Mag-log inNakano Izumi : Aku bertemu Hasegawa Ishida – lelaki yang wajahnya membuatku teringat sesuatu yang buruk di masalalu. Awalnya aku takut setiap melihat wajahnya tapi pria itu punya senyum sehangat mentari sampai-sampai rasanya pipiku memanas tiap kali ia tersenyum padaku. Hasegawa Ishida : Aku akhirnya menemukan gadis yang aku cari setelah tidak bertemu selama dua tahun. Karena tidak ingin kehilangannya lagi, kali ini aku memberanikan diri untuk mengenalnya lebih jauh. Tapi semakin jauh mengetahui tentang dirinya, aku semakin tidak bisa kembali ke tempat semula aku berdiri. Kenichi Hasegawa : Dia bukan type ku sama sekali. Kisah ini bermula saat musim semi di Yokohama. Berada diantara dua pria sudah cukup merepotkan, apalagi jika keduanya tidak akur sejak awal. Izumi setuju soal senyum Hasegawa Ishida yang sehangat mentari, tapi lambat laun ia menyadari sisi lain yang Hasegawa Kenichi miliki. Pada siapa Izumi akan berakhir? Pada Ishida yang ternyata memiliki hubungan dengan orang di masa lalunya – yang sempat membuat hidup Izumi hancur, atau pada Kenichi pria tampan dengan sifat sedingin angin diawal bulan maret?
view moreDi langit lapis tujuh istana kayangan, burung-burung bercuit merdu, seiring bunga-bunga yang bermekaran menebarkan harum semerbak mewangi ke seluruh penjuru langit. Sempurnalah keindahan alam surga yang menyajikan sosok-sosok tampan dan juga teramat cantik menawan.
Mata berbulu lentik Larasati menatap tajam terbingkai alis sabit. Bidadari yang memiliki hidung mancung mengukir serta bibir tipis semerah jambu tersebut berlenggak-lenggok di antara para makhluk abadi lain. Alunan musik gamelan mengiringi setiap gerakannya yang lemah gemulai, sementara silir angin bertiup menerbangkan setiap anak rambutnya yang panjang. Namun, tak lama kemudian tiba-tiba guncangan kuat terjadi. Porak-porandalah istana langit sehingga para bidadari berhamburan panik. Perlahan Larasati mengelilingkan pandangan. Bangunan di sekitar mulai runtuh, taman kayangan penuh dengan tanaman bunga-bunga yang berserakan. Kekuatan magis berbekas asap panas. Kilatan cahaya meluncur, suara dentuman keras pun segera menggelegar. Tanpa menunggu lagi, Larasati bergegas akan menyelamatkan diri dari apa yang terjadi, tetapi langkahnya terhenti saat melihat sesosok pria telah berdiri mengadang. "Dewi Laras Kencana!" seru pria tersebut. Dia mengenakan pakaian serba hitam, berkumis tipis dan berambut cepak lengkap dengan kain ikat kepala. Wajahnya tampan, tetapi memiliki tatapan tajam yang teramat menakutkan. Dari inti sakti pria tersebut, Larasati mampu mengenali bahwa dia bukanlah golongan makhluk kayangan, melainkan hanya manusia yang memiliki kemampuan setingkat dewa sehingga dapat memijakkan kaki di langit. Seketika Larasati pun memundurkan langkah untuk menjaga jarak aman, bahkan dia bersikap waspada. "Di sini rupanya. Aku mencarimu ke mana-mana." Sujatmika tersenyum menyeringai, lantas di belakangnya mulai bermunculan beberapa orang yang berpenampilan hampir sama. "Siapa kau?" Bola mata Larasati memindai ke sekitar. Sujatmika sendiri menggerakkan sebelah tangan ke depan. "Tangkap Dewi Larasati!" Yang lainnya segera mengepung bidadari tersebut lalu menyerang dengan berbagai jurus. Untung saja Larasati sigap dan segera menangkis. Dalam sekejap dia mampu menghadapi tiga belas orang sekaligus serta mengalahkan beberapa di antaranya. Mereka pun berjatuhan satu per satu. Sementara itu, Sujatmika memicingkan mata menyaksikan apa yang terjadi. Saking murkanya sampai-sampai kepalan tangan pria bertubuh kekar itu berbunyi, kemudian secara perlahan mengeluarkan semburat merah yang cepat mengarah pada Larasati, sementara bidadari tersebut masih juga disibukan dengan pertarungan melawan empat orang yang tersisa. Larasati sempat menyadari, tetapi baru berbalik sudah dihantam oleh kekuatan Sujatmika di bagian dadanya. Tubuh Larasati langsung terpental ke belakang, tak sampai jatuh, meski muntah darah dia masih bertahan di posisi berdiri. Fokus bidadari itu beralih pada Sujatmika. Secepat kilat, dia melangkah, lantas melompat seraya memberi tendangan ke kepala pria tersebut. Akan tetapi, Sujatmika berhasil menghindar dan membalas dengan pukulan tangan kosong. Dalam pertarungan