LOGINHawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam.
"Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."
"Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."
Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar nyaring di kesunyian koridor, seolah-olah hatinya sendiri yang sedang retak. "Malphas? Untuk apa dia mengirim orang ke sini? Aku sudah dibuang. Aku bukan lagi anggota pakta mereka."
"Mira membocorkan keberadaanmu di sini," kata Kael dengan nada penuh penyesalan. "Xander sedang berada di ruang audiensi sekarang. Dia sedang menghadapi mereka sekarang."
"Aku harus ke sana," kata Lyra, suaranya tiba-tiba menjadi dingin dan datar, kehilangan seluruh rasa takutnya.
"Jangan! Itu bunuh diri. Xander memerintahkanku untuk membawamu ke menara barat agar kau tidak terlihat oleh mereka ," cegah Kael, tangannya menahan bahu Lyra.
"Dan membiarkan mereka memutuskan nasibku seolah-olah aku adalah barang dagangan?" Lyra menepis tangan Kael. "Tidak lagi, Kael. Jika Malphas menginginkanku kembali, dia harus menatap mataku saat mengatakannya."
Di dalam Ruang Audiensi, suasananya mencekam. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi itu terasa seperti peti mati. Di tengahnya, Xander duduk di tahta kebesarannya, tampak seperti dewa perang yang sedang menahan diri agar tidak mengamuk. Di depannya berdiri tiga pria berpakaian kulit serigala abu-abu, para pejuang elit Silvermane.
"Alpha Xander," kata pemimpin utusan itu, seorang pria bernama Silas yang memiliki bekas luka melintang di matanya membuat wajahnya tampak semakin licik. "Kami tidak datang untuk memicu perang. Kami hanya datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik kami secara sah. Seorang Omega bernama Lyra Silvermane."
Xander menyandarkan kepalanya di tangan, menatap mereka dengan manik mata biru yang sedingin es. "Menarik. Setahu saya, Pakta Silvermane telah membuang gadis itu dua bulan yang lalu. Menurut hukum kuno, apa pun yang ditemukan Blackwood tanpa pemilik adalah milik Blackwood."
Silas tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang penuh tipu daya. "Itu benar jika berarti dia adalah barang. Tapi dia adalah subjek dari Alpha Malphas. Ada kesalahan administratif dalam pengurusannya, dan Alpha kami ingin mengoreksinya."
"Kesalahan administratif?" Xander terkekeh, suara tawanya bergema dengan nada mengancam. "Atau mungkin kalian baru menyadari bahwa Omega yang kalian buang itu memiliki nilai yang lebih tinggi daripada yang kalian kira?"
"Xander benar," suara Lyra memotong pembicaraan.
Pintu besar aula terbuka lebar. Lyra melangkah masuk dengan gaun pelayan hitam yang sederhana, namun cara dia berjalan, tegak dengan dagu terangkat, membuatnya tidak terlihat seperti pelayan sama sekali, tampak lebih berwibawa daripada bangsawan mana pun. Kael mengikuti di belakangnya dengan wajah pasrah.
Xander menggeram rendah. "Aku menyuruhmu tetap di kamarmu, Lyra."
"Dan aku tidak pernah mau mematuhi perintah yang salah, Alpha," sahut Lyra tanpa menoleh ke arah Xander. Ia berdiri tepat di samping Silas, pria yang dulu sering menendangnya saat ia sedang membersihkan kandang.
Silas menatap Lyra, matanya berkilat penuh nafsu dan kebencian. "Lihatlah dirimu, Omega. Kau tampak jauh lebih bersih di sini. Sepertinya Alpha Xander merawatmu dengan sangat baik."
"Katakan apa maumu, Silas," desis Lyra tajam. "Kenapa Malphas menginginkanku kembali? Apakah dia kekurangan pelayan untuk membersihkan kakinya?"
