LOGINRuang HR beraroma kayu manis dan kertas baru. Laila, kepala HR, menyodorkan secangkir teh. “Kita mulai dari garis besar: hubungan personal dalam hierarki tidak dilarang, tapi diatur. Ada form persetujuan, protokol pelaporan, dan jalur konsultasi jika terjadi konflik kepentingan.”
“Baik.” Naya duduk tegak.
Arga hadir di sisi lain meja, lengan disilangkan. Satu tim legal ikut duduk, laptop terbuka, siap mencatat segala kemungkinan gugatan masa depan.
Laila menatap keduanya bergantian. “Kita jujur saja. Ini perjanjian kontrak yang dimaksudkan untuk konsumsi publik. Namun dunia nyata sering tak nyaman mengikuti skenario. Jadi kita akan buat pagar.”
Ia mengangkat berkas. “Batasan fisik di kantor: no PDA. Batasan tugas: Naya tidak boleh menerima perintah yang tidak terkait pekerjaan, kecuali kegiatan PR yang sudah disetujui. Check-in mingguan ke HR. Komunikasi tertulis lebih diutamakan.”
“Setuju,” kata Naya.
“Setuju,” kata Arga.
“Dan satu lagi,” Laila menatap Arga lebih lama. “Kalau ada keluhan, Naya tidak akan melapor kepadamu. Dia melapor ke aku. Tanpa konsekuensi karier.”
Arga menahan tatapannya. “Disetujui.”
Sesi berlanjut ke simulasi krisis. Laila menampilkan mock-up berita gosip tentang “tunangannya” CEO. “Kita latihan respons.”
Naya menegakkan bahu, menahan degup. “Kami berterima kasih atas perhatian publik. Fokus kami tetap pada kinerja dan tanggung jawab kepada karyawan.”
“Bagus,” kata Laila. “Jangan terpancing.” Ia menoleh ke Arga. “Anda?”
Arga hanya mengangguk. “Isi press line akan kubahas dengan PR.”
Ketika sesi selesai, Laila menahan Naya. “Satu menit.” Ia menurunkan suaranya. “Ada bocoran dari dalam. Seseorang mengirim surel anonim ke dua media hiburan tentang ‘pertunangan’ ini bahkan sebelum form HR kita tercatat. Hati-hati. Jangan percaya semua senyum.”
Naya mengangguk. “Terima kasih, Bu.”
Di lorong, Arga menunggu. “Rapat investor jam sebelas. Sebelum itu, ikut aku ke studio lagi.”
“Latihan?”
“Gambar.”
Studio ditemukan dalam mode staging—latar belakang biru, lampu yang memanjakan garis rahang Arga secara tidak adil. Fotografer internal mengatur posisi mereka. “Kita perlu beberapa foto natural untuk press kit pertunangan: tertawa kecil, tatap-tatapan—ya, yang soft.”
Naya ingin tertawa—bukan pada kameranya, tapi pada absurditas dunia. Ia berdiri sejengkal dari Arga. Wangi aftershave menemani detak jam.
“Tangan di sini,” fotografer mengarahkan, “di lengan Pak Arga, ringan saja.”
Naya menyentuh wol jas itu. Arga tidak bergerak, tapi Naya merasakan ototnya mengeras sepersekian detik—refleks seorang pria yang terbiasa dengan jarak aman.
“Kepala miring sedikit, Pak,” kata fotografer.
Arga menunduk tipis, mata bertemu mata. Dekat begini, dinginnya bukan musuh; lebih mirip benteng yang terlalu lama dijaga. Naya mengangkat alis, seolah berkata kita menjalani ini, ya?
Sebuah kilat. Satu lagi. Kemudian fotografer menurunkan kamera. “Selesai.”
Menuju ruang rapat, Naya menyejajarkan langkah. “Pak,” katanya pelan, “tentang bocoran. HR bilang sumbernya dari dalam.”
“Aku tahu,” jawab Arga. “Dan aku akan menemukannya.”
Rapat sebelas berlangsung lebih tajam. Seorang analis—pria bermata elang—memainkan ponselnya, memperlihatkan headline blog gosip: TUNANGAN CEO MAHENDRA: SIAPA DIA? dengan foto Naya di frame yang tidak memaafkan.
“Care to comment?” tanya analis itu, nada santai namun bergigi.
Arga tak berkedip. “Kami berkomentar pada angka, bukan rumor.”
Pertemuan selesai. Arga keluar lebih cepat dari biasanya. Naya mengejar. “Kau marah?”
“Aku fokus.”
“Kedengarannya mirip marah.”
Ia berhenti, menatap Naya sejenak. “Kau tidak perlu memikul rasa bersalah dunia. Tugasmu cukup: lakukan pekerjaanmu dengan tepat.”
“Aku berusaha.”
“Buktikan.”
Sore, tim PR mengadakan media training lanjutan. Karina memimpin, suara datar profesional. “Kita akan menyusun narasi earned media: tunangan CEO yang ‘bekerja keras, low-profile’. Jangan terlalu glamor.”
“Kenapa?” tanya salah satu staf.
“Karena glamor mengundang pembanding,” jawab Karina. “Kita membutuhkan kedekatan.”
Naya menahan desakan untuk meminta maaf pada Karina. Ketika jeda, Karina menghampirinya. “Kamu baik-baik saja?”
“Sejauh ini, iya.”
“Mungkin aku tidak akan melakukan hal yang kamu lakukan.” Tatapan Karina sulit dibaca. “Tapi kalau kamu sudah memilih, jangan setengah hati.”
Pukul 19.00, rapat dewan. Ruang rapat utama berpanel kayu gelap. Kursi-kursi terisi nama besar. Luki, CFO sekaligus sepupu Arga, menyapa hangat. “Naya, ya? Selamat bergabung.” Senyumnya sempurna—terlalu sempurna.
Agenda bergulir. Saat sesi tanya jawab, sebuah layar samping menyala sendiri. Slide bukan bagian presentasi. Teks besar berkedip: FAKE ENGAGEMENT ALERT disertai screenshot surel internal—tampak seperti tangkapan layar akun PR.
Ruang bergemuruh.
Arga menoleh pada tim IT. “Matikan.”
Layar padam. Tapi bisik-bisik tak padam. Luki mengangkat tangan seolah menenangkan. “Mungkin kita perlu break lima menit.”
Arga berdiri. “Tidak perlu. Aku akan jelaskan.” Ia menatap ke sekeliling. “Pertunangan ini adalah keputusan strategis PR dalam situasi krisis. Semua protokol HR diikuti. Fokus rapat kembali ke kinerja dan merger.”
Ketua dewan mengernyit. “Tapi… siapa yang bocorkan?”
Arga menoleh ke Naya. “Itu yang akan kita cari tahu. Mulai malam ini.”
Tatapan ruangan merapat ke Naya. Seperti sorot lampu panggung yang tak ia minta.
Pagi hari, IR menyalakan panel consent seperti membuka tirai jendela pada pukul tujuh: cahaya tidak meledak, tetapi masuk. Di layar, conversion ritel menanjak setelah Museum Dokumen menjadi ruang tamu banyak orang. Pertanyaan yang masuk ke Proxy Rescue Desk semakin presisi: “Apakah opt-out saya tercatat?”; “Bagaimana saya menyimpan receipt checksum?”; “Apa kaitan recusal dengan suara saya?” Rendra mencatat: lebih sedikit kebingungan, lebih banyak kehendak. Menjelang siang, kabar kecil yang berat jatuh ke meja: dua micro-fund—keduanya selama ini menghindari sorot—bergeser mendukung paket governance by calendar kalian. Mereka mengirim pernyataan pendek: “Kami tidak berinvestasi pada poster. Kami berinvestasi pada pagar.” Acting CFO tersenyum untuk pertama kali hari itu. “Kalimat yang bisa dicetak pada faktur,” katanya. Di Museum Dokumen, Sinta memperbarui etalase “Arti Akronim”, menambahkan ilustrasi kecil alur persetujuan preset berdasarkan minutes rapat
Pagi dimulai dengan pekerjaan yang tidak menghasilkan cuplikan dramatis, tetapi menentukan jalur: surat spoliation hold. Laila duduk di meja panjang, lampu neon di atas kepala memantulkan putih yang jujur pada kertas. Ia menulis dua surat utama—satu kepada Aurelia, satu kepada Seraphine—dengan tembusan ke counsel eksternal mereka. Isi inti: segera hentikan penghapusan/pengubahan data terkait proyek dan materi yang relevan; amankan arsip digital/fisik; beku akses admin kecuali untuk tim forensik yang terdaftar; catat setiap interaksi file dalam log; kirim laporan chain-of-custody 24 jam sekali. “Kita tidak menuduh di sini,” katanya pada tim. “Kita mencegah kehilangan jejak. Hilang = mahal.” Bagas menempelkan lampiran: daftar hash berkas yang sudah kalian miliki, agar pihak penerima tahu batas pagar kalian, bukan untuk gertak, melainkan agar tak ada yang berpura-pura lupa. Inez menambah diagram jalur VPS—relay ke relay—dengan tanggal yang terikat pada minutes komite A.D