mereka saling berusaha melukai. Kekuatan inti sakti pun tak terhindarkan, bagai kilatan cahaya yang cepat beradu. Tak ayal ketika keduanya sama-sama menghindar, kilatan cahaya segera menghancurkan sekitar. Pertarungan menjadi makin sengit. Sujatmika terbang ke udara dan secara ajaib mengeluarkan pedang cahaya dari tangannya. Larasati yang terkejut, segera memiringkan tubuh agar kibasan baja pipih lawan tak mengenainya, walau kemudian kilatannya mampu membelah batu di sekitar. Makin Larasati menghalau, makin cepat gerakkan Sujatmika dalam memainkan jurus. Larasati kewalahan sehingga saat Sujatmika menyabetkan pedang kulit lengannya tersayat. Tak hanya itu, ketika Sujatmika dengan cepat menghunuskan kembali pedang, dada Larasati segera tertusuk. Dengan penuh kepongahan, Sujatmika menarik senjata dan menjaga keseimbangannya terbang di udara, sesaat kemudian pedang cahaya lenyap dan tersimpan kembali di tempat tersembunyi. Sementara itu, Larasati memundurkan diri sejenak sembari meringis kesakitan menyentuh luka yang mengalirkan cairan berwarna putih keemasan. Wajah bidadari itu seketika seketika memucat dengan napas yang terengah-engah. Akan tetapi, lagi-lagi Sujatmika tak melewatkan kesempatan, dia segera mengerahkan inti sakti dan menyerang lebih dulu. Untung saja Larasati cepat mengimbangi. Cahaya sebening air dari kedua telapak tangannya segera membendung dan mendorong kuat inti sakti musuh. Benturan energi pun tak terelakan. Di saat tubuh Larasati terempas ke belakang, tiba-tiba sesosok pria menangkap bidadari itu dalam dekapan. Sosok yang teramat tampan, bertubuh gagah perkasa, dan berdada bidang, dengan rambut panjang bergelombang yang dibiarkan terurai sehingga berterbangan tertiup angin. Dia berpenampilan lebih mewah dari para makhluk abadi lain. Mengenakan kain putih yang menutupi bagian dada serta menyerupai dhoti sebagai bawahannya. Penampilan khas dewa tinggi istana langit. Tak lain dia Mandala, sang Putra Mahkota Agnicaya. Tersirat kekhawatiran di netra sang Dewa sewaktu memperhatikan Larasati, sedangkan Larasati juga terpaku menatap Mandala yang kini masih menahan tubuhnya itu. "Pergilah ke dunia manusia!" perintah Mandala. "Tapi ...." "Biar aku yang mengurus mereka. Pergi sekarang juga." Pria berkulit seputih mutiara itu segera melepas Larasati, kemudian berbalik dan melangkah menghadapi para pengacau. Rasa bersalah membuat Larasati memandangi punggung Mandala untuk beberapa saat. walau dengan berat hati, akhirnya bidadari itu terbang melesat bagai cahaya. ***Sang Dewi*** Di dunia manusia hari sudah gelap. Cahaya bulan purnama menyinari jagat raya, ribuan kerlap-kerlip bintang menghiasi langit, sementara suara hewan malam mengisi keheningan, bahkan dedaunan pun mulai mengembun. Larasati telah berada jauh dari Agnicaya. Meski dalam keadaan terluka, dia berusaha menahan rasa sakit serta melawan lelah yang teramat mengganggu. Kini bidadari tersebut terbang lemah di udara, sesekali hampir terjatuh sebab keadaan fisiknya makin memburuk. Pada akhirnya, dia tetap pingsan. Keseimbangannya tak terjaga sehingga posisi tubuhnya terbalik, lalu terhempas ke bawah. Tubuh Larasati tercebur ke sumber mata air kecil. Beberapa saat kemudian tangan kirinya muncul untuk meraih batu besar di tepi. Setelah menyandarkan kepala pada kedua tangan yang bertumpu di atas batu, Larasati kembali tak sadarkan diri. Perlahan dia merosot, lalu tenggelam kembali, yang tersisa hanya ujung jemari pada permukaan air.Ishida sedang menggulir ponselnya di akhir pekan yang damai. Damai karena tidak ada yang mengganggunya di apartemen baik ayahnya, istri ayahnya, Kenichi dan Emi. Saking damainya sampai-sampai ia bosan dan ingin pergi ke suatu tempat tapi ia tidak tahu ingin pergi kemana. Matanya menangkap salah satu unggahan dari fanpage Aletheia addict bahwa buku baru Aletheia baru saja terbit dan mulai diperjual-belikan hari ini. Akhirnya ia tahu harus kemana. Ia akan menemui Izumi di café, tidak peduli apakah gadis itu masuk shift pagi atau siang, ketika ia menemuinya sekarang Izumi pasti masih ada di café. Kemudian ia akan mengajak Izumi ke toko buku dengan … mobilnya? Atau menaiki odakyusen seperti waktu itu?Ishida sampai di café setelah menghabiskan setengah jam perjalanan dengan bus. Ia memutuskan untuk pergi menggunakan kendaraan umum. Kencannya dengan Izumi beberapa waktu lalu mungkin tidak berjalan lancar tapi Ishida sangat menikmatinya pergi menggunakan kendaraan umum bersama Izumi. Sebena
