Share

Bab 3

Penulis: Palensy
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 13:46:56

"Aku tidak mau ikut," tolak Lyra tegas mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa, dia bukan sebuah barang yang bisa dilempar ke sana ke mari.

Xander mendekat lagi merasa harga diri jatuh karena diremehkan Lyra. Sampah itu menolak ajakannya. Xander mendecih lalu kembali membuka mulut, kali ini suaranya sangat rendah, nyaris berbisik di telinga Lyra. "Kau tidak punya pilihan. Di sini, kau hanya akan mati di tangan Elena dan kawan-kawannya. Di tempatku, kau mungkin punya kesempatan hidup lebih baik, setidaknya tidak akan ada yang mengusikmu tanpa izinku!”

"Kesempatan atau hanya jenis siksaan baru?" sindir Lyra.

Xander terdiam sejenak, menatap bibir Lyra yang gemetar. "Mungkin keduanya, tapi setidaknya, kau akan tetap hidup untuk membenciku."

"Aku sudah membencimu, Xander," bisik Lyra.

"Bagus," sahut Xander sambil berbalik pergi. "Pertahankan kebencian itu. Itu adalah satu-satunya hal yang akan membuatmu tetap kuat saat kau menyadari betapa kejamnya duniaku yang sebenarnya."

Tubuh Lyra luruh terduduk lemas di lantai dingin dapur. Gadis itu masih terguncang, belum siap menerima semua kenyataan takdir yang membawa mimpi buruk. Lyra masih bergema, sampai pagi tiba, Omega itu kembali ke kamar untuk mengambil beberapa helai pakaian usang yang dibungkus menggunakan kain lapuk, itu pun setelah mendapat intimidasi dari orang-orang suruhan Xander.

Sinar matahari pertama menembus kabut tebal saat rombongan Xander bersiap untuk berangkat. Lyra terpaksa mengikuti mereka, tidak ada cara lain, tidak ada pilihan, hidup Lyra selalu ditentukan orang lain, itulah fakta menyakitkan. Dia berdiri di belakang kereta kuda, jauh dari pandangan para pejuang lainnya.

Xander muncul dengan menunggangi kuda hitam besar. Wajah tampan dengan tubuh sempurna dibalut jubah yang membuatnya tampak dua kali lebih besar dan lebih mengancam. Dia tidak menatap Lyra sama sekali. Namun, aroma cedarwood-nya seolah menyelimuti seluruh area itu. Bersamaan dengan tatapan sinis anggota Pakta lain yang menatap Lyra sejak awal kedatangan memasuki rombongan.

"Jalan!” perintah Xander.

Lyra tidak memperdulikan pandangan buruk Pakta lain, dia menatap sebentar gerbang Pakta Silvermane untuk terakhir kali. Tempat yang selama ini menjadi penjaranya kini ditinggalkan, hanya untuk menuju penjara baru dipimpin oleh seorang pria yang yang berhasil mengalungkan belenggu. 

"Kau beruntung.” Seorang Beta beranam Kael terkekeh melihat ke arah Lyra. "Banyak wanita yang akan memberikan nyawa mereka hanya untuk dibawa ke Puncak Utara oleh Alpha Xander."

"Lalu kenapa mereka tidak melakukannya?" tanya Lyra datar. “Aku dengan senang hati memberikan kesempatan ini pada mereka untuk menggantikanku."

Kael terkejut kata-kata gadis itu cukup menampar dirinya tanpa menyentuh. “Kau punya lidah yang tajam untuk seorang Omega."

"Hidup di tempat sampah mengajariku bahwa kata-kata adalah satu-satunya senjata yang tidak bisa mereka ambil dariku," jawab Lyra.

Kereta kayu yang membawa perlengkapan pakta berderit keras saat melewati akar-akar pohon besar yang melintang di jalan setapak. Lyra duduk di bagian paling belakang, kakinya menjuntai, sementara debu jalanan mulai menempel di wajahnya yang pucat. 

Kael tertawa kecil mendengar jawaban berani Lyra. "Di Puncak Utara, salju tidak pernah benar-benar mencair. Kau tidak akan menemukan lantai marmer hangat seperti di aula Silvermane tadi malam."

