LOGIN“Sekarang bagaimana cara kamu ingin membantuku?” tanya Brad.
Kaelan menyeringai. “Siapkan saja otakmu, nanti sore di bawah pohon besar belakang sekolah kita bertemu. Jangan terlambat satu detik pun.” Kaelan berbalik dan berjalan kembali ke bangkunya dengan santai, meninggalkan Brad yang masih bengong menatap punggung kecil itu. Teman-teman Brad yang melihat kejadian itu bingung. Bos mereka baru saja dihampiri anak baru, dimarahi, dan Bos mereka diam saja? Sangat tidak masuk akal. Saat hari mulai sore Kaelan duduk seorang diri di bawah pohon besar yang memayunginya. Tak lama, Brad muncul dengan wajah yang masam, buku paket matematika serta catatan tak luput di genggamannya. “Jadi, kamu mau ngajarin aku apa? Rumus phytagoras? Perkalian?” tanya Brad skeptis. Kaelan yang sedang duduk di atas akar pohon yang menancap keluar menggeleng pelan. Dia tidak memegang buku paket, melainkan hanya selembar kertas kusut yang penuh coretan. “Kita tidak akan belajar matematika, itu buang waktu untuk otakmu yang sudah tumpul,” jawab Kaelan dengan tajam. “Heh! Jaga mulutmu!” Brad mengepalkan tangan. "Duduk saja yang santai, tidak perlu setegang itu. Aku bukan malaikat maut yang terlihat menyeramkan," ujarnya santai. Seolah-olah hal seperti ini hanya masalah sepele baginya. Setelah Brad duduk, Kaelan mulai menjelaskan. “Manusia itu selalu mengulangi kebiasaan buruknya, termasuk Miss Bella. Saat jam pulang sekolah, perpustakaan masih buka. Jadi aku masuk dan mencari semua soal ujian lima tahun kemarin. Untung saja semua soal ada di perpustakaan, jadi sangat gampang untuk mencari tahu. Dan … ternyata Miss Bella malas membuat soal baru. Dia hanya memutar angka. Polanya selalu sama,” ungkap Kaelan dan berhasil membuat Brad semakin bungkam. Dia kemudian melempar selembar kertas yang penuh catatan ke arah Brad. Brad langsung memungut kertas itu dan membukanya. Matanya membelalak, coretan itu bukan rumus, tapi pola kunci jawaban. “Jika soal ceritanya tentang pedagang buah, jawabannya pasti kelipatan 5. Jika soal pecahan penyebutnya 12, jawabannya pasti 3. Kamu tidak perlu menghitung, kamu hanya perlu mencari kata kuncinya,” jelas Kaelan. “Ini namanya strategi. Di dunia ini, orang tidak peduli seberapa keras kamu menghitung, mereka hanya peduli hasil akhirnya benar atau salah.” Kaelan kembali menunjukkan kecerdasannya. Bukan hanya itu, pola pikirnya, cara dia berbicara, semua menunjukkan bahwa Kaelan memang bukan orang biasa. “Gila! Kamu ... Kamu seperti iblis.” “Hafalkan pola itu malam ini. Besok saat kuis dadakan, buktikan kalau aku benar.” “Kalau kamu salah?” “Kamu akan membuktikannya sendiri, apakah aku salah atau tidak,” jawab Kaelan dengan tenang. *** Malam berselang pagi, semua siswa sudah duduk rapi di tempat duduknya dan mengerjakan soal ujian yang sudah dibagikan oleh Miss Bella beberapa menit lalu. Prediksi Kaelan 100% benar. Soal yang keluar persis seperti pola yang diajarkan Kaelan. Sementara itu, Brad mengisi lembar jawaban dengan tangan gemetar, bukan karena takut mendapatkan nilai merah, tapi karena menahan tawa kegirangan. Dia selesai paling cepat, dan tentu saja, Kaelan memang sengaja mengalah. Tak lama, saat hasil dibagikan, satu kelas gempar. “Nilai tertinggi ... Kael, 100,” ucap Miss Bella. Itu sudah biasa, karena sekarang semua orang sudah tahu jika Kaelan anak yang cerdas. Tapi, yang mengejutkan ... Brad, dia dapat 90. Sontak teman-teman sekelas Brad kaget dan menatap anak bertubuh besar itu. Brad menoleh ke belakang, menatap Kaelan dengan bangga. Kaelan tidak tersenyum, dia hanya menatap lurus di depan. Detik itu juga, hierarki di kelas berubah. Brad bukan lagi predator yang paling ditakuti. Dia