Mobil Kenichi berhenti tidak jauh dari Gedung apartemen Izumi. Ia mengenakan ciput dan syal dengan warna senada – cokelat tua, untuk menutupi telinganya dari udara yang masih dingin dipagi hari. Ia buru-buru menyalakan mesin mobilnya saat melihat Izumi keluar dari Gedung. Ia benar-benar berharap Izumi tidak memergokinya karena ia sendiri tidak bisa mengatakan alasan yang tepat yang bisa ia katakan. Ia hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja selama perjalanan menuju ke café. Mobil Kenichi mengikuti bus yang Izumi naiki. Gadis itu duduk di dekat jendela membuat Kenichi bisa melihatnya dengan jelas. Tangan mungilnya menggeser jendela dan membiarkan wajahnya diterpa angin dan sinar matahari.Kenichi terkesiap saat Izumi turun di halte yang masih jauh dari cafe. Arah langkah Izumi membuat mobil Kenichi memasuki sebuah rumah sakit. Ia buru-buru memarkirkan mobilnya sebelum kehilangan gadis itu di dalam. Mata Kenichi menangkap Izumi yang sedang mengambil nomor antrian di area poli jiw
Kenichi berniat menemui Ishida untuk meminta bantuan laki-laki itu soal kasus yang melibatkan nama Izumi. Tapi sebelum ia berhasil menemui Ishida, matanya menangkap dua sosok yang ia segera tahu siapa mereka meski hanya melihatnya sekilas. Dua sejoli itu sedang berdiri di belakang pagar di salah satu atap Gedung kampus. Benar-benar pemandangan yang memuakkan. Memangnya mereka anak SMA yang kasmaran sampai-sampai berkencan di atap kampus? Kenichi mengeluarkan ponselnya dan menelfon Ishida. Kenichi menyesal telah tanpa sadar memperhatikan semua gerak-gerik keduanya. Kini perasaan aneh di hatinya membuat dadanya terasa sesak. Ia bahkan tidak menyadari kapan nada dering di ponselnya berhenti. Ishida mengabaikan panggilannya bahkan tanpa sekalipun mengecek siapa yang menelfon.“Konnichiwa, senpai!” Minoru dengan nada bergurau menyapa Kenichi sambil menepuk pundaknya.“Astaga! Berhenti mengagetkanku atau kau akan aku makan. Kau tahu aku baru selesai kelas dan belum makan sejak pagi.” Kenich
Miyu terpaksa makan siang seorang diri setelah mendapat kabar kalau Izumi ada kelas pengganti mendadak dan Kana tidak masuk kuliah karena akhirnya gadis itu menyerah terus-terusan menahan sakit giginya dan memutuskan untuk ke dokter. Ia sedang mengantre untuk mengambil minuman ketika tangan kanannya sibuk memegang ponsel dan tangan sebelah kirinya berhati-hati memegang seporsi nasi dan daging babi pedas. Ia terus memerhatikan ponselnya sampai tiba-tiba orang di depannya berbalik secara mendadak sampai menabraknya dan bajunya basah kuyup oleh minuman yang tumpah dari gelas lelaki itu.Miyu ternganga. Puluhan kata-kata umpatan di kepalanya sudah mengantre untuk di keluarkan tapi semua kata-kata itu menguar begitu saja saat mengetahui siapa lelaki yang menyebabkan kekacauan itu.“Oh astaga! Maafkan aku, aku tidak berhati-hati.” Laki-laki itu berusaha membersihkan baju Miyu menggunakan tisu.“Kak Minoru?”“Maeda-san?”Miyu duduk seorang diri di cafetaria setelah beberapa saat lalu Mi
Tatapan Minoru terlihat jengkel. Kenichi langsung mengetahui alasannya setelah mengikuti mengikuti arah pandangan Minoru. “Apa kau tidak bisa memperingati adikmu agar memberiku ruang untuk mendekati belahan jiwaku itu?” Minoru memasuk
Kana Kobayashi melambaikan tangan dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia membuat gerakan tangan yang menunjukkan kalau dirinya sudah mempersiapkan tempat duduk untuk Izumi. Izumi menyambutnya dengan senyum sambi
Kenichi tampak tidak bersemangat mengikuti acara orientasi. Selain karena Ishida ada di kelompok yang sama dengannya, Kenichi juga tidak menyukai kegiatan kampus seperti ini.“Kenichi-senpai, jika aku kesusahan di mata kuliah ter
Ishida Hasegawa baru saja keluar dari toilet. Suara itu membuatnya melangkah sedikit lebih cepat. Beberapa kali terakhir ia menyadari yang ia dengar tiap kali mendengar lagu itu adalah ilusi bahwa ia juga mendengar suara itu. Apakah kali ini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore