Beranda / Romansa / Under His Darkness / 82. Nayla vs. Damian

Share

82. Nayla vs. Damian

Penulis: Hanana
last update Tanggal publikasi: 2025-08-08 23:45:13

Dunia di luar jendelanya terus berjalan. Damian masih dengan serba tahunya. Duduk dengan secangkir kopi, membaca situasi, menyembunyikan kebenaran, mengendalikan keadaan dengan cara yang tak pernah transparan.

Sementara itu, Nayla masih lebih banyak membisu dalam senyap yang mencekik. Dia tetap pada isi kepala dan emosi yang sama. Masih tetap dengan Nayla dengan ketidaktahuannya.

Suara televisi yang menyala entah sejak kapan menampilkan potongan gambar yang sudah akrab. Wajah Nayla dan Nathan d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Under His Darkness   180. Kabut di Roma

    "Kita pindah sekarang," titah Damian kepada Enzo.Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi mereka sudah harus kembali bergerak cepat. Enzo segera menghubungi seseorang yang bertugas mengatur perjalanan selanjutnya. Tak boleh ada waktu yang sia-sia. Sebab Enzo paham betul kalau Damian pasti sudah sangat teliti dalam menghitung berapa menit lagi mereka boleh berdiri di tempat yang sama.Ponsel yang baru saja Damian pakai untuk menelepon Jonathan, dia tinggalkan begitu saja kepada salah seorang anak buah yang dibiarkan tetap berdiam diri di dermaga. Dia didandani menjadi seorang pekerja kapal yang duduk di atas kotak kayu, menyalakan rokok, dan berpura-pura menunggu waktu melaut. Sinyal telepon itu akan tetap menyala di sana selama beberapa jam ke depan, memberi kesan bahwa Damian masih di sekitar Napoli, sementara dia sendiri sudah jauh melangkah ke arah lain.Mereka bergerak ke utara sebelum pagi benar-benar terik. Mobil yang tampak murah dan pasaran dikendarai menembus jalan-jalan sepi

  • Under His Darkness   179. Langkah Pertama

    Damian duduk di teras belakang villa yang bertengger di lereng bukit. Matanya menyipit menatap arah laut yang berkilau di kejauhan. Cahaya bulan jatuh di permukaan air, pecah menjadi ribuan serpihan yang muncul lalu hilang, mengikuti napas ombak yang tak pernah berhenti.Ada yang tidak biasa dari caranya melepas tajam pandangan mata. Tentu bukan hanya serta merta menikmati pemandangan yang memanjakan, tapi sebaliknya, kepalanya sedang sibuk dengan deret rencana yang mengerikan. Kiranya, cahaya bulan bukan lagi simbol keindahan, melainkan sekadar penghiburan di tengah peperangan penuh darah.Enzo berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tanpa sedikit pun bicara, dia memilih untuk hanya bersandar pada pilar. Setelah sekian lama tersimpan di saku celana, kini kedua tangannya disilangkan di depan dada. Dari ekspresinya, dia sudah bisa paham kalau Damian sedang merencanakan sesuatu yang tidak main-main.“Enzo, sekarang,” ucap Damian kepada Enzo, tanpa sedikit pun menoleh.Kedua kaki Enzo s

  • Under His Darkness   178. Kerajaan

    Palermo. Setelah meninggalkan satu jejak di Roma, Damian langsung berpindah ke kota ini. Kota yang bukan tempat kelahiran, pun bukan kampung halaman. Namun, di sini Damian selalu merasa pulang ke rumah.Orang-orang Damian tersebar dalam lapisan-lapisan yang nyaris tak terlihat. Yang paling luar adalah petani-petani sungguhan yang menggarap ladang di sekitar bukit. Sebagian dari mereka memang hanya petani, sebagian lagi adalah mata dan telinga yang dibayar untuk melaporkan siapa pun yang lewat lebih dari sekali dalam seminggu. Lapisan berikutnya adalah orang-orang di kota, di pelabuhan, di kantor notaris, di balai kota, dan sejenisnya. Orang-orang yang tak pernah memegang senjata, tapi tahu persis kapan harus mengeluarkan surat izin atau melenyapkan sebuah dokumen.“Selamat datang kembali,” ucap Enzo, pria yang Damian percaya kedua setelah Andy.“Ciao, Enzo.” Damian memeluknya singkat sambil menatap bangunan yang bertahun lamanya tidak dia pijak.Villa itu berdiri di punggung bukit seb

