Partager

32

Auteur: nura0484
last update Date de publication: 2025-10-04 12:30:12

"Apa itu yang namanya penyelesaian? Apa yang kamu lakukan sama mereka? Mana yang kamu bilang mudah? Apa begitu caranya? Kamu kira Vania akan melakukan hal itu?"

Vania diam dan hanya menatap Siska, kejadian sangat cepat saat dirinya menyusul ke tempat mereka. Keadaan sudah tidak baik-baik saja ketika dirinya datang, membuatnya mau tidak mau masuk kedalam sebelum hal ini sampai ke telinga Andreas dan Fandy. Vania sangat yakin jika tidak lama lagi Isa akan ke ruangan untuk membahas hal
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Turn Out   56

    "Resign nggak menyelesaikan masalah, kalaupun kamu resign nggak dalam situasi seperti ini." "Aku merasa semua masalah bermula dari aku, mas.""Nggak, sayang. Aku yang membuat masalah ini, meskipun sebenarnya Pak Fandi sudah ingin membuka semua yang dilakukan Bu Fifi. Pak Fandi tahu apa yang terjadi, tapi nggak tahu harus bagaimana." Menghela napas mendengar semua yang dikatakan Andreas, semua terasa benar meskipun tetap saja jauh dalam hatinya jika ini terjadi bermula darinya. Memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan diri, tidak memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan wanita itu."Aku pernah bilang kamu resign nggak masalah, kita bisa ke tempat kerjaku." Vania membuka matanya "Aku nggak akan nyaman berada di kantormu, mereka akan menganggap aku...""Sayang, kamu bisa nggak kerja atau kamu bantuin aku menyelesaikan pekerjaan. Aku nyaman dan nyambung jika kita diskusi, bagaimana?" "Aku belum memikirkan kearah sa

  • Turn Out   55

    "Cik Fifi datang langsung ke ruang produksi, Pak Isa bingung harus ngapain karena memang nggak ada arahan." Vania menghentikan gerakannya meletakkan tas, menatap Titik yang cerita dengan semangat ke Putri "Kapan datang, bu?" "Sore pas kita semua udah pulang. Pak Andreas nggak dihubungi?" Vania menggelengkan kepalanya mengingat mereka berdua di apartemen setelah pulang kerja "Pak Fandy kesini dan langsung bawa Cik Fifi pulang, dipegang sama dua cowok.""Pakai seragam, bu?" tanya Putri.Titik menggelengkan kepalanya "Pakaian biasa, mungkin sengaja begitu agar kita nggak mikir yang aneh-aneh." Pembicaraan tentang Fifi terhenti ketika Zafran masuk kedalam ruangan dengan tatapan tegasnya, mulai mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Semua itu bukan karena kedatangan Zafran, melainkan memang mereka sadar dengan pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing.Zafran keluar ruangan dengan ekspresi serius, pekerjaan mereka terhenti tapi t

  • Turn Out   54

    "Pak Gun masuk di restoran baru? Asistennya Chef Edwin?" "Katanya sih begitu." Vania memilih jawaban aman.Berita tentang restoran lama yang akan buka kembali gagal sudah di dengar satu kantor, mereka semua bertanya-tanya tentang alasan sebenarnya. Ketidakhadiran Fifi di perusahaan semakin membuat orang berpikir yang tidak-tidak, Vania dan Zafran tidak mengeluarkan sama sekali. Semua orang tahu dimana Fifi yang sangat ambisius membuka kembali restoran lama agar bisa kembali berjaya seperti dulu, dan pastinya menyaingi restoran baru."Restoran lama nggak jadi?" tanya Titik dengan nada penasaran."Belum tahu, bu." Vania menjawab kembali."Kandidatnya gimana?" Titik masih penasaran dengan banyak hal."Kandidat sudah ketemu sama Pak Edwin dan Pak Bayu, mereka yang lolos langsung masuk kesana," jawab Adel yang diangguki Vania."Cik Fifi kemana sih? Aneh banget tiba-tiba nggak datang lagi." Titik menatap Vania dalam seakan in

  • Turn Out   53

    "Kenapa nggak kasih tahu tentang Cik Fifi?"Andreas menatap sambil mengangkat alis mendengar kalimat pertanyaan Vania "Siapa yang kasih tahu?" "Kemarin-kemarin mas ngurusin Cik Fifi?" tanya Vania tanpa menjawab pertanyaan Andreas.Andreas menghela napas panjang "Nggak, ada kerjaan disini. Ngurus masalah Bu Fifi hanya sehari itu. Kamu tahu darimana? Gun?" Vania menganggukkan kepalanya "Jangan kesebar, bisa marah Pak Fandy." "Anak-anak curiga sudah," ucap Vania mengingat pembicaraan di ruangan."Biarin. Jangan sampai dibuka, bagaimanapun bisa dikatakan aib." "Cuman periksa saja, kan?" tanya Vania penasaran."Pak Fandy nggak kasih tahu lagi selanjutnya, beliau sibuk mengurus masalah Bu Fifi. Aku menggantikan beberapa tugasnya yang nggak bisa dijalani karena masalah ini. Masalah Gun sendiri aku juga nggak tahu gimana, Pak Fandy belum membicarakan hal ini sama sekali." "Separah itu?" Andreas mengangkat bahunya "K

  • Turn Out   52

    "Pak Gun yang memutuskan kandidat." "Cik Fifi memang kemana? Udah lama beliau nggak datang." "Baru dua hari nggak kesini, lamaan yang waktu kasus Aulia." Zafran memutar bola matanya malas mendengar kalimat Vania."Tetap aja lama, mas. Jadi ini kandidat Pak Gun yang seleksi? Aku hubungi beliau gitu?" Zafran menganggukkan kepalanya "Serius, nggak ada informasi Cik Fifi kemana?" "Mungkin nggak boleh kesini sama Pak Fandy." Zafran mengangkat bahunya "Udah buruan hubungi Pak Gun, kalau bisa lusa ketemu sama dia."Rasa penasaran atas ketidakhadiran Fifi membuat banyak pemikiran yang tidak-tidak, ditambah pembicaraan mereka bertiga terakhir di rumah orang tua Vania. Mereka bahkan belum melakukan apa yang direncanakan, apa sudah melakukan tapi tidak ada yang memberitahu dirinya.Mengambil ponselnya untuk menghubungi Gun, menanyakan waktu luang agar bisa melakukan seleksi pada karyawan yang akan masuk di restoran. Pintu terbuka sebelum

  • Turn Out   51

    "Gajinya kebesaran, nggak cocok sama anggaran yang sudah dibuat." "Maaf, bukannya kisaran gaji ini sudah sesuai dengan arahan Pak Fandy? Kita menggunakan..." Zafran menutup mulutnya seketika."Restoran ini nantinya yang megang saya atau Pak Fandy?" potong Fifi membuat semua terdiam "Perhitungan saya nggak segini. Kalian ini apa-apa dengarin Pak Fandy. Saya yang pegang restoran ini bukan dia. Jadi apa kata saya." "Maaf, bu. Instruksi Pak Fandy adalah menyamakan dengan restoran yang dibuat olehnya." Zafran masih mengatakan dengan nada sopannya."Kamu nggak kesal Vania sama Andreas?" "Maaf? Maksudnya apa ya, bu?" Zafran mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang diluar pembahasan."Saya tahu kalau kamu menyukai Vania, bahkan kalian sudah melakukannya. Memang kamu nggak masalah mereka bersama?" Fifi menompang dagunya dengan tangan menatap dalam Zafran."Kami nggak berjodoh, bu." Zafran menjawab dengan bijak dan tenan

  • Turn Out   3

    "Manager kalian baik banget." "Baik, gimana?" Putri tampak penasaran, menatap Aulia yang berada di department keuangan."Baik, kemarin nyapa dan ngikutin dari belakang.""Ngikutin gimana?" Putri semakin bingung dengan kalimat Aulia."Kemarin aku diminta Cik Fifi buat ke bank, dia bilang sama Pak A

  • Turn Out   2

    "Pak Zafran, ini ruangan HR. Selamat datang."Vania bertugas memperkenalkan manager baru pada semua departemen, nantinya Putri yang akan memberikan training pada sang manager. Setelah serah terima Zafran pada Putri, Vania kembali pada pekerjaannya yaitu mencari kandidat untuk manager departemen lai

  • Turn Out   1

    "Ahhh...pusing kepala...""Kenapa lagi? Cik Fifi lagi? Pak Andreas?" Vania menatap rekan kerjanya yang sudah bekerja sangat lama di perusahaan, lebih tepatnya pabrik. Bekerja di pabrik tidak semudah yang orang bayangkan, lika-liku pegawai pabrik sering membuatnya pusing. Posisi Vania sebagai karya

  • Turn Out   34

    "Penilaianmu semakin jelek. Kamu sudah nggak fokus dalam melakukan seleksi jadinya seperti ini, rasanya aku training kamu dulu nggak ada hasilnya sekarang." Vania menatap tidak percaya mendengar kalimat Andreas setelah membaca beberapa kandidat pilihannya, memang dirinya sadar jika tida

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status