Share

Bab 6

Penulis: Palensy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-02 12:29:08

Matahari bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Puncak Utara ketika pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Suara kayu yang beradu dengan dinding batu bergema seperti ledakan, menghancurkan kesunyian pagi yang beku. 

"Bangun," suara Xander terdengar parau, seolah tenggorokannya pun ikut membeku setelah melewati malam tanpa tidur.

Sebenarnya, ada ribuan kata yang tertahan di kerongkongan Xander. Ia tidak mungkin mengakui bahwa saat mata mereka bertemu semalam, jiwanya yang selama ini keras mendadak retak. Ia hanya diam, membiarkan tatapannya yang dingin bicara lebih banyak daripada kata-kata.

Lyra mengusap matanya yang masih terasa berat, mencoba mengumpulkan sisa kesadaran. "Ini bahkan belum pagi, Xander. Apa kau sengaja datang cuma untuk menyiksaku lagi?"

Xander melangkah mendekat. Matanya tertuju pada jubahnya yang masih melekat erat di tubuh Lyra, menyerap aroma gadis itu. "Lepaskan jubah itu. Pakai pakaian latihanmu. Aku menunggumu di arena latihan."

"Arena latihan?" Lyra mengerutkan kening, menatap Xander dengan bingung. "Untuk apa? Kau sendiri yang bilang aku tidak punya kekuatan. Apa kau ingin menjadikanku samsak tinju untuk prajuritmu?"

Xander berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa benar-benar menatap Lyra. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di arena bawah tanah yang gelap, hanya diterangi oleh lidah api dari obor dinding yang menari-nari. Lantai arena itu terbuat dari pasir hitam yang dingin. Lyra berdiri di tengah, merasa sangat kecil di hadapan Xander yang sedang melakukan pemanasan. Gerakan sang Alpha sangat efisien, penuh tenaga, dan mematikan.

"Kenapa kita di sini, Xander?" tanya Lyra, suaranya bergema di ruangan luas yang lembap itu.

Xander berhenti bergerak. Ia mulai berjalan mengitari Lyra, persis seperti predator yang mengamati mangsa yang terpojok. "Aku ingin kau mencoba memerintahku."

Lyra tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar perih di telinga. "Kau bercanda? Kau adalah Alpha paling dominan di Utara, dan kau ingin seorang Omega sepertiku memerintahmu? Aku bahkan tidak bisa memerintah perutku sendiri untuk berhenti lapar."

"Cobalah, Lyra!" gertak Xander tiba-tiba. Suaranya yang menggelegar membuat obor-obor di dinding bergetar hebat.

Lyra terdiam. Ia memejamkan mata erat-erat. Seketika, bayangan-bayangan gelap mulai bermunculan, wajah-wajah yang menghinanya, rasa lapar yang menyiksa, hingga dinginnya lantai aula Silvermane yang merendahkannya. Ia mengepalkan tangan begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangan sendiri, meneteskan rasa sakit yang nyata.

"Berlutut," bisik Lyra lirih.

Xander tidak bergerak. "Lebih keras!"

"Berlutut, Xander!" teriak Lyra, matanya terbuka lebar, menatap langsung ke manik mata sang Alpha.

Masih tidak ada reaksi. Xander hanya menatapnya dengan pandangan datar yang memprovokasi.

"Aku takut!" Lyra meledak, air mata frustrasi mulai mengalir deras di pipinya yang pucat. "Kau membawaku ke sini, menempatkanku di depan Mira yang ingin membunuhku, dan sekarang kau minta hal mustahil ini? Kenapa kau tidak bisa biarkan aku tetap menjadi Omega biasa saja?"

Xander mendekat dengan cepat, mencengkeram bahu Lyra dan mengguncangnya dengan kasar, seolah ingin membangunkan sesuatu yang tidur di dalam diri gadis itu. "Karena kalau kau tetap jadi Omega biasa, kau akan mati!"

"Maka biarkan aku mati! Bukankah itu yang kau mau sejak awal?"

"TIDAK!" raung Xander. Matanya seketika berubah menjadi emas menyala, penuh dengan emosi yang tak terkendali.

Saat itu juga, Lyra merasakan gelombang aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya. Itu bukan sekadar kemarahan, itu adalah rasa haus akan keadilan yang murni. Sesuatu yang hangat menjalar dari perutnya, naik ke tenggorokan, terasa seperti perak cair yang mendidih dan siap meluap.

"Aku bilang," Lyra menarik napas dalam-dalam. Suaranya tiba-tiba berubah menjadi rendah, memiliki resonansi berat yang seolah datang dari inti bumi. "BERLUTUT!"

Gelombang kejut yang tak terlihat terpancar dari tubuh Lyra. Xander tersentak hebat. Otot-otot kakinya bergetar di luar kendali. Matanya membelalak kaget saat merasakan kekuatan tak kasat mata menekan bahunya ke bawah dengan beban ribuan ton.

Bruk!

Xander jatuh ke pasir hitam. Kedua lututnya menghantam lantai dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang menyakitkan. Napasnya terengah-engah, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Di dalam dirinya, Fenris, serigalanya yang liar, kini bersujud gemetar ketakutan di hadapan suara itu.

