Share

Bab 2

Penulis: Palensy
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 13:46:25

Lyra berada di dapur Pakta yang lembab, setelah kehadirannya sebagai bahan tontonan selesai Lyra secara otomatis akan diusir dari ruang pesta dan berada di belakang. Bagi sebagian manusia serigala tempat itu menjadi titik terburuk, tetapi bagi Lyra, di dapur, dengan menjadi petugas kebersihan yang seharusnya bukan dia yang melakukan, justru Lyra bisa sedikit bernapas lega. Hanya ada bunyi denting peralatan makan beradu yang sedang dibersihkan. Bukan suara ejekan, atau kata-kata sarkas merendahkan. Akan tetapi kali ini berbeda, reaksi tubuh saat bertemu pandang dengan Xander masih membuat gemetaran berapa kali pun Lyra mengatur napas dan mencari ketenangan. Seolah ada hal mengerikan di balik sosok yang selalu dipuja bak dewa kesempurnaan para manusia serigala itu.

"Kau masih di sini, sampah?"

Suara itu melengking tajam membuat Lyra yang sempat melamun melonjak karena terkejut. Lyra memegangi dada yang masih berdegup kencang. Ketika mengangkat kepala sebentar untuk melihat pemilik suara tampak Elena berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh.

"Aku sedang menyelesaikan tugas mencuci piring, Elena," jawab Lyra pelan, cepat-cepat menundukkan kepala kembali.  

Elena akan sangat murka jika Lyra secara terang-terangan menatapnya. Bagi Elena, dipandang Lyra merupakan hal menjijikkan. 

"Tugasmu?” Elena tertawa meremehkan lantas sedetik kemudian mata melotot tajam. “Kau seharusnya sudah diusir ke kandang belakang! Apa kau pikir aku tidak lihat bagaimana Alpha menatapmu tadi?" Elena melangkah maju, menjambak rambut Lyra hingga gadis itu mendongak paksa. "Jangan pernah bermimpi, Omega. Kau itu cacat! Kau tidak punya aroma, tidak punya kekuatan. Kau hanyalah kecelakaan di Pakta ini!"

“Tidak … aku tidak pernah bermimpi apa pun.” Lyra meringis menahan perih di kulit kepala yang terasa seperti akan terlepas dari tempurungnya. "Tolong, lepaskan aku!"

Elena semakin murka, dia mendorong Elena hingga tubuh rapuh kekurangan makan tersebut terkantuk dinding menimbulkan bunyi gemeretak di beberapa tulang yang seolah patah. "Berani kau memerintahku?" Elena mengangkat tangan, siap mendaratkan tamparan.

"Hentikan!" Suara rendah, tetapi memiliki otoritas yang membuat dapur bergema. Elena tersentak dan segera melepaskan Lyra, lalu membungkuk dalam-dalam. Di dekat pintu yang remang, berdiri Xander. Auranya begitu pekat hingga membuat yang berdekatan kesulitan bernapas.

"Alpha ... saya hanya sedang memberinya pelajaran karena dia tidak sopan." Wajah angkuh Elena mendadak pias dihadapkan dengan sosok yang lebih berkuasa..

"Keluar!” perintah Xander singkat. 

Elena berniat menolak, wanita itu masih ingin mempermainkan Lyra, dia belum puas.

"Sekarang!" Suara Xander kembali bergema. 

Mulut yang sedikit terbuka kembali terkatup, Elena berdecih seraya melangkah meninggalkan tempat dengan enggan. Tidak mungkin menolak titah sosok yang berkuasa, atau Elena sendiri yang celaka. Dia tidak ingin mendapatkan pandangan buruk dari pria yang paling ditakuti sekaligus dikagumi di wilayah itu. 

Keadaan menjadi cukup tenang setelah Elena pergi menjauh. Xander melangkah masuk, setiap derap sepatu menapak di lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi Lyra.

"Bangun!" Tatapan mata Xander tidak lagi biru, melainkan kelabu gelap yang penuh gejolak.

Lyra perlahan berdiri, menyeka tangan basahnya ke kain rombeng yang dikenakan. Itu tampak menjijikan bagi Xander hingga lelaki tersebut mendecih. 

 "Alpha."

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu dari mulut kotormu!" desis Xander. 

Kalimat yang semakin membuat harga diri Lyra jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Lyra hanya bisa menundukkan kepala, menahan linangan air mata agar tidak jatuh. Xander sendiri melangkah pekan mengitari Lyra, seperti predator yang sedang menilai mangsa.

 "Apa yang kau lakukan padaku di aula saat itu?"

Lyra mengernyit, bingung. "Melakukan apa? Saya hanya sedang bekerja, mengelap lantai—”

"Bohong!" Xander tiba-tiba mencengkeram bahu Lyra, menekannya ke meja kayu yang kasar. "Serigalaku tidak pernah bereaksi pada siapa pun. Tidak pada putri-putri Alpha dari klan lain, tidak pada pejuang terhebat sekalipun. Tapi ketika kita bertemu mata, sosok yang terkubur dalam itu seolah mendesak, ingin melolong? Kenapa aromamu yang hampir tidak ada itu terasa seperti racun yang merusak akal sehatku?"

Lyra mematung dengan mata terbeliak, tatapan Xander terasa mengerikan hingga Lyra ketakutan bukan main. Dia pun tidak paham atas apa yang diucapkan Xander. Memang apa yang sudah dilakukan dirinya, seorang yang dianggap gagal?

“Apa maksudmu? Mempengaruhi apa? Aku tidak paham?” Lyra mencoba mencerna keadaan, tetapi gagal. Omega gagal itu tidak mengerti kenapa Alpha sangat marah padanya. 