Studio independen itu kecil, temboknya dilapisi busa akustik yang mulai menguning, dan lampu softbox menebar cahaya yang tidak berambisi memutihkan siapa pun. Laila memilih tempat ini sengaja—bukan karena murah, melainkan karena netral. “Kita tidak perlu panggung yang mengundang tepuk tangan,” katanya pada kru. “Kita perlu ruangan yang membuat orang mau mendengar.” Saksi tua—mantan editor 1999 yang kemarin membuka kunci cadangan lemari besi—duduk rapi dengan jas abu-abu yang kebesaran setengah nomor. Tangannya bergetar kecil ketika teknisi memasang lav mic, tapi tatapannya jernih. Sinta menyiapkan lower-third sederhana: Saksi Tua (Editor, 1999)—tanpa nama lengkap demi keselamatan.Siaran dibuka tanpa musik. Pembawa acara, yang sengaja dipilih karena gaya bertanyanya datar, memberi salam singkat lalu mundur setengah langkah. “Pak, kami tidak mencari drama,” ujarnya. “Kami mencari urutan.” Saksi mengangguk. Nafasnya pelan, seperti orang yang akan menyebutkan tiga hal penting
Pagi berikutnya, Sinta meluncurkan Museum Dokumen—bukan gedung virtual yang berkilau, melainkan etalase read-only dengan checksum publik di setiap sudut. Tampilan beranda seperti halaman catatan seorang akuntan: kolom tanggal, jenis dokumen, hash, dan tautan verifikasi. Di atas semuanya, sebuah kalimat yang menolak menjadi slogan: “Silakan bosan. Bosan adalah tanda Anda membaca.” Tim tertawa kecil; kemudian sibuk mengirimkan tautan.Koleksi perdana dipilih seperti kurasi pameran fotografi yang menolak warna: tech brief Inez (versi ringkas), recusal log yang disunting untuk kerahasiaan, potongan status page historis, dan appendix saksi yang tidak menampilkan wajah. Di pojok kanan, Sinta menambahkan “Tur Pendek”: tiga langkah untuk warga ritel—membuka dokumen, memindai QR verifikasi, menyimpan receipt digital. “Kalau orang punya receipt,” katanya, “gosip kehilangan gigi.”Respons awal tidak heboh—dan itu bagus. Time on page panjang, bounce rate rendah, komentar sedik
Pagi itu, notifikasi yang ditunggu-tunggu turun seperti hujan rintik yang memadamkan debu: stay sementara atas hasil RUPS. Bahasa pengadilan tidak pernah teatrikal; kalimatnya lurus dan dingin, justru karena itu menenangkan. Poin-poinnya jelas: keputusan yang bersandar pada materi manipulatif tidak boleh dieksekusi, operasi perusahaan tetap berjalan sesuai status page, dan fungsi-fungsi setara CEO bisa dijalankan kolektif oleh tim eksekutif hingga pemeriksaan tuntas. Tidak ada mahkota yang kembali terpasang; yang ada adalah runbook yang menjadi raja sementara.Arga membaca dua kali, lalu menutup berkas. “Kursi tunggal tetap kosong di panggung,” katanya, “tapi kursi kerja tidak boleh ada yang kosong.” Ia mengumpulkan para kepala fungsi ke war room. Di papan, ia menggambar tiga lingkaran saling bertumpu: Operasi, Hukum, Suara. “Untuk operasi,” ia menunjuk Acting CFO, “kamu first among equals di signatory matrix—dual sign tetap. Publik hanya melihat jam dinding; kita yang mema
Keheningan di ruang sidang terasa seperti kain tebal. Hakim ketua membuka kertas tipis tanpa efek dramatis. “Atas bahan yang diajukan, Pengadilan Banding menyimpulkan bahwa terdapat fakta teknis yang cukup colorable untuk mempertimbangkan interim relief. Kami tidak memutus pokok perkara hari ini, namun kami menetapkan pagar sementara: (1) keputusan yang bergantung pada manipulasi media tidak boleh dieksekusi hingga verifikasi selesai; (2) pelaksanaan operasional perusahaan tetap lanjut sesuai status page; (3) komunikasi kepada pemegang saham harus menyertakan recusal log dan tautan read-only bukti teknis.”Kata-kata itu tidak memukul genderang; kata-kata itu menurunkan suhu. Laila mengangguk kecil. Acting CFO menuliskan tiga butir tersebut ke dalam runbook transisi—distribusi internal siap pukul 16.00. Inez menutup laptop, merasakan lega yang tidak riuh; tiga panel yang ia bawa—splice, LUT & gate, timecode drift—telah cukup untuk menata ulang meja. Sinta mengetik pesan satu