Lyra terperangah, menutupi mulutnya dengan tangan yang bergetar. "Aku, aku tidak bermaksud."

Xander mengangkat wajahnya dengan susah payah, menatap Lyra dengan campuran antara ketakutan dan kekaguman yang luar biasa. "Kau melakukannya."

"Apa kau baik-baik saja?" Lyra mencoba mendekat, tangannya terulur ingin membantu.

"Jangan mendekat," potong Xander dengan suara serak, menghalangi gerakan Lyra.

Lyra berhenti, tangannya menggantung di udara dengan rasa bersalah yang menyesakkan. Ia merasa seolah ada sosok lain yang bicara melalui mulutnya tadi. Xander perlahan berdiri, meski tubuhnya masih sedikit gemetar akibat paksaan kekuatan barusan. "Itulah Silver Luna."

"Xander, kalau orang lain tahu tentang ini,"

"Tidak akan ada yang tahu," potong Xander tegas. Ia mendekati Lyra, kali ini tanpa intimidasi, dan meletakkan tangannya di atas kepala Lyra dengan sangat lembut. 

"Kenapa kau membantuku, Xander? Bukankah kekuatan ini adalah ancaman bagimu?" tanya Lyra, menatap mata biru pria itu yang kini mulai kembali. Xander terdiam sejenak, menatap mata cokelat Lyra yang kini memiliki sedikit kilatan perak di pinggirannya.

"Karena kau adalah Mate-ku," ucap Xander pelan, sebuah pengakuan yang terasa lebih berat daripada perintah apa pun.

Di koridor atas, Lady Mira berdiri di balik pilar besar. Matanya menyipit penuh kecurigaan saat melihat Kael berjaga dengan sangat ketat di depan pintu arena. 

"Apa yang mereka lakukan di sana, Kael?" tanya Mira, muncul dari kegelapan dengan senyum yang tidak mencapai matanya.

Kael tidak berkedip. "Alpha sedang menguji ketahanan pelayan barunya, Lady. Beliau ingin memastikan dia tidak akan pingsan saat badai salju berikutnya."

"Menguji ketahanan?" Mira terkekeh. "Selama dua jam? Dan kau berjaga di sini seolah-olah ada harta karun di dalam sana? Jangan bodoh, Kael. Aku bisa mencium aroma Xander yang sedang bergejolak. Itu bukan aroma pelatihan biasa."

"Alpha memerintahkan untuk tidak diganggu, Lady Mira," kata Kael dengan nada final.

"Kau pikir bisa melindunginya selamanya?" bisik Mira tajam. "Aku sudah mengirim surat ke Pakta Silvermane. Aku yakin Alpha Malphas akan sangat tertarik tahu Omega miliknya diperlakukan istewa di sini."

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 12

    Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 11

    Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 10

    Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 9

    Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 8

    Malam di Puncak Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada siulan angin yang menyusup di celah dinding, terdengar seperti rintihan serigala yang kesepian di kejauhan. Namun di dalam sayap kediaman Alpha, kesunyian terasa lebih tebal, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.Lyra duduk di tepi tempat tidur besarnya, matanya terpaku pada jubah hitam Xander yang kini tersampir di kursi. Kata-kata pria itu di aula tadi siang masih berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Pasanganku. Sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Lyra, itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.Tok, tok.Ketukan di pintu itu pelan, hampir terdengar ragu. Lyra tersentak, kewaspadaannya langsung naik ke permukaan. "Siapa?""Ini aku, Mira."Lyra membeku. Suara itu terlalu manis, terlalu tenang. Lyra berjalan perlahan dan membuka pintu.Lady Mira berdiri di sana. Gaun tidur sutra putihnya berkilauan tertimpa cahaya

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 7

    Hawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam."Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.""Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar ny

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 5

    Badai salju pertama musim ini menghantam dinding batu kastil Blackwood dengan kekuatan yang mampu merobohkan pinus tertua di hutan. Di gudang kayu yang terbuka, udara terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Lyra, dengan seragam pelayan abu-abunya yang tipis, menyeret balok kayu terakhir

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 4

    Saat gerbang batu raksasa kastil Blackwood terbuka, kabut salju menyambut rombongan dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Udara di Puncak Utara cukup membuat menggigil, Lyra turun dari kereta dengan kaki yang kaku, sama seperti biasa tidak ada yang memperdulikan. Lyra benar-benar tak kasa

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 3

    "Aku tidak mau ikut," tolak Lyra tegas mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa, dia bukan sebuah barang yang bisa dilempar ke sana ke mari.Xander mendekat lagi merasa harga diri jatuh karena diremehkan Lyra. Sampah itu menolak ajakannya. Xander mendecih lalu kembali membuka mulut, kali ini

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 2

    Lyra berada di dapur Pakta yang lembab, setelah kehadirannya sebagai bahan tontonan selesai Lyra secara otomatis akan diusir dari ruang pesta dan berada di belakang. Bagi sebagian manusia serigala tempat itu menjadi titik terburuk, tetapi bagi Lyra, di dapur, dengan menjadi petugas kebersihan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status