แชร์

121. Tirai Abu-Abu

ผู้เขียน: Hanana
last update วันที่เผยแพร่: 2025-08-30 22:42:20

Damian masih berlumuran darah di bibir dan sudut hidung ketika berdiri tegak di tengah ruangan. Rahangnya memar, napasnya berat, tapi suaranya jernih. Tak ada ragu, pun sudah lepas dari bimbang. Sebaliknya, Adrian justru masih gemetar dengan dada yang naik turun.

“Kamu ikut dengan Andy,” titah Damian kepada Adrian. “Mulai sekarang, kamu di titik pantau. Biarkan aku yang menjemput Nayla.”

Adrian diam. Tidak membantah, tidak pula mengiyakan. Hanya sebuah helaan napas berat yang menyeret ribuan ka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Under His Darkness   189. Kematian

    Ponsel itu bergetar berulang kali. Bukan nada getar biasa, tapi pola panjang-pendek yang hanya dipakai untuk satu nomor. Andy.“Halo.”“Damian.”Nada suara Andy terdengar panik. Ada bunyi napas yang belum kembali normal di sela-sela kata-katanya. Damian yang semula duduk bersandar seketika meluruskan punggungnya.“Salah satu markas kita diserang. Piacenza. Tempat yang kalian gunakan untuk pertemuan minggu lalu.”Damian bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser ke belakang. Enzo, yang berada tidak jauh darinya, langsung menoleh. Satu tangan Damian terangkat memberi isyarat agar Enzo mendekat, sementara tangannya yang lain mencengkeram ponsel lebih erat."Kapan?" tanya Damian."Baru saja. Aku dapat kabar dari salah satu jalur cadangan, bukan dari orangmu langsung. Orang yang di sana bahkan sudah tidak bisa dihubungi."Damian berjalan menuju meja, menyingkirkan beberapa lembar catatan yang menutupi layar tabletnya. "Apa saja yang dia laporkan?""Hanya itu. Panggilan terputus di tenga

  • Under His Darkness   188. Hal yang Berbeda

    Hari-hari setelah itu berlalu dengan pola yang mulai Nayla hapal di luar kepala. Tidak ada jadwal pasti, tetapi setiap beberapa hari, biasanya menjelang malam, Andy akan muncul dengan sebuah ponsel di tangan. Layar perangkat itu hampir selalu sudah menyala sebelum sampai kepadanya, menandakan bahwa panggilan video telah lebih dulu tersambung, dan Andy tidak perlu menjelaskan siapa yang menunggu di ujung sana.Nayla pun tidak lagi terburu-buru seperti pada malam pertama. Dia cukup mengangkat kepala, menerima ponsel itu, lalu mencari posisi yang nyaman sebelum wajah Damian muncul dengan penampilan terbaru yang hampir selalu berbeda dari sebelumnya. Terkadang, perubahan itu hanya berupa warna rambut atau model potongan, tapi beberapa kali Damian juga menggunakan piercing. Suatu kali ada tambahan kecil di telinga kanan, beberapa hari kemudian letaknya bergeser ke telinga kiri.Bukan hanya wajah Damian yang terus berubah. Kota-kota yang disebutnya dalam percakapan juga berganti dengan cepa

  • Under His Darkness   187. Naif

    Malam berikutnya datang tanpa membawa banyak perubahan.Setelah menyelesaikan mandi, Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sepenuhnya basah. Dia sedang memeras bagian ujung ketika terdengar ketukan pelan dari pintu. Hingga dua kali suara itu berulang, dia akhirnya menjawab. Tanpa mengulang ketukan ketiga, daun pintu pun akhirnya terbuka.Andy berdiri di ambang pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak membawa tablet atau dokumen kerja. Sebuah ponsel berada di tangannya dengan layar perangkat yang sudah menyala dan menampilkan wajah seseorang dalam sambungan video.“Damian.” Hanya satu kata yang meluncur dari mulutnya sebelum akhirnya Andy berbalik pergi.Nayla buru-buru meraih ponsel yang Andy taruh begitu saja di atas nakas. Handuk yang tadi berada di atas kepalanya hampir saja terlepas. Dia bahkan harus menangkapnya kembali sebelum benda itu jatuh ke lantai.“Damian?”Tidak ada jawaban langsung.Nayla mengusap rambutnya yang basah, lalu merapikan seadanya se