Lyra menoleh sedikit, matanya yang lelah menatap Kael. Lyra berpikir mungkin itu cara halus Kael untuk memberitahu bahwa Lyra bisa saja mati kedinginan di sana. Tatapan meremehkan lelaki itu bersama tawa mengejek seolah Lyra terlihat seperti ranting kering yang siap patah saat ditiup angin.

"Aku sudah bertahan hidup dengan sisa makanan selama berpuluh-puluh tahun, Kael," sahut Lyra datar. "Dinginnya sikap orang-orang di sekitarku jauh lebih menusuk daripada salju mana pun."

Kael terdiam beberapa saat, senyumnya sedikit memudar. "Kau berbicara seolah tidak takut mati.”

Tak langsung menjawab, tatapan kosong dari omega membuat sang Beta merasa bersalah karena pertanyaannya. Tidak seharusnya dia berbicara seperti itu.

Lyra mendengkus, pembicaraan terasa membosankan. "Jika kau sudah kehilangan segalanya, apalagi yang perlu kau takuti? Harga diri? Aku tidak memilikinya. Nyawa? Itu pun bukan benar-benar milikku.” 

Kalimat yang terdengar tenang frustrasi, tapi tidak menghentikan ocehan Kael. “Kau bisa saja lari ke hutan untuk kabur—”

Lyra menatap punggung tegap Xander yang memimpin di depan, jauh di depan barisan. "Lari ke mana? Ke wilayah Rogue agar aku bisa dicabik-cabik dalam hitungan menit? Atau ke desa manusia agar aku diburu sebagai monster?” Wanita tersebut berkata tanpa menatap lawan bicara. 

Ketika Kael berniat untuk kembali mengoceh, tiba-tiba, derap langkah dari kuda Xander melambat. Dia memutar kudanya dan mendekati bagian belakang barisan. Tatapan dingin penuh intimidasi semakin membekukan keadaan sekitar yang sudah mendingin. Kael merasa merinding dan kesulitan bernapas, berpikir mungkinkah dia telah menyinggung calon penguasa daerah Utara? Kael dengan gugup menegakkan punggung, wajah santainya berubah menjadi kaku dan penuh hormat.

"Apakah aku membayarmu untuk berceloteh seperti burung gereja, Kael?" suara Xander menggelegar, dingin dan tajam.

"Mohon maaf, Alpha. Saya hanya mencoba memastikan, tawanan kita tidak mencoba melompat dari kereta.”

Lyra memutar bola mata mendengar jawaban omong kosong Kael.

Xander mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Lyra. "Dia tidak akan melompat. Dia tahu betul bahwa hutan ini penuh dengan bayang-bayang yang lebih lapar daripada aku." 

Kalimat mengejek itu terasa semakin menyakitkan. Betapa tidak berharga Lyra di mata pasangan yang konon menjadi mate-nya. Lyra mengepalkan tangan menahan amarah yang tidak bisa disalurkan.

Lyra membalas tatapan mata itu lantas tertawa mengejek kelemahan diri sendiri. “Terkadang kematian di mulut serigala liar terdengar lebih baik daripada hidup di bawah sepatu botmu."

Kael menajamkan pandangan cukup dibuat terkejut dengan keberanian ucapan Lyra. Xander terlihat memicingkan mata, mendekatkan wajahnya ke arah Lyra tanpa turun dari kuda. Ada gelayar aneh menjalar di sekujur tubuh ketika lelaki itu menatap mata Lyra semakin dalam bisa menemukan bayangan dirinya dari pantulan iris mata Lyra yang jernih. Lelaki itu menggeram, menyadarkan diri sendiri pada sikap yang dirasa bukan seperti diri yang biasanya. 

"Apa kau sungguh ingin mati, Omega?" Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah kalimat ancaman dari seorang Xander. "Kau pikir aku tidak tidak bisa melenyapkanmu?" 

Perangai Xander berbanding terbalik dengan reaksi tubuh, setiap detak jantungku saat ini terasa seperti pengkhianatan. Darah serigala yang meronta ingin merengkuh wanita yang lebih rendah dari seorang pelayan. Sosok cacat yang tidak mampu berubah menjadi serigala. Pasangan takdir dari sang Bulan seolah mengejek dia yang sempurna dengan menghadirkan Lyra sebagai Mate. 