Xander mendekatkan wajahnya, hidungnya menghirup dalam-dalam di ceruk leher Lyra. Ia menggeram pelan, suara yang lebih mirip binatang daripada manusia. 

"Ini gila. Takdir pasti sedang bercanda. Bagaimana mungkin seorang Mate dari keturunan Blackwood adalah seorang Omega yang bahkan tidak bisa berubah? Ini penghinaan bagi darahku!"

Sedikit Lyra mengerti apa yang diungkap Xander, Alpha itu beraksi, menganggap Lyra sebagai Mate-nya. Tentu saja itu akan sangat melakukan bagi sosok sesempurna Xander bila berdampingan dengan Omega yang tidak bisa berubah seperti Lyra. Bibir yang gemetar mulai terbuka. 

"Kalau begitu, tolak aku," tantang Lyra tiba-tiba. Keberanian yang entah dari mana muncul di dalam suaranya yang serak. "Jika aku adalah penghinaan bagimu, putuskan ikatannya. Aku lebih suka hidup sebagai Omega yang bebas daripada menjadi beban bagi pria yang tidak menginginkanku."

Xander tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mengandung humor sedikitpun di dalamnya. "Kau pikir semudah itu? Kau pikir aku bisa memutus ikatan yang ditenun oleh Sang Bulan Purnama hanya dengan satu kata?” Tatapan Xander semakin gelap terasa, lelaki itu lantas berkata dengan tegas. “ Jika aku melakukannya sekarang, serigalaku akan mengamuk dan menghancurkan pakta ini karena kehilangan pasangannya."

“Lalu aku harus apa?” Pertanyaan penuh frustrasi Lyra. “Apa aku harus membunuh diriku sendiri untuk kepuasan kalian?” Matanya mulai berkaca-kaca, hidup begitu sengsara hingga untuk hidup pun kesulitan. 

Ekspresi bengis Xander perlahan melunak melihat gadis berwajah pucat itu tampak putus asa dan mengkhawatirkan. 

"Aku tahu aku tidak diinginkan siapa pun, bahkan aku sendiri pun tidak menginginkan ini!”

Xander melepaskan cengkeraman, menatap Lyra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku akan membawamu ke kediamanku di Puncak Utara besok pagi."

"Apa?" Lyra terperangah, tidak mungkin Xander akan rela menerimanya sebagai pasangan meski tubuh keduanya bereaksi sebagai Mate. "Kenapa? Aku milik Pakta Silvermane."

"Mulai detik ini, kau milikku!" kata Xander dingin dan mutlak. "Tapi jangan harap ada upacara Luna. Jangan harap ada pengakuan. Kau akan ikut denganku sebagai pelayan pribadiku.”

‘Sebagai pelayan.’ Kata-kata bagai sebilah pisau tajam yang berhasil tertancap di dada Lyra hingga menambah sakit. Bukan hanya fisik, mental Lyra juga tampaknya dihajar habis-habisan oleh takdir buruk. Yeah, ‘seorang pelayan’ seperti itu Lyra di pandangan para serigala yang memiliki kekuatan hebat dan berkedudukan tinggi. 

“Aku akan mengujimu, Lyra. Aku akan mencari tahu apakah ada kekuatan yang tersembunyi di balik kulit omega-mu, atau apakah kau memang benar-benar kesalahan alam."

Bersambung….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 12

    Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 11

    Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 10

    Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 9

    Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 8

    Malam di Puncak Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada siulan angin yang menyusup di celah dinding, terdengar seperti rintihan serigala yang kesepian di kejauhan. Namun di dalam sayap kediaman Alpha, kesunyian terasa lebih tebal, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.Lyra duduk di tepi tempat tidur besarnya, matanya terpaku pada jubah hitam Xander yang kini tersampir di kursi. Kata-kata pria itu di aula tadi siang masih berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Pasanganku. Sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Lyra, itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.Tok, tok.Ketukan di pintu itu pelan, hampir terdengar ragu. Lyra tersentak, kewaspadaannya langsung naik ke permukaan. "Siapa?""Ini aku, Mira."Lyra membeku. Suara itu terlalu manis, terlalu tenang. Lyra berjalan perlahan dan membuka pintu.Lady Mira berdiri di sana. Gaun tidur sutra putihnya berkilauan tertimpa cahaya

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 7

    Hawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam."Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.""Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar ny

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 3

    "Aku tidak mau ikut," tolak Lyra tegas mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa, dia bukan sebuah barang yang bisa dilempar ke sana ke mari.Xander mendekat lagi merasa harga diri jatuh karena diremehkan Lyra. Sampah itu menolak ajakannya. Xander mendecih lalu kembali membuka mulut, kali ini

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 6

    Matahari bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Puncak Utara ketika pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Suara kayu yang beradu dengan dinding batu bergema seperti ledakan, menghancurkan kesunyian pagi yang beku. "Bangun," suara Xander terdengar parau, seolah tenggorokannya pun ikut membeku

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 5

    Badai salju pertama musim ini menghantam dinding batu kastil Blackwood dengan kekuatan yang mampu merobohkan pinus tertua di hutan. Di gudang kayu yang terbuka, udara terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Lyra, dengan seragam pelayan abu-abunya yang tipis, menyeret balok kayu terakhir

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 4

    Saat gerbang batu raksasa kastil Blackwood terbuka, kabut salju menyambut rombongan dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Udara di Puncak Utara cukup membuat menggigil, Lyra turun dari kereta dengan kaki yang kaku, sama seperti biasa tidak ada yang memperdulikan. Lyra benar-benar tak kasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status