  • Under His Darkness   186. Tidak Ada Kabar

    Beberapa hari sudah berlalu sejak malam itu, dan rumah ini perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri. Nayla hapal suara pintu dapur yang berderit setiap pagi, tahu jam berapa sinar matahari mulai menembus jendela-jendela besar di ruang depan, bahkan sudah punya tempat duduk favorit di teras belakang.Nayla masih membawa kehangatan dari telepon terakhir mereka. Cara suara Damian turun satu oktaf, cara mata Damian menyorot dengan tajam nan hangat, semua sering muncul begitu saja di benaknya. Kadang, di tengah aktivitas paling biasa sekalipun, Nayla bisa tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa sebab.Sudah beberapa hari berlalu sejak malam terakhir Damian menghubunginya. Tidak ada panggilan baru, tidak ada pesan yang tiba-tiba muncul di layar, bahkan tidak ada kabar singkat yang bisa membuat Nayla berhenti menebak-nebak keadaan di seberang sana. Namun, setiap kali pikirannya mulai bergerak ke arah yang tidak dia inginkan, Nayla selalu memaksanya kembali pada satu hal yang paling sederhana

  • Under His Darkness   185. Celah Jendela

    Enzo beranjak ke arah jendela, sementara Damian masih memperhatikan layar tablet. Satu jari Enzo menyingkap tirai selebar tak lebih dari dua sentimeter. Dia bisa melihat keluar dari celah sempit itu, tapi tetap tidak terlihat dari luar."Ada orang di seberang," katanya denan suara rendah.Damian mendekat, berdiri di sisi lain jendela yang sama. Di bawah sana, seorang pria berdiri di depan toko yang sudah tutup. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, diam, dan selama beberapa saat, pria itu tetap tidak melakukan apa-apa selain berdiri. .Enzo menggeser posisinya sedikit, lalu menoleh ke arah layar gawai. "Sekarang ada dua lagi. Di ujung jalan."Sorot mata Damian langsung jatuh ke titik yang Enzo sebut. Dua sosok pria tengah berjalan pelan. Posisi mereka sedikit berjarak, tapi arah mereka sama. Keduanya menuju losmen ini."Ada tiga," gumam Damian."Bersenjata?" tanya Enzo."Tidak kelihatan," jawab Damian, "tapi anggap saja iya."Damian lantas mundur dari jendela, lalu memeriksa isi

  • Under His Darkness   184. Terkepung

    Sambungan itu terputus, tapi Damian tidak langsung bergerak. Dia duduk diam dengan ponsel yang masih tergenggam di tangan. Matanya tertutup, membiarkan benaknya berkeliaran dan tertinggal di sana, di kamar itu, bersama NaylaSuara wanita itu baru saja hilang. Namun, Damian masih bisa mengingat setiap detail percakapan, pun bagaimana cara napas Nayla berubah dan bagaimana suaranya pecah karena berhasil menabrakkan rindu yang sama besarnya dengan rindu Damian sendiri. Untuk beberapa detik, dia bukan siapa-siapa selain seorang pria yang merindukan wanita yang dicintainya.Damian jarang membiarkan dirinya berada di titik ini, saat cinta dan rindu jadi satu-satunya hal yang dia rasakan, tanpa kalkulasi dan tanpa strategi. Dia nyaris tidak pernah membiarkan dirinya mencecap rasa yang sepenuhnya manusiawi. Kali ini, dia memperbolehkan dadanya merasakan kehangatan, lengkap dengan senyum tipis yang bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Dia tahu betapa berbahayanya perasaan

  • Under His Darkness   53. Kepercayaan Adrian

    Adrian menajamkan tatapan. Matanya menelusuri gerak tangan Damian yang baru saja meletakkan anting itu, lalu beralih ke wajah Nayla yang tampak membeku. Kerutan halus di antara alisnya mengeras.“Nayla? Aku tahu itu memang punyamu. Itu koleksi lama, ‘kan?” Adrian bertanya seperti suara b

  • Under His Darkness   48. Kutukan

    Nayla tidak bicara banyak hari itu. Dia hanya mengangguk ketika diminta mengonfirmasi pernyataan kuasa hukumnya. Tidak ada air mata, tidak ada suara pecah. Namun, sorot matanya menusuk seperti belati yang ditempa dari kesakitan bertahun-tahun.Berada tak jauh darinya, tubuh Nathan tampak

  • Under His Darkness   36. Terbakar

    Mereka berdiri di sana. Dua badai yang terkurung dalam ruang yang terlalu sempit.Nayla tak bergerak. Napasnya tercekat. Genggaman jemari pada handuk seketika mengerat saat Damian bangkit dari duduk mening

  • Under His Darkness   50. Pemangsa

    Mobil bergerak perlahan menjauh dari kerumunan. Jalanan kota menyambut dengan senyap yang kontras dari hiruk di depan gedung pengadilan. Damian duduk di balik kemudi, satu tangan di stir, tangan lainnya bertumpu di lutut. Gerak tubuhnya tenang, tanpa suara. Adrian duduk di sebelah Nayla, diam, sama

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status