เข้าสู่ระบบSaat gerbang batu raksasa kastil Blackwood terbuka, kabut salju menyambut rombongan dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Udara di Puncak Utara cukup membuat menggigil, Lyra turun dari kereta dengan kaki yang kaku, sama seperti biasa tidak ada yang memperdulikan. Lyra benar-benar tak kasat mata bagi mereka.
"Turun, Omega. Sambutan karpet merahmu sudah menunggu," sindir Kael, meski nada suaranya tidak lagi sekasar sebelumnya.
Lyra menatap bangunan megah di depannya. Sebuah benteng yang terbuat dari batu hitam, menjulang tinggi seolah ingin menusuk langit yang kelabu. Lebih mirip penjara daripada tempat tinggal.
“Jangan bengong, masuklah, ada seseorang yang harus kau temui!” Tiba-tiba saja Xander sudah ada di dekat Lyra.
Xander mendorong Lyra untuk berjalan. Lelaki itu tidak bisa bersikap lembut pada Mate yang telah ditentukan Bulan. Lyra hanya bisa memejamkan mata, tubuh masih cukup kaku, wanita itu hanya bisa berjalan dengan pelan. Melihat hal tersebut semakin membuat Xander kesal, tanpa merasa iba, tangannya tiba-tiba mencengkram dagu Lyra, memaksanya menoleh ke arah pintu masuk kastil.
"Kau begitu banyak bicara tadi, itu membuatku tidak sabar untuk melihat seberapa lama lidah tajammu itu bisa bertahan di depannya." Xander langsung menepis cengkeraman lantas berjalan dengan satu tangan menyeret lengan Lyra untuk masuk.
Masuk ke dalam ruangan luas ia dapat melihat, di puncak tangga batu, seorang wanita berdiri dengan anggun. Rambut pirang pucat, hampir senada dengan salju, dan pakaiannya terbuat dari sutra serta bulu rubah yang mahal. Lady Mira, Lyra beberapa kali melihat wanita terkenal itu di beberapa pesta perayaan.
"Xander!" suara Mira terdengar seperti denting lonceng. Mata setajam ujung pisau langsung terarah pada sosok Lyra. "Kau pulang lebih cepat dari perkiraan dan aku lihat, kau membawa oleh-oleh dari Silvermane?"
Xander melangkah maju menyambut Mira. "Hanya seekor beban tambahan yang harus kupastikan keamanannya, Mira."
Mira berjalan menuruni tangga, setiap langkahnya penuh dengan keanggunan pemangsa. Dia berhenti tepat di depan Lyra, hidungnya mengendus udara dengan jijik. "Aroma apa ini? Bau debu, keringat, dan kenapa aku tidak mencium aroma serigala sama sekali dari makhluk ini?"
"Dia seorang Omega, Mira. Namanya Lyra," jawab Kael dari belakang.
"Seorang Omega?" Mira tertawa, suara tawa yang kering dan menghina. "Xander, apa kau bercanda? Kau membawa pulang seorang Omega tanpa aroma ke jantung Puncak Utara? Untuk apa? Untuk memberi makan anjing-anjing penjaga kita?"
Lyra mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Mira yang berwarna hijau zamrud. Kata-kata wanita itu cukup membuat Lyra sakit hati. Di Silverman Lyra sudah kenyang menjadi bahan perundungan, haruskah di tempat baru juga demikian? Beberapa kali Lyra menimang apakah harus menjawab atau seperti biasa cukup diam dan biarkan semua terlewat seperti biasa.
"Jika kalian ingin memberikanku untuk makan anjing, pastikan mereka cukup lapar, Lady. Karena aku cenderung menggigit balik."
Suasana hening seketika. Para penjaga di sekitar mereka menahan napas. Belum pernah ada seorang Omega yang berani bicara seperti itu kepada seorang Beta tingkat tinggi di wilayah Blackwood. Lyra sendiri juga tidak percaya dengan kalimat yang terlontar dari bibirnya. Bagi Lyra, hidup menjadi penurut juga masih membuatnya menjadi bahan kekerasan dan ketidakadilan. Mengapa tidak menggila sekalian? Mengatakan apa yang ingin dikatakan, ternyata membuat hati Lyra cukup lega, dia heran mengapa beberapa waktu lalu dirinya diam saja saat ditindas.
Mira memicingkan mata, wajahnya memerah karena marah. "Kau bicara padaku? Bisa-bisanya makhluk kotor sepertimu berani membuka mulut?"
"Cukup," potong Xander. Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Mira, dia akan tinggal di sayap pelayan bawah, bekerja di bawah pengawasanmu!”
Mira menoleh ke Xander dengan wajah tidak percaya. "Kau ingin aku mengawasi sampah ini? Xander, aku adalah calon Luna-mu! Tugasku bukan mengurus budak cacat—”
"Kau bukan Lunaku sampai aku memutuskan demikian, Mira," sahut Xander dingin. "Dan saat ini, aku memerintahkanmu untuk memberinya tugas!”
Mira terdiam raut wajah melancarkan kekecewaan atas jawaban Xander yang menolak Mira sebagai Lunanya, gigi wanita cantik itu bergeletuk. Dia kembali menatap Lyra dengan senyum sinis yang baru.
"Baiklah. Jika itu maumu, Alpha. Aku punya banyak tugas untuk 'tamu' istimewamu ini."
Mira mendekati Lyra, membisikkan sesuatu tepat di telinga Lyra yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kau pikir kau aman karena Xander membawamu ke sini? Di tempat ini, kecelakaan sering terjadi pada mereka yang lemah. Terutama saat badai salju datang."
Lura menghela napas. "Aku sudah terbiasa dengan badai, Lady Mira," balas Lyra dengan nada rendah yang sama. "Pertanyaannya adalah, apakah kau siap jika badai itu ternyata berasal dari dalam kastilmu sendiri?"
Mira kebingungan dengan sikap lancang Omega cacat itu. Terlebih Xander hanya diam saja tanpa membiarkan. Wanita itu menoleh ke arah Xander yang mulai berjalan masuk ke dalam kastil.
"Xander! Kau tidak memberitahuku kenapa kau membawanya! Apa dia punya kegunaan khusus?"
Xander berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh menjawab, "Dia adalah teka-teki yang harus kupecahkan, Mira. Sampai teka-teki itu terjawab, dia tidak boleh mati. Mengerti!"
Mira tahu itu bukan sebuah permintaan, tapi sebuah perintah. Mau tidak mau Mira mengikuti apa yang Xander ucap. "Mengerti, Alpha.” Suara Mira bergetar karena amarah yang tertahan.
Setelah Xander menghilang di balik pintu besar, Mira berbalik ke arah Lyra dengan kilat kebencian yang murni. Wanita itu menyilangkan tangan di dada dengan tawa mengejek. Memindai tubuh kurus dan kedinginan.
“Baiklah, bagaimana sebaiknya aku menanganimu mulai sekarang?”
Tatapan Mira seperti iblis yang siap mencabik persembahan yang disiapkan. Bagi Mira, kembalinya Xander membawa Lyra cukup berguna sebagai mainan baru. Sampai Xander mendapatkan jawaban dari teka-teki yang dicari, Mira bisa memainkan Lyra sesuka hati.
“Kau dengar, bukan? Selama kau tidak mati, artinya aku bisa memperlakukanmu sesuka hatiku!”
Mendengar kalimat Mira, Lyra masih bergeming diam dengan wajah tanpa ekspresi. Tubuh kurus itu bahkan berhasil menekan untuk tidak gemetar ketakutan karena dingin. Hal itu membuat Mira semakin marah karena tidak melihat Lyra merasa terintimidasi. Mungkin jika beberapa waktu lalu Lyra akan menangis, tetapi setelah dirinya merenung di dapur sebelum Xander menyeret membawa ke Utara. Lyra menyadari satu hal, rasa sakit yang biasa diterima membuat Lyra menginginkan kematian. Gadis itu sangat frustrasi hingga berpikir mungkin kematian yang akan membuatnya terbebas dari segala macam siksaan. Lantas apa lagi yang ditakutkan?