“Kau adalah kehancuran bagi rencana hidup sempuranku, sialan!” 

"Maka kau bisa membuangku di sini!”

Xander menggeram, suara rendah yang membuat kuda-kuda di sekitar mereka meringkik gelisah. Tentu saja Xander ingin membuang, melenyapkan Lyra lebih dari siapapun. Sialnya sang takdir mengikat mereka berdua. 

“Kau tahu meski aku ingin mencekikmu aku tidak bisa melakukannya!”

Xander merasa kesal dan frustrasi memacu kudanya dengan keras meninggalkan debu yang mengepul. Lyra terbatuk kecil karena efek dari hal tersebut, tetapi ia tidak berhenti menatap punggung pria itu. Sama seperti Xander, Lyra pun tidak menginginkan takdir yang ditetapkan dari sang Bulan. Lyra ingin kabur, menghilang jika bisa. Sayang sekali ikatan Mate itu membuat semua menjadi rumit. 

Sekembalinya Xander ke barisan depan, baik Kael maupun Lyra terdiam. Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi dialog yang terucap. Kael tidak ingin memicu kemarahan sang tuan lebih banyak lagi. Meski dalam hati pemuda tersebut cukup salut pada keberanian Lyra. Sosok serigala yang banyak dibicarakan karena sosoknya yang dianggap cacat. Lyra mencoba memejamkan mata, mencari sedikit ketenangan di tengah guncangan kereta yang tak henti-hentinya membawa dia menuju masa depan yang mungkin lebih gelap.

 Xander sesekali menoleh tajam ke arah belakang, tatapan penuh kebencian, seberapa pun ingin menolak tubuh Xander bereaksi meski hanya menatap Lyra. Hal tersebut yang membuat benci pada diri sendiri. 

"Kau berhasil bertahan dengan baik di Pakta Silvermane, aku penasaran apa yang bisa membuat kau hancur dan meruntuhkan duniamu, Lyra?”

Bersambung….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 12

    Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 11

    Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 10

    Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 9

    Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 8

    Malam di Puncak Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada siulan angin yang menyusup di celah dinding, terdengar seperti rintihan serigala yang kesepian di kejauhan. Namun di dalam sayap kediaman Alpha, kesunyian terasa lebih tebal, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.Lyra duduk di tepi tempat tidur besarnya, matanya terpaku pada jubah hitam Xander yang kini tersampir di kursi. Kata-kata pria itu di aula tadi siang masih berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Pasanganku. Sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Lyra, itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.Tok, tok.Ketukan di pintu itu pelan, hampir terdengar ragu. Lyra tersentak, kewaspadaannya langsung naik ke permukaan. "Siapa?""Ini aku, Mira."Lyra membeku. Suara itu terlalu manis, terlalu tenang. Lyra berjalan perlahan dan membuka pintu.Lady Mira berdiri di sana. Gaun tidur sutra putihnya berkilauan tertimpa cahaya

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 7

    Hawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam."Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.""Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar ny

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 6

    Matahari bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Puncak Utara ketika pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Suara kayu yang beradu dengan dinding batu bergema seperti ledakan, menghancurkan kesunyian pagi yang beku. "Bangun," suara Xander terdengar parau, seolah tenggorokannya pun ikut membeku

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 5

    Badai salju pertama musim ini menghantam dinding batu kastil Blackwood dengan kekuatan yang mampu merobohkan pinus tertua di hutan. Di gudang kayu yang terbuka, udara terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Lyra, dengan seragam pelayan abu-abunya yang tipis, menyeret balok kayu terakhir

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 4

    Saat gerbang batu raksasa kastil Blackwood terbuka, kabut salju menyambut rombongan dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Udara di Puncak Utara cukup membuat menggigil, Lyra turun dari kereta dengan kaki yang kaku, sama seperti biasa tidak ada yang memperdulikan. Lyra benar-benar tak kasa

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 2

    Lyra berada di dapur Pakta yang lembab, setelah kehadirannya sebagai bahan tontonan selesai Lyra secara otomatis akan diusir dari ruang pesta dan berada di belakang. Bagi sebagian manusia serigala tempat itu menjadi titik terburuk, tetapi bagi Lyra, di dapur, dengan menjadi petugas kebersihan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status