Share

Bab 5

Author: Palensy
last update publish date: 2026-03-17 13:48:40

Badai salju pertama musim ini menghantam dinding batu kastil Blackwood dengan kekuatan yang mampu merobohkan pinus tertua di hutan. Di gudang kayu yang terbuka, udara terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Lyra, dengan seragam pelayan abu-abunya yang tipis, menyeret balok kayu terakhir dari tumpukan luar ke dalam perlindungan atap gudang.

Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia menghembuskan nafas. Jari-jarinya sudah mati rasa, membiru di ujungnya, namun ia menolak untuk berhenti. Di lantai atas, di balik jendela kaca yang hangat, ia tahu Lady Mira sedang menyesap teh hangat sambil menertawakan penderitaannya.

"Masih belum selesai, Omega?"

Suara itu berasal dari seorang pelayan senior bernama Martha yang diutus Mira untuk mengawasi. Martha berdiri di ambang pintu yang lebih hangat, memegang sebuah cemeti kecil di tangannya.

Lyra tidak menjawab, ia masih terus menyeret kayu. Pikirannya justru melayang pada ucapan Kael sebelum pemuda Ksatria itu membawa Lyra ke dapur. Sebuah ancaman? Seorang Lyra, itu tidak mungkin, lelaki itu pasti hanya sedang memberikan kalimat penghiburan untuk Lyra. Begitu tolak Lyra pada pemikiran konyol Kael.

"Aku bertanya padamu, budak!" teriak Martha, melangkah maju dan mengayunkan cemetinya ke punggung Lyra.

Ctakk!

Kain tipis itu robek, meninggalkan garis merah yang panas di punggung Lyra yang dingin. Lyra jatuh tersungkur, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dia hanya menggenggam erat salju di bawahnya.

"Kenapa kau tidak berteriak?" Martha tampak terganggu. Ia heran karena serigala Beta sekalipun pasti akan melolong kesakitan jika terkena perak itu.

Lyra perlahan berdiri, membalikkan badannya. Matanya terlihat kosong namun menyala dengan api yang aneh. "Karena rasa sakit ini tidak sebanding dengan kebencian yang kurasakan padamu, Martha. Dan kebencian adalah pemanas yang sangat bagus."

"Kau!"

"Hentikan!"

Tepat saat Martha hendak melayangkan cambukan kedua, sebuah suara rendah yang sarat akan ancaman menghentikan gerakannya. Xander berdiri di kegelapan lorong, jubah hitamnya tertutup salju tipis. Auranya yang begitu dominan seketika membekukan gerakan Martha.

Martha segera menjatuhkan cemetinya dan bersujud. "Alpha! Saya hanya memastikan dia menyelesaikan tugasnya sebelum badai semakin parah. Lady Mira yang memerintahkan."

"Aku tidak peduli," desis Xander. Dia berjalan mendekat, dan aura dominannya membuat Martha gemetar hebat. "Aku mengatakan bahwa ia tidak boleh mati. Jika dia mati malam ini, kepalamu akan menjadi hiasan di gerbang depan esok pagi. Pergi!"

Tanpa perlu diusir dua kali, Martha lari tunggang langgang. Kini, hanya ada Xander dan Lyra di tengah deru badai yang kian menggila.

Xander menatap luka di punggung Lyra yang mulai mengeluarkan darah segar, kontras dengan kulitnya yang pucat. Dia mengulurkan tangan, namun Lyra menepisnya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku!” desis Lyra.

Tatapan jijik yang ditunjukkan Lyra membuat Xander merasa diremehkan. Berani-beraninya seorang seperti Lyra menolak uluran tangannya. "Jangan konyol!” 

"Kenapa kau tiba-tiba peduli?” Lyra tertawa sinis, suaranya parau karena kedinginan. 

Mereka saling membenci satu sama lain, bagi Xander Lyra seperti virus dalam darah Alpha itu, dan bukankah akan lebih baik jika virus tersebut mati kedinginan. Xander yang kehilangan kesabaran mencengkeram lengan Lyra, menariknya mendekat hingga dada mereka bersentuhan. Hawa panas dari tubuh sang Alpha terasa seperti api unggun yang membakar bagi Lyra. 

"Kau pikir ini kemauanku? Tidak Lyra!” Xander berteriak, suaranya mengalahkan deru angin. "Setiap kali kau terluka, jantungku terasa seperti diremas oleh tangan besi. Setiap kali kau kedinginan, serigalaku mencoba mencabik jiwaku agar aku bisa memelukmu. Aku adalah Alpha dari pakta paling kuat di Utara dan aku diperbudak oleh perasaan terhadap seorang gadis yang bahkan tidak bisa berubah!" Kalimat panjang lebar penuh frustrasi yang dilontarkan Xander.

Air mata hangat mulai mengalir di pipi Lyra. Ia menyadari bahwa mereka berdua terjebak dalam kutukan takdir yang sama. Namun, saat Xander mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, suasana berubah. Xander mengernyit, menghirup aroma bunga lily dan kayu manis yang mendadak menguar dari tubuh Lyra, aroma yang hanya muncul saat gadis itu sedang menantangnya. Xander menatap wajah Lyra dengan intensitas yang menakutkan. Dia mengangkat tangan, kali ini lebih lembut, mengusap air mata Lyra dengan ibu jarinya. 

"Kenapa aromamu mulai muncul?"

Lyra mengernyit. "Apa?"

"Aku perhatikan setiap kali kau marah, ada aroma bunga lily dan kayu manis yang mulai memenuhi indraku. Ini tidak masuk akal untuk seorang Omega."

Lyra tertegun sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke arah samping agar tidak lagi bertemu pandang dengan Xander. Dalam diri Xander sendiri meronta-ronta menginginkan untuk semakin dekat, tetapi lelaki itu masih berusaha menahan diri. 

"Mungkin itu hanya imajinasimu, Xander. Kau sudah terlalu banyak menghirup udara dingin," sahut Lyra, mencoba menjauh, tetapi Xander menahannya.

"Tidak. Serigalaku mengenali aroma ini. Dia menyebutnya Silver Luna."

Lyra mematung. Nama itu pernah disebut oleh ibunya dalam bisikan sebelum wanita itu meninggal. Kau adalah Silver Luna, anakku. Jangan biarkan mereka memadamkan apimu.

"Silver Luna?" tanya Lyra, suaranya gemetar. Nama itu membuat Lyra mematung, teringat legenda yang sering dibisikkan ibunya sebelum meninggal. Legenda tentang kekuatan yang mampu memerintah Alpha mana pun hanya melalui suara. 

Lyra tertawa mendengar omong kosong tersebut. "Itu mustahil. Aku hanya seorang Omega yang cacat. Lepaskan aku!”

Lyra menatap mata emas itu, merasa terjebak dalam pusaran emosi yang sangat kuat. 

Xander memejamkan matanya, rahangnya mengeras menahan amukan gairah yang muncul. Xander ingin menekan tubuh Lyra di bawah kendalinya. Saat kesadaran mulai muncul kembali, Xande langsung melepas cengkeraman. "Aku tidak bisa melepaskanmu. Ikutlah denganku ke dalam. Kau tidak akan kembali ke dapur malam ini." 

Persetan dengan mitos konyol itu, seorang Xander tidak mungkin patuh pada siapa pun. Lelaki itu tetap mempertahankan harga diri, dengan wajah angkuh Xander melepaskan jubah hitam yang berat dan menyampaikan ke bahu Lyra. Aroma cedarwood yang kuat memberikan rasa aman yang asing bagi gadis itu. Xander menarik tangan Lyra, mereka berjalan menembus lorong kastil yang sepi menuju lantai atas, jauh dari dapur bawah tanah yang lembab. Sampai di sebuah kamar luas dan mewah itu, Xander menyalakan perapian dan menyiapkan tempat tidur yang hangat.

"Tidurlah di sini!" Xander berdiri di ambang pintu.

 Lyra menatap dengan ekspresi aneh membuat Xander mendengkus.

"Hentikan pikiran liarmu! Aku akan berada di ruang kerja.”

"Xander?" panggil Lyra saat pria itu hendak berbalik. "Kenapa kau tidak menolakku saat di aula Silvermane? Kau punya kekuatan untuk melakukannya. Meskipun sakit, itu akan berakhir dengan cepat."

Xander terdiam cukup lama, menatap kegelapan lorong sebelum menjawab. "Karena ….”

Bersambung….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 12

    Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 11

    Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 10

    Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 9

    Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 8

    Malam di Puncak Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada siulan angin yang menyusup di celah dinding, terdengar seperti rintihan serigala yang kesepian di kejauhan. Namun di dalam sayap kediaman Alpha, kesunyian terasa lebih tebal, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.Lyra duduk di tepi tempat tidur besarnya, matanya terpaku pada jubah hitam Xander yang kini tersampir di kursi. Kata-kata pria itu di aula tadi siang masih berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Pasanganku. Sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Lyra, itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.Tok, tok.Ketukan di pintu itu pelan, hampir terdengar ragu. Lyra tersentak, kewaspadaannya langsung naik ke permukaan. "Siapa?""Ini aku, Mira."Lyra membeku. Suara itu terlalu manis, terlalu tenang. Lyra berjalan perlahan dan membuka pintu.Lady Mira berdiri di sana. Gaun tidur sutra putihnya berkilauan tertimpa cahaya

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 7

    Hawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam."Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.""Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar ny

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 6

    Matahari bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Puncak Utara ketika pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Suara kayu yang beradu dengan dinding batu bergema seperti ledakan, menghancurkan kesunyian pagi yang beku. "Bangun," suara Xander terdengar parau, seolah tenggorokannya pun ikut membeku

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 4

    Saat gerbang batu raksasa kastil Blackwood terbuka, kabut salju menyambut rombongan dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Udara di Puncak Utara cukup membuat menggigil, Lyra turun dari kereta dengan kaki yang kaku, sama seperti biasa tidak ada yang memperdulikan. Lyra benar-benar tak kasa

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 3

    "Aku tidak mau ikut," tolak Lyra tegas mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa, dia bukan sebuah barang yang bisa dilempar ke sana ke mari.Xander mendekat lagi merasa harga diri jatuh karena diremehkan Lyra. Sampah itu menolak ajakannya. Xander mendecih lalu kembali membuka mulut, kali ini

  • Tunduk di Bawah Cengkraman Sang Alpha    Bab 2

    Lyra berada di dapur Pakta yang lembab, setelah kehadirannya sebagai bahan tontonan selesai Lyra secara otomatis akan diusir dari ruang pesta dan berada di belakang. Bagi sebagian manusia serigala tempat itu menjadi titik terburuk, tetapi bagi Lyra, di dapur, dengan menjadi petugas kebersihan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status