“Jika bukan karena Xander, aku sudah membuangmu ke hutan untuk dan biarkan membeku mati!”
“Aku akan sangat berterima kasih jika kau melakukan itu sekarang!”
Wajah tenang Lyra membuat Mira semakin marah mendengar jawaban Omega itu.
“Kael! Bawa dia ke dapur bawah. Berikan dia seragam pelayan yang paling kasar. Dan jangan beri dia makan sampai semua kayu bakar di gudang utara selesai dipindahkan!”
Kael yang sejak tadi memperhatikan mulai kebingungan, ada rasa kasihan saat melihat Lyra. "Tapi Lady, badai akan segera datang, kayu-kayu itu berat sekali untuk seorang Omega—" Kael mencoba memprotes.
"Lakukan!" Gelegar suara Mira menggema di dalam ruangan itu.
Kael tidak berani membantah, pemuda itu memberi isyarat pada Lyra untuk mengikutinya. Mereka berjalan beriringan, sementara Mira memijat kening yang berdenyut, siapa sangka akan menemukan sosok yang cukup membuat ingin memukul dan membunuh sekaligus. Jika bukan karena ancaman Xander, sudah pasti Lyra akan habis di tangan Mira. Mira cukup bersabar untuk menunggu waktu tepat untuk mencabik habis Omega cacat itu.
"Kau seharusnya menjaga lidahmu." Suara Kael terdengar.
“Kau mengkhawatirkanku?”
Kael terpaku sebentar, memilih tidak menjawab pertanyaan Lyra.
"Xander tidak pernah membawa wanita mana pun ke sini secara pribadi kecuali Mira. Fakta bahwa kau ada di sini membuat semua orang ketakutan dan mungkin menganggap kau sebagai sebuah ancaman."
"Kenapa harus takut pada seorang Omega?"
"Mungkin karena sebuah insting serigala sangat kuat, kami bisa merasakan hal tidak biasa padamu. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan."
Bersambung….
Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"
Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L
Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly
Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma
Malam di Puncak Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada siulan angin yang menyusup di celah dinding, terdengar seperti rintihan serigala yang kesepian di kejauhan. Namun di dalam sayap kediaman Alpha, kesunyian terasa lebih tebal, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.Lyra duduk di tepi tempat tidur besarnya, matanya terpaku pada jubah hitam Xander yang kini tersampir di kursi. Kata-kata pria itu di aula tadi siang masih berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Pasanganku. Sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Lyra, itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.Tok, tok.Ketukan di pintu itu pelan, hampir terdengar ragu. Lyra tersentak, kewaspadaannya langsung naik ke permukaan. "Siapa?""Ini aku, Mira."Lyra membeku. Suara itu terlalu manis, terlalu tenang. Lyra berjalan perlahan dan membuka pintu.Lady Mira berdiri di sana. Gaun tidur sutra putihnya berkilauan tertimpa cahaya
Hawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam."Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.""Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar ny
Matahari bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Puncak Utara ketika pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Suara kayu yang beradu dengan dinding batu bergema seperti ledakan, menghancurkan kesunyian pagi yang beku. "Bangun," suara Xander terdengar parau, seolah tenggorokannya pun ikut membeku
Badai salju pertama musim ini menghantam dinding batu kastil Blackwood dengan kekuatan yang mampu merobohkan pinus tertua di hutan. Di gudang kayu yang terbuka, udara terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Lyra, dengan seragam pelayan abu-abunya yang tipis, menyeret balok kayu terakhir
"Aku tidak mau ikut," tolak Lyra tegas mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa, dia bukan sebuah barang yang bisa dilempar ke sana ke mari.Xander mendekat lagi merasa harga diri jatuh karena diremehkan Lyra. Sampah itu menolak ajakannya. Xander mendecih lalu kembali membuka mulut, kali ini
Lyra berada di dapur Pakta yang lembab, setelah kehadirannya sebagai bahan tontonan selesai Lyra secara otomatis akan diusir dari ruang pesta dan berada di belakang. Bagi sebagian manusia serigala tempat itu menjadi titik terburuk, tetapi bagi Lyra, di dapur, dengan menjadi petugas kebersihan yang







