Home / Romansa / Under His Darkness / 121. Tirai Abu-Abu

Share

121. Tirai Abu-Abu

Author: Hanana
last update publish date: 2025-08-30 22:42:20

Damian masih berlumuran darah di bibir dan sudut hidung ketika berdiri tegak di tengah ruangan. Rahangnya memar, napasnya berat, tapi suaranya jernih. Tak ada ragu, pun sudah lepas dari bimbang. Sebaliknya, Adrian justru masih gemetar dengan dada yang naik turun.

“Kamu ikut dengan Andy,” titah Damian kepada Adrian. “Mulai sekarang, kamu di titik pantau. Biarkan aku yang menjemput Nayla.”

Adrian diam. Tidak membantah, tidak pula mengiyakan. Hanya sebuah helaan napas berat yang menyeret ribuan ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Under His Darkness   183. Api di Balik Layar

    Suara Damian mengalun lebih dalam dan lebih pelan. Seketika, sesuatu di dalam diri Nayla mengencang. Ada panas yang menjalar naik dari dada ke lehernya. Tak sanggup lagi beradu tatap, Nayla memutuskan untuk menghadap langit-langit."Amore.""Iya?""Lihat aku," pinta Damian, suaranya melembut, seolah tiap kata sengaja dilepas pelan-pelan agar tak satu pun terlewat oleh Nayla. "Aku tidak bisa lama-lama di telepon, tapi mau aku ceritakan apa saja yang aku ingat?"Nayla yang sudah merebah menghadap atas, kini sedikit menoleh ke layar ponsel yang bersandar di bantal sebelahnya. Cahaya dari layar itu memantul di wajahnya yang sudah sedikit memerah. Ada kilau di kedua matanya yang tak lagi bisa menyembunyikan bara.Di seberang, dia melihat Damian sedang sedikit membungkuk mendekat ke kamera. Gerak kecil bahu pria itu tampak seperti sedang berusaha memperkecil jarak yang pada kenyataannya sama sekali tak bisa diperkecil. Semakin lama mata mereka beradu, Nayla semakin bisa melihat ada sesuatu

  • Under His Darkness   182. Mengulang Malam Itu

    Dari balik layar, Damian tampak sedang duduk di kamar asing yang cukup sempit. Cahaya lampu meja menerangi separuh wajahnya, sedangkan separuhnya lagi dibiarkan tetap gelap. Sorot matanya masih sama, tenang, dalam, tapi juga tampak menyimpan sesuatu yang pernah terucap.Nayla memindai wajah itu lekat-lekat. Matanya sibuk mencari luka baru, bekas memar, atau apa pun yang bisa mengkhianati kalimat menenangkan yang biasa dia dengar dari mulut Damian. Meski pada akhirnya tetap tidak ada luka yang tampak, tapi fakta itu tidak pernah cukup untuk membuatnya benar-benar lega."Hei," ucap Damian lembut. "Kamu bisa dengar suaraku?""Iya."Nayla hanya bisa menjawab dengan satu kata singkat. Itupun disertai dengan getar yang tak sanggup dia sembunyikan."Apa aku setampan itu sampai kamu lupa caranya berkedip?" Damian mencoba mencairkan suasana.Sambil sedikit menunduk, Nayla melepas tawa singkat dan pelan."Nah, tetaplah seperti itu, Amore. That smile looks good on you.""Okay, lalu bagaimana? Ka

  • Under His Darkness   181. Rumah Rahasia

    Nayla masih terjaga menatap langit-langit berhias lampu gantung yang terlalu mewah untuk sebuah persembunyian rahasia. Selain megah, rumah itu punya satu ciri yang selalu diingat Nayla. Jendela-jendela kaca raksasa yang menjulang, seolah dindingnya sengaja dihilangkan supaya cahaya bisa masuk tanpa halangan.Dia ingat betul saat pertama kali berdiri di rumah itu beberapa waktu lalu. Saat itu, Damian sendiri yang membawa Nayla masuk, membuka pintu, dan menuntunnya melewati setiap ruangan. Hanya mereka berdua, dan memang tak boleh ada orang lain selain mereka berdua.Kini, situasinya telah sepenuhnya terbalik. Nayla kembali ada di ruangan yang sama, dikelilingi orang-orang Damian, ditemani kakaknya sendiri, tapi justru tanpa Damian. Justru Nayla tidak diperbolehkan berada di dekat Damian sama sekali.“Kamu belum makan malam,” ucap Adrian, menghancurkan lamunan Nayla.Nayla menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan. “Sudah.”“Hanya sepotong kentang.”“Aku bukan anak kecil lagi