  • Under His Darkness   177. Roma, Italia

    Beberapa saat sebelum berangkat, dokter sempat memeriksa lukanya dengan cepat. Perban baru sudah diganti tanpa perlu obrolan berlebihan. Begitu pesawat mulai bergerak di taxiway, Damian segera menyandarkan kepala ke kursi dan menutup mata. Obat tidur dosis aman yang dia telan memaksanya untuk terlelap meski yang dia cari bukan sekadar istirahat fisik.Dokter di sampingnya sesekali tetap membangunkan Damian untuk sekadar minum banyak air. Sayangnya, efek obat tidak berdampak lama. Begitu gelap datang, dia justru terjaga.Malam penyerbuan Saeed kembali teringat dengan jelas. Ratusan peperangan serupa memang sudah Damian alami. Namun, kejadian malam tadi adalah hal yang berbeda. Setiap detik seperti mengukir jejak trauma.Dia mendengar lagi bunyi kaca pecah yang tajam, seperti suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari telinga. Teriakan Nayla yang terdengar panik dan penuh ketakutan pun ikut muncul juga. Lalu, dentuman pistol yang meledak seperti meningg

  • Under His Darkness   176. Pria Itu

    Damian memutuskan untuk berjalan melewati lelaki itu, tidak menghindari, tetapi juga tidak mendekat terlalu cepat. Dia berjalan dengan ritme yang tetap, menjaga tangannya tetap santai meski setiap saraf di tubuhnya bersiaga.Saat jaraknya tinggal beberapa meter, lelaki itu tiba-tiba tersenyum."Damian?" panggilnya dengan nada yang akrab.Damian berhenti. Dia menatap lelaki itu lebih jelas sekarang. Wajahnya benar-benar familiar, dan jelas-jelas Damian tidak hanya pernah bertemu dengannya satu atau dua kali saja. Tak sampai dua detik kemudian, ingatannya saling berkesinambungan.Vincent. Dia adalah salah seorang pelanggan VIP di beach club miliknya. Pengusaha properti dari Jakarta yang sering datang ke Bali untuk berlibur dan selalu memesan area VIP di beach club Damian.

  • Under His Darkness   175. Ketegangan di Bandara

    Petugas mengulurkan tangan, sementara Damian menyerahkan boarding pass dan paspor tanpa banyak bicara. Seorang pria paruh baya dengan seragam rapi memindai barcode di boarding pass dengan alat scanner. Bunyi beep pendek terdengar, lalu layar menyala hijau.Saat membuka halaman paspor, tangannya berhenti di halaman foto. Matanya turun ke lembaran di tangan, lalu naik menatap wajah Damian. Tidak ada ekspresi khusus di wajah petugas itu, hanya pandangan datar yang profesional. Namun, waktu itu terasa melambat. Tiga detik terasa ratusan kali lipat lebih lama dari seharusnya.Damian menahan napas tanpa sadar. Dia tidak mengalihkan pandangan, tidak mengubah ekspresi, tidak pula melakukan apa pun yang bisa dianggap mencurigakan. Seolah dia hanya seorang penumpang biasa yang akan terbang ke negara lain dengan alasan yang biasa pula.Petugas lantas menutup paspor. "Silakan."Damian menerimanya dengan tenang, meski ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dadanya. Dia menghela napas pelan. Rint

  • Under His Darkness   5. Cerai

    “Cerai?” Suara Nathan terdengar pelan, tapi tajam.Nayla tidak menunduk. Matanya tetap menantang ke arah pria yang dulu pernah dia cintai. Atau lebih tepatnya, dia pikir, pernah dia cintai.“Nayla, jangan bercanda.”“Aku serius,” pungkas Nayla. “Aku sudah memutuskan, lebih baik kita bercerai.”Nath

  • Under His Darkness   4. Nathaniel Wyatt Sinclair

    Nayla terbangun dengan penuh rasa malu. Bukan karena sinar matahari yang menampar wajahnya, bukan juga karena tubuhnya yang dingin karena lupa menarik selimut. Namun, karena ingatan semalam menelanjangi dirinya habis-habisan. Kepalanya terus berdenyut. Pahit alkohol masih tertinggal di lidah. Per

  • Under His Darkness   3. Pernikahan Terbuka

    Pagi datang seperti penghukuman. Terang yang menyusup dari celah tirai terasa terlalu kejam, menyinari tubuh Nayla yang masih tergeletak di atas ranjang asing. Sepi menggema di seluruh ruangan, tapi di dalam kepalanya, suara-suara semalam masih menjerit. Suara napas mereka, suara desahan, suara mej

  • Under His Darkness   2. Menjual Jiwa

    Musik dari lantai dansa masih berdentum samar. Ruang ini terlindung dari keramaian, tapi justru disitulah bahayanya. Udara menjadi lebih berat, seperti mencerminkan sesuatu yang belum terjadi, tapi akan segera meledak. Begitu Damian menutup pintu, napas Nayla langsung tercekat. Bunyi klik kunci te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status