"Alpha Malphas merindukanmu, Lyra," kata Silas dengan suara yang dibuat-buat lembut. "Dia menyadari bahwa membuangmu adalah sebuah kekeliruan. Dia ingin memberimu tempat yang layak di sisi pimpinan."
"Tempat yang layak?" Lyra tertawa sinis. "Apakah itu berarti di ruang bawah tanah yang berbeda? Atau di ranjang pejuangmu sebagai hadiah perang?"
"Jaga mulutmu, Omega!" bentak salah satu utusan lain di belakang Silas.
Bruk!
Xander berdiri dari tahtanya, dan tekanan auranya seketika menjatuhkan utusan yang membentak tadi hingga berlutut. "Jangan pernah berteriak pada pasanganku di depanku."
Hening seketika. Kata 'Pasanganku' atau Mate menggantung di udara seperti bom yang baru saja meledak. Silas terbelalak, menatap Xander lalu kembali ke Lyra bergantian dengan tak percaya.
"Mate?" Silas berbisik. "Kau mengklaim seorang Omega tak berguna sebagai Mate-mu, Xander? Puncak Utara pasti sudah sangat putus asa jika mereka membutuhkan darah rendahan untuk meneruskan garis keturunan Blackwood."
Xander melangkah turun dari podium tahta, setiap langkahnya membuat lantai bergetar. "Apa yang kuklaim bukanlah urusanmu. Sampaikan pada Malphas, jika dia ingin mengambilnya, katakan padanya untuk datang membawa seluruh pasukannya. Aku ingin melihat apakah Silvermane bisa bertahan semalam saja di musim dingin Blackwood."
Silas mengepalkan tinjunya. "Ini berarti perang, Alpha Xander. Malphas tidak akan membiarkan penghinaan ini."
"Aku sudah merindukan aroma darah Silvermane di saljuku," sahut Xander datar. "Sekarang, keluar sebelum aku mengirim kepala kalian kembali dalam kotak."
Silas memberikan tatapan terakhir yang penuh kebencian pada Lyra. "Kau pikir kau aman di sini, Lyra? Kau hanya mainan baru baginya. Begitu dia bosan, kau akan merangkak kembali ke Silvermane meminta ampun."
"Jika aku kembali ke Silvermane," bisik Lyra, suaranya tiba-tiba berubah menjadi rendah dan bergetar dengan kekuatan perak. "Itu adalah untuk melihat kalian semua terbakar."
Silas tersentak mundur, sebuah ketakutan mendadak merayapi jiwanya tanpa ia tahu sebabnya. Tanpa kata lagi, ia dan anak buahnya berbalik dan meninggalkan aula dengan terburu-buru.
Setelah suasana sepi, Xander berbalik menghadap Lyra. Kemarahannya masih terasa panas di udara. "Kau gila," suaranya rendah dan berbahaya.
"Mungkin," jawab Lyra. "Tapi setidaknya aku tidak bersembunyi."
"Kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu sepenuhnya!"
"Lalu kenapa kau mengklaimku sebagai Mate-mu di depan mereka?" tanya Lyra, melangkah maju hingga ia berdiri tepat di depan Xander. "Kau bisa saja bilang aku pelayanmu atau tawanannmu. Tapi kau memilih kata itu. Kenapa?"
Xander membuang muka, rahangnya mengeras. "Itu cara tercepat agar mereka bungkam."
"Hanya karena itu?" tanya Lyra.
Xander menatap Lyra kembali, matanya yang biru kini meredup, menampakkan kelelahan yang mendalam. "Kau ingin aku jujur?"
Lyra terdiam. Ia merasakan kehangatan aneh menjalar di dadanya. "Xander... Malphas tidak akan berhenti. Silas benar tentang satu hal. Malphas akan mencari aliansi."
"Mulai besok, pelatihanmu akan dua kali lebih berat," sahut Xander sambil berbalik menuju jendela besar.
Lyra menatap punggung tegap itu. "Aku siap."
"Dan satu lagi," Xander menoleh sedikit dengan seringai tipis yang jarang terlihat. "Jangan pernah lagi pakai jubah Kael. Aroma jubah Beta itu merusak indra penciumanku. Pakai milikku, atau tidak sama sekali."
Xander berjalan pergi meninggalkan Lyra yang terpaku di tengah aula. Di luar, badai salju semakin menggila. Di saat yang sama, di gerbang luar, Silas tidak langsung pergi. Ia berdiri di atas kudanya, menatap puncak menara tertinggi kastil dengan seringai. Ia meraba saku jubahnya, mengeluarkan sebuah kristal kecil yang kini berwarna hitam pekat, sebuah alat sihir terlarang.
Bersambung...
Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"
Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L
Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly
Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma
Malam di Puncak Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada siulan angin yang menyusup di celah dinding, terdengar seperti rintihan serigala yang kesepian di kejauhan. Namun di dalam sayap kediaman Alpha, kesunyian terasa lebih tebal, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.Lyra duduk di tepi tempat tidur besarnya, matanya terpaku pada jubah hitam Xander yang kini tersampir di kursi. Kata-kata pria itu di aula tadi siang masih berputar-putar di kepalanya seperti gasing. Pasanganku. Sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun bagi Lyra, itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.Tok, tok.Ketukan di pintu itu pelan, hampir terdengar ragu. Lyra tersentak, kewaspadaannya langsung naik ke permukaan. "Siapa?""Ini aku, Mira."Lyra membeku. Suara itu terlalu manis, terlalu tenang. Lyra berjalan perlahan dan membuka pintu.Lady Mira berdiri di sana. Gaun tidur sutra putihnya berkilauan tertimpa cahaya
Hawa dingin di Puncak Utara biasanya terasa jujur bagi Lyra, beku namun transparan, tanpa ada yang disembunyikan. Namun pagi ini, udara di koridor kastil terasa menyesakkan. Ada aroma logam dan tanah basah yang sangat ia kenali, sebuah bau yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruk selama bertahun-tahun. Bau dari masa lalu yang ia harap sudah terkubur dalam-dalam."Lyra!" Kael muncul tiba-tiba dari tikungan koridor. Wajahnya yang biasa santai kini tampak tegang dan pucat, matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.Lyra berhenti, jemarinya meremas pinggiran nampan perak berisi sarapan untuk Xander. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu.""Lebih buruk dari hantu," bisik Kael sambil menarik lengan Lyra ke balik pilar besar, suaranya nyaris hilang ditelan angin."Utusan dari Silvermane ada di gerbang depan. Mereka membawa panji Alpha Malphas."Nampan di tangan Lyra bergetar hebat. Bunyi denting cangkir porselen yang beradu dengan perak terdengar ny
Matahari bahkan belum sempat menyentuh cakrawala Puncak Utara ketika pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Suara kayu yang beradu dengan dinding batu bergema seperti ledakan, menghancurkan kesunyian pagi yang beku. "Bangun," suara Xander terdengar parau, seolah tenggorokannya pun ikut membeku
Badai salju pertama musim ini menghantam dinding batu kastil Blackwood dengan kekuatan yang mampu merobohkan pinus tertua di hutan. Di gudang kayu yang terbuka, udara terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Lyra, dengan seragam pelayan abu-abunya yang tipis, menyeret balok kayu terakhir
Saat gerbang batu raksasa kastil Blackwood terbuka, kabut salju menyambut rombongan dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Udara di Puncak Utara cukup membuat menggigil, Lyra turun dari kereta dengan kaki yang kaku, sama seperti biasa tidak ada yang memperdulikan. Lyra benar-benar tak kasa
"Aku tidak mau ikut," tolak Lyra tegas mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa, dia bukan sebuah barang yang bisa dilempar ke sana ke mari.Xander mendekat lagi merasa harga diri jatuh karena diremehkan Lyra. Sampah itu menolak ajakannya. Xander mendecih lalu kembali membuka mulut, kali ini