  • Under His Darkness   180. Kabut di Roma

    "Kita pindah sekarang," titah Damian kepada Enzo.Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi mereka sudah harus kembali bergerak cepat. Enzo segera menghubungi seseorang yang bertugas mengatur perjalanan selanjutnya. Tak boleh ada waktu yang sia-sia. Sebab Enzo paham betul kalau Damian pasti sudah sangat teliti dalam menghitung berapa menit lagi mereka boleh berdiri di tempat yang sama.Ponsel yang baru saja Damian pakai untuk menelepon Jonathan, dia tinggalkan begitu saja kepada salah seorang anak buah yang dibiarkan tetap berdiam diri di dermaga. Dia didandani menjadi seorang pekerja kapal yang duduk di atas kotak kayu, menyalakan rokok, dan berpura-pura menunggu waktu melaut. Sinyal telepon itu akan tetap menyala di sana selama beberapa jam ke depan, memberi kesan bahwa Damian masih di sekitar Napoli, sementara dia sendiri sudah jauh melangkah ke arah lain.Mereka bergerak ke utara sebelum pagi benar-benar terik. Mobil yang tampak murah dan pasaran dikendarai menembus jalan-jalan sepi

  • Under His Darkness   179. Langkah Pertama

    Damian duduk di teras belakang villa yang bertengger di lereng bukit. Matanya menyipit menatap arah laut yang berkilau di kejauhan. Cahaya bulan jatuh di permukaan air, pecah menjadi ribuan serpihan yang muncul lalu hilang, mengikuti napas ombak yang tak pernah berhenti.Ada yang tidak biasa dari caranya melepas tajam pandangan mata. Tentu bukan hanya serta merta menikmati pemandangan yang memanjakan, tapi sebaliknya, kepalanya sedang sibuk dengan deret rencana yang mengerikan. Kiranya, cahaya bulan bukan lagi simbol keindahan, melainkan sekadar penghiburan di tengah peperangan penuh darah.Enzo berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tanpa sedikit pun bicara, dia memilih untuk hanya bersandar pada pilar. Setelah sekian lama tersimpan di saku celana, kini kedua tangannya disilangkan di depan dada. Dari ekspresinya, dia sudah bisa paham kalau Damian sedang merencanakan sesuatu yang tidak main-main.“Enzo, sekarang,” ucap Damian kepada Enzo, tanpa sedikit pun menoleh.Kedua kaki Enzo s

  • Under His Darkness   178. Kerajaan

    Palermo. Setelah meninggalkan satu jejak di Roma, Damian langsung berpindah ke kota ini. Kota yang bukan tempat kelahiran, pun bukan kampung halaman. Namun, di sini Damian selalu merasa pulang ke rumah.Orang-orang Damian tersebar dalam lapisan-lapisan yang nyaris tak terlihat. Yang paling luar adalah petani-petani sungguhan yang menggarap ladang di sekitar bukit. Sebagian dari mereka memang hanya petani, sebagian lagi adalah mata dan telinga yang dibayar untuk melaporkan siapa pun yang lewat lebih dari sekali dalam seminggu. Lapisan berikutnya adalah orang-orang di kota, di pelabuhan, di kantor notaris, di balai kota, dan sejenisnya. Orang-orang yang tak pernah memegang senjata, tapi tahu persis kapan harus mengeluarkan surat izin atau melenyapkan sebuah dokumen.“Selamat datang kembali,” ucap Enzo, pria yang Damian percaya kedua setelah Andy.“Ciao, Enzo.” Damian memeluknya singkat sambil menatap bangunan yang bertahun lamanya tidak dia pijak.Villa itu berdiri di punggung bukit seb

  • Under His Darkness   62. Siapa?

    Nathan meraih ponsel yang semula teronggok di sofa. Kontak Nayla langsung dibuka. Dia mengetik pesan dengan cepat, kasar, nyaris tanpa jeda.[Nayla, kamu puas sekarang? Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang mulai! Foto-foto itu kamu yang sebar, kan?]Tak ada balasan.Dia

  • Under His Darkness   61. Kemarahan

    Entah berbekal keberanian atau kecerobohan, Nathan akhirnya membuka kontak, menelusuri nama wanita itu. Lana, model sekaligus Brand Ambassador parfum yang sempat bekerja sama dengannya beberapa bulan lalu. Jemarinya mengetuk layar dengan gemetar yang berasal dari amarah yang buta.Panggi

  • Under His Darkness   60. Di Ujung Tanduk

    Layar ponsel adalah satu-satunya hal yang kini menyita fokus Nathan. Jemarinya mencengkeram terlalu kuat, seperti sedang mencekik leher musuh tak kasat mata. Portal berita yang dia baca sedang menyuguhkan penampakan neraka dunia.Video, foto, lalu cuplikan percakapan yang entah bagaimana

  • Under His Darkness   59. Ledakan Besar

    Damian menjentikkan abu rokok ke dalam asbak kristal. Aura tubuhnya masih menyimpan badai. Matanya menatap lurus, menikmati kekacauan yang dia ciptakan seperti seorang pelukis menikmati goresan tintanya. “Kamu yakin ini tidak terlalu cepat?” tanya Adrian, meski suaranya tidak terde

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status