ganti. Yang biasa harganya 15 dolar, yang asli 35 dolar. Stok saya tinggal yang asli." Wajah Mr. Thomas langsung pucat. “Waduh ... mahal banget, Tuan. Jangankan yang asli, yang biasa aja duit saya tidak mampu. Saya cuma pegang uang 7 dolar ini … apa tidak ada harga segitu, Tuan? Yang biasa banget juga tidak apa-apa kok.” Mr. Joe mengangkat bahu. “Waduh… harga di bawah 15 tidak ada, Mr. Thomas. 7 mah saya rugi. Terserah Mr. Thomas aja, tapi kalau nggak diganti nggak bisa jalan ini.” “Yaudah, kalau gitu nggak jadi aja, Tuan. Uangnya tidak cukup.” Mr. Thomas kembali mendorong motornya dengan wajah kecewa. “Kesempatan emas, memang semesta membantu kita,” ujar Kaelan yang melihat Mr. Thomas mendorong motor bututnya. “Bos maksudmu?” tanya Brad. “Kamu ikut aku, tapi jangan sampai Mr. Joe lihat, bisa-bisa dia muntah darah karena marah. Ayo kita ikuti Mr. Thomas.” Ketika Mr. Thomas berada di jalan sepi, dia melihat Kaelan dan yang lainnya menghentikannya. Wajahnya yang sudah lelah menjadi sangat waspada. Kaelan mengerti ekspresi Mr. Thomas, dia buru-buru tersenyum. “Permisi, Tuan,” sapa Kaelan dengan sopan. “Eh, bukannya kamu anaknya Evelyn? Kael. Minggir dulu, Bapak lagi pusing." “Maaf Tuan, tadi aku sempat menguping saat di bengkel. Aku bisa membantu bapak. Kalau Bapak mau, saya punya karburator original Jerman. Masih sangat mulus. Tadi saya nemu di gudang peninggalan kakek teman saya. Dijamin sangat bagus, Tuan.” Ia menatap Mr. Thomas. “Bapak boleh coba dulu pasang. Kalau mesinnya nyala dan suaranya halus, Bapak bayar saya lima puluh dolar saja. Kalau jelek, tidak usah bayar. Bapak tidak rugi apa-apa, kan?” Mr. Thomas tampak berpikir sejenak. Tawaran itu terlalu menggiurkan dan dia memang sangat butuh kendaraannya agar bagus lagi. “Lima puluh dolar?” “Iya, Tuan. Termasuk pasang.” “Memangnya kamu bisa pasang?” “Bisa, Tuan. Kakek saya orang bengkel. Jadi waktu di kota saya sering bantu.” Bohong Kaelan hanya untuk meyakinkan bapak tua itu. “Ya sudah, coba saja.” “Tapi apakah Mr. Thomas bawa kunci-kunci?” tanya Kaelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Oalah, ada. Bentar aku ambil di bagasi.” Setelah menerima kunci-kunci, Kaelan langsung memasang karburator dengan tangan yang sangat lincah. Hanya butuh lima menit. BRUMMM!! Mesin motor tua itu langsung menyala. Suaranya terdengar tidak berisik, stasionernya mulus, tidak ada suara batuk-batuk atau brebet sedikitpun. Jauh lebih halus daripada sebelumnya. “Wah! Enak banget tarikannya!” seru Mr. Thomas setelah menarik gas sedikit. Wajah lelahnya seketika berubah sumringah. “Ini malah lebih enak dari pas motornya masih baru! Hebat kamu, Kael!” Tanpa banyak bicara, Mr. Thomas langsung mengeluarkan uang lima puluh dolar dan memberikannya ke Kaelan. “Terima kasih ya, Nak! Kamu penyelamat. Mana duit tidak ada, kebutuhan banyak. Aku kira uangnya bakal habis, ternyata masih sisa 20 dolar. Syukur, bisa beli gandum.” Mr. Thomas pun pergi dengan motornya yang kini melaju kencang. Kaelan mengibas-ngibaskan uang biru lima puluh dolar itu di depan Brad. “Bagaimana?” tanya dia dengan wajah bangga. “Ini,” Kaelan memberikan uang lima puluh dolar itu ke tangan Brad. “Bos ... ini ... lima puluh dolar?” tangan Brad gemetar. Uang jajan dia empat hari pun tidak sampai segitu. “Buat aku semua?” “Ambil modalmu lima dolar. Sisanya, simpan sebagai kas kita. Kita akan butuh modal lebih besar untuk rencana selanjutnya,” ucap Kaelan sambil berjalan menjauh, meninggalkan bengkel dengan gaya cool. Brad buru-buru memasukkan uang itu ke saku dan berlari menyusul Kaelan, dengan wajah sumringah. “Bos! Kamu jenius sekali! Kita mau bisnis apa lagi besok? Jual kulkas? Jual tv?” Kaelan hanya tersenyum, dia sangat menikmati dirinya yang sekarang. “Recehan sudah cukup. Besok, kita akan mulai mengincar uang yang sebenarnya.” Mereka pun pulang. Setibanya di rumah, Evelyn langsung menyambut Kaelan. “Kael, syukurlah kamu pulang selamat.” Kaelan melihat wajah Evelyn yang begitu cemas. “Ma, ada apa? Kok mama terlihat sangat panik?” tanya dia dengan bingung. “Sekarang mandi dulu, ganti pakaian, terus makan. Nanti mama kasih tau,” ujar Evelyn. Kaelan mengangguk tidak banyak protes, dia langsung mandi, terus berganti pakaian. Setelah itu, dia duduk di bangku kayu yang terlihat sudah tua. Dia tidak fokus terhadap hidangan sederhana di hadapannya, bukan karena tidak ada selera makan. Tapi dia masih kepikiran ucapan ibunya tadi. “Ma, sebenarnya ada apa?” tanya Kaelan, dia seolah-olah tidak akan makan sebelum tahu apa penyebab Evelyn sangat panik. “Tadi ada Mr. Mayor, dia mengumpulkan semua kepala lingkungan di seluruh Desa. Tadi malam ada beberapa anak hilang, bahkan tadi pagi sudah ada yang hilang lagi. Mama khawatir keselamatan kamu.” “Mama tidak perlu khawatir, Kaelan pasti bisa jaga diri. Sekarang kita makan, ya, ma.” Kaelan tidak membuat pembahasan itu melebar, tapi dia juga tidak mengabaikan kekhawatiran Ibunya. *** Keesokan paginya, sekitar jam empat pagi, Evelyn berpamitan untuk pergi ke pasar berbelanja kebutuhan sehari-harinya. “Kael, kamu jangan ke mana-mana, ya. Mama ke pasar dulu. Gak lama, dua jam juga mama sudah pulang.” “Iya, ma, hati-hati.” Kaelan melihat Evelyn berjalan kaki menuju stasiun kereta. Dari rumahnya cukup jauh sekitar 2km menuju stasiun. Biasanya dia tidak terlalu khawatir, tapi setelah mendengar berita maraknya penculikan, dia sangat khawatir terhadap Ibunya. Kaelan menyusul Ibunya, ingin memastikan Ibunya baik-baik saja bisa sampai stasiun kereta. Namun, ketika dia mencoba menyusul, dia mendengar suara tangisan seorang wanita paruh baya. “Ini bukan suara hantu, kan?” ujarnya. Tiba-tiba sorot mata Kaelan menjadi sangat tajam. Jam empat pagi itu masih sangat gelap, tapi anehnya dia bisa melihat dengan jelas di kegelapan. Kaelan melihat seorang Ibu-ibu meronta-ronta menangis sesenggukan, tubuhnya diikat di pohon. Mulutnya ditutup lakban hitam, walaupun suara yang keluar dari mulutnya sangat pelan, itu bisa terdengar jelas oleh telinganya. Lalu Kaelan menatap ke arah lain, dia melihat tiga orang mengenakan penutup wajah hitam sedang membawa seorang anak berusia sekitar tujuh tahunan. Ketiga orang itu berjalan dengan cepat menuju hutan pinus yang rimbun. Kaelan tahu jalur itu, setelah hutan pinus ada sungai, lalu hutan pinus lagi. Setelah melewati hutan pinus di seberang sungai, ada jalan aspal. Tapi itu sudah beda lingkungan, bukan lingkungannya lagi. “Apakah mereka penculik yang sedang ramai dibicarakan?” gumamnya. Kaelan ingin menolong, tapi dia sadar tubuhnya terlalu kecil. Bisa-bisa dia yang menjadi santapan ketiga penculik itu. Tetapi saat dia melihat seorang ibu menangis, hatinya terasa sakit, dan mulai tubuhnya memanas seolah-olah ada dorongan untuk bergerak. Tanpa berpikir panjang, Kaelan langsung bergerak. Namun, saat dia melompat, dia tertegun sejenak. Dia menoleh ke belakang, dan melihat jarak lompatannya. “Ini, ini…” Kaelan sendiri tercengang, karena lompatannya lebih dari sepuluh meter. “Benar saja dugaanku, pantas saja tubuhku terasa sangat aneh. Ternyata tubuhku berbeda dengan orang pada umumnya!” Tanpa berpikir panjang, dia langsung berlari mengejar ketiga penculik itu. Tubuhnya lebih lincah daripada macan tutul yang sedang memburu mangsa, dia melompat seperti pohon-pohon di hadapannya tidak menjadi penghalang baginya.“Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib
Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len
Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d
Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket
Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte
“Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La