adalah anjing penjaga yang baru saja menemukan majikannya. Saat pulang sekolah, Kaelan berjalan keluar gerbang sekolah dengan tenang. Di depan gerbang, tiga anak High School berbadan bongsor sedang nongkrong sambil merokok sembunyi-sembunyi. Mereka melihat Kaelan yang berjalan sendirian. “Woy, anak baru! Sini lu!” panggil si remaja berambut gondrong bernama Zack. “Gua denger lu pinter. Biasanya anak pinter itu pinter nabung uang jajan juga. Sini bagi duit jajan lu!” Kaelan berhenti dan menatap ketiga anak High School itu tanpa ekspresi. “Aku tidak punya uang,” jawab Kaelan dengan datar. “Bohong! Geledah aja dia!” Zack maju hendak mencengkeram kerah Kaelan. Namun, sebelum tangan kotor itu menyentuh kemeja putih Kaelan, sebuah tangan kekar menepisnya dengan kasar. PLAK! “Tarik tangan lu, Bang!” Zack kaget. Dia menoleh dan melihat Brad berdiri tegak di belakangnya, selain dia, ada dua anak buahnya yang sudah memegang kayu balok. Wajah Brad terlihat bengis, jauh lebih menyeramkan daripada saat dia memalak anak SD biasanya. “Brad? Lu mau cari mati lawan kakak kelas lo?” “Cuih!” Brad meludah ke tanah, tepat di sepatu Zack. “Dia Bos gue sekarang. Lu sentuh dia seujung kuku, lu berurusan sama anak-anak Ashvale. Mau gue panggilin abang-abang gue di pasar sekarang, ha?” Zack gemetar. Meskipun Brad masih anak sekolah dasar, koneksinya dengan preman pasar tempat ibunya berjualan bukan rahasia. Apalagi Ayahnya yang sudah terkenal sebagai ketua para preman. “Cih. Awas lu ya!” Ketiga remaja itu akhirnya mundur dan pergi. Brad berbalik menghadap Kaelan. Sikap bringasnya langsung hilang, berganti dengan sikap hormat yang kaku. “Bos, aman kan?” tanya Brad. “Bagus. Kerja yang rapi.” Sebenarnya ketika ketiga remaja itu ingin menyentuh Kaelan, Kaelan merasakan tulang-tulangnya berderit. Kemudian, ada sesuatu yang aneh menyelimuti tubuhnya. “Perasaan ini muncul lagi, aku benar-benar harus mencari tahu penyebabnya,” batinnya, tanpa membuat yang lain curiga. Brad tertawa bangga. Mereka pun berjalan bersama hingga memasuki desa Ashvale. Pemandangan itu membuat warga desa yang melihat tercengang. Kaelan, anak yang mereka sebut 'anak haram', kini berjalan dikawal oleh Brad si biang kerok desa, layaknya seorang Pangeran yang dikawal Panglima Perangnya. Namun, Kaelan tidak cepat puas. Langkah kakinya terhenti saat melewati sebuah bengkel milik Mr. Joe yang sepi pengunjung. Mata tajam Kaelan terpaku pada tumpukan besi tua. Di sana, tergeletak sebuah karburator motor yang sudah sangat hitam kena oli. Montir membuangnya karena mengira itu sudah rusak parah. Tapi Kaelan tersenyum. Dia tahu karburator itu adalah barang asli buatan Jerman yang mahal. Itu tidak rusak, hanya lubang jarumnya tersumbat kotoran. Cukup dicuci bensin dan ditiup kuat-kuat, karburator itu akan berfungsi seperti baru lagi. Otak jenius Kaelan bekerja otomatis. Anak itu tidak melihat sampah. Dia melihat... Uang. “Brad,” panggil Kaelan. “Ya, Bos?” “Kamu punya uang 5 dolar?” Brad langsung merogoh saku celananya. “Ada, sisa uang jajan. Mau beli es?” “Bukan,” Kaelan menyeringai, sebuah senyum ambisius yang mengerikan. “Pinjamkan padaku. Kita akan melipatgandakan uang 5 dolarmu menjadi lima puluh dolar dalam waktu satu jam.” “Apa? Bagaimana bisa?” Brad kaget, rasa tak percayanya muncul. “Percaya saja padaku. Jangan banyak debat.”“Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib
Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len
Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d
Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket
Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte
“